Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
Bab 22 : Quickly " Lagi."


__ADS_3

Ara masih memandang Sagara yang frustasi, sebenarnya Ara ingin sekali menyangkal, memang Ara berendam di bathup tapi bukan berarti dirinya ingin bundir, terlalu lelah badannya dan air yang begitu menenangkan menyebabkan Ara tertidur namun sayangnya hal tersebut hampir membuat Ara kehilangan nyawanya dan Ara tak tahu akan hal itu.


“ Kamu bisa maki aku, pukul aku atau apapun tapi jangan tinggalin aku dengan tingkah konyolmu itu aku lebih suka kamu marah dan mengeluarkan semua unek-unek kamu daripada kamu diam begini tapi justru berpikir sempit dengan aksi konyol kamu itu.”


Ara hanya mendengus namun dia masih diam tak mau cepat luluh dengan Sagara yang ada nanti dia seenaknya saja sesekali mengerjai pria ini kan.


“ Ra, astaga aku bisa gila di diemin gini sama kamu.”


Ara mencoba bangkit namun sedikit kesulitan karena kepalanya masih pusing dan sedikit oleng, Sagara dengan sigap membantu Ara, “ Ck bisa gak sih bilang aja sama aku kalau kamu mau bangun?”


Ara tidak menjawab dan mencoba untuk berdiri namun lagi-lagi tidak bisa dengan berakhir dipapah oleh Sagara.


“ Kamu mau kemana?”


“ Toilet.”


“ Aku temani.”


Ara yang masih sibuk mencoba berdiri menatap kearah Sagara, “ Aku mau ketoilet mas.”


“ Ya dan aku ikut.”


“ Tapi buat apa kamu ikut mas? aku hanya ingin pipis.”


Ara memekik badannya terhuyung karena digendong oleh Sagara, “ Takut nekat bundir lagi.” tentu saja Ara melakukan aksi protes namun sayangnya tak digubris, Ara hanya bisa pasrah bahkan ketika Ara pipis pun Sagara menunggunya di depan pintu melihat apapun yang Ara lakukan sumpah demi apapun meski Sagara sudah melihat isi tubuhnya namun Ara juga merasa malu.


Ara kembali digendong setelah selesai menggunakan toilet, Sagara membaringkan Ara diatas ranjang dengan setengah berbaring dan menyanggah tubuhnya dengan bantal agar tidak sakit.


“ Mas nggak kerja.”


Sagara menghela nafas dengan kasar, “ Aku batalin ke Bali yang harusnya hari ini.”


Mata Ara membola, dia tahu jika proyek di Uluwatu adalah proyek besar, “ Kenapa?”


“ Melihat kamu seperti ini karena aku dan kamu yang sakit kaya gini mana bisa aku pergi kesana dengan tenang.”

__ADS_1


Ara menggelengkan kepalanya, “ Nggak jangan batal dong.”


“ Kenapa?”


Wajah Ara tiba-tiba memanas, mana mungkin kesempatan emas naik pesawat yang tak pernah Ara rasakan lalu ke Pulau Dewata dimana surganya orang Indonesia dilewatkan begitu saja, “ Ya pokoknya jangan dibatalin.”


“ Tapi…”


“ Aku udah sehat nih lihat aku sudah sehat pokoknya jangan di batalin ya aku mohon mas.”


Astaga, Ara mengeluarkan jurus puppy eyesnya yang memikat dan mana mungkin Sagara tidak luluh jadi mau tidak mau mesti terlambat Sagara akhirnya berangkat ke Bali dengan Ara siang ini.


Pukul dua belas keduanya sampai di bandara Soekarno-Hatta, setelah perdebatan yang panjang keduanya memutuskan untuk pergi juga, Ara sudah dicek oleh dokter dan benar saja suhu tubuhnya membaik namun dianjurkan agar jangan terlalu lelah, keduanya bersiap ala kadarnya dan Sagara dengan cerewetnya bilang, “ Ingat harus makan dan minum obat kalau nggak kita batal.”


Sudah masuk bandara, perjalanan memakan waktu satu jam empat puluh lima menit, Ara terus saja digenggam tangannya oleh Sagara seolah mau kabur padahal mana bisa Ara pergi dalam kondisi didalam pesawat.


Sagara sendiri memesan tiket perjalanan bisnis, jadi jangan heran jika harga tiketnya cukup mahal namun fasilitas tidak mengecewakan.


“ Mas, aku mau ke toilet.”


“ Aku temani.”


“ Nggak aku terlalu khawatir sama kamu.”


Jika sudah seperti ii mau tidak mau Ara ditemani oleh Sagara, saat keduanya sampai di depan toilet entah Sagara berbicara apa pada salah satu pramuniaga yang cantik hingga wanita yang berpenampilan seksi tersebut tersenyum jahil, Sagara lanjut menyusul Ara dan keduanya masuk kedalam kamar mandi.


“ Mas bilang apa sama pramugari itu?” Bukannya menjawab justru Sagara tersenyum menyeringai, dia menempelkan tubuh Ara ke sudut kamar mandi yang ukurannya tak cukup luas itu, ******* benda kenyal yang semenjak sakit menjadi lebih cerewet, manis adalah salah satu kata yang keluar dari bibir Sagara setelah usai menyesapnya bahkan membuatnya bengkak.


Namun tak sampai disitu, Sagara kembali membuat tanda di leher yang sudah cukup berbekas akibat ulahnya semalam, ditimpanya lagi oleh yang baru dan tangannya tak tinggal diam, dua puncak Himalaya yang sudah menggoda itu dimainkan oleh kedua tangannya.


“ Mas.”


Ah sial suara Ara yang merdu membuat seketika littlenya bangkit minta dimanjakan jika sudah seperti ini Sagara tidak bisa menepati janjinya dengan dokter untuk tidak membuat Ara lelah.


“ Suara merdu kamu buat little baper.”

__ADS_1


Sial Ara menundukkan kepalanya dan benar saja di bawah sana ada yang memaksa minta dikeluarkan bisanya, Ara malas jika harus membuka pakaiannya dia berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan little yang sudah baper itu, Sagara terkejut dengan aksi Ara.


“ Apa yang kamu lakukan Ra.”


Ara tak menggubris perkataan Sagara, dia membuka yang menutupi little dan mengeluarkannya, Ara menelan salivanya sendiri gila little baper kenapa besar sekali apakah ini muat?


Sagara masih menatap Ara dibawah sana, Ara yang sudah kepalang langsung memasukkan kedalam mulutnya seolah sedang menikmati permen lolipop manis, Sagara memekik awalnya namun langsung menikmatinya dengan tanda suara yang dikeluarkan oleh Sagara.


“ Oh… Ra… fast Ra fast….”


Awalnya Ara tersedak namun perlahan dia bisa memainkannya dengan tempo yang cukup baik, Ara masih memanjakan little yang semakin lama semakin mengembang itu.


“ Ough yess… lagi Ra, like it Ra.”


setelah puas, Sagara menyuruh Ara untuk memutar tubuhnya menjadi menghadap belakang Sagara, little yang sudah berdiri sempurna itu langsung merangsek masuk menuju tempat favoritnya, Ara yang mendapatkan serangan tiba-tiba sedikit memekik namun perlahan merasakan hal yang luar biasa, Ara dan Sagara kini menikmati aksi quickly diatas awan yang sesungguhnya.


Usai little mengeluarkan bisa, keduanya membersihkan diri, dan keluar secara bersama, Ara dengan wajah yang tertekuk dan Sagara dengan wajah sumringah, di depan toilet rupanya pramugari yang tadi mengobrol dengan Sagara masih disana dengan tersenyum.


“ Thank you cantik.”


Sagara mengeluarkan lima lembar merah dan memberikan kepada pramuniaga tersebut, tentu saja untuk ukuran pramuniaga yang hanya menempelkan tulisan toilet rusak sambil berjaga khawatir ada yang masuk kedalam di depan kamar mandi uang tersebut cukuplah banyak.


Tapi meski samar, wanita cantik tersebut cukup mendengar suara laknat tersebut.


“ Mungkin pengantin baru.”


Sagara duduk setelah Ara, Ara masih menekuk wajahnya, niat supaya tak bermain dengan melakukannya menggunakan mulutnya, justru Sagara malah melakukannya meski secara quickly.


“ Belajar nakal dari mana kamu?” tanya Sagara meledek setelah apa yang Ara lakukan di kamar mandi tadi.”


“ Dari film.”


Sial haruskah Sagara meretas ponsel Ara dan melihat apa saja yang dilakukan oleh wanitanya tersebut.


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2