SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
FIFTEEN


__ADS_3

Air mata Clara sudah mengering, ia semalaman suntuk menangis tanpa henti. Damian kembali menidurinya, dengan paksa.


Clara menatap pergelangan tangannya yang memar akibat ikatan semalam, Clara benar benar merasa diperlakukan secara tidak adil.


Clara pergi meninggalkan Damian yang masih tertidur di ranjangnya, Clara tidak tahan jika harus berlama lama dengan Damian di dalam satu ruangan.


Clara harus menemui Marvel, Clara harus memberitahu Marvel bahwa Juan telah berbohong. Juan sama sekali tidak berniat untuk membantunya.


Seharusnya Clara mencurigai Juan sejak awal, mana mungkin Juan berubah pikiran secepat itu. Sejak awal Juan memang sudah tidak suka terhadap Clara.


***


“Kakak, ayo temani aku ke toko buku.” Monica dengan manja menarik tangan Marvel, mencoba mengalihkan fokus Marvel dari laptop itu menjadi kepada dirinya.


“Memangnya kau ini anak kecil apa harus di temani.”


Monica cemberut, “Justru karna aku sudah besar makanya harus kau temani kak! Bagaimana jika ada laki laki jahat yang menggoda ku?”


Marvel tertawa, laki laki jahat yang menggoda Monica? Rasanya mustahil.


“Kau ini cerewet bukan main, mana ada laki laki yang berani menggoda mu.”


Meski meledek Marvel tetap mematikan laptopnya tersebut dan mengambil jaket motornya, “Ayo, cepatlah!”


Monica bersorak girang, ia berjalan beriringan dengan kakaknya itu menuju garasi tempat dimana motor kesayangan Marvel itu terparkir rapih.


Monica memakai helm yang diberikan Marvel, ia naik ke motor kakaknya itu dan memeluk Marvel dengan erat. “Lets go!”


Motor Marvel keluar dari pekarangan rumahnya, melaju membelah jalanan dengan kecepatan normal.


Yang tidak Marvel dan Monica sadari adalah belum lama setelah mereka pergi, Clara datang dengan maksud ingin menemui Marvel.


Clara menekan bel rumah tersebut hingga seorang pelayan membukakan pintu untuk Clara.


“Apa Marvel ada?” Clara langsung menanyakan tentang Marvel, Clara benar benar membutuhkan Marvel saat ini. Clara ingin menumpahkan segala keluh kesahnya, bebannya saat ini.


Pelayan tersebut mengerutkan alisnya bingung, sebelumnya ia sibuk di dapur jadi ia tidak tahu apakah Marvel ada atau tidak. “Sepertinya Tuan Marvel ada di kamarnya, biar saya panggil—”


“Tidak perlu, biar aku saja yang kesana.”


Clara masuk begitu saja, pelayan tersebut juga tidak ada niatan untuk menghentikan Clara karna pelayan tersebut berpikir Clara dan Marvel memiliki hubungan spesial mengingat Clara pernah menginap dan juga berkali kali keluar masuk dari rumah ini.

__ADS_1


Clara terlalu emosional sehingga ia lupa bahwa ia memasuki rumah orang lain, Clara terlalu emosional sehingga ia tidak menyadari bahwa di salah satu sisi rumah itu ada Juan yang mengawasi pergerakannya.


Clara mengetuk pintu kamar Marvel, namun tak kunjung ada jawaban, Clara ingin masuk ke dalam namun ia tidak berani, Clara kembali mengetuk pintu tersebut berharap harap Marvel akan segera membukakan pintu. Jika Marvel tidak membukakan pintu maka Clara akan pergi.


Untuk ke sekian kalinya Clara mengetuk pintu kamar Marvel sembari memanggil manggil nama Marvel namun tetap tidak ada jawaban.


Clara menghela nafas kecewa, ia berbalik hendak pergi namun ia dikejutkan dengan keberadaan Juan yang tepat berada di belakangnya.


“K-kau..” Clara menatap marah Juan, ia baru saja ingin membuka mulut hendak memaki Juan namun Juan justru lebih dulu membekap Clara, menyeret wanita itu dengan paksa ke dalam kamarnya.


Clara meringis, ia mencoba memberontak namun ia kalah kuat dari Juan. Clara ketakutan, ia takut Juan akan melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah Damian lakukan. Clara merutuki dirinya yang datang kemari.


Seharusnya ia tidak datang, seharusnya ia menghubungi Marvel saja.


“Lepaskan aku!!” Clara berhasil berteriak sesaat Juan mendorongnya ke ranjang. “Jangan berani kau menyentuh ku, Marvel pasti tidak akan tinggal diam jika dia tahu ini. Dia pasti akan marah besar kepadamu! Kenapa kau melakukan semua ini kepadaku, kau bahkan menipuku!”


Juan tertawa sinis, “Kau bertanya kenapa? Kakak mana yang rela melihat adiknya diperalat oleh wanita menjijikan seperti mu. Aku melihat adik ku putus asa berjuang mati matian hanya untuk wanita murahan yang rela menjual harga dirinya demi uang. Apapun alasan yang kau berikan kau tetap sampah di mataku, kau tidak pantas untuk adik ku yang berharga itu!”


Clara menangis, jadi itu alasan Juan melakukan semua ini. Karna Juan merasa Clara tidak pantas dengan Marvel. Clara bahkan tidak pernah berpikir untuk memiliki hubungan romantis dengan Marvel lalu apa yang Juan takutkan?


“Aku tidak pernah berpikir untuk memiliki hubungan spesial dengan Marvel, kami hanya teman.”


“Karna itu, karna hal itu pula aku membenci mu. Marvel rela melakukan apa saja demi dirimu tapi kau justru mengabaikan perasaannya, wanita seperti mu memang wanita tidak tahu diri. Kau dengan mudah nya menyerahkan harga diri mu kepada laki laki hanya demi uang.”


Juan menggelengkan kepalanya, tangisan Clara tidak akan merubah apapun. “Jika kau ingin menyelesaikan masalah mu jangan tarik adik ku ikut terlibat dalam masalah mu, kau yang memulai penderitaan mu sendiri maka hadapi konsekuensi nya sendiri. Kau yang terlibat dengan Damian maka hadapi sendiri Damian, aku tidak mau adik ku terluka hanya karna pelacur seperti mu.”


Clara menatap Juan dengan pandangan putus asa, “Tidak bisa kah aku setidaknya mendapatkan teman, teman untuk bicara, aku hanya tidak ingin sendirian..”


“Bukan urusan ku.” Juan menaiki ranjang, ia menarik kaki Clara agar Clara tidak bisa menjauh darinya.


“Ku mohon jangan lakukan ini, jangan perlakukan aku seperti ini..”


“Lalu kau mau diperlakukan seperti apa, putri raja? Yang benar saja!” Juan kini berada tepat di atas Clara, Juan bukannya melepaskan pakaian Clara justru melepaskan pakaiannya sendiri.


“A-apa yang kau lakukan?”


“Pertunjukan akan segera dimulai.” Juan membalikkan posisi, ia mengangkat tubuh Clara sehingga Clara lah yang kini berada diatasnya, menindih tubuh kekarnya. Dan tepat pada saat itu juga pintu kamar Juan terbuka, Marvel berdiri di depan pintu kamar tersebut dengan tubuh yang mendadak kaku.


“Apa yang kalian berdua lakukan?” Marvel menatap Juan dan Clara bergantian.


Sudut bibir Juan tertarik ke atas membentuk sebuah seringai, “Apa lagi memangnya, sudah jelas kami ini melakukan sex. Clara menawarkan dirinya padaku karna ia butuh uang, kau tahu sendiri bukan kalau dia butuh uang untuk membayar Damian?”

__ADS_1


Clara panik, ia terkejut dengan apa yang Juan katakan. “Bukan! Bukan seperti itu kebenarannya! Aku dan kakak mu tidak melakukan apapun Marvel, kau harus percaya padaku. Kakak mu berbohong, tolong aku Marvel, ku mohon tolong aku!!”


Juan mengalihkan pandangannya pada Clara, “Tolong apa yang kau maksud? Sebelumnya kau bersemangat sekali ingin menyentuh ku hingga kau membuka pakaian ku secara paksa lalu kepada kau jadi berubah seperti ini, apakah karna ada Marvel?”


Clara menggelengkan kepalanya dengan cepat. Clara tidak menyangka Juan akan berbohong seperti ini. Yang parahnya lagi Juan sangat pandai berakting. “Bohong! Aku tidak menyentuh mu, kau yang memaksa ku. Kau yang berusaha untuk menyentuhku.”


Juan tertawa keras, “Aku memaksa mu? Hei, dilihat dari posisi kita saat ini saja sudah ketahuan siapa yang memaksa. Jika saja aku memasang cctv di kamar ku ini mungkin itu bisa dijadikan barang bukti bahwa kau lah yang menggoda ku.”


Clara baru menyadari posisinya, ia berada tepat di atas Juan. Duduk di perut berotot Juan yang tidak mengenakan apa apa.


Marvel hanya terdiam disana, melihat perdebatan antara Juan dan Clara, hingga ia berbalik keluar. Meninggalkan keduanya dengan hati perih.


“Marvel tunggu!” teriak Clara berusaha mengejar Marvel.


Juan tidak berusaha untuk mencegah, Juan hanya tersenyum melihat drama yang baru saja terjadi. Juan yakin bahwa setelah ini Marvel pasti akan membenci Clara dan memutuskan hubungan dengan wanita itu, entah hanya persahabatan sekalipun hubungan itu harus berakhir. Berteman dengan Clara terlalu beresiko untuk Marvel karna Clara memiliki hubungan dengan Damian.


Juan tidak ingin Marvel terlibat, Marvel bisa saja disakiti oleh Damian. Damian itu orang yang berbahaya.


***


“Marvel, yang semua kakak mu katakan itu bohong. Aku tidak berusaha untuk menggodanya!”


Teriakan Clara itu membuat langkah Marvel terhenti, Marvel berbalik dan menatap Clara dengan matanya yang memerah menahan amarah dan juga kekecewaannya.


“Ya, anggaplah kakak ku berbohong lalu kenapa kau bisa di kamarnya? Kau mau bilang bahwa kakak ku menculik mu begitu? Tidak masuk akal, jika kakak ku ingin melakukan kejahatan dia tidak akan melakukannya dirumah kami.”


“Aku bersumpah Marvel, aku tidak berbohong. Kakak mu lah yang berbohong.”


Air mata Marvel mengalir dari matanya begitu saja, “Aku mungkin saja bisa percaya kepadamu jika kakak ku pernah sekali saja membohongi ku sepanjang hidupnya, tapi dia tidak pernah. Dia tidak pernah menipuku, karna aku adik nya.” Marvel melangkah mendekat kearah Clara, “Aku tahu kau ini butuh uang, tapi apakah kau perlu sampai seperti ini? Menjual dirimu sendiri, tidak cukup kah kau melakukan nya sekali? Aku mencintai mu Clara, aku rela melakukan apapun untuk mu.. aku bahkan menerima fakta bahwa kau menjual dirimu demi uang kepada laki laki lain tapi kau justru memilih untuk menyakiti ku setelah apa yang sudah ku lakukan untuk mu.”


Marvel mengusap air mata di pipi nya, “Lebih baik kita tidak usah berhubungan lagi, anggap saja kau dan aku tidak pernah kenal sebelumnya. Aku tidak ingin cinta ku yang tertuju kepada orang yang salah ini semakin membesar nantinya dan justru akan semakin menyakiti ku.”


Clara menarik lengan Marvel, menghalangi Marvel untuk pergi. “Jangan seperti ini Marvel.. hanya kau yang ku miliki saat ini, jika kau juga menjauhi ku maka bagaimana dengan ku? Aku tidak mau sendiri—”


Marvel menarik tangannya dengan kasar, “Aku tidak perduli lagi, kau mati pun aku sudah tidak perduli lagi. Jangan salah kan aku atas semua ini, kau lah yang menghancurkan hidup mu sendiri.”


Marvel melangkah pergi, meninggalkan Clara yang terdiam masih terngiang ngiang oleh perkataan Marvel.


Mati?


Begitukah?

__ADS_1


—Terima kasih untuk para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini, mohon untuk tidak bosan bosannya menunggu cerita ini di update dan juga di mohon dukungan nya untuk author agar lebih semangat lagi menyelesaikan cerita ini. sekali lagi terima kasih banyak—


__ADS_2