Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 Bab 2 : Saatnya keluar dari persembunyian.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 2


Sejujurnya, Ara begitu terkejut dengan apa yang didengar dari Satria dia pikir Satria melakukan segala cara agar bisa lepas dari Melisa.


Ara tahu keduanya memang dipaksa menikah karena Satria tak pernah menunjukan rasa tertarik dengan perempuan maka mamanya memaksa menikahkan Satria dengan Melisa setahun lalu.


Sebenarnya Satria menolak namun dia tidak sepenuhnya menolak seperti ada rencana terselubung yang dijalankan oleh Satria dan itu hanya dirinya yang tahu.


Sedangkan Ara dirinya merasa turut andil dalam perceraian keduanya meski alasannya Melisa selingkuh hanya saja pasti Melisa ada alasan melakukannya bisa saja.


Sejak dulu Satria lebih sering berada di Bandung seperti sekarang ini ketimbang di Jakarta, tempat tinggal cowok itu yang sebenarnya dan bisa saja Melisa kesepian dan ya berakhir dengan pengkhianatan.


" Aku bilang juga apa jangan terlalu sering kesini aku merasa jadi ada sangkut pautnya dengan perceraian kalian." Ucap Ara saat sudah didalam mobil berangkat menuju kantor bersama Satria sedangkan Zayn sudah dititipkan oleh mbak Dewi yang memang bekerja dengannya, Zayn sendiri sudah sekolah playgroup jadi dia tidak akan bosan dirumah terus.


" Aku bisa apa? Sudah aku jelaskan secara detail bukan kalau aku nggak bisa jatuh cinta sama dia, kalau kamu mau tahu selama kita menikah aku hanya melakukan hubungan badan sekali dengannya ketika malam pertama itupun karena dia menjebakku dengan obat sialan."


" Maksudnya? Obat per*ngsang?" Dan dianggukan oleh Satria.


" Tapi kenapa? Dia cantik dan memiliki keluarga terpandang juga aku rasa kamu ya saja yang nggak bisa tertarik sama dia? Kamu lurus kan?"


Satria mendengus sama seperti pertanyaan dari mamanya apakah dia lurus atau tidak, " Kalau aku belok, nggak akan aku suka sama kamu Ra."


Ara menunduk jujur wajahnya memanas tapi dia sadar diri dia tidak baik untuk Satria keduanya berbeda seperti langit dan bumi jika saja Ara bisa lepas dengan Satria maka Ara akan melakukannya hanya saja Ara tidak bisa sudah janji jika Ara tidak akan meninggalkan Satria sebelum menemukan pendamping dan itu harus persetujuan Satria, jangankan pendamping, pacar saja tak punya dan Ara sejak kejadian itu Ara menutup diri bukan karena sombong hanya merasa dirinya kotor hanya itu padahal Satria sudah mengatakan jika Ara melakukannya terpaksa takutnya nanti Ara selamanya akan menjadi single parent.


" Terus kenapa kamu melakukan itu?" Setelah wajahnya normal Ara kembali menatap Satria.

__ADS_1


" Dia nggak perawan, kamu tahu kalau dia wanita baik maka dia masih tersegel kalaupun memang dia sudah pernah melakukannya dengan alasan kecelakaan atau keterpaksaan seperti kamu mungkin aku bisa toleransi tapi apa? Dia melakukan seolah pertama kali padahal sudah longgar banget dan ya aku jadi merasa jijik sudah berapa banyak orang yang melakukannya dengan dia katanya dari keluarga baik dan terpandang tapi kalau seperti itu apa namanya kalau bukan liar?"


" Kamu memandang sesuatu dengan darah keperawanan? Aku juga sudah tidak memilikinya."


" Kasus kamu berbeda aku tahu siapa yang melakukannya denganmu dan hanya satu orang itu pun tuntutan beda sama dia andaikan dia bilang dengan siapa melakukannya seperti aku katakan tadi mungkin aku bisa toleransi lah ini ditanya nggak ngaku malah nangis dan nuduh aku lagi nggak sadar padahal meski terpengaruh obat aku tahu dia sudah longgar atau nggak, meski aku belum pernah berhubungan dengan perawakan jaman sudah canggih bisa cari di internet seperti apa jika melakukannya dengan yang pertama atau nggak kita dikasih tau seperti apa rasanya dikira aku bodoh ck jujur aja aku jadi ngerasa jijik aja sama dia makanya aku nggak melakukannya tapi bukan berarti aku belok."


Ara hanya menganggukan kepalanya jadi tahu hal apa yang mengganggu pikiran Satria tentang istrinya itu, tapi tetap saja sebagai seseorang yang sudah beristri dia tidak bisa seenaknya bertemu dengan Ara apalagi Ara tipe orang yang mementingkan pandangan orang terhadap dirinya.


" Lebih baik kamu pulang ke Jakarta selesaikan secara baik-baik bukan malah sembunyi di bandung."


" Aku disini kerja nggak foya-foya kaya dia."


Terserah lah hidupnya dia Ara bisa apa!


Sesampainya, Ara seperti biasa akan duluan masuk ke dalam kantor sedang Satria dia tadi menerima telepon dari seseorang yang bekerja di Jakarta, Ara melihat beberapa orang menatapnya dengan sinis dan itu sudah terbiasa padahal Satria sudah menjelaskan jika Ara adalah saudaranya hanya saja tak peduli juga membungkam mulut ratusan orang sulit jadi lebih baik dia diam dan tak berkomentar.


" Ra aku dengar dari pusat kamu diminta kesana gantiin Natalia yang resign karena ikut suaminya ke US?" Ucap Kalista, salah satu teman satu divisi di bagian creative menatap Ara yang sedang menyiapkan teh untuk dinikmati di mejanya.


Ara sendiri bingung karena belum mendapatkan informasi apapun dari manapun.


" Aku belum dengar tuh Kal, kamu dapat info dari siapa?"


" Pak Beni, head creative projects disana, kemarin aku di telepon dia katanya dia mau minta kamu sama pak Satria cuma pak Satria belum bisa dihubungi tau sendiri kan kemarin dia sibuk banget udah kaya gosokan karena ada tamu dari Jepang!"


Ara ingat kemarin Satria tidak menemuinya bahkan sudah dua hari dengan alasan bertemu investor dari Jepang yang akan mencoba menanamkan saham di perusahaan hanya itu yang Ara tahu dan memang baru hari ini keduanya bertemu.

__ADS_1


" Aku belum tahu kal jadi aku belum bisa komentar."


" Saran aku terima aja, selain gajinya lebih bagus disana teamwork disana lebih manusiawi daripada disini yang hobinya julid dan sinis jujur aja kemarin aku di telepon pak Beni nanyain kinerja kamu kayak apa tapi menang dasarnya orang pusat sudah tahu record pekerjaan kamu itu kayak apa mereka selalu puas makanya kamu mau ditarik kesana dan minta pak Satria aku yakin deh pak Satria akan kasih izin."


Perbincangan singkat antara Kalista mengenai masalah dirinya yang diminta menggantikan Natalia sedikit mengganggu pikirannya dirinya belum siap untuk ke Jakarta, ada banyak pikiran yang dipikirkan seperti bagaimana jika keduanya bertemu, jika Zayn bertemu ayahnya ataupun Alen dan lainnya, Ara sendiri masih ngeri membayangkan hal itu.


" Ra Lo dipanggil pak Satria di ruangannya."


Lani datang dengan makeup tebal dan julid biasa dia adalah team anti Ara yang katanya tidak suka dengan Ara alasannya? Dia pernah putus sama bagian Project marketing karena tahu orang itu mendekati Ara padahal Ara sendiri tidak merasa memberikan lampu hijau dan Lani juga ketahuan selingkuh sama divisi purchasing, tapi dia selalu saja menyalahkan jika Ara yang menjadi biang masalah.


Ara tak menjawab, dia hanya bangkit dari kubikel menuju lantai tujuh dimana ruangan Satria berada, Satria memang sering di Bandung namun dia disini tidak memiliki sekretaris karena ada di Jakarta.


Ketukan pintu sebanyak tiga kali Ara layangkan setelah mendapatkan izin Ara masuk kedalam dilihat Satria sedang membaca berkas hanya saja wajahnya sedikit berbeda.


" Bapak manggil saya?"


Satria yang tahu itu Ara hanya menatap dengan layangan protes, " Ra nggak ada orang ya tuhan kayak biasanya aja sih kaku banget."


" Tetap saja ini di kantor." Meski keduanya dekat namun Ara tetap harus profesional dengan memperlakukan Satria layaknya CEO tempat dimana Ara bekerja bukan?


" Terserah deh males gw debat hal gak penting tapi nggak ada habisnya juga ini, duduk Ra."


Ara menurunkan b*kongnya di kursi tepat di depan Satria."


Satria melepas kacamatanya, dia menatap Ara dengan tajam, " Saatnya Lo keluar dari persembunyian."

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2