SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II EP 22


__ADS_3

*Air mata Milla semakin menetes, Marvel hendak menghapus air mata tersebut namun Milla menepis tangan Marvel. “Jadi kau sudah tahu sejak lama betapa menyedihkannya hidup kami, apa kau datang dalam kehidupan kami karena kau merasa kasihan? Kau datang seperti malaikat, menawarkan diri menggantikan posisi Gevan yang kosong padahal kau tahu yang sebenarnya!”


“Aku tidak bermaksud berbohong dari mu Milla, aku hanya tidak ingin kau terluka..”


***


Milla memandang Marvel masih dengan air mata yang mengalir, mata dan hidungnya memerah karena terlalu lama menangis.


“Marvel.. sebelumnya aku tidak pernah meragukan cinta mu kepada ku, tapi sekarang aku benar benar tidak tahu harus bagaimana.. rasa percaya ku kepada mu benar benar telah menghilang Marvel, aku bahkan tidak yakin bahwa kau menikahi ku dan menjadi Ayah untuk Riko karena memang kau mencintai kami. Aku mulai berpikir apa kau menikahi ku semata mata karena kau merasa kasihan kepada kehidupan kami yang menyedihkan?”


Marvel menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Milla berpikir seperti itu. “Tidak Milla, aku menikahi mu memang karena aku benar benar mencintai mu. Ku akui aku pindah tepat disebelah kontrakan mu dengan alasan untuk memantau kalian dan membantu kalian sebisa ku sekaligus melupakan cinta ku kepada Clara yang tidak berbalas, namun selama aku bersama dengan kalian perasaan ku berubah. Perasaan cinta tumbuh dihati ku karena aku mengagumi dirimu, kau wanita hebat yang ku kenal. Ketangguhan hati mu yang membuat ku jatuh cinta kepada mu.”


Seandainya saja Marvel mengatakan hal ini sebelum Milla mengetahui semua kebohongan Marvel, mungkin Milla akan merasa sangat senang sekali. Merasa bagaikan wanita paling bahagia di dunia ini namun sekarang keadaannya berbeda, Milla tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Milla tidak lagi bisa mempercayai Marvel sedikit pun.


Milla bangkit dari posisi duduknya hendak meninggalkan Marvel namun Marvel mencegahnya.


“Kau mau kemana?” tanya Marvel sembari menggenggam tangan Milla, berusaha menahan istrinya itu agar tidak pergi dari ruangan ini. Permasalahan mereka belum selesai.


“Lepaskan aku Marvel..” Milla berusaha menarik tangannya dari genggaman Marvel namun Marvel menggenggam tangan Milla dengan sangat erat.


“Kau mau kemana? kau tidak bisa pergi dalam kondisi seperti ini. Jika kah ingin pulang mari kita pulang bersama dan membahas masalah ini di rumah dengan cara baik baik.” Marvel membujuk Milla, ia merogoh saku celana nya dan mengeluarkan kunci mobil nya dari sana.


Milla yang tidak ingin pulang bersama sama dengan Marvel menarik tangannya dengan sekuat tenaga hingga genggaman tangan Marvel pada tangan nya terlepas secara paksa. Marvel terlihat terkejut karena hal tersebut dan menatap Milla dengan pandangan terluka.


“Aku butuh waktu sendiri, tolong beri aku waktu sendirian. Aku butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua ini, semuanya masih belum bisa ku terima. Tidak bisa kah kau menuruti kemauan ku kali ini?”


Marvel sebenarnya ingin menolak, takut jika ia membiarkan Milla sendirian Milla justru akan berpikir yang aneh aneh tentang dirinya dan mengambil keputusan yang bisa menghancurkan rumah tangga mereka. Tapi Marvel juga tidak punya kekuatan untuk menentang keinginan Milla.


Sehingga Marvel menganggukkan kepalanya dan diam saja tidak lagi mencegah saat Milla melangkah lebar keluar dari ruang kerja Marvel ini.


***


“Mama sama Papa kenapa Om?” tanya Riko kepada Juan yang membawanya ke kantin kantor.


“Itu bukan urusan anak kecil, kau mau makan apa. Kau pasti belum makan?” Juan ingin memesankan makanan untuk Riko namun Riko dengan cepat menarik kemeja Juan. Menghentikan Juan dari membeli makanan yang tidak akan Riko makan.


“Riko memang belum makan Om, tapi Riko tidak mau makan. Mama dan Riko sudah siapkan bekal untuk Papa dan kami akan makan sama sama.” Riko ingat ia sudah susah payah membantu Ibu nya menyiapkan makan siang untuk Ayah nya dan mereka sudah berjanji akan makan bersama. Riko tidak ingin acara itu gagal, Riko sudah senang sekali sejak perjalanan dari rumah karena akan makan siang bersama sama dengan Ayah dan Ibu nya.


“Om yakin kalian tidak akan bisa makan bersama, jadi jangan terlalu banyak berharap dan makan saja sekarang.”


Riko menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia menarik tangannya dari genggaman Juan. “Riko gak mau Om, Riko mau makan siang bareng sama Mama dan Papa. Om jangan paksa-paksa Riko. Riko gak suka Om.”


Juan menghela nafas berat, ia melirik arloji nya yang menunjukkan hampir pukul satu siang. Juan menunjukkan arloji nya itu kepada Riko, entah Riko mengerti atau tidak cara melihat waktu dalam jam. “Jam makan siang sebentar lagi selesai, kau tetap mau berkeras kepala dan tidak ingin makan?”

__ADS_1


Riko menganggukkan kepalanya sekali lagi, “Iya. Ayo Om kita kembali lagi ke ruang kerja Papa. Ayo Om.”


Juan sebenarnya tidak ingin membawa Riko kembali kesana, khawatir jika Marvel dan Milla masih bertengkar disana dan Riko berakhir melihat pertengkaran kedua orang tuanya.


Tapi ternyata saat mereka kembali ke ruang kerja Marvel, disana sudah tidak ada Milla. Hanya ada Marvel yang kelihatan kacau sekali.


Riko berlari menghampiri Marvel yang terduduk pasrah di lantai dalam keadaan sangat amat kacau. “Papaa..”


Marvel mendongak melihat Riko, melebarkan tangannya menerima kehadiran Riko ke dalam pelukannya. Berusaha tersenyum kepada putra nya itu.


Riko memandang Marvel kebingungan, “Mama mana Pa, kita tidak jadi makan siang sama sama?” tanya Riko sembari melirik kesana kemari mencari keberadaan Ibu nya di ruang kerja Ayah nya itu. Namun batang hidung Ibu nya tak terlihat sedikit pun, tidak ada tanda tanda keberadaannya disini.


Marvel tidak tahu harus menjawab pertanyaan Riko seperti apa, karena Marvel sendiri tidak tahu Milla sebenarnya dimana dan kemana. Marvel sendiri tidak bisa bisa mengatakan kepada Riko bahwa Milla sudah pulang karena Marvel tidak yakin kalau Milla benar benar pulang ke rumah mereka.


Milla mengatakan butuh waktu untuk sendirian.


“Kenapa Papa tidak jawab?” tanya Riko sekali lagi kepada Marvel.


“Mama sama Papa kenapa bertengkar terus, Riko tidak suka. Riko tidak mau Mama sama Papa bertengkar. Riko tidak mau kembali seperti dulu lagi, Riko tidak mau tidak punya Ayah lagi.” suara Riko terdengar bergetar, ia sedih melihat hubungan orang tua nya yang berubah. Riko juga sedih karena siang ini seharusnya mereka bertiga makan siang bersama dengan bahagia tapi yang terjadi justru seperti ini.


Meski masih kecil, Riko juga mengenal apa itu sakit hati.


***


*Air mata Milla semakin menetes, Marvel hendak menghapus air mata tersebut namun Milla menepis tangan Marvel. “Jadi kau sudah tahu sejak lama betapa menyedihkannya hidup kami, apa kau datang dalam kehidupan kami karena kau merasa kasihan? Kau datang seperti malaikat, menawarkan diri menggantikan posisi Gevan yang kosong padahal kau tahu yang sebenarnya!”


“Aku tidak bermaksud berbohong dari mu Milla, aku hanya tidak ingin kau terluka..”


***


Milla memandang Marvel masih dengan air mata yang mengalir, mata dan hidungnya memerah karena terlalu lama menangis.


“Marvel.. sebelumnya aku tidak pernah meragukan cinta mu kepada ku, tapi sekarang aku benar benar tidak tahu harus bagaimana.. rasa percaya ku kepada mu benar benar telah menghilang Marvel, aku bahkan tidak yakin bahwa kau menikahi ku dan menjadi Ayah untuk Riko karena memang kau mencintai kami. Aku mulai berpikir apa kau menikahi ku semata mata karena kau merasa kasihan kepada kehidupan kami yang menyedihkan?”


Marvel menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Milla berpikir seperti itu. “Tidak Milla, aku menikahi mu memang karena aku benar benar mencintai mu. Ku akui aku pindah tepat disebelah kontrakan mu dengan alasan untuk memantau kalian dan membantu kalian sebisa ku sekaligus melupakan cinta ku kepada Clara yang tidak berbalas, namun selama aku bersama dengan kalian perasaan ku berubah. Perasaan cinta tumbuh dihati ku karena aku mengagumi dirimu, kau wanita hebat yang ku kenal. Ketangguhan hati mu yang membuat ku jatuh cinta kepada mu.”


Seandainya saja Marvel mengatakan hal ini sebelum Milla mengetahui semua kebohongan Marvel, mungkin Milla akan merasa sangat senang sekali. Merasa bagaikan wanita paling bahagia di dunia ini namun sekarang keadaannya berbeda, Milla tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Milla tidak lagi bisa mempercayai Marvel sedikit pun.


Milla bangkit dari posisi duduknya hendak meninggalkan Marvel namun Marvel mencegahnya.


“Kau mau kemana?” tanya Marvel sembari menggenggam tangan Milla, berusaha menahan istrinya itu agar tidak pergi dari ruangan ini. Permasalahan mereka belum selesai.


“Lepaskan aku Marvel..” Milla berusaha menarik tangannya dari genggaman Marvel namun Marvel menggenggam tangan Milla dengan sangat erat.

__ADS_1


“Kau mau kemana? kau tidak bisa pergi dalam kondisi seperti ini. Jika kah ingin pulang mari kita pulang bersama dan membahas masalah ini di rumah dengan cara baik baik.” Marvel membujuk Milla, ia merogoh saku celana nya dan mengeluarkan kunci mobil nya dari sana.


Milla yang tidak ingin pulang bersama sama dengan Marvel menarik tangannya dengan sekuat tenaga hingga genggaman tangan Marvel pada tangan nya terlepas secara paksa. Marvel terlihat terkejut karena hal tersebut dan menatap Milla dengan pandangan terluka.


“Aku butuh waktu sendiri, tolong beri aku waktu sendirian. Aku butuh waktu sendiri untuk memikirkan semua ini, semuanya masih belum bisa ku terima. Tidak bisa kah kau menuruti kemauan ku kali ini?”


Marvel sebenarnya ingin menolak, takut jika ia membiarkan Milla sendirian Milla justru akan berpikir yang aneh aneh tentang dirinya dan mengambil keputusan yang bisa menghancurkan rumah tangga mereka. Tapi Marvel juga tidak punya kekuatan untuk menentang keinginan Milla.


Sehingga Marvel menganggukkan kepalanya dan diam saja tidak lagi mencegah saat Milla melangkah lebar keluar dari ruang kerja Marvel ini.


***


“Mama sama Papa kenapa Om?” tanya Riko kepada Juan yang membawanya ke kantin kantor.


“Itu bukan urusan anak kecil, kau mau makan apa. Kau pasti belum makan?” Juan ingin memesankan makanan untuk Riko namun Riko dengan cepat menarik kemeja Juan. Menghentikan Juan dari membeli makanan yang tidak akan Riko makan.


“Riko memang belum makan Om, tapi Riko tidak mau makan. Mama dan Riko sudah siapkan bekal untuk Papa dan kami akan makan sama sama.” Riko ingat ia sudah susah payah membantu Ibu nya menyiapkan makan siang untuk Ayah nya dan mereka sudah berjanji akan makan bersama. Riko tidak ingin acara itu gagal, Riko sudah senang sekali sejak perjalanan dari rumah karena akan makan siang bersama sama dengan Ayah dan Ibu nya.


“Om yakin kalian tidak akan bisa makan bersama, jadi jangan terlalu banyak berharap dan makan saja sekarang.”


Riko menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia menarik tangannya dari genggaman Juan. “Riko gak mau Om, Riko mau makan siang bareng sama Mama dan Papa. Om jangan paksa-paksa Riko. Riko gak suka Om.”


Juan menghela nafas berat, ia melirik arloji nya yang menunjukkan hampir pukul satu siang. Juan menunjukkan arloji nya itu kepada Riko, entah Riko mengerti atau tidak cara melihat waktu dalam jam. “Jam makan siang sebentar lagi selesai, kau tetap mau berkeras kepala dan tidak ingin makan?”


Riko menganggukkan kepalanya sekali lagi, “Iya. Ayo Om kita kembali lagi ke ruang kerja Papa. Ayo Om.”


Juan sebenarnya tidak ingin membawa Riko kembali kesana, khawatir jika Marvel dan Milla masih bertengkar disana dan Riko berakhir melihat pertengkaran kedua orang tuanya.


Tapi ternyata saat mereka kembali ke ruang kerja Marvel, disana sudah tidak ada Milla. Hanya ada Marvel yang kelihatan kacau sekali.


Riko berlari menghampiri Marvel yang terduduk pasrah di lantai dalam keadaan sangat amat kacau. “Papaa..”


Marvel mendongak melihat Riko, melebarkan tangannya menerima kehadiran Riko ke dalam pelukannya. Berusaha tersenyum kepada putra nya itu.


Riko memandang Marvel kebingungan, “Mama mana Pa, kita tidak jadi makan siang sama sama?” tanya Riko sembari melirik kesana kemari mencari keberadaan Ibu nya di ruang kerja Ayah nya itu. Namun batang hidung Ibu nya tak terlihat sedikit pun, tidak ada tanda tanda keberadaannya disini.


Marvel tidak tahu harus menjawab pertanyaan Riko seperti apa, karena Marvel sendiri tidak tahu Milla sebenarnya dimana dan kemana. Marvel sendiri tidak bisa bisa mengatakan kepada Riko bahwa Milla sudah pulang karena Marvel tidak yakin kalau Milla benar benar pulang ke rumah mereka.


Milla mengatakan butuh waktu untuk sendirian.


“Kenapa Papa tidak jawab?” tanya Riko sekali lagi kepada Marvel.


“Mama sama Papa kenapa bertengkar terus, Riko tidak suka. Riko tidak mau Mama sama Papa bertengkar. Riko tidak mau kembali seperti dulu lagi, Riko tidak mau tidak punya Ayah lagi.” suara Riko terdengar bergetar, ia sedih melihat hubungan orang tua nya yang berubah. Riko juga sedih karena siang ini seharusnya mereka bertiga makan siang bersama dengan bahagia tapi yang terjadi justru seperti ini.

__ADS_1


Meski masih kecil, Riko juga mengenal apa itu sakit hati.


__ADS_2