
Damian kini tengah mengemudikan mobilnya secara hati hati, ia sesekali melirik Clara yang duduk tepat disebelahnya.
Clara masih sangat pucat dan terlihat lemas namun Clara tidak ingin dirawat lebih lama di rumah sakit karena Clara tidak sanggup jika harus menghirup lebih lama lagi aroma obat obatan di rumah sakit.
Damian hanya menurut dan memilih untuk mengantarkan Clara pulang, tentu saja setelah Damian berakting tidak mengetahui alamat Clara saat ini. Damian berbohong mengatakan bahwa dirinya ada urusan pekerjaan di negara ini dan secara kebetulan melihat Clara di pinggir jalan.
Kebohongan yang sudah pasti dicurigai oleh Clara namun nampaknya Clara tidak mau ambil pusing, tentu saja Clara tidak mau terlalu memikirkannya karena memikirkan hal seperti itu hanya akan membuat kepalanya semakin pusing.
“Sebaiknya kau turunkan aku di depan sana, aku akan naik taxi saja ke rumah. Kau tidak perlu mengantar ku.”
Damian berdecak mendengar perkataan Clara, “Kau ini sedang dalam kondisi kurang fit. Berhenti bersikap sok kuat, kau tidak boleh egois, sekarang kau bukan hidup untuk dirimu saja tapi ada nyawa lain yang tumbuh di dalam dirimu. Dan itu anak kita.”
Clara melotot, ia menatap tajam ke arah Damian yang tengah menyetir. “Anak kita? Ini anak ku bukan anak mu. Kau bukan ayah dari anak ini jadi jangan sembarangan bicara!”
“Jadi kau mau mengatakan padaku bahwa kau pernah tidur dengan laki laki lain selain diriku?” pancing Damian dengan tawa, ia bisa melirik dari kaca spion bahwa raut wajah Clara berubah seketika. Clara seolah termakan oleh ucapan nya dulu.
Dulu Clara selalu berteriak mengatakan bahwa Clara tidak pernah tidur dengan orang lain kepada Damian, dan sekarang Clara justru mengatakan bahwa anak ini bukan anak Damian. Tentu saja Damian bertanya tanya.
“Tidak perlu bahas masalah itu, yang terpenting anak ini bukan anak mu. Jadi kau tidak perlu ikut campur urusan ku dengan kandungan ku ini.”
Damian berdecak, ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menatap Clara dengan tatapan tajamnya.
“Aku Ayah dari anak itu. Aku berhak ikut campur, lagi pula kau lupa bahwa sebelumnya kau memeluk ku bahkan mengendus endus tubuh ku? Sudah jelas itu pertanda bahwa anak ku itu merindukan ku, kau tidak bisa menjauhkan anak dari Ayah kandungnya!”
Clara terdiam, pipinya mendadak memerah mengingat kejadian di rumah sakit sebelumnya. Clara dengan tanpa tahu malu memeluk Damian, bahkan Clara mengendus endus leher, dada bahkan nyaris mengendus ketiak Damian jika saja suster tidak muncul tiba tiba untuk mengecek keadaan Clara.
Benar benar memalukan.
Semua ini karena kehamilannya, Clara benar benar malu mengingat hal itu. Itu benar benar tidak terlihat seperti dirinya.
“Kenapa kau jadi mendadak diam?”
“Diam! Menyetir saja yang benar!”
***
“Maaf Bu, Ibu tidak di perbolehkan masuk ke dalam.”
Seorang security menghentikan Diana yang hendak masuk ke dalam gedung perusahaan Damian, mantan suami nya itu.
__ADS_1
“Apa apaan ini, kau berani menghalangi ku seperti ini, kau lupa aku ini siapa hah?!” Diana dongkol, ia tidak suka jika ada yang melarangnya terlebih lagi melarangnya masuk ke gedung perusahaan yang selama ini bebas ia masuki sesuka hatinya.
“Maaf Bu, tapi ini perintah dari Tuan Damian untuk tidak mempersilahkan masuk anda.”
Diana menepis tangan security itu yang menggenggam lengan nya, berani berani nya security itu.
“Aku ingin menemui Damian, kau tidak bisa menghalangi ku untuk menemuinya!” Diana memberontak meski security telah menarik paksa dirinya agar tidak masuk ke dalam, bahkan hingga security lain nya harus ikut turun tangan menarik Diana hingga Diana terjatuh ke lantai.
Diana semakin murka, ia tidak terima diperlakukan seperti ini. Semenjak ia bercerai dengan Damian, semuanya jadi hancur. Tidak ada lagi uang pemasukan, dan ia juga tidak lagi diperlakukan dengan manis.
Banyak orang yang dahulu nya bersikap baik kepada Diana justru sekarang mengabaikan Diana bahkan memperlakukan Diana seperti sampah.
Contohnya para security ini dan juga teman teman arisan Diana. Semuanya menjengkelkan.
“Sebaiknya Ibu pergi dari sini sebelum kami bertindak lebih kasar kepada Ibu.”
Diana mengepalkan tangan nya kuat kuat, ia bangkit berdiri dan menepuk nepuk bagian kotor di tubuhnya karena terjatuh tadi.
Dalam hati Diana bersumpah bahwa ia tidak akan tinggal diam, Diana akan melakukan apapun agar semua kemewahan dan kenyamanan yang dulu ia miliki kembali dan Diana juga bersumpah bahwa ia akan balas dendam pada orang orang yang sudah meremehkan dirinya.
***
“Dimana ini, ini bukan rumah ku!” Clara tidak mau turun saat Damian sudah membukakan pintu mobil untuk nya, Clara menyesal telah ikut semobil dengan Damian. Seharusnya ia tidak mempercayai Damian, dan lihat lah sekarang bukannya diantar pulang Clara justru dibawa ke tempat lain.
“Kau meremehkan tempat tinggal ku?!”
Damian menghela nafas berat, “Kau harus bersama ku Clara, kau tengah mengandung saat ini. Aku ingin kau dan calon anak kita tinggal di tempat nyaman dan aku tidak ingin jika kau kembali lemas dan muntah muntah lagi tapi aku tidak ada disana.”
Clara terdiam, Damian ada benarnya juga. Bagaimana jika Clara kembali muntah muntah dan tidak ada Damian sementara rasa mualnya bisa ternetralisir dengan aroma Damian.
Menyebalkan memang, tapi Clara tidak punya pilihan lagi mengingat jika ia sudah muak mual bahkan bisa jatuh pingsan.
***
“Tutup pintunya, dingin!”
Teriak Clara memerintah Damian, entah sejak kapan Clara jadi memiliki keberanian untuk menyuruh nyuruh Damian seperti pelayan nya.
Hebatnya Damian tidak menolak, Damian terus saja menuruti tiap perintah yang Clara berikan.
__ADS_1
“Damian, aku haus..”
Baru saja Damian hendak duduk di sebelah Clara, Clara sudah lebih dulu kembali memberikan Damian perintah secara tidak langsung.
“Kau mau aku bawakan susu hangat?” Damian bangkit dan melangkah menuju dapur setelah mendapat anggukan dari Clara.
Clara melirik Damian dari sudut matanya, Clara mati matian menahan tawa, Clara tidak menyangka Damian bisa jadi sepenurut ini.
Clara mengusap usap dagunya berpikir apa lagi yang bisa ia suruh kepada Damian nantinya.
Sejenak Clara tertegun, Clara tidak menyangka bahwa ternyata dirinya sejahil ini. Setahu nya ia tidak pernah seperti ini, apa lagi lagi ini karena kehamilan nya?
“Ini susu hangat nya.”
Damian kembali duduk di sebelah Clara, memberikan Clara segelas susu hangat.
Clara menerima susu tersebut dan meminum nya secara hati hati, Clara takut ia tidak bisa meminum susu tersebut dan kembali muntah namun ia tidak merasa mual sedikitpun bahkan hingga susu itu tandas tak bersisa.
Aneh.
Sebelumnya Clara minum susu selalu mual, lalu kenapa sekarang tidak?
Dengan alis berkerut Clara mengusap perutnya.
Nak.. jangan bilang kalau kamu benar benar lebih sayang Papa mu dari pada Mama.
“Kenapa, apa perut mu sakit?”
Damian dengan panik ikut menyentuh perut Clara, membuat Clara tersentak dan mendongak menatap wajah Damian yang dekat dengan wajahnya.
Pandangan Clara teralihkan oleh bibir tebal Damian yang entah kenapa terlihat menggugah dan seksi dimata Clara saat ini.
Clara menggelengkan kepalanya, membuang pikiran kotor itu jauh jauh. Sejak kapan ia jadi wanita berpikiran mesum seperti ini. Terlebih lagi terhadap laki laki yang Clara benci setengah mati.
Clara menggelengkan kepalanya dan mengusap usap perutnya, “Tidak, aku tidak apa apa.”
Nak.. Mama mohon jangan aneh aneh, hubungan Mama dan Papa mu tidak seharmonis itu untuk melakukan hal seperti itu.
Kami tidak punya hubungan apa apa dan juga tidak saling mencintai..
__ADS_1
Saat ini yang Mama cintai hanya dirimu, sehat sehatlah dan tumbuh lah menjadi anak yang kuat.
Mama mencintai mu..