SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 7


__ADS_3

*Marvel tidak sakit hati sedikitpun dengan tuduhan Sabrina kepadanya, Marvel justru tersenyum. “Sebelumnya kau menuduh ku datang untuk membujuk mu untuk kembali kepada kakak ku, lalu sekarang kau menuduh ku datang kemari untuk menyuruh mu menjauhi kakak ku. Tapi sayangnya aku kemari bukan untuk kedua hal tidak penting tersebut.”


“Lalu untuk apa kau kemari? cepat katakan apa mau mu, aku tidak punya banyak waktu!”


“Bisa kau beritahu aku kenapa kak Juan rela jauh jauh datang kemari untuk menemui mu hanya untuk meminta mu kembali kepada nya, dan beritahu aku kenapa kau sangat menolaknya. Kejahatan apa yang pernah kakak ku lakukan kepada mu sampai kau se-benci ini kepadanya*?”


***


Marvel masih duduk berhadapan dengan Sabrina, menunggu Sabrina untuk mulai membuka mulutnya menjawab semua pertanyaan yang sebelumnya Marvel lontarkan.


“Aku juga tidak mengerti mengapa Juan rela mengorbankan waktunya yang berharga datang kesini hanya untuk meminta ku kembali kepadanya, meminta agar kami memulai hubungan kami lagi dari awal. Tapi semuanya tidak semudah itu, tidak semudah Juan datang kemari menemui ku dan mengatakan keinginannya. Nyatanya apa yang Juan lakukan dimasa lalu sudah membuat ku tidak ingin melihat wajah nya sedikit saja, apalagi menjalin hubungan kembali dengannya. Aku tidak mau.”


“Memangnya apa yang sudah Juan lakukan kepada mu?” tanya Marvel lagi, kembali Marvel melihat Sabrina terdiam sejenak. Menarik nafas berat, mengingat kenangan buruk tentang Juan di masa lalu.


“Juan, ******** itu mengatakan bahwa dia mencintai ku. Tapi nyatanya dihari pernikahan kami dia tidak datang dan menghilang bagai hantu, tidak bisa dihubungi. Membuat keluarga ku malu, membuat semua tamu undangan menggunjingi ku. Dan setelah menghilang ia justru ternyata menikah dengan wanita lain, setelah apa yang dilakukan nya kepada ku berani sekali dia datang kemari dan memohon untuk memulai kembali hubungan kami dari awal. Apa sekarang dia sudah bosan dengan istri pertamanya lalu sekarang ia kembali kepada ku?”


Marvel melihat Sabrina yang bicara dengan emosi meluap-luap, Sabrina juga mengatakan bahwa Juan datang kepadanya karena Juan telah bosan dengan istrinya. Sepertinya Juan belum memberitahu Sabrina bahwa Helena telah meninggal.


“Juan datang menemui mu bukan karena ia telah bosan dengan istrinya, karena Kak Helena telah meninggal beberapa bulan yang lalu tepat setelah melahirkan putri mereka.”


Sabrina terkejut mendengar perkataan Marvel, tidak pernah terpikirkan oleh Sabrina bahwa wanita itu telah meninggal. Tapi hal tersebut tidak membuat Sabrina merasa baikan sedikitpun, justru mengetahui hal tersebut semakin membuat Sabrina merasa benci kepada Juan.


Bagaimana bisa Juan mendekati dirinya, dan mengajaknya untuk memulai kembali hubungan mereka dari awal sedangkan belum lama ini istri Juan baru saja meninggal. Apa laki laki itu benar benar tidak punya hati?


Juan benar benar tidak pernah berubah, tidak ada bedanya. Masih sama egoisnya, untuk apa membangun kembali hubungan dengan laki laki egois, Sabrina tidak ingin menderita lagi. Cukup dulu saja ia terlalu cinta kepada Juan sampai melakukan hal bodoh yang berujung kehamilan tanpa suami.


“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui semua tentang ku?” Sabrina menatap Marvel serius, Sabrina tidak bisa menebak apa yang Marvel inginkan sebenarnya sampai repot-repot datang kemari.


“Aku tidak akan melakukan apa apa dengan mu, kau tenang saja. Aku akan membawa pulang Juan dengan paksa sehingga dia tidak akan mengganggu mu lagi.” Marvel bangkit dari posisi duduknya, “Kalau begitu aku permisi.”


Sabrina ikut berdiri, hendak menemani Marvel keluar dari umah nya. Namun belum sempat Sabrina membukakan pintu untuk Marvel, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu oleh sosok anak laki laki kecil yang pulang dengan luka lebam di pipinya.


Marvel tidak bisa memungkiri bahwa ia terkejut melihat anak kecil tersebut, meski wajahnya sedikit lebam. Marvel bisa melihat dengan jelas bahwa anak kecil tersebut amat sangat mirip dengan Juan.


Sontak Marvel dengan cepat menoleh kearah Sabrina, menatap wanita itu dengan pandangan penuh tanda tanya. Jangan bilang bahwa anak laki laki itu adalah anak Juan juga?


***


Riko berdiri di depan keranjang bayi tempat Viola tertidur, Riko ingin mengusap sisa air mata Viola namun tangan Riko enggan bergerak lebih jauh. Lantaran takut membangunkan sosok kecil itu.


Viola baru saja tertidur, setelah Milla dengan susah payah membuat Viola tenang dari tangisnya.


Riko merasa kasihan dengan Viola, setidaknya dulu saat Riko merindukan sosok Ayah. Ada Ibunya yang selalu menyayanginya, berada disisinya. Sedangkan Viola, setelah ditinggal mati Ibunya, Ayahnya pun pergi entah kemana.


Perasaan kesal juga ada dalam diri Riko, bukan kesal karena perhatian sang Ibunda menjadi terfokus pada Viola. Bukan itu. Tapi Riko kesal dengan sang paman yang justru membuat orang tua nya kesulitan.


Riko menjadi tidak bisa melihat wajah Ayahnya karena Ayahnya pergi menyusul sang paman yang entah sebenarnya sedang berada dimana. Riko sedih melihat Ayah dan Ibu nya kelelahan.


Tapi Riko juga sedih melihat Viola yang seolah tak diinginkan oleh orangtuanya sendiri. Kasihan sekali.


“Riko sayang, kenapa disini. Ayo makan siang dulu.” dengan nada suara pelan seperti berbisik, Milla masuk ke kamar menggerak-gerakkan tangannya memanggil Riko untuk menghampiri dirinya yang berdiri di depan pintu kamar.


Riko dengan pelan pelan menghampiri Ibunya, takut jika pergerakannya menimbulkan suara berisik yang akan membuat Viola terbangun dan menangis lagi seperti sebelumnya.


“Ayo ganti seragam nya lalu makan siang sama Mama.”


***

__ADS_1


Awalnya Marvel akan kembali ke hotel dan menemui Juan, namun niatnya batal setelah melihat anak yang mirip Juan itu masuk ke dalam rumah yang Sabrina tinggali.


Terlebih lagi anak itu memanggil Sabrina dengan sebutan ‘Mama’.


Marvel membutuhkan penjelasan tentang hal ini dari Sabrina, apakah anak laki laki itu benar benar anak Juan seperti apa yang Marvel pikirkan atau bukan. Tidak mungkin bila anak itu bukan anak Juan sementara wajah anak itu saja sangat mirip dengan wajah Juan saat masih kecil dahulu.


Marvel melihat Sabrina yang terlihat gelagapan ingin mencari cari alasan, tapi setelah melihat tatapan tajam dari Marvel. Sabrina menghela nafas berat, ia kalah. Tidak tahu harus berbohong bagaimana lagi agar Marvel percaya. Mau tidak mau ia harus jujur.


“Dia anak Juan, anak Juan yang ku kandung saat kami akan menikah. Tapi Juan justru meninggalkan kami.”


Lagi dan lagi, Marvel dikejutkan dengan fakta fakta baru yang ia dapatkan. “Jadi Juan tahu kau sedang hamil tapi Juan justru memilih untuk meninggalkan mu tepat dihari pernikahan kalian?” tanya Marvel lagi, memastikan apa yang dipikirkannya itu tidak salah.


Sabrina menganggukkan kepalanya, “Karena hal itu lah orang tua ku marah besar, mereka menganggap ku anak yang mempermalukan nama baik keluarga. Jika hanya pernikahan yang batal mungkin tidak masalah, tapi aku hamil tanpa suami, keluarga ku mengusir ku sehingga aku harus hidup berdua dengan anak ini dan harus berjuang mati matian untuk bertahan hidup.”


Marvel mengusap wajahnya kasar, gila sekali Juan pergi menikah dengan orang lain sementara kekasihnya ia tinggal dihari pernikahan mereka dalam kondisi hamil pula. Pantas saja Juan nekat meninggalkan semuanya dan datang kesini sampai tidak pulang berbulan bulan.


Juan pasti merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan nya.


“Tolong jangan beritahu Juan, bahwa anaknya masih hidup.”


“Maksud mu?”


Sabrina menghela nafas berat, “Semenjak Juan datang kemari, Juan belum pernah bertemu dengan Markus. Mungkin Juan berpikir bahwa anak yang dulu ku kandung sudah aku gugurkan setelah dia meninggalkan ku. Jadi jangan beritahu dia.”


“Apa kau takut jika Juan mengambil anak ku darimu?”


Sabrina terdiam, meski Sabrina benci fakta bahwa Markus putranya sangat mirip dengan Juan dan setiap kali Sabrina melihat Markus, selalu membuat Sabrina teringat oleh Juan. Sabrina tidak bisa menutupi fakta bahwa ia tidak ingin anak yang sudah ia pertahankan mati matian, anak yang sudah ia perjuangkan diambil begitu saja oleh Juan.


Orang yang tidak berpikir dua kali saat meninggalkannya.


***


*Marvel tidak sakit hati sedikitpun dengan tuduhan Sabrina kepadanya, Marvel justru tersenyum. “Sebelumnya kau menuduh ku datang untuk membujuk mu untuk kembali kepada kakak ku, lalu sekarang kau menuduh ku datang kemari untuk menyuruh mu menjauhi kakak ku. Tapi sayangnya aku kemari bukan untuk kedua hal tidak penting tersebut.”


“Lalu untuk apa kau kemari? cepat katakan apa mau mu, aku tidak punya banyak waktu!”


“Bisa kau beritahu aku kenapa kak Juan rela jauh jauh datang kemari untuk menemui mu hanya untuk meminta mu kembali kepada nya, dan beritahu aku kenapa kau sangat menolaknya. Kejahatan apa yang pernah kakak ku lakukan kepada mu sampai kau se-benci ini kepadanya*?”


***


Marvel masih duduk berhadapan dengan Sabrina, menunggu Sabrina untuk mulai membuka mulutnya menjawab semua pertanyaan yang sebelumnya Marvel lontarkan.


“Aku juga tidak mengerti mengapa Juan rela mengorbankan waktunya yang berharga datang kesini hanya untuk meminta ku kembali kepadanya, meminta agar kami memulai hubungan kami lagi dari awal. Tapi semuanya tidak semudah itu, tidak semudah Juan datang kemari menemui ku dan mengatakan keinginannya. Nyatanya apa yang Juan lakukan dimasa lalu sudah membuat ku tidak ingin melihat wajah nya sedikit saja, apalagi menjalin hubungan kembali dengannya. Aku tidak mau.”


“Memangnya apa yang sudah Juan lakukan kepada mu?” tanya Marvel lagi, kembali Marvel melihat Sabrina terdiam sejenak. Menarik nafas berat, mengingat kenangan buruk tentang Juan di masa lalu.


“Juan, ******** itu mengatakan bahwa dia mencintai ku. Tapi nyatanya dihari pernikahan kami dia tidak datang dan menghilang bagai hantu, tidak bisa dihubungi. Membuat keluarga ku malu, membuat semua tamu undangan menggunjingi ku. Dan setelah menghilang ia justru ternyata menikah dengan wanita lain, setelah apa yang dilakukan nya kepada ku berani sekali dia datang kemari dan memohon untuk memulai kembali hubungan kami dari awal. Apa sekarang dia sudah bosan dengan istri pertamanya lalu sekarang ia kembali kepada ku?”


Marvel melihat Sabrina yang bicara dengan emosi meluap-luap, Sabrina juga mengatakan bahwa Juan datang kepadanya karena Juan telah bosan dengan istrinya. Sepertinya Juan belum memberitahu Sabrina bahwa Helena telah meninggal.


“Juan datang menemui mu bukan karena ia telah bosan dengan istrinya, karena Kak Helena telah meninggal beberapa bulan yang lalu tepat setelah melahirkan putri mereka.”


Sabrina terkejut mendengar perkataan Marvel, tidak pernah terpikirkan oleh Sabrina bahwa wanita itu telah meninggal. Tapi hal tersebut tidak membuat Sabrina merasa baikan sedikitpun, justru mengetahui hal tersebut semakin membuat Sabrina merasa benci kepada Juan.


Bagaimana bisa Juan mendekati dirinya, dan mengajaknya untuk memulai kembali hubungan mereka dari awal sedangkan belum lama ini istri Juan baru saja meninggal. Apa laki laki itu benar benar tidak punya hati?


Juan benar benar tidak pernah berubah, tidak ada bedanya. Masih sama egoisnya, untuk apa membangun kembali hubungan dengan laki laki egois, Sabrina tidak ingin menderita lagi. Cukup dulu saja ia terlalu cinta kepada Juan sampai melakukan hal bodoh yang berujung kehamilan tanpa suami.

__ADS_1


“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui semua tentang ku?” Sabrina menatap Marvel serius, Sabrina tidak bisa menebak apa yang Marvel inginkan sebenarnya sampai repot-repot datang kemari.


“Aku tidak akan melakukan apa apa dengan mu, kau tenang saja. Aku akan membawa pulang Juan dengan paksa sehingga dia tidak akan mengganggu mu lagi.” Marvel bangkit dari posisi duduknya, “Kalau begitu aku permisi.”


Sabrina ikut berdiri, hendak menemani Marvel keluar dari umah nya. Namun belum sempat Sabrina membukakan pintu untuk Marvel, pintu tersebut sudah terbuka lebih dulu oleh sosok anak laki laki kecil yang pulang dengan luka lebam di pipinya.


Marvel tidak bisa memungkiri bahwa ia terkejut melihat anak kecil tersebut, meski wajahnya sedikit lebam. Marvel bisa melihat dengan jelas bahwa anak kecil tersebut amat sangat mirip dengan Juan.


Sontak Marvel dengan cepat menoleh kearah Sabrina, menatap wanita itu dengan pandangan penuh tanda tanya. Jangan bilang bahwa anak laki laki itu adalah anak Juan juga?


***


Riko berdiri di depan keranjang bayi tempat Viola tertidur, Riko ingin mengusap sisa air mata Viola namun tangan Riko enggan bergerak lebih jauh. Lantaran takut membangunkan sosok kecil itu.


Viola baru saja tertidur, setelah Milla dengan susah payah membuat Viola tenang dari tangisnya.


Riko merasa kasihan dengan Viola, setidaknya dulu saat Riko merindukan sosok Ayah. Ada Ibunya yang selalu menyayanginya, berada disisinya. Sedangkan Viola, setelah ditinggal mati Ibunya, Ayahnya pun pergi entah kemana.


Perasaan kesal juga ada dalam diri Riko, bukan kesal karena perhatian sang Ibunda menjadi terfokus pada Viola. Bukan itu. Tapi Riko kesal dengan sang paman yang justru membuat orang tua nya kesulitan.


Riko menjadi tidak bisa melihat wajah Ayahnya karena Ayahnya pergi menyusul sang paman yang entah sebenarnya sedang berada dimana. Riko sedih melihat Ayah dan Ibu nya kelelahan.


Tapi Riko juga sedih melihat Viola yang seolah tak diinginkan oleh orangtuanya sendiri. Kasihan sekali.


“Riko sayang, kenapa disini. Ayo makan siang dulu.” dengan nada suara pelan seperti berbisik, Milla masuk ke kamar menggerak-gerakkan tangannya memanggil Riko untuk menghampiri dirinya yang berdiri di depan pintu kamar.


Riko dengan pelan pelan menghampiri Ibunya, takut jika pergerakannya menimbulkan suara berisik yang akan membuat Viola terbangun dan menangis lagi seperti sebelumnya.


“Ayo ganti seragam nya lalu makan siang sama Mama.”


***


Awalnya Marvel akan kembali ke hotel dan menemui Juan, namun niatnya batal setelah melihat anak yang mirip Juan itu masuk ke dalam rumah yang Sabrina tinggali.


Terlebih lagi anak itu memanggil Sabrina dengan sebutan ‘Mama’.


Marvel membutuhkan penjelasan tentang hal ini dari Sabrina, apakah anak laki laki itu benar benar anak Juan seperti apa yang Marvel pikirkan atau bukan. Tidak mungkin bila anak itu bukan anak Juan sementara wajah anak itu saja sangat mirip dengan wajah Juan saat masih kecil dahulu.


Marvel melihat Sabrina yang terlihat gelagapan ingin mencari cari alasan, tapi setelah melihat tatapan tajam dari Marvel. Sabrina menghela nafas berat, ia kalah. Tidak tahu harus berbohong bagaimana lagi agar Marvel percaya. Mau tidak mau ia harus jujur.


“Dia anak Juan, anak Juan yang ku kandung saat kami akan menikah. Tapi Juan justru meninggalkan kami.”


Lagi dan lagi, Marvel dikejutkan dengan fakta fakta baru yang ia dapatkan. “Jadi Juan tahu kau sedang hamil tapi Juan justru memilih untuk meninggalkan mu tepat dihari pernikahan kalian?” tanya Marvel lagi, memastikan apa yang dipikirkannya itu tidak salah.


Sabrina menganggukkan kepalanya, “Karena hal itu lah orang tua ku marah besar, mereka menganggap ku anak yang mempermalukan nama baik keluarga. Jika hanya pernikahan yang batal mungkin tidak masalah, tapi aku hamil tanpa suami, keluarga ku mengusir ku sehingga aku harus hidup berdua dengan anak ini dan harus berjuang mati matian untuk bertahan hidup.”


Marvel mengusap wajahnya kasar, gila sekali Juan pergi menikah dengan orang lain sementara kekasihnya ia tinggal dihari pernikahan mereka dalam kondisi hamil pula. Pantas saja Juan nekat meninggalkan semuanya dan datang kesini sampai tidak pulang berbulan bulan.


Juan pasti merasa bersalah dan ingin menebus kesalahan nya.


“Tolong jangan beritahu Juan, bahwa anaknya masih hidup.”


“Maksud mu?”


Sabrina menghela nafas berat, “Semenjak Juan datang kemari, Juan belum pernah bertemu dengan Markus. Mungkin Juan berpikir bahwa anak yang dulu ku kandung sudah aku gugurkan setelah dia meninggalkan ku. Jadi jangan beritahu dia.”


“Apa kau takut jika Juan mengambil anak ku darimu?”

__ADS_1


Sabrina terdiam, meski Sabrina benci fakta bahwa Markus putranya sangat mirip dengan Juan dan setiap kali Sabrina melihat Markus, selalu membuat Sabrina teringat oleh Juan. Sabrina tidak bisa menutupi fakta bahwa ia tidak ingin anak yang sudah ia pertahankan mati matian, anak yang sudah ia perjuangkan diambil begitu saja oleh Juan.


Orang yang tidak berpikir dua kali saat meninggalkannya.


__ADS_2