
“*Bisa kah sebelum kita ke rumah Juan untuk menjemput Riko, kita pergi ke makam Gevan. Aku.. aku ingin bertemu dengan Gevan meskipun aku hanya bisa melihat makam nya saja. Ada yang ingin ku sampai kan kepada Gevan.” ujar Milla pelan, lama Milla menunggu jawaban dari Marvel karena Marvel terdiam sesaat Milla mengatakan keinginannya tersebut.
“Baiklah jika itu hal yang kau ingin kan. Kita akan kesana sebelum menjemput Riko.” Marvel memutar balik arah mobil nya menjadi kearah pemakaman umum dimana Gevan di makam kan.
Dan mungkin nanti saat sudah waktu nya, Marvel juga akan mengajak Riko datang kesana karena bagaimana pun Riko berhak tahu mengenai Ayah nya dan juga Gevan pasti senang jika putra nya datang untuk melihat nya dan juga mendoakan dirinya*.
***
Marvel dan Milla kini tengah berdiri di dekat makam Marvel, mereka telah menaburkan bunga di makam Gevan itu.
Rasanya masih sangat tidak bisa Milla percayai bahwa Gevan telah tiada, Marvel berjongkok di sebelah makam Gevan. Duduk memandang batu nisan yang bertuliskan nama laki laki yang pernah menjadi suami nya itu.
“Gevan.. aku sudah memaafkan mu, memaafkan mu yang meninggalkan aku dan Riko, yang mengabaikan tugas mu sebagai seorang Ayah dan suami. Aku telah memaafkan mu yang telah menelantarkan kami dan karena itu aku juga meminta maaf dari mu, maaf karena aku berburuk sangka kepada mu, maaf juga karena saat di hari terakhir mu aku tidak bisa berada di sisi mu. Maaf juga karena aku menikah dengan laki laki lain dan hidup bahagia tanpa dirimu. Maafkan aku..” bisik Milla pelan, namun meski Milla mengatakan nya dengan suara pelan. Marvel yang berdiri tak jauh dari Milla bisa mendengar semua nya dengan jelas.
“Milla.. ada satu hal lagi tentang Marvel yang belum ku beritahu kan kepada mu.” ujar Marvel kepada Milla yang membuat Milla menoleh, mendongak memandang Marvel dengan dahi berkerut.
“Gevan sudah menitipkan mu dan Riko kepada ku dan meminta ku untuk memastikan kalian hidup dengan bahagia, jadi kau tidak perlu merasa bersalah karena bahagia sementara Gevan meninggal karena itu lah yang Gevan ingin kan. Kau dan Riko hidup bahagia sehingga ia bisa tenang disana dan tidak lagi merasa bersalah karena telah meninggalkan kalian.”
Bukan nya tenang Milla justru semakin menangis, Milla menangis karena saat Gevan sudah sekarat saja dalam pikiran Gevan masih saja ada Milla dan juga Riko. Disaat maut sudah dekat ingin menjemput Gevan masih saja memikirkan bagaimana Milla dan Riko ke depan nya.
Sementara Milla justru menghabiskan waktu nya untuk membenci Gevan dan merasa bahwa penderitaan yang selama ini ia alami semua nya karena Gevan. Kalau bukan karena menikah dengan Gevan maka hidup Milla tidak akan menyedihkan. Padahal dengan menikah dengan Gevan, Milla bisa memiliki Riko. Putra yang sangat dicintai nya.
Dan juga karena menikah dengan Gevan lah Milla bisa bertemu dengan Marvel, jika bukan karena Gevan sampai sekarang mungkin Milla tidak akan pernah mengenal Marvel, mereka juga tidak akan menikah seperti ini.
Milla mengusap air mata nya, “Terima kasih Gevan, semoga kau bahagia disana.”
***
“Ku dengar orang tua mu akan menjemput mu sebentar lagi.” Markus yang baru kembali dari kamar mandi itu berbicara kepada Riko yang tengah asik membaca buku pelajaran milik Markus, sedikit mengerjakan soal soal yang telah Markus jawab namun salah itu.
Riko menoleh dengan riang, “Benar kah?”
“Hmm..”
“Kau kenapa tidak mau memanggil ku kakak, aku ini kan lebih tua dari mu.” ujar Riko memperhatikan Markus yang mengambil alih buku nya dan menaruh nya sembarang ke atas meja belajar nya.
“Aku tidak punya kakak.” Markus beralih menuju jendela kamar nya, melalui jendela ia memperhatikan pekarangan rumah sebelah dimana ada Adara disana yang sedang bermain dengan adik laki laki nya, Lucas.
“Kau mengintip nya terus dari sini, jika memang ingin bermain dengannya temui saja langsung.” ujar Riko setelah melihat apa yang Markus perhatikan dari balik jendela.
Riko yang berdiri disebelah Markus itu ikut melihat keluar, namun berbeda dengan Markus perhatian Riko teralihkan kepada mobil yang ia kenali yang berhenti di pekarangan rumah ini.
Senyum Riko terbit dengan lebar sekali, mobil itu tak lain adalah mobil Ayah nya. Dengan riang Riko berlari keluar dari kamar Markus.
“Papa dan Mama ku datang!” teriak Riko berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Merasa tidak sabaran untuk bertemu dengan Marvel dan juga Milla setelah tidak bertemu sejak kemarin.
Riko senang bukan main saat melihat Marvel dan Milla datang bersama untuk menjemput nya, sebelum nya Riko sudah berpikiran buruk bahwa dirinya akan kehilangan sosok sang Ayah namun kini semua nya sirna.
Mama dan Papa nya kembali seperti semula, dan itu benar benar membuat Riko bahagia.
“Ma! Pa!” teriak Riko bahagia, Marvel sontak membuka lebar lengan nya menerima pelukan rindu dari Riko. “Mama sama Papa kemari mau jemput Riko kan?”
Marvel mengangguk mendengarkan pertanyaan putra nya itu, “Iya sayang, Mama sama Papa kemari untuk menjemput Riko.”
Riko tersenyum lebar hingga gigi gigi menggemaskan nya terlihat. Pandangan Riko beralih kepada Milla, namun alis Riko naik ke atas saat melihat mata Milla yang memerah dan basah seperti orang yang habis menangis.
“Mama habis nangis?” tanya Riko kepada Milla, rasa khawatir kembali menghinggapi benak anak kecil itu. Khawatir melihat sang Ibu sedih.
“Haha iya sayang, tapi ini bukan karena Mama sedih, ini karena Mama senang.” Milla tertawa melihat wajah bingung Riko.
“Senang kenapa? senang karena ketemu Riko lagi?”
__ADS_1
Kali ini bukan hanya Milla yang tertawa tapi Marvel dan Sabrina juga tertawa mendengar jawaban polos dari Riko itu. “Haha iya, Mama juga senang sekali ketemu Riko. Tapi Mama ada berita yang lebih membahagiakan lagi, bukan hanya Mama yang senang. Riko juga pasti senang mendengarnya.”
“Apa?”
“Riko sebentar lagi akan punya adik, di perut Mama sudah ada adik kecil nya Riko.” Milla mengusap perut nya yang masih rata itu di depan Riko, Riko sempat bingung sebelum akhir akhirnya tersenyum senang karena mengerti bahwa Milla kini tengah hamil.
“Benar?” tanya Riko antusias.
“Benar sayang, sebentar lagi Riko akan jadi seorang Kakak.”
Riko kembali tersenyum riang, ia senang akhirnya keinginan nya untuk memiliki adik terkabul juga. Riko menoleh kearah Markus yang berdiri diantara anak tangga, Markus juga pasti sudah mendengarnya dari sana.
Tapi pandangan Markus bukan lah pandangan gembira ataupun bahagia untuk Riko, Markus justru seolah menatap Riko dengan pandangan kasihan. Dan jujur saja itu membuat Riko merasa tidak nyaman.
Riko teringat perkataan Markus sebelumnya kepada dirinya bahwa suatu saat nanti jika Riko sudah memiliki adik baru, maka Riko akan kehilangan semua yang ia miliki dan kasih sayang kedua orang tua nya hanya akan tercurahkan kepada adik nya dan Riko akan di lupakan.
Riko menggelengkan kepala nya, hal seperti itu tidak akan terjadi. Orang tua nya tidak akan melupakan dirinya dan juga Riko akan menyayangi adik nya nanti. Apa yang Markus rasakan berbeda dengan Riko.
Mereka tidak sama, kondisi mereka juga tidak sama.
Seharusnya Riko yang memandang Markus dengan pandangan sedih, sedih karena Markus tidak bisa mengerti mengapa kedua orang tua nya sibuk dan lebih perhatian kepada Viola. Karena memang Viola butuh perhatian lebih.
Viola tidak sama seperti anak anak lain, kondisi nya sangat lemah, jantung nya lemah. Dokter saja mengatakan bahwa umur Viola mungkin tidak akan panjang.
Tapi Markus adalah Markus, adik sepupu nya itu tidak akan mau mengerti sebagaimana pun Riko mengatakan nya.
“Riko sudah siap untuk pulang?” tanya Marvel kepada Riko yang dijawab anggukkan semangat oleh Riko.
“Siap, Pa!”
***
“*Bisa kah sebelum kita ke rumah Juan untuk menjemput Riko, kita pergi ke makam Gevan. Aku.. aku ingin bertemu dengan Gevan meskipun aku hanya bisa melihat makam nya saja. Ada yang ingin ku sampai kan kepada Gevan.” ujar Milla pelan, lama Milla menunggu jawaban dari Marvel karena Marvel terdiam sesaat Milla mengatakan keinginannya tersebut.
“Baiklah jika itu hal yang kau ingin kan. Kita akan kesana sebelum menjemput Riko.” Marvel memutar balik arah mobil nya menjadi kearah pemakaman umum dimana Gevan di makam kan.
Dan mungkin nanti saat sudah waktu nya, Marvel juga akan mengajak Riko datang kesana karena bagaimana pun Riko berhak tahu mengenai Ayah nya dan juga Gevan pasti senang jika putra nya datang untuk melihat nya dan juga mendoakan dirinya*.
***
Marvel dan Milla kini tengah berdiri di dekat makam Marvel, mereka telah menaburkan bunga di makam Gevan itu.
Rasanya masih sangat tidak bisa Milla percayai bahwa Gevan telah tiada, Marvel berjongkok di sebelah makam Gevan. Duduk memandang batu nisan yang bertuliskan nama laki laki yang pernah menjadi suami nya itu.
“Gevan.. aku sudah memaafkan mu, memaafkan mu yang meninggalkan aku dan Riko, yang mengabaikan tugas mu sebagai seorang Ayah dan suami. Aku telah memaafkan mu yang telah menelantarkan kami dan karena itu aku juga meminta maaf dari mu, maaf karena aku berburuk sangka kepada mu, maaf juga karena saat di hari terakhir mu aku tidak bisa berada di sisi mu. Maaf juga karena aku menikah dengan laki laki lain dan hidup bahagia tanpa dirimu. Maafkan aku..” bisik Milla pelan, namun meski Milla mengatakan nya dengan suara pelan. Marvel yang berdiri tak jauh dari Milla bisa mendengar semua nya dengan jelas.
“Milla.. ada satu hal lagi tentang Marvel yang belum ku beritahu kan kepada mu.” ujar Marvel kepada Milla yang membuat Milla menoleh, mendongak memandang Marvel dengan dahi berkerut.
“Gevan sudah menitipkan mu dan Riko kepada ku dan meminta ku untuk memastikan kalian hidup dengan bahagia, jadi kau tidak perlu merasa bersalah karena bahagia sementara Gevan meninggal karena itu lah yang Gevan ingin kan. Kau dan Riko hidup bahagia sehingga ia bisa tenang disana dan tidak lagi merasa bersalah karena telah meninggalkan kalian.”
Bukan nya tenang Milla justru semakin menangis, Milla menangis karena saat Gevan sudah sekarat saja dalam pikiran Gevan masih saja ada Milla dan juga Riko. Disaat maut sudah dekat ingin menjemput Gevan masih saja memikirkan bagaimana Milla dan Riko ke depan nya.
Sementara Milla justru menghabiskan waktu nya untuk membenci Gevan dan merasa bahwa penderitaan yang selama ini ia alami semua nya karena Gevan. Kalau bukan karena menikah dengan Gevan maka hidup Milla tidak akan menyedihkan. Padahal dengan menikah dengan Gevan, Milla bisa memiliki Riko. Putra yang sangat dicintai nya.
Dan juga karena menikah dengan Gevan lah Milla bisa bertemu dengan Marvel, jika bukan karena Gevan sampai sekarang mungkin Milla tidak akan pernah mengenal Marvel, mereka juga tidak akan menikah seperti ini.
Milla mengusap air mata nya, “Terima kasih Gevan, semoga kau bahagia disana.”
***
“Ku dengar orang tua mu akan menjemput mu sebentar lagi.” Markus yang baru kembali dari kamar mandi itu berbicara kepada Riko yang tengah asik membaca buku pelajaran milik Markus, sedikit mengerjakan soal soal yang telah Markus jawab namun salah itu.
__ADS_1
Riko menoleh dengan riang, “Benar kah?”
“Hmm..”
“Kau kenapa tidak mau memanggil ku kakak, aku ini kan lebih tua dari mu.” ujar Riko memperhatikan Markus yang mengambil alih buku nya dan menaruh nya sembarang ke atas meja belajar nya.
“Aku tidak punya kakak.” Markus beralih menuju jendela kamar nya, melalui jendela ia memperhatikan pekarangan rumah sebelah dimana ada Adara disana yang sedang bermain dengan adik laki laki nya, Lucas.
“Kau mengintip nya terus dari sini, jika memang ingin bermain dengannya temui saja langsung.” ujar Riko setelah melihat apa yang Markus perhatikan dari balik jendela.
Riko yang berdiri disebelah Markus itu ikut melihat keluar, namun berbeda dengan Markus perhatian Riko teralihkan kepada mobil yang ia kenali yang berhenti di pekarangan rumah ini.
Senyum Riko terbit dengan lebar sekali, mobil itu tak lain adalah mobil Ayah nya. Dengan riang Riko berlari keluar dari kamar Markus.
“Papa dan Mama ku datang!” teriak Riko berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Merasa tidak sabaran untuk bertemu dengan Marvel dan juga Milla setelah tidak bertemu sejak kemarin.
Riko senang bukan main saat melihat Marvel dan Milla datang bersama untuk menjemput nya, sebelum nya Riko sudah berpikiran buruk bahwa dirinya akan kehilangan sosok sang Ayah namun kini semua nya sirna.
Mama dan Papa nya kembali seperti semula, dan itu benar benar membuat Riko bahagia.
“Ma! Pa!” teriak Riko bahagia, Marvel sontak membuka lebar lengan nya menerima pelukan rindu dari Riko. “Mama sama Papa kemari mau jemput Riko kan?”
Marvel mengangguk mendengarkan pertanyaan putra nya itu, “Iya sayang, Mama sama Papa kemari untuk menjemput Riko.”
Riko tersenyum lebar hingga gigi gigi menggemaskan nya terlihat. Pandangan Riko beralih kepada Milla, namun alis Riko naik ke atas saat melihat mata Milla yang memerah dan basah seperti orang yang habis menangis.
“Mama habis nangis?” tanya Riko kepada Milla, rasa khawatir kembali menghinggapi benak anak kecil itu. Khawatir melihat sang Ibu sedih.
“Haha iya sayang, tapi ini bukan karena Mama sedih, ini karena Mama senang.” Milla tertawa melihat wajah bingung Riko.
“Senang kenapa? senang karena ketemu Riko lagi?”
Kali ini bukan hanya Milla yang tertawa tapi Marvel dan Sabrina juga tertawa mendengar jawaban polos dari Riko itu. “Haha iya, Mama juga senang sekali ketemu Riko. Tapi Mama ada berita yang lebih membahagiakan lagi, bukan hanya Mama yang senang. Riko juga pasti senang mendengarnya.”
“Apa?”
“Riko sebentar lagi akan punya adik, di perut Mama sudah ada adik kecil nya Riko.” Milla mengusap perut nya yang masih rata itu di depan Riko, Riko sempat bingung sebelum akhir akhirnya tersenyum senang karena mengerti bahwa Milla kini tengah hamil.
“Benar?” tanya Riko antusias.
“Benar sayang, sebentar lagi Riko akan jadi seorang Kakak.”
Riko kembali tersenyum riang, ia senang akhirnya keinginan nya untuk memiliki adik terkabul juga. Riko menoleh kearah Markus yang berdiri diantara anak tangga, Markus juga pasti sudah mendengarnya dari sana.
Tapi pandangan Markus bukan lah pandangan gembira ataupun bahagia untuk Riko, Markus justru seolah menatap Riko dengan pandangan kasihan. Dan jujur saja itu membuat Riko merasa tidak nyaman.
Riko teringat perkataan Markus sebelumnya kepada dirinya bahwa suatu saat nanti jika Riko sudah memiliki adik baru, maka Riko akan kehilangan semua yang ia miliki dan kasih sayang kedua orang tua nya hanya akan tercurahkan kepada adik nya dan Riko akan di lupakan.
Riko menggelengkan kepala nya, hal seperti itu tidak akan terjadi. Orang tua nya tidak akan melupakan dirinya dan juga Riko akan menyayangi adik nya nanti. Apa yang Markus rasakan berbeda dengan Riko.
Mereka tidak sama, kondisi mereka juga tidak sama.
Seharusnya Riko yang memandang Markus dengan pandangan sedih, sedih karena Markus tidak bisa mengerti mengapa kedua orang tua nya sibuk dan lebih perhatian kepada Viola. Karena memang Viola butuh perhatian lebih.
Viola tidak sama seperti anak anak lain, kondisi nya sangat lemah, jantung nya lemah. Dokter saja mengatakan bahwa umur Viola mungkin tidak akan panjang.
Tapi Markus adalah Markus, adik sepupu nya itu tidak akan mau mengerti sebagaimana pun Riko mengatakan nya.
“Riko sudah siap untuk pulang?” tanya Marvel kepada Riko yang dijawab anggukkan semangat oleh Riko.
“Siap, Pa!”
__ADS_1