SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
THIRTY FIVE


__ADS_3

14 hari berlalu, sudah saatnya untuk mengambil hasil tes DNA.


Damian pergi bersama sama dengan Clara, Damian ingin membuktikan secara langsung saat itu juga kepada Clara bahwa ia tidak bersalah.


Namun lain hal nya dengan Diana, Diana justru mengatakan bahwa ia tidak punya tenaga untuk bangun dan datang ke rumah sakit.


Feelisa sudah mengatakan bahwa jika memang Diana tidak enak badan mereka tetap harus pergi, karena memang tempat tujuan mereka adalah rumah sakit. Jika Diana memang sakit maka lebih baik diperiksa langsung di rumah sakit.


Namun Diana tetap menolak. Dengan alasan bergerak dari tempat tidur saja tidak sanggup.


Feelisa mengabari soal masalah ini kepada Damian dan respon Damian justru acuh, ia tidak perduli dengan kehadiran Diana. Yang terpenting Ibu nya datang melihat kebenaran yang sesungguhnya.


Dan disini lah mereka, bersama sama berkumpul demi menyelesaikan masalah yang ada.


"Siapa wanita ini?" tanya Feelisa kepada Damian, ia melihat Clara berdiri di sisi Damian.


"Dia calon istri ku Ma, nama nya Clara."


Feelisa mengerutkan alisnya, ia teringat bahwa Diana pernah menyebut nyebut wanita bernama Clara sebelumnya. Seingat Feelisa wanita yang bernama Clara adalah wanita selingkuhan Damian, yang juga adalah adik dari Diana.


Jadi benar kalau Damian menjalin hubungan dengan adik Diana?


"Calon istri kau bilang? Kau bahkan tidak pernah bercerita kepada Mama kalau kau memiliki hubungan dengannya sebelumnya, Mama bahkan tidak akan pernah tahu tentang perceraian mu dengan Diana seandainya Diana tidak datang ke rumah mengadu ke Mama."


Damian terdiam, memang ia salah karena tidak menceritakan semuanya kepada Ibu nya itu tapi maksud Damian karena Damian tidak ingin Ibu nya menjadi khawatir.


"Ku mohon jangan permasalahkan masalah ini Ma, jangan membuat Clara terbebani. Dia sedang mengandung anak ku saat ini, aku tidak ingin Clara dan anak ku stress karena merasa tertekan."


Feelisa semakin mengerutkan alisnya, "Hamil? Setelah Diana sekarang kau juga menghamili adiknya?!"


Damian berdecak, "Bukan kah aku sudah bilang itu bukan anak ku? Lagi pula tujuan kita kemari untuk mengambil hasilnya kan, bukan untuk memperdebatkan Clara dan kehamilannya."


Feelisa terdiam, kehamilan Diana memang belum terbukti benar anak Damian atau bukan, jadi Feelisa tidak bisa menyalahkan Damian juga.


Tapi tetap saja, menghamili seorang perempuan yang tidak terikat pernikahan dengan nya bukan lah tindakan yang benar.


***


Diana keluar dari kamarnya sembari melirik ke kanan kiri, memastikan bahwa Feelisa sudah benar benar pergi.


Saat ini pelayan pasti sedang sibuk di dapur, ini kesempatan Diana untuk melaksanakan aksi nya.


Diana sudah tahu bahwa ia akan ketahuan, dan dari pada bertindak bodoh dengan berusaha mati matian berbohong, Diana lebih memilih untuk mencuri barang barang berharga mantan mertua nya itu.


Sebenarnya Diana sudah ingin melakukannya sejak tes DNA itu dilakukan namun Feelisa selalu saja di rumah, bahkan terkesan seolah selalu mengawasi Diana. Hal itu lah yang membuat Diana sampai saat ini tidak kunjung juga berhasil membawa lari harta berharga Feelisa.


Diana juga ingin mengendap ngendap masuk ke kamar Feelisa sejak Feelisa berangkat ke rumah sakit namun pelayan terus saja bolak balik di depan kamarnya membuat Diana merasa tidak aman jika ia nekat melakukannya.

__ADS_1


Dan sekarang adalah saat yang tepat, masih ada waktu sekitar 30 menit lagi hingga Feelisa pulang, Diana sudah memperhitungkannya.


Diana akan mencuri sebanyak mungkin, ia tahu bahwa perhiasan Feelisa sangat lah mahal, untuk satu cincin saja bisa seharga 2 sampai 3 mobil mewah.


Diana berjalan mengendap ngendap memasuki kamar Feelisa. Ia tersenyum puas saat ia berhasil masuk tanpa ketahuan.


Diana menyerbu ruang penyimpanan perhiasan Feelisa, Diana tahu sekali tentang ruangan khusus ini karena dahulu ia pernah dibawa oleh Feelisa kemari karena saat itu Feelisa ingin memberikan hadiah kepada Diana yang baru saja menjadi menantu nya saat itu.


Diana dengan semangat mengambil salah satu tas branded, menjadikannya sebagai tempat menyimpan perhiasan perhiasan mahal Feelisa yang ingin ia bawa kabur.


***


Feelisa pulang dalam keadaan emosi, ia emosi setelah melihat hasil dari tes DNA itu.


Feelisa kesal karena ia telah dibohongi, dan ia juga merasa bodoh karena sempat mempercayai omongan busuk Diana.


Hasil tes DNA menyatakan bahwa Damian bukan Ayah dari bayi yang Diana kandung, hasilnya negatif.


Sempat pupus harapan Diana lantaran ia sudah mengharapkan cucu dari Damian, tapi Feelisa teringat bahwa ia masih punya harapan karena Clara tengah mengandung anak Damian saat ini.


Tidak seperti Diana yang berbohong.


Feelisa merasa malu, dan lalai sebagai seorang ibu. Ia mengabaikan perkataan anaknya dan lebih mendengarkan seseorang yang jelas jelas menjadi dalang utama dari semua masalah yang menimpa anak kesayangan nya.


Feelisa turun dari mobil dengan langkah lebar lebar.


Ia sudah ingin menumpahkan kekesalannya kepada Diana, ia masuk ke dalam rumah terburu buru. Ia membuka kamar Diana dan tidak mendapati Diana disana.


Feelisa melangkah menuju kamar nya, ia akan berendam untuk melepaskan penatnya. Namun ketika ia membuka pintu kamarnya, ia terkejut bukan main saat melihat Diana ada di dalam dengan membawa barang barang milik Feelisa.


"Kau!!"


Diana terkejut melihat kedatangan Feelisa yang tiba tiba, kenapa Feelisa pulang lebih awal.


"Ma-mama.."


***


"Sekarang aku sudah membuktikan kepada mu kalau aku tidak bersalah, jadi kapan kau akan menepati janji mu? Kapan kita akan melangsungkan pernikahan?"


Damian dan Clara baru saja sampai di rumah, namun Damian sudah menagih janji Clara.


Jujur saja Damian tidak ingin menunda nunda lagi, semakin di tunda maka Damian semakin takut jika ada masalah lain yang muncul dan ia semakin sulit mendapatkan Clara.


"Pernikahan? Bukan kah agak terlalu cepat bicara pernikahan sekarang?"


"Lalu kapan lagi? Kau mau kita menikah saat anak kita sudah lahir? Bukan kah itu lebih tidak nyaman lagi?"

__ADS_1


Clara mendadak cemberut, "Lalu kau mau aku memakai gaun di saat aku mulai gemuk begini? Aku tidak percaya diri."


"Jika kau mau kita bisa mengadakan pernikahan secara privat, yang hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja. Bagaimana?" Damian menawarkan jalan lain, meski sebenarnya ia ingin mengadakan pernikahan yang megah dan mengundang banyak orang.


Tapi dipikir pikir memang sebaiknya pernikahannya dilakukan secara privat karena kandungan Clara, bukan nya Damian malu mengakui bahwa ia telah menghamili perempuan di luar pernikahan tapi Damian hanya takut Clara terlalu lelah nantinya karena harus menyapa banyak tamu.


Jadi memang ada baiknya melangsungkan pernikahan secara privat.


Tapi semuanya masih bergantung kepada Clara, mau kah Clara menikah dengannya.


Clara nampak ragu, Clara memperhatikan wajah Damian dengan serius. "Kau berjanji tidak akan mengkhianati ku kan? Kau saja bisa meninggalkan Diana untuk ku, besar kemungkinan kau juga bisa meninggalkan aku untuk wanita lain."


Damian menggelengkan kepalanya, "Kau salah, aku meninggalkan Diana bukan karena mu, aku meninggalkan Diana karena Diana sendiri, dia yang mengkhianati ku. Jadi aku tidak mungkin meninggalkan mu selagi kau tidak mengkhianati ku."


Clara menganggukkan kepalanya mengerti.


"Jadi bagaimana, kau mau kan menikah dengan ku?" tanya Damian lagi.


Clara kembali menatap mata Damian, melihat ketulusan disana sehingga Clara menganggukkan kepalanya sekali lagi. "Ya, aku mau."


***


"Ma.. Diana bisa menjelaskan semuanya Ma." Diana memohon kepada Feelisa, ia tidak punya pilihan lain. Ia sudah kepergok. Dan barang barang yang sudah ia kumpulkan telah diambil paksa oleh security.


Dan disini lah Diana sekarang, bersujud dihadapan Feelisa, menjadi tontonan para pelayan.


“Setelah aku berusaha untuk menolong mu justru seperti ini balasan mu? Aku mempercayakan putra ku padamu tapi kau justru mengkhianati nya, aku percaya dengan semua kebohongan mu karena aku merasa kasihan padamu. Lalu sekarang kau mencoba untuk mencuri barang barang ku?! Kau benar benar wanita tidak tahu di untung!”


“Ma.. ini semua tidak seperti apa yang Mama lihat.”


“Tidak seperti apa yang ku lihat? Kalau bukan seperti apa yang ku lihat lalu kenapa semua perhiasan ku ada di dalam tas ini dan kenapa tas ini ada padamu?! Jangan karena kau berhasil membohongi ku sekali kau jadi berpikir bahwa aku ini bisa kau bohongi untuk kedua kalinya, aku tidak sebodoh itu Diana.”


Diana menggelengkan kepalanya, air mata mulai menetes membasahi pipinya. Tentu saja air mata palsu.


“Mama.. maafkan Diana Ma, Diana terpaks—”


“Tidak perlu minta maaf, pergi kau dari rumah ini dan jangan pernah muncul lagi dihadapan ku.”


“Mama tolong jangan usir aku dari sini Mama, aku tidak punya tempat tinggal lain lagi”


Feelisa mengangkat bahu nya tidak perduli, “Pergi sebelum aku meminta security untuk menyeret mu dan melempar mu keluar dari rumah ini.”


Diana tetap berkeras kepala. “Tidak Ma, aku tidak mau pergi.”


Feelisa berdecak, ia memberi kode kepada security untuk menyeret Diana keluar.


Feelisa mengabaikan teriakan Diana, ia tidak perduli meski Diana tengah hamil. Lagi pula anak yang Diana kandung bukan anak dari Damian, putra kesayangannya.

__ADS_1


Memikirkan tentang anak Damian, Feelisa menjadi teringat tentang kehamilan Clara. Feelisa seolah merasa tak sabaran untuk melihat bagaimana rupa cucu nya nanti saat lahir. Meski itu masih cukup lama.


Feelisa tidak sabar ingin menggendong seorang cucu.


__ADS_2