Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 Bab 34 : Memaafkan.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 34.


" Zayn."


Nama tersebutlah yang Ara ucapkan untuk pertama kalinya maklum saja Zayn adalah cinta pertamanya saat ini.


" Suster dokter cepat kesini."


Sagara terus saja meraung memanggil-manggil anggota medis yang bagi dirinya sangat lama sekali pergerakannya.


" Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"


" Jarinya, jarinya tadi bergerak-gerak."


Dan benar saja mata Ara yang semula tertutup rapat kini terbuka secara perlahan, dokter memeriksa dan menghela nafas sepertinya ada kelegaan tersendiri di dalam dirinya namun Sagara yang tidak paham masih saja memasang wajah garang, " Dok, dia kenapa? Ara sudah sadar kan."


Mata Ara terbuka secara perlahan menggerakkan jarinya secara perlahan.


" Zayn.. Zayn…"


" Maaf Bu Ara, apa ibu bisa mendengar suara saya?"  Ara menganggukan kepala sebagai jawaban dari dokter pria bernama Stevan itu.


" Baik apa benar nama ibu Annara Ramadhita?" Dan dianggukan oleh Ara.


" Apa ibu mengenal pria ini?" Ucap dokter Stevan menunjuk Sagara dan dianggukan oleh Ara.


" Apa anda mengenal seseorang bernama Zayn?"


" Di…dia… a….ann….nak….sa…..ya….dok.."


" Baik, pasien syukurnya tidak mengalami amnesia, tuhan maha baik dan kondisi Bu Ara sudah sangat baik dan sekarang ini dalam tahap pemulihan, jangan ajak bicara berat dulu biarkan dia menyesuaikan situasi mengingat waktu koma yang cukup lama kalau begitu saya permisi panggil tim medis jika membutuhkan bantuan lagi."


Dokter muda itu pamit undur diri bersama dengan para perawat yang datang bersamaan tadi, Sagara mendekati brankar dan mengatur posisi baring Ara agar sedikit bersandar lebih tinggi di bagian kepala. Alat bantu pernafasan sudah dilepas tadi.


“ Apa ada yang sakit?” Tanya Sagara lembut dan Ara hanya memandang Sagara hei sejak kapan pria arogan ini bisa selembut ini?


“ Zayn.” Ucap Ara mencari keberadaan sang anak yang tak ada disisinya.


“ Zayn sedang bersekolah, sudah satu minggu dia menunggumu disini dan ya, Alen cukup berpengaruh sehingga Zayn menurut dengannya.


“ A..alen?”


“ Jangan banyak bicara dulu ya, pulihkan kondisi kamu setelah membaik kamu bisa tanya apapun hmm?”


*****

__ADS_1


Zayn sejak tadi duduk di tempat duduknya dengan lesu bahkan bekal yang dibuatkan oleh Dewi berupa ayam goreng tepung dan mie goreng belum disentuhnya.


“ Zayn..”


Salah satu anak perempuan bernama Bella mendekati bangku Zayn, Bella merasa Zayn seperti sakit.


“ Kau oke?” Tanya lagi Bella kepada Zayn, anak perempuan dengan kulit putih bersih dan bermata sipit itu memberikan sebuah apel yang dibekali oleh maminya.


“ Ini buat kamu, harusnya aku beri kamu coklat tapi karena mami tidak boleh aku makan coklat banyak jadinya aku hanya bisa kasih ini ke kamu, ini manis tidak kalah enak dengan coklat semoga kamu bisa membaik.”


Zayn menatap apel bersamaan dengan Bella secara bergantian, Zayn ingat maminya pernah bilang jika seseorang memberikan sesuatu terima saja karena itu bentuk dari apresiasi kita terhadap yang memberikan, kebetulan Zayn suka dengan apel.


“ Makasih Bella.”


“ Tentu.”


Miss Jelita sudah bilang kepada semua murid tadi pagi saat tahu Zayn masuk jika maminya Zayn masuk rumah sakit karena kecelakaan dan meminta bantuan untuk mendoakan agar maminya Zayn cepat sembuh, semua berdoa dalam khusyu tidak tahu saja doanya didengar tuhan karena Ara sudah sadarkan diri.


“ Apa mamimu sudah membaik?” Tanya Bella yang terus saja mengajak Zayn berbicara supaya Zayn tidak sedih lagi.


“ Doakan saja supaya mami cepat bangun, aku rindu mami.”


Bella mengajak Zayn berkeliling sekolah namun Zayn tidak mau akhirnya Bella menemani Zayn dan itu semua membuat Zayn sedikit membaik.


“ Uncle cepat uncle aku mau ketemu sama mami.” Zayn terus saja berceloteh bahkan Alen sangat gemas dengannya karena berbicara dengan setengah berteriak.


“ Duh bocil ampun deh nggak usah teriak-teriak juga woy uncle denger kali.”


Zayn mengembungkan mulutnya tanda merajuk, Dewi mengelus lengan Zayn agar berbuat baik dan Zayn meminta maaf, “ Im sorry uncle.”


Suara Zayn tak terdengar rupanya bocah itu malah tertidur Dewi juga, Alen jadi menghangat dia jadi ingat Jean dan anak yang ada di kandungannya.


“ Tunggu sebentar Jean tunggu sebentar lagi.”


Setelah memakan waktu hampir dua jam, mereka sampai dan Zayn langsung masuk menuju lorong rumah sakit, Dewi mengejar Zayn karena memang keduaya sudah tahu dimana letak ruangan Ara namun sayangnya kosong karena memang Ara tadi sudah dipindahkan di ruang rawat inap.


“ Suster mami Zayn mana?”


“ Oh mami Ara ya, mari saya tunjukan.” Suster tersebut dengan lembut menuntun Zayn dan mengajaknya keruangan Ara yang baru berada di lantai tiga, disana Sagara sedang menelpon dengan suara ditahan agar Ara yang sedang tertidur tidak terganggu.


“ Mami…”


Dewi yang mengikuti suster bersama Zayn mengucapkan terimakasih dan masuk, Ara yang sedang memejamkan mata kini membuka mata dan tersenyum anak semata wayangnya datang menemuinya.


“ Mami miss you.”

__ADS_1


Ara yang pergerakannya masih terbatas merentangkan kedua tangannya dan memeluk sang anak, bahkan Ara menangis dan karena itu Sagara menghentikan panggilannya. Alen datang dari belakang.


“ kebetulan lo kesini, gw mau ke kantor ada masalah genting mungkin sampai sore.”


Ini saatnya Alen bicara bagaimana harus menghadapi Jean tak apa dia bertanya tapi paling tidak dia ada gambaran menghadapi wanita hamil yang katanya moodnya swing itu.


“ Aman.”


Sagara mendekati Zayn dan Ara, “ Boy, Ara aku mau bicara sama kamu sebenarnya tapi timingnya nggak pas, mungkin aku selesaikan masalah kantor yang sudah lama aku tinggalkan ini gapapa kan?”


Ara melihat wajah Sagara yang sedikit tak terawat dengan bukti banyaknya bulu halus yang tumbuh di rahang tegasnya, matanya sedikit layu dan seperti orang yang kurang tidur.


“ Pergilah, kamu sudah menjaga aku cukup baik sehingga mengabaikan kewajiban kamu sebagai atasan aku sudah baik-baik saja.”


Ara mengucapkannya dengan sedikit bertenaga karena memang belum pulih sepenuhnya, Sagara tidak menyukai yang dikatakan Ara, “ Aku berkewajiban menjaga ibu dari anakku dan aku akan tetap menjagamu sampai benar-benar sembuh, tunggu sebentar kita akan bicara hmm, boy jaga mami jadi anak good ya promise for papi?” Sagara mengacungkan kelingkingnya meminta sang anak untuk berjanji dan Zayn tersenyum senang, “ Promise papi.”


Sagara pergi, Dewi sedang mandi membersihkan diri sedangkan Zayn terlelap di sebelahnya mungkin banyak kegiatan di sekolah sehingga Zayn kelelahan.


“ Ara.”


Ara yang sedang menatap sang putra sambil sesekali mengelus menatap Alen yang rupanya sudah pindah duduk disebelah brankarnya, “ Alen.”


“ Lo udah baikan?” Ara menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


“ Gw nggak nyangka kalau si Satria yang selama ini ngumpetin lo dan gara-gara obsesnya dia lo jadi begini.”


Ara tersenyum, “ Meski begitu aku akan tetap memaafkan dia.”


“ Pasti ada alasannya? gw tahu bagaimana lo soalnya.”


“ Karena dia yang mengobati rasa sakit di masa lalu, jadi aku akan tetap memaafkannya dan anggap saja ini penebusan segala rasa bersalahku karena tidak membalas perasaannya.”


“ Lo yakin?” Tanya Alen karena bagaimana bisa Ara memaafkannya begitu saja sedangkan nyawanya saja hampir melayang.


“ Aku yang tahu bagaimana perjuangannya dia membantuku keluar dari situasi demi bisa lulus dari yang namanya depresi.”


Alen mengangguk-anggukan kepalanya karena memang yang dikatakan Ara benar.


“ Ra.”


“ Hm,,,”


“ Jean hamil anak gw.”


To be continued.

__ADS_1


__ADS_2