
Sugar Baby Kakak Sahabat.
Ara sepanjang jalan diam, dirinya ingat kejadian beberapa hari lalu saat Sagara tau jika Ara baru saja jalan dengan Alen, jika dipikir sikap yang cukup posesif tersebut mungkinkah Sagara sudah?
tidak Ara tidak mau memikirkan hal seperti itu yang membuat Ara terbuai.
flashback on ketika sehabis jalan dengan Alen.
Ara yang membaca pesan dari Sagara memucat, dia ingin membalas namun panggilan dari pria tersebut sudah lebih dahulu masuk ke ponselnya jujur Ara sedikit takut menjawabnya namun mengingat kontrak yang sudah masuk ke bulan dua ini, dia menguatkan hati.
“ Halo.”
“ Mau sampai kapan berdiri disana?”
Ara mendengar kata tersebut dari Sagara menoleh ke depan, rupanya mobil Sagara sudah bertengger manis didepan sana, sial tadi tidak ada kenapa sekarang malah ada?
“ Cepat kesini sebelum aku yang kesana buat gendong kamu.”
Ara mau tidak mau melangkah menuju ke tempat dimana Sagara berada, memasukkan ponselnya ke tote bag namun sebelum itu harus memasukkan helm BOGO pemberian Alen dahulu ke dalam kost setelah itu melangkah menuju ke depan.
Ara membuka mobil dan masuk ke dalam jok penumpang, Sagara masih bersedekap menatap Ara dengan tajam.
“ Gimana jalan-jalannya sama Alen?” nah loh bagaimana Sagara bisa tahu kalau Ara habis jalan dengan Alen?
“Ck pantasan saja seharian aku diabaikan rupanya ada yang baru baikan.”
Ara hanya menundukkan pandangannya sambil memainkan jari-jarinya dengan gelisah, sebenarnya Sagara tidak marah hanya saja entah sisi egoisnya merasa tersentil karena merasa diabaikan oleh Ara yang sudah beberapa minggu ini mengisi hari-harinya.
Sagara ingin sekali mencium b*b*r manis yang sudah jadi candunya itu namun nanti saja dia akan membuat kejutan Ara di apartemen dengan bermain menggunakan gaya baru, kini Sagara masuk ke jalan namun kecepatannya sengaja dia pacukan agar secepatnya sampai di apartemen.
Keduanya sampai, Sagara dan Ara berjalan menuju unit Sagara tanpa kata, Ara dengan segala ketakutannya sedangkan Sagara dengan tatapan dinginnya. Sampai di unit miliknya.
__ADS_1
Tanpa basa basi, Sagara menautkan bibir mereka, nafas keduanya saling memburu satu sama lain, Ara masih merasakan Sagara begitu emosional sehingga sejujurnya Ara gak merasakan kelembutan, hanya n*fsu yang membara.
“ Eung…. ssshhhh.”
Sagara semakin memperdalam sesapan hingga keduanya mungkin sudah bengkak, nafas memburu dan kembali Sagara menyerangnya, Kedua tangannya tak tinggal diam, tangan sebelahnya memegang Himalaya favoritnya dan tangan sebelahnya mengakses area bawah untuk mengabsen.
“ Maass..”
Ara tidak sanggup diserang begitu oleh Sagara, suara yang merdu bagi Sagara pun terdengar silih berganti bahkan Ara tak kuasa memanggil nama Sagara dengan kuat saking frustasinya.
Sagara kasihan? Jangan harap justru Sagara senang jika Ara memanggil namanya dengan keras sambil memegang kepala Sagara dengan sedikit jambakan frustasi minta dipuaskan. Ara digendong seperti karung beras dan diletakkan dikamar, di kamar tersebut sudah ada tiang di sisi kanan kiri tunggu, sejak kapan tiang itu ada? kemarin terakhir kali dia kesini masih belum ada.
“ Nggak usah kaget gitu.”
“ Mas mau apa?” Ara semakin ngeri melihat tatapan Sagara yang begitu mengerikan menurut Ara.
Sagara mendekat bahkan berbicara dengan nafas masih tersengal ditelinga Ara, “ Aku mau kasih kamu hukuman yang berbeda dari biasanya.”
Jika biasanya Ara akan mendapatkan hukuman berupa berpacu dengan gaya diatas atau istilahnya WOT kini Sagara akan mencoba hal baru untuknya.
Lalu kali ini apa kesalahannya?
“ Kamu jalan dengan Alen tanpa kasih tahu aku dan aku diabaikan sama kamu seharian.” Ara terkejut, kenapa dia harus bilang kalau mau jalan sama Alen, “ Kok gitu? biasanya aku jalan sama Alen nggak perlu bilang sama mas.”
Sagara kembali menyerang Ara dengan semangat dan menggebu lalu melepasnya, “ Kamu lupa status kamu apa, semua kegiatan diluar sana kamu harus bilang dan izin sama aku apapun itu mengerti?”
“ Kalau begitu harusnya aku bisa terbebas dari hukuman, kan mas baru kasih tahu aku kalau aku harus bilangnya hari ini.”
“ Nggak, hukuman tetap hukuman lagipula hukuman ini pasti bakal bikin kamu teriak histeris dan enak kok.”
Tangan Ara diraih yang sebelah kanan, entah sudah sejak kapan ada tali rantai dengan ikatan pergelangan tangan disana, Sagara mengunci tangan Ara disana begitupun tangan sebelah kiri, dan kaki Ara pun sama dilakukan hal serupa.
__ADS_1
Ara kini masih mengenakan pakaian, hanya hoodienya saja yang sudah entah kemana, Sagara mengambil gunting dan Ara yang terkejut langsung melotot.
“ Mas, Jangan.”
Ara terus saja menggelengkan kepalanya sambil berkata jangan namun Sagara tetap melakukannya tanpa peduli teriakan Ara, Sagara perlahan menggunting kemeja Ara bahkan hingga tembus ke area kacamata kuda berwarna hitam tersebut, kemejanya langsung di sobek dan seketika koyak tak berbentuk.
Sagara kemudian menggunting jeans yang dikenakan Ara, mengguntingnya bahkan gunting tersebut terkena kulit mulus Ara, namun menciptakan sensasi tersendiri untuk Ara, Ara mel*ng*h karena gunting tersebut.
Bawahan Ara seketika lenyap dan teronggok disana, kini posisi Ara polos dengan kedua tangan dan kaki terikat, Ara sudah pasrah dengan yang akan dilakukan oleh Sagara.
Sagara menutup mata Ara dengan dasi miliknya dan mulut Ara disumpal dengan penutup mulut berwarna hitam dengan bola ditengah agar suara Ara tak keluar dengan mudah, Ara yang ditutup mulutnya hanya mampu m*Ng*rang seolah bertanya.
“ Nikmati saja hukumanmu itu.”
Sagara mengambil es batu di kulkas mini yang tertera di kamarnya, Sagara meletakkan es tersebut di leher putih Ara, dijalankan ke arah dua bukit himalaya dan bermain-main di puncak sana, Ara menggeliat merasakan area sensitifnya begitu dingin sungguh hukuman yang Sagara berikan lebih menyiksa kali ini.
Es tersebut turun menyusuri tubuh lain dan kini berhenti di area sensitif, dan lagi-lagi Ara menggeliat, Es batu tersebut kembali dijalankan hingga sampai di terminal terakhir dimana pusat inti Ara berada.
“ Kamu tahu, aku sebenarnya benci banget kamu lebih perhatian sama Alen ketimbang aku, padahal aku yang sudah membantumu meski menukarnya dengan tubuh kamu dan kamu sudah lebih mengenal Alen dahulu ketimbang aku tapi satu yang mesti kamu tahu, Aku cemburu kamu tertawa sama dia. sejak dulu aku selalu mengalah sama Alen tapi kali ini maaf aku nggak bisa.”
Ara terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sagara, mungkinkah seorang Sagara memiliki perasaan dengan Ara yang notabene hanya anak kemarin siang yang terpaksa menjual diri hanya karena ekonomi? tapi biar Ara masih kecil dirinya sudah mampu membuat anak dengan pria bukan?
Sagara kini berjongkok di bawah sana, memberikan kecupan serta sesapan yang sudah sangat banjir karena ulah Sagara, Sagara memainkannya dengan mulut dan sesekali dengan jarinya yang dirinya maju mundurkan jika biasanya hanya satu kini dua sekaligus.
jujur saja Ara menikmati terbukti dengan suara yang dikeluarkannya, dirinya belum bisa berpikir jernih bagaimana kedepannya bersikap jika dia bertemu dengan Alen nantinya, karena sepertinya Sagara terus saja menyiksanya namun siksaan yang cukup membuat Ara terbang melayang.
Gerakan tangan yang tadi sempat maju mundur cantik berhati, kini little yang sudah berdiri tegak dimasukkan menuju sangkar terindah, Sagara memompa dibawah sana dan pergerakan Ara yang terbatas hanya bisa pasrah menerima yang diberikan oleh Sagara.
dan suasana yang tadi dingin kini berubah menjadi suasana yang panas dan menggelora menciptakan sensasi yang berbeda.
flashback off.
__ADS_1
mengerikan bukan, Sagara memang sepertinya memiliki kepribadian ganda untuk sekarang ini.
to be continued