Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 bab 37.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 37.


" Gw mau nikah."


Byur…..


Kopi yang sedang diminum Sagara menyembur begitu saja apalagi di depan persis ada Alen dengan wajah sumringah ya sudah tentu kecipratan kopi semburan Sagara.


Tadi pagi, Alen datang mengabari jika dirinya sudah tiba di Jakarta dan sedang mengantar Jean ke rumahnya mengajaknya bertemu karena ada yang ingin dibicarakan.


Sagara langsung mencak-mencak mengomel tidak jelas karena meninggalkan Zayn dan Dewi saat Ara akan melakukan operasi pemasangan pen, padahal Ara sendiri yang menyuruh Alen untuk menyelesaikan masalahnya pada Jean.


Setelah puas mengomel, kini Alen yang mengatakan maksud menemui kakaknya itu bilang kalau dia ingin menikah dengan Jean meski dia tahu masalah Alen yang menghamili kekasihnya tapi tidak tahu akan secepat ini mau menikahi kekasihnya itu.


Alen kesal mengusap wajahnya yang kasar sudah mandi dan wangi malah disembur bak Mbah dukun sedang menjampi mending air putih ini malah kopi.


" Lo gila apa? Gw udah mandi bastard." Alen kesal dan bersungut-sungut kepada kakaknya sedangkan Sagara tak merasa bersalah, " makanya kalo mau kasih kabar tuh liat sikon dulu."


" Sikon gimana sih? Gw udah bilang kan mau ketemu karena ada yang mau gw omongin serius ya ini yang gw maksud."


" Tapi ini terlalu mendadak gak boleh Lo gak boleh nikah dulu."


Alen mengumpat, " Ada anak yang mesti gw pertanggungjawaban Lo gila."


Sagara mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal, " bukan gitu maksud gw ya Lo nikah aja tapi jangan sekarang-sekarang ini karena sebagai adik Lo harus mengalah karena gw mau nikah duluan."


" Nikah? Sama siapa?" Pasalnya Alen tahu jika Ara masih sulit dicapai oleh kakaknya itu.


" Ara lah, dia baru aja terima gw semalam."


Alen melongo, " seriusan? Pake jampe apa Lo?"


Sagara hampir saja melempar ponsel miliknya tapi sayang karena data penting ada disana semua, " Sialan untung adik."


" Seriusan, Ara udah terima Lo?" Dan dianggukan Sagara.


" Bagaimana bisa?"


" Lo tahu istilah anak adalah segalanya untuk ibunya? Ya mungkin gw jahat karena pake Zayn tapi nggak sepenuhnya intinya Zayn masih butuh orang tua lengkap dan gw buka pikirannya dia so itu membuat Ara berpikir kalau ucapan gw benar dan ya dia terima gw sekarang ini."

__ADS_1


" Terus kapan Lo mau nikah emangnya?"


" Lo sendiri?" Tanya Sagara kepada sang adik.


" Beberapa hari ini gw harus terbang ke Belanda buat minta restu nggak bisa sekarang-sekarang ini karena kehamilan Jean masih trimester pertama belum dianjurkan terbang jauh nanti setelah itu baru gw akan nikahin Jean di Jakarta atau kalau nggak di Belanda ya gapapa."


" Lo yakin orang tuanya bakal nerima Lo dengan mudah?"


Alen terdiam sebenarnya dia juga gamang dilema dan sebagainya dirinya menghamili Jean dan baru mengajak Jean melangkah bersama karena Jean menghilang meski bukan kesalahan Alen secara keseluruhan namun tentu asal muasalnya adalah dirinya yang menolak kehadiran Jean.


" Entahlah gw cuma mau bilang bantu gw buat mempermudahkan urusannya."


" So kapan Lo mau berangkat?"


" Dua sampai tiga Minggu lagi."


WTF, waktu mepet jika Sagara ingin menikahi Ara sebelum adiknya berangkat dia tak memikirkan kedua orang tuanya bahkan lebih baik tidak datang tapi khusus Alen Sagara mau Alen ada dan datang.


" Aarrgg apa mungkin gw bisa urus berkas masuk kantor buat menikah sebelum Lo berangkat? Gw gak mau kalau gw menikah Lo nggak ada?"


Alen tersenyum mengejek, " Lo nggak bisa kehilangan gw kan."


" Sialan."


Soal perkataan Sagara yang membuat surat pengunduran diri diperusahaan Satria sudah direalisasikan kemarin dan semua orang terkejut karena Sagara yang memberikannya dengan alasan kesehatan awalnya semua ingin menjenguk Ara tapi dilarang oleh Sagara karena bisa saja ada celah utusan atau antek Satria datang.


Ponsel Ara sendiri rusak dia belum memegang lagi.


Ara sudah dipindahkan ke rumah sakit Jakarta untuk kontrol semua bisa karena uang maka Sagara memindahkan Ara ke rumah sakit dekat dengan rumah nya benar-benar Sagara mengurus segala sesuatunya hingga tuntas.


" Oke Bu Ara cukup fisioterapi nya ya, sampai jumpa dua hari lagi."


Ara mengambil tongkat kruknya dia ditemani Dewi karena Zayn diantar oleh asisten rumah tangga Sagara yang memang sudah mengabdi kepada keluarga Sagara lebih dari 20 tahun jadi Sagara sudah percaya kepadanya beruntung Zayn tidak rewel dengan alasan mau mengantar Ara kontrol dan demi kesehatan Zayn sangat mengerti.


" Terimakasih dok."


" Pelan-pelan Bu."


Ara dipapah oleh Dewi dan perlahan Ara menggunakan dua tongkat kruk yang dia sanggah hingga ketiak dia mau belajar berjalan tanpa kursi roda baginya benar-benar seperti kembali seperti bayi.

__ADS_1


" Gapapa Dewi saya bisa kamu lihatin saya dari belakang saja."


Dewi menurut dan ikut melangkah dibelakang Ara namun seorang wanita paruh bayah datang menahan langkahnya, " Annara."


Meski tak kenal dekat tapi Ara tahu siapa wanita itu, senyumnya dan wajahnya cukup familiar dengan seseorang.


" Nyonya Giana."


" Bisa kita bicara?"


Ara menatap ke arah Dewi dia ragu takut Dewi mengadu kepada Sagara tapi tidak mungkin juga karena Dewi meski sekarang Sagara yang menggaji tapi sejak awal Dewi ikut dengan-nya.


" Ada apa ya nyonya?"


" Panggil saya Tante saja, saya mau bicara soal Satria.


Nama itu jujur saja Ara cukup penasaran akan nasib Satria, kemarin dia sempat adu mulut pada Sagara agar melaporkan Satria ke polisi atas percobaan pembunuhan namun Ara menolak, karena memang awalnya Satria tidak berniat membunuh hanya menculik dan memaksa menikah dengannya dan lagi dia masih berhutang budi akan di masa lalu jadi Ara ikhlas lahir batin.


Sagara yang pencemburu menuduh jika Ara masih ada rasa pada Satria padahal suka saja tidak pernah bagaimana masih ada cinta dasar aneh.


" Bisa Bu."


Giana menatap ke arah Dewi dan seolah mengerti Dewi pamit undur diri menjaga jarak beberapa meter.


" Kita bicara di salah satu ruangan kebetulan ini rumah sakit saya kenal pemiliknya."


Giana dan Ara melangkah tadinya Giana mau membantu Ara berjalan tapi Ara tidak mau tak sampai hati Ara melakukan itu selain karena usia senja, Giana juga seperti menyimpan banyak beban.


" Dewi tunggu sini saja gapapa kan?"


" Ibu oke?"


Ara menganggukan kepalanya, " Saya oke."


Ruangan tertutup Ara izin untuk duduk di kursi dan dipersilahkan oleh Giana.


" Apa Satria baik-baik saja tante?"


Giana berlutut didepan Ara menangis tersedu-sedu, " maafkan Satria tolong jangan masukkan Satria ke penjara jika mau saya saja sebagai gantinya yang kamu jebloskan ke dalam penjara."

__ADS_1


Ara bingung siapa yang mau menjebloskan Satria kedalam penjara?


To be continued


__ADS_2