Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 bab 35 : berjumpa


__ADS_3

" Apa… Jean hamil?" Tanya Ara dan dianggukan oleh Alen.


" Tunggu, anakmu?"


Alen hanya tertawa namun tawanya tersebut terdengar miris bukannya menjawab justru malah memberi pernyataan yang membuat Ara cukup terkejut, " Apa bedanya gw sama dia? Sama-sama brengsek kan Ra."


Ara menatap sahabatnya itu dan menggenggam tangannya dengan kedua tangannya meski masih dibalut infus namun Ara hanya ingin menenangkan Alen melihat bagaimana frustasinya pria di hadapannya itu, " Kamu tidak sengaja melakukannya, pasti kamu akan bertanggung jawab kan?"


" Gw.. gw…"


Ara masih setia mendengarkan Alen.


" Gw sempet problem dan menghindar Lo tau kan? Cerita yang terakhir dia minta gw damai sama Sagara dan gw menolak, gw sempat menghindari dia saat dia datang ke kantor buat bertemu, pertama karena emang gw nggak ada ditempat tapi yang kedua itu karena sengaja dan itu semua rupanya terakhir kali dia datang ke gw dan mau kasih tahu kalo dia hamil anak gw, karena memang kita melakukannya sama-sama sadar tapi justru gw malah menghindar."


" Sekarang dia ada dimana?"


" Dia pergi tapi gw suruh orang buat cari dan dia masih di pulau Jawa tepatnya di Yogya."


" Lalu, kamu sudah kesana?"


" Belum, gw belum bisa karena gw harus jaga Zayn, dia cuma mau nurut sama gw bahkan mau sekolah pas gw yang nyuruh bapaknya nggak bisa selalu luluh makanya sampe dipanggil ke sekolah kenapa nggak masuk seminggu, setelah dijelasin mereka maklum tapi harus tetap masuk sekolah dan ya dia akhirnya masuk kemarin."


" Maaf, aku jadi beban buat kalian, tapi sekarang kamu bisa kejar Jean."


Alen menganggukan kepalanya, " Sekarang belum bisa."


" Bisa, semua bisa masalah Zayn kamu tenang aja aku akan urus."


" Ra.."


Ara menggelengkan kepalanya, " Pergi bawa Jean kesini kamu harus tanggung jawab, setidaknya dengan kamu tanggung jawab kamu akan berbeda dengan kakak kamu."


Alen menatap Ara dan memeluknya, " Gw janji orang pertama yang gw datengin setelah Jean berhasil gw bujuk adalah Lo Ra."


*****


Alen langsung melesat menuju perbatasan Wonogiri dan Yogyakarta tepatnya di dusun Paranggupito tempat dengan sejuta keindahan alam dan juga asri pedesaan.


Menggunakan sopir karena setelah mencari tahu lewat maps cukup memakan waktu lama sekitar 15 jam karena senggang dan juga cukup masuk ke dalam pelosok setelah masuk kota dan berhenti beberapa kali untuk sekedar makan malam, dari jam sembilan malam hingga jam dua belas siang keesokan harinya, Alen melihat pesan yang dikirimkan oleh Axel lokasi dimana Jean berada.

__ADS_1


Pantai yang cukup indah namun cukup mengerikan apalagi air sedang pasang begini.


Alen mencari sebuah rumah penduduk yang memang ada beberapa namun masih saja belum menemukan hingga matanya terpaku melihat sosok wanita yang sedang membeli ke sebuah toko kelontong sederhana, badannya tak cukup berisi namun yakin jika dibalik kaos oblong kebesarannya itu terdapat perut yang sudah sedikit membuncit karena kehamilannya.


Mata Alen berbinar melihat bagaimana Jean, sedikit hitam namun menjadi eksotis langkah kaki Alen terus saja melangkah mendekat Jean tanpa dapat ditahan oleh Alen sendiri seolah Jean adalah magnet kuat yang dapat menariknya.


" Jean."


Nama itu, suara itu adalah yang sangat khas dari seseorang.


Jean disini menggunakan nama Ita sebagai nama panggilan Jeanista.


Jean sendiri menatap tak percaya akan sosok yang selama ini selalu dirinya coba lupakan meski berakhir dalam kegagalan dan juga kerinduan yang membuncah.


" A..Alen."


Alen mendekat namun Jean mundur begitu terus sampai Jean terhenti di sebuah tembok rumah seseorang.


" Ka..kamu ngapain disini?"


Miris hati Alen, dia kira Jean akan senang dan juga memeluknya dengan erat namun dugaannya salah dia hanya tersenyum kecut.


" Aku mau jemput kamu."


" Jemput? Memang siapa yang minta jemput?"


Alen berjongkok di hadapan Jean, " Aku minta maaf atas keegoisanku atas semua kesalahanku atas nama apapun aku minta maaf."


Jean masih diam.


" Aku tahu kesalahan aku fatal banget tapi sumpah demi apapun aku menyesalinya."


" Kalau kamu kesini hanya karena bentuk tanggung jawab aku janji aku nggak akan meminta hal itu."


Alen menggelengkan kepalanya, " Nggak, hati aku juga hampa tanpa kamu aku sadar harusnya aku yang meruntuhkan keegoisanku aku banyak belajar setelah kamu pergi, maaf aku nggak bisa langsung temuin kamu karena ada hal yang serius, Ara dia sudah menghasilkan sebuah keponakan yang lucu dan menggemaskan harus aku jaga karena Ara kecelakaan tepat saat aku tahu kalau kamu hamil."


" Apa? Kak Ara kecelakaan? Jadi berita yang ditayangkan beberapa waktu lalu itu benar kak Ara?"


" Benar, tapi dia sudah siuman kemarin makanya aku bisa kesini ayo kita kembali Jean dan teruskan mimpi kita yang belum terealisasi."

__ADS_1


Tidak menampik bahwa Jean luluh atas yang dilakukan oleh Alen tapi hatinya masih ingat bagaimana penolakan yang diberikan oleh Alen kemarin.


" Maaf, aku belum siap."


*****


" Apa? Alen pergi ke Yogya? Padahal aku udah minta tolong buat jagain Zayn sampai kamu sembuh Ra."


Sagara baru tiba pagi hari, Zayn dijemput bapak supir yang diberikan Alen sebagai gantinya, Zayn awalnya menolak untuk sekolah tapi berkat bujuk rayuan Ara Zayn mau ke sekolah juga.


Sagara baru tiba pagi harinya karena pekerjaan sangat banyak ditinggalkan beberapa hari Sagara yang baru selesai tepat jam dua dini hari tidak sengaja tertidur di kantor.


Pagi harinya, Sagara langsung menuju ke rumah sakit dan terkejut atas apa yang dikatakan oleh Ara soal Alen yang pergi menjemput Jean.


" Jangan kamu libatkan Alen saat ini, aku sudah meminta suster untuk rawat jalan saja lagipula aku sudah baikan."


" Baikan apanya? Kepala kamu lihat masih diperban dan kamu memang sudah bisa berjalan? Sedangkan kamu saja harus menggunakan kursi roda karena dokter bilang kaki kamu patah di keduanya dan akan ada operasi pemasangan pen jika kamu sudah stabil."


" Aku nggak bisa, biar aku rawat jalan saja."


" Kenapa Ra?" Sagara tidak suka dibantah apalagi ini berhubungan dengan kesehatan Ara sendiri.


" Aku bingung harus bagaimana membayar biaya rumah sakit yang membengkak ini."


Sebenarnya Ara memiliki tabungan tapi dia ragu apakah itu cukup atau tidak, meski Sagara setiap bulan memberikan nafkah Zayn begitu cukup bahkan lebih namun Ara tak mau menggunakannya itu bukan haknya dan juga Ara harus segera bekerja bagaimanapun caranya Ara sendiri tidak memiliki siapapun sekarang.


" Kamu jangan khawatir soal biaya rumah sakit, meski aku sangat mampu membayarnya tapi pihak si brengsek itu sudah membayar bahkan deposit biaya perawatan kamu jadi jangan kamu pikirkan soal itu "


" tapi aku juga harus bekerja, mau makan apa aku nanti bagaimana aku membayar Dewi nanti tabunganku tidak begitu banyak."


" Siapa yang menyuruhmu bekerja? Meski jamu sehat tapi aku akan melarang kamu untuk kembali bekerja."


" Jangan gila kamu."


Sagara menghela nafas, memegang kedua lengan Ara, Ara yang bingung hendak menarik namun ditahan oleh Sagara.


" Ayo kita menikah, jika kamu tidak mau melakukannya karena kamu tidak memiliki perasaan apapun padaku tapi kali ini kamu bisa lakukan atas nama Zayn yang masih membutuhkan sosok keluarga lengkap."


Sumpah demi apapun saat ini Ara jadi bingung.

__ADS_1


.


__ADS_2