SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 8


__ADS_3

“*Apa kau takut jika Juan mengambil anak ku darimu?”


Sabrina terdiam, meski Sabrina benci fakta bahwa Markus putranya sangat mirip dengan Juan dan setiap kali Sabrina melihat Markus, selalu membuat Sabrina teringat oleh Juan. Sabrina tidak bisa menutupi fakta bahwa ia tidak ingin anak yang sudah ia pertahankan mati matian, anak yang sudah ia perjuangkan diambil begitu saja oleh Juan.


***


Sementara Marvel dan Sabrina berbincang mengenai Markus, Juan yang berada di kamar hotelnya tengah berbaring sembari melihat sebuah foto.


Foto yang sejak lama ia simpan di dalam dompetnya, foto itu tidak lain adalah foto Sabrina dan juga Markus, putra mereka.


Bodoh jika Marvel dan Sabrina berpikir bahwa Juan tidak tahu tentang keberadaan Markus. Juan tahu, karena Juan tidak pernah benar benar meninggalkan mereka.


Meski Juan pergi, dan menikah dengan wanita lain. Juan selalu mengawasi pergerakan Sabrina, dan semenjak Juan datang ke kota ini untuk membawa Sabrina kembali kepelukannya.


Juan tidak pernah absen memperhatikan Markus meski Juan hanya bisa memperhatikan dari dalam mobilnya saja. Karena Juan tidak punya keberanian untuk muncul dihadapan putranya itu dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa, dan mengatakan bahwa dirinya adalah Ayah anak itu.


Juan tidak bisa, karena Juan tahu diri. Ia juga mengenal rasa malu.


Juan mengusap foto itu lembut, berharap suatu hari nanti keinginan nya akan terkabulkan yaitu bisa membangun kelurga bersama dengan Sabrina. Menepati janjinya yang dulu pernah ia ingkari.


***


“Halo Marvel?” Milla yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sigap mengangkat panggilan telepon dari Marvel, “Kau sudah bertemu dengan Kak Juan?”


“Aku belum bertemu dengan Kak Juan, Oh ya. Bagaimana kabar mu dan yang lainnya?”


“Aku baik baik saja, Riko juga baik baik saja. Tapi Monica kelihatannya sangat stress kerena ia akan ada tes tapi Viola terus saja menangis, aku merasa kasihan kepadanya.”


“Biarkan saja, Monica juga harus belajar cara mengurus anak. Suatu saat nanti juga dia pasti akan memiliki anak. Apa Riko sudah tidur? Aku merindukan suaranya.”


Milla tertawa kecil mendengar suara Marvel yang terdengar sedih, Riko juga sama seperti Marvel, mereka saling merindukan satu sama lain. Sayangnya Riko sudah jatuh terlelap ke dalam dunia mimpinya sehingga Marvel tidak bisa bicara sebentar dengan Riko.


“Kenapa kau belum menemui Kak Juan, bukan kah kau sendiri yang mengatakan ingin membawa pulang Kak Juan secepat mungkin?” Milla duduk di ranjang sembari bersandar pada kepala ranjang, menikmati waktunya berbincang dengan Marvel melalui telepon. Jujur saja, Milla merindukan Marvel meski Marvel belum ada seminggu pergi darinya tapi Milla sudah rindu, bukan hanya Riko saja yang rindu pada Marvel tapi Milla juga merasakannya.


“Aku ingin menyelidiki sendiri mengapa Kak Juan tidak kunjung pulang, dan kau tahu fakta apa yang ku dapati disini. Kak Juan memiliki anak laki-laki, sebelum menikah dengan Kak Helena, Kak Juan sudah menghamili wanita lain.”


Waw, Milla memang punya firasat bahwa Juan itu laki laki brengsek saat pertama kali Milla bertemu dengan Juan. Tapi Milla tidak pernah menyangka bahwa Juan sebrengsek ini.


“Sayang, sudah dulu ya. Aku harus menyetir. Salam kan rindu ku kepada Riko. Maaf juga karena harus merepotkan mu menjaga Viola, selamat malam, aku mencintai mu.”


Sambungan telepon tersebut terputus setelah Milla membalas ucapan selamat malam Marvel, yang Milla harapkan adalah apapun masalah Juan, Milla harap masalah itu cepat selesai dan Marvel bisa segera kembali bersama dengan dirinya dan Riko.


***


Marvel berdiri di depan pintu kamar hotel Juan, ia baru saja kembali dari rumah Sabrina dan Marvel kini tengah berperang dengan dirinya sendiri. Harus kah ia menemui Juan malam ini juga?


Lama Marvel berdiri di depan pintu sembari memikirkan apa yang akan dilakukannya, sampai akhirnya pintu kamar hotel tersebut terbuka dengan sendirinya tanpa sempat Marvel ketuk.

__ADS_1


Juan membuka pintu tersebut, berdiri menghadap Marvel dengan ekspresi datarnya. Seolah tidak terkejut dengan keberadaan Marvel yang berdiri di depan kamar hotel tempatnya menginap.


“Kau mau berdiri terus disini atau masuk ke dalam?” tanya Juan kepada Marvel, Marvel berdehem canggung sebelum akhirnya Marvel mengangguk, pertanda bahwa ia akan masuk ke dalam kamar hotel Juan.


Dalam hati Marvel bertanya tanya apakah Juan sudah tahu sejak awal bahwa Marvel datang? dan menunggu sampai Marvel menghampirinya sendiri, begitu?


“Sudah ku duga kau akan kemari.” Juan duduk di pinggir ranjang, mengisyaratkan Marvel agar duduk di kursi kosong yang ada di dalam kamar tersebut, Marvel duduk dan menggeser sedikit kursi tersebut agar mereka bisa saling berhadap-hadapan.


“Aku kemari untuk membawa mu pulang.”


Juan menganggukkan kepalanya mengerti, ia sudah tahu tujuan Marvel kesini sudah pasti untuk hal tersebut. Tapi Juan tidak bisa kembali sebelum tujuan nya datang kemari terpenuhi. Juan tidak ingin pulang dengan tangan kosong.


“Viola membutuhkan mu Kak.” Kali ini Marvel membawa bawa Viola, berharap Juan akan luluh. Namun nampaknya Juan jauh lebih keras kepala dibandingkan Marvel.


“Setidaknya Viola memiliki kau, istri mu dan juga Monica yang bisa selalu ada disisinya selama aku tidak ada. Tapi aku tidak bisa pulang begitu saja Marvel, Viola memiliki kalian. Tapi Sabrina dan putra ku tidak memiliki siapa siapa.” Juan juga perduli terhadap Viola, tapi permasalahannya tanpa Juan pun Viola akan baik baik saja ditangan orang yang benar dan tidak hidup dalam kekurangan apapun, sementara Sabrina dan Markus. Tidak punya apa apa, makan saja susah.


“Kau tahu bahwa kau punya seorang putra?” tanya Marvel kaget, ia pikir Juan tidak tahu. Bahkan Sabrina juga berpikir demikian, maka dari itu Sabrina meminta Marvel untuk merahasiakannya dari Juan.


Nampaknya usaha Sabrina untuk menutup nutupi tentang putranya sia sia karna Juan sendiri telah mengetahui tentang hal tersebut.


“Kalau kau sebegitu perduli nya kepada mereka kenapa dulu kau meninggalkan mereka?!” kali ini Marvel meninggikan suaranya, ia kesal dengan Juan yang terus saja menyakiti banyak orang hanya demi mencapai keinginannya. “Kalau memang kau benar benar mencintai Sabrina, kenapa kau justru lari dihari pernikahan kalian dan kau malah menikah dengan Kak Helena? Kenapa?!”


Juan yang hatinya memang tengah kacau dan dipancing kemarahannya oleh Marvel, tidak bisa mengontrol perkataannya. Juan muak melihat Marvel yang terus menekannya. “Kau pikir aku seperti ini juga karena siapa hah?! Karna siapa kalau bukan karna kau!! kau juga terlibat dalam semua masalah ini! Berhenti terus memojokkan diriku hanya karena aku Kakak tertua!!”


“*Apa kau takut jika Juan mengambil anak ku darimu?”


Sabrina terdiam, meski Sabrina benci fakta bahwa Markus putranya sangat mirip dengan Juan dan setiap kali Sabrina melihat Markus, selalu membuat Sabrina teringat oleh Juan. Sabrina tidak bisa menutupi fakta bahwa ia tidak ingin anak yang sudah ia pertahankan mati matian, anak yang sudah ia perjuangkan diambil begitu saja oleh Juan.


***


Sementara Marvel dan Sabrina berbincang mengenai Markus, Juan yang berada di kamar hotelnya tengah berbaring sembari melihat sebuah foto.


Foto yang sejak lama ia simpan di dalam dompetnya, foto itu tidak lain adalah foto Sabrina dan juga Markus, putra mereka.


Bodoh jika Marvel dan Sabrina berpikir bahwa Juan tidak tahu tentang keberadaan Markus. Juan tahu, karena Juan tidak pernah benar benar meninggalkan mereka.


Meski Juan pergi, dan menikah dengan wanita lain. Juan selalu mengawasi pergerakan Sabrina, dan semenjak Juan datang ke kota ini untuk membawa Sabrina kembali kepelukannya.


Juan tidak pernah absen memperhatikan Markus meski Juan hanya bisa memperhatikan dari dalam mobilnya saja. Karena Juan tidak punya keberanian untuk muncul dihadapan putranya itu dan bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa, dan mengatakan bahwa dirinya adalah Ayah anak itu.


Juan tidak bisa, karena Juan tahu diri. Ia juga mengenal rasa malu.


Juan mengusap foto itu lembut, berharap suatu hari nanti keinginan nya akan terkabulkan yaitu bisa membangun kelurga bersama dengan Sabrina. Menepati janjinya yang dulu pernah ia ingkari.


***


“Halo Marvel?” Milla yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sigap mengangkat panggilan telepon dari Marvel, “Kau sudah bertemu dengan Kak Juan?”

__ADS_1


“Aku belum bertemu dengan Kak Juan, Oh ya. Bagaimana kabar mu dan yang lainnya?”


“Aku baik baik saja, Riko juga baik baik saja. Tapi Monica kelihatannya sangat stress kerena ia akan ada tes tapi Viola terus saja menangis, aku merasa kasihan kepadanya.”


“Biarkan saja, Monica juga harus belajar cara mengurus anak. Suatu saat nanti juga dia pasti akan memiliki anak. Apa Riko sudah tidur? Aku merindukan suaranya.”


Milla tertawa kecil mendengar suara Marvel yang terdengar sedih, Riko juga sama seperti Marvel, mereka saling merindukan satu sama lain. Sayangnya Riko sudah jatuh terlelap ke dalam dunia mimpinya sehingga Marvel tidak bisa bicara sebentar dengan Riko.


“Kenapa kau belum menemui Kak Juan, bukan kah kau sendiri yang mengatakan ingin membawa pulang Kak Juan secepat mungkin?” Milla duduk di ranjang sembari bersandar pada kepala ranjang, menikmati waktunya berbincang dengan Marvel melalui telepon. Jujur saja, Milla merindukan Marvel meski Marvel belum ada seminggu pergi darinya tapi Milla sudah rindu, bukan hanya Riko saja yang rindu pada Marvel tapi Milla juga merasakannya.


“Aku ingin menyelidiki sendiri mengapa Kak Juan tidak kunjung pulang, dan kau tahu fakta apa yang ku dapati disini. Kak Juan memiliki anak laki-laki, sebelum menikah dengan Kak Helena, Kak Juan sudah menghamili wanita lain.”


Waw, Milla memang punya firasat bahwa Juan itu laki laki brengsek saat pertama kali Milla bertemu dengan Juan. Tapi Milla tidak pernah menyangka bahwa Juan sebrengsek ini.


“Sayang, sudah dulu ya. Aku harus menyetir. Salam kan rindu ku kepada Riko. Maaf juga karena harus merepotkan mu menjaga Viola, selamat malam, aku mencintai mu.”


Sambungan telepon tersebut terputus setelah Milla membalas ucapan selamat malam Marvel, yang Milla harapkan adalah apapun masalah Juan, Milla harap masalah itu cepat selesai dan Marvel bisa segera kembali bersama dengan dirinya dan Riko.


***


Marvel berdiri di depan pintu kamar hotel Juan, ia baru saja kembali dari rumah Sabrina dan Marvel kini tengah berperang dengan dirinya sendiri. Harus kah ia menemui Juan malam ini juga?


Lama Marvel berdiri di depan pintu sembari memikirkan apa yang akan dilakukannya, sampai akhirnya pintu kamar hotel tersebut terbuka dengan sendirinya tanpa sempat Marvel ketuk.


Juan membuka pintu tersebut, berdiri menghadap Marvel dengan ekspresi datarnya. Seolah tidak terkejut dengan keberadaan Marvel yang berdiri di depan kamar hotel tempatnya menginap.


“Kau mau berdiri terus disini atau masuk ke dalam?” tanya Juan kepada Marvel, Marvel berdehem canggung sebelum akhirnya Marvel mengangguk, pertanda bahwa ia akan masuk ke dalam kamar hotel Juan.


Dalam hati Marvel bertanya tanya apakah Juan sudah tahu sejak awal bahwa Marvel datang? dan menunggu sampai Marvel menghampirinya sendiri, begitu?


“Sudah ku duga kau akan kemari.” Juan duduk di pinggir ranjang, mengisyaratkan Marvel agar duduk di kursi kosong yang ada di dalam kamar tersebut, Marvel duduk dan menggeser sedikit kursi tersebut agar mereka bisa saling berhadap-hadapan.


“Aku kemari untuk membawa mu pulang.”


Juan menganggukkan kepalanya mengerti, ia sudah tahu tujuan Marvel kesini sudah pasti untuk hal tersebut. Tapi Juan tidak bisa kembali sebelum tujuan nya datang kemari terpenuhi. Juan tidak ingin pulang dengan tangan kosong.


“Viola membutuhkan mu Kak.” Kali ini Marvel membawa bawa Viola, berharap Juan akan luluh. Namun nampaknya Juan jauh lebih keras kepala dibandingkan Marvel.


“Setidaknya Viola memiliki kau, istri mu dan juga Monica yang bisa selalu ada disisinya selama aku tidak ada. Tapi aku tidak bisa pulang begitu saja Marvel, Viola memiliki kalian. Tapi Sabrina dan putra ku tidak memiliki siapa siapa.” Juan juga perduli terhadap Viola, tapi permasalahannya tanpa Juan pun Viola akan baik baik saja ditangan orang yang benar dan tidak hidup dalam kekurangan apapun, sementara Sabrina dan Markus. Tidak punya apa apa, makan saja susah.


“Kau tahu bahwa kau punya seorang putra?” tanya Marvel kaget, ia pikir Juan tidak tahu. Bahkan Sabrina juga berpikir demikian, maka dari itu Sabrina meminta Marvel untuk merahasiakannya dari Juan.


Nampaknya usaha Sabrina untuk menutup nutupi tentang putranya sia sia karna Juan sendiri telah mengetahui tentang hal tersebut.


“Kalau kau sebegitu perduli nya kepada mereka kenapa dulu kau meninggalkan mereka?!” kali ini Marvel meninggikan suaranya, ia kesal dengan Juan yang terus saja menyakiti banyak orang hanya demi mencapai keinginannya. “Kalau memang kau benar benar mencintai Sabrina, kenapa kau justru lari dihari pernikahan kalian dan kau malah menikah dengan Kak Helena? Kenapa?!”


Juan yang hatinya memang tengah kacau dan dipancing kemarahannya oleh Marvel, tidak bisa mengontrol perkataannya. Juan muak melihat Marvel yang terus menekannya. “Kau pikir aku seperti ini juga karena siapa hah?! Karna siapa kalau bukan karna kau!! kau juga terlibat dalam semua masalah ini! Berhenti terus memojokkan diriku hanya karena aku Kakak tertua!!”

__ADS_1


__ADS_2