
Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 12
" Kamu ngapain disini?" Tanya Jean dengan nada cukup khawatir.
" Kamu masih tanya? Gila aku kejar kamu dari lantai satu kesini menggunakan tangga darurat cuma mau bicara sama kamu, aku rasa kamu salah paham." Alen menjelaskan maksud kedatangannya dengan segala rintangannya agar mendapatkan simpati dari Jean dan ya sepertinya berhasil Jean menatap Alen dengan perasaan bersalah.
" Maaf."
" Maaf aja nggak cukup sekarang aku tanya sama kamu kenapa kamu mengatakan hal itu? Apa selama ini kamu merasa aku tidak begitu penting sehingga dengan mudahnya mengatakan perpisahan begitu?"
Jean menatap ke arah Alen melangkah perlahan, " ingatanku masih berfungsi cukup baik ketika dulu kamu mengatakan jika kak Ara kembali maka kamu akan mengatakan semua apa yang kamu rasakan selama ini, jadi posisi aku disisi kamu sudah tidak ada artinya lagi, aku sadar diri makanya aku memilih pergi kamu ingat kan ketika kamu mencari kak Ara kamu bilang kalau akan menyatakan perasaan yang ada sama kamu ke kak Ara?"
Alen diam dia ingat yang dikatakan oleh Jean tapi apakah Jean tidak merasakan jika perasaannya tulus kepada Jean?
" Apa kamu tidak merasakannya?"
" Maksudnya?"
" Ya selama ini apa kamu tidak merasakannya bagaimana aku ke kamu apakah tulus atau hanya bersandiwara?"
Jean yang kali ini diam meski Jean yakin jika Alen memang sudah bersamanya tetap saja rasa tidak percaya diri ditambah bagaimana sikap Alen kepada Ara dulu cukup membuktikan.
" Aku tahu tapi tetap saja aku tidak percaya jika kamu memang sudah move on aku ingin bukti?"
" Bukti?"
" Ya bukti agar aku yakin jika kamu memang sudah sepenuhnya melupakan kak Ara."
Alen merasa ditantang namun justru membuat jiwa prianya menguar, Alen mendekat dengan tatapan yang sulit diartikan, " Kamu ingin bukti kan?"
Jean beringsut takut namun dirinya berusaha mati-matian menahan agar rasa takut itu tidak keluar begitu saja.
Alen mengungkung Jean di tembok penghubung antara kamar dan ruang tamu, Alen menatap Jean dengan tatapan sendu, " Kalau kamu mau bukti aku akan buktikan sayang."
Jean gelagapan, " Jangan macam-macam kamu Alen."
" Nggak macam-macam cuma satu macam aja mungkin ini yang bisa aku lakukan buat meyakinkan kamu."
Alen menyerang Jean dengan menciumnya, awalnya lembut namun perlahan menggebu.
Jean kehabisan nafas, dia memukul dada Alen dan Alen memberikan kesempatan Jean untuk bernafas namun Alen hanya memberikan waktu sebentar karena Alen kembali menyerang Jean namun kali ini Alen memberikan afeksi berupa sentuhan-sentuhan di beberapa titik sensitif Jean.
" Eunghhh…."
Leng*han tersebut membuat Alen kalap dan bersemangat, Alen menggendong Jean dan membawanya ke kamar lalu dibaringkan Jean dikasur empuk milik Jean sendiri.
__ADS_1
Tatapan keduanya sendu namun Jean merasakan dibawah sana sesuatu mengeras minta dikeluarkan.
Alen menatap Jean seperti memohon dan karena Jean mengerti, dia menganggukan kepalanya.
Alen menciumnya kembali namun tangannya mengabsen setiap tubuh Jean dan terhenti sebentar di puncak Himalaya Jean yang memang cukup besar dan menantang.
Eungh…..
Ci*man Alen berpindah ke ceruk leher Jean yang putih mulus itu, dia memberikan beberapa kissm*rk bahkan hampir seluruh berwarna merah.
Alen seperti vampir, dirinya memberikan sent*han di area sensitif, Jean hanya mampu meremas rambut Alen yang panjang dan mengeluarkan kata syahdu sehingga Alen begitu menggebu melakukannya.
Tangannya tak tinggal diam, Alen memberikan sentuhan di area bawah mengeksplor setiap inci tubuh Jean dan berakhir dibawah inti sana yang sudah banjir dan minta disentuh.
Malam ini, malam dimana yang seharusnya tidak boleh dilakukan kedua insan yang belum memiliki ikatan terjadi diantara keduanya, desah*n dan er*ng*n mendominasi kamar Jean, pakaian yang tercecer dan keringat yang menjadi satu menjadi saksi bisu keduanya melakukan pelepasan bahkan hingga beberapa kali.
*****
Jean memeluk Alen dan menjadikan salah satu lengan Alen menjadi bantalan, keduanya sudah selesai melakukan pelepasan, rasa nyeri yang Jean rasakan kini sedikit berkurang karena Alen melakukannya beberapa kali bahkan Jean mencakar bahu Alen hingga luka tapi Alen justru senang karena keduanya sama-sama melakukan yang pertama kalinya.
Alen yang membelai surai hitam Jean dan Jean yang membentuk pola abstrak di tubuh indah Alen uang yang tak tertutup selimut, keduanya masih dalam keadaan polos dibalik selimut.
" Alen."
" Hmmm."
" Mau dengar penjelasan aku?" Dan dianggukan oleh Jean, setelah aktivitas panas tadi Jean merasa dirinya salah sangka mungkin harus diminimalisir dengan mendengarkan penjelasan sang kekasih.
" Aku ada kontrak kerja dengan salah satu perusahaan nah kebetulan yang biasa menangani resign lalu digantikan oleh Ara."
" Lalu."
" Tadi itu pertemuan pertama kita setelah lima tahun, dia coba menghindar lalu aku mengajaknya bicara empat mata, aku mau tanya apa yang membuat kamu melakukan hal seperti tadi?"
" Kamu tahu, ketika kita belum meresmikan hubungan kamu bilang jika bertemu dengan kak Ara kamu akan menyatakan perasaan kamu ke dia, ya aku merasa kehadiran aku sudah selesai dan kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu mau termasuk mengejar kak Ara."
Alen menyentil dahi Jean.
" Sakit kok disentil."
" Pikiran kamu pendek."
" Loh memang salah dengan apa yang aku pikirkan?"
Alen menggigit pipi Jean dengan gemas karena pikiran Jean yang begitu sempit.
__ADS_1
" Aku memang mau menyatakan perasaan aku selama ini ke Ara tapi bukan berarti kami akan menjalin hubungan bukan? Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang belum selesai, aku akan katakan jika aku memang pernah suka dan jatuh cinta sama dia tapi bukan berarti aku mau jadian sama Ara, lagipula setelah apa yang terjadi dimana si brengsek itu sudah berbuat ulah aku juga sangat malu sebenarnya bertemu dengan Ara tapi ya balik lagi aku hanya ingin selesaikan kisah kami.
" Jika kak Ara suka sama kamu juga?"
Alen menggelengkan kepalanya, " Nggak mungkin Ara suka sama aku, biar gimanapun si brengsek itu masih ada ikatan sama aku."
Jean menganggukan kepalanya memang benar kemungkinan Ara menyukai Alen juga kecil untuk sekarang ini apalagi semua yang telah dilalui oleh Ara cukup sulit dan ingatkan jika dulu Alen selalu menjadikan alasan Ara untuk memutuskan para mantan nya dan berakhir dengan bullying dari deretan para mantan.
" Maaf." Jean merapatkan tubuhnya di bawah ketiak Alen, Jean menyukai apapun yang ada di tubuh Alen sedangkan Alen melihat kelakuan Jean hanya terkekeh.
" Len, kita kan sudah melakukan hal diluar batas, kalau aku hamil bagaimana?" Meski ucapan Jean lirih tapi Alen cukup mendengarnya dengan jelas mungkin Jean memiliki ketakutan tersendiri akan hal tersebut.
" Aku akan bertanggung jawab, ayo kita menikah."
Jean bangkit dari baringnya dan menatap Alen dengan terkejut, " Maksud kamu?"
" Kamu nggak mau menikah sama aku?"
Jean memukul bidang dada Alen yang terekspos, bentuk tato yang ada di tubuhnya adalah saksi dimana Alen mengalihkan rasa sakit atas apa yang keluarga nya perbuat dan memilih berjuang sendiri tanpa ada keluarga yang terlibat.
Alen mengaduh meski tidak sakit tapi dia hanya ingin menggoda Jean.
" Setelah apa yang kamu lakukan?"
Alen bangkit dari baringnya juga, dia menatap Jean lalu mencium kening Jean dengan lembut.
" Ayo kita menikah."
Jean menganggukan kepalanya, " Tentu tapi selesaikan masa lalu kamu yang belum selesai."
" Tentu, aku juga harus berterima kasih sama Ara karena dia aku bisa nidurin kamu tapi sayangnya adik kecil aku bangun lagi."
" Adik kecil? Memang kamu punya adik?" Tanya Jean yang tak mengerti dengan maksud Alen sedang Alen hanya berdecak kesal ceweknya ini sangat polos.
Alen menarik tangan Jean dan meletakkan di bawah sana dimana sang adik kecil sudah berdiri tegak, Jean seketika merah merona atas apa yang dilakukan oleh Alen.
" Alen.." dasar mesum pikir Jean sedang Alen hanya terkekeh mendengar jeritan Jean.
" Jean." Panggil Alen dengan suara berat dan tatapan sendu.
" Aa….apa?"
" Please."
Mau tidak mau Jean kembali menenangkan adik kecil Alen yang sudah mulai baper.
__ADS_1
sepertinya Jean dan Alen sudah besar.
To be continued.