
*Milla sebenarnya dapat merasakan ketegangan tiap kali melihat Damian, seolah merasa Damian benar benar tidak suka dengan dirinya tapi Milla mencoba untuk berpikir positif mungkin saja memang Damian tipe laki laki yang seperti itu, mirip dengan Juan yang terlihat tidak suka sekali dengan Milla tapi pada akhirnya Juan tetap merestui pernikahan Marvel dengan Milla.
“Kalau begitu aku permisi, maaf sekali lagi merepotkan dan terima kasih banyak.”
“Haha iya, sekali lagi terima kasih*.”
***
Riko tersenyum canggung kepada sosok anak laki laki yang lebih kecil darinya itu, meski lebih kecil.. anak kecil bernama Markus itu kelihatan garang sekali dimata Riko, tatapan matanya yang tajam itu mirip persis seperti mata Juan.
“H-hai..” sapa Riko agak tergagap, setelah berlari memalukan dari rumah sebelah kemari dan lompat ke pelukan Marvel tanpa tahu malu, Riko diminta oleh Marvel untuk mendekatkan diri dengan Markus, Marvel bilang mereka ini sepupu sekarang jadi harus akrab kedepannya.
Usia mereka tidak terpaut jauh jadi seharusnya cepat akrab, namun Markus orangnya tertutup membuat Riko sangsi bahwa mereka berdua bisa dekat kedepannya.
“Kau ini anaknya Paman Juan ya, pantas saja kalian mirip sekali.” Riko tidak tahu harus memulai percakapan seperti apa lantaran sapaan ‘Hai’ nya tidak dijawab oleh Markus, Riko hanya mengatakan apa yang terlintas dikepala nya. Dan memang saat Riko melihat Markus yang Riko pikirkan adalah wajah Markus yang seperti kopian dari wajah Juan. Mereka mirip sekali.
“Kau sepertinya seusia dengan Adara, anak perempuan yang tinggal di rumah sebelah.” Ujar Riko lagi berusaha mendapatkan perhatian Markus, namun lagi lagi Riko gagal.
Lagi lagi perkataan Riko diabaikan oleh Markus, Riko menyerah. Mungkin perlahan lahan mereka akan dekat nantinya meski Riko tidak tahu bagaimana bisa dengan dengan orang uang kelewat pendiam seperti Markus.
***
“Ah, aku lupa memberikan ini kepada Clara.” Milla yang sedang membantu Sabrina mengeluarkan isi koper itu terkejut saat melihat dua goodie bag yang berisikan makanan yang mereka beli saat perjalanan pulang tadi.
Milla terlalu terburu buru karena tidak enak hati kepada Clara jika berlama lama menjemput Riko dan Viola, Milla beralih pada Markus yang asik duduk mendengarkan cerita Riko tentang kesehariannya selama Marvel tidak ada.
“Marvel..” panggil Milla kepada Marvel, yang sontak disahuti oleh Marvel dengan jawaban manisnya. Membuat Milla malu karena ada Sabrina dan yang lainnya.
“Iya sayang..” jawab Marvel tanpa tahu malu, tertawa kecil saat menoleh dan melihat bahwa respon yang ia berikan membuat pipi istrinya itu merah padam.
“Bisa kau antarkan goodie bag ini pada Clara, aku lupa memberikannya.” Milla bisa saja sebenarnya mengantarkan goodie bag itu sendiri tapi Milla teringat dengan pandangan Damian sebelumnya, ah. Memikirkan hal tersebut saja sudah membuat Milla takut untuk kesana lagi.
Marvel sebenarnya ingin menolak, namun melihat ekspresi Milla yang seolah memohon membuat Marvel tidak sanggup menolak. Marvel mengambil alih goodie bag tersebut dan melangkah keluar rumah.
Menurut perkiraan Marvel, seharusnya Damian tidak ada di rumah di jam jam seperti ini karena ini masih jam kerja kantor. Setidaknya Marvel bisa merasa tenang bahwa yang akan menerima goodie bag ini bukan Damian.
Tapi Marvel salah besar, alasan Milla tidak ingin mengantar goodie bag tersebut adalah karena Damian ada di rumah.
Dengan ketidak tahuannya Marvel berjalan ke rumah besar yang berada tepat di samping rumah Juan itu. Menekan bel menunggu sang empunya rumah membukakan pintu.
Saat pintu itu terbuka, saat itu juga Marvel menyesali keputusannya yang mau mengantarkan goodie bag tersebut kemari. Karena yang berdiri dihadapan Marvel saat ini bukan lah Clara ataupun pelayan, melainkan Damian dengan wajah dongkolnya membukakan pintu untuk Marvel.
“Ada apa lagi?” tanya Damian tanpa menyembunyikan sedikitpun bahwa ia benar benar tidak senang dengan kedatangan Marvel, sebelumnya yang datang istrinya lalu sekarang justru Marvel sendiri yang datang kemari.
Sebenarnya Damian sudah tahu bahwa Marvel akan datang sebelum Marvel memencet bel, karena Damian sudah melihat Marvel berjalan kearah rumahnya melalui jendela lantai atas rumah nya.
Marvel juga tidak senang bertemu dengan Damian, tapi haruskah Damian seangkuh ini kepadanya. Kenapa Damian terus membencinya padahal masalah mereka hanya ada di masa lalu.
“Aku kemari untuk mengantar ini, Milla lupa memberikannya tadi.” Marvel menyodorkan goodie bag yang ia bawa, berharap Damian segera menerima nya dan tidak mempersulit keadaan diantara mereka berdua.
“Tidak perlu. Kau bisa bawa itu pulang.” Damian masih dengan angkuh nya enggan menerima barang pemberian Marvel, di mata Damian hal seperti hanya lah alasan saja agar Marvel bisa kemari dan menemui Clara, sayangnya justru Damian lah yang membukakan pintu.
Marvel mengerutkan keningnya tidak senang, merasa tersinggung karena sikap Damian. Marvel tahu isi goodie bag tersebut tidak seberapa, dan dengan uang yang Damian miliki Damian bisa membeli yang serupa. Tapi tetap saja apakah Damian akan mati jika menerima barang pemberian dari dirinya sekali saja?
__ADS_1
Marvel yang sudah muak, mengangkat dagu nya seolah menantang Damian. “Kenapa kau selalu saja begini kepada ku Damian, bukan kah masalah diantara kita sudah lama selesai. Kau sudah menikah dengan Clara, kalian sudah memiliki anak bersama. Aku juga sudah menikah dengan Milla. Aku kemari bukan untuk menggoda istri mu!”
Damian yang diteriaki Marvel justru tertawa sinis. Semakin membuat darah Marvel naik hingga ke kepala. Damian ini benar benar keras kepala sekali. “Kau memang sudah menikah, tapi apa kau bisa menjamin bahwa kau tidak lagi memiliki perasaan kepada istri ku?”
Marvel mengepalkan tangannya kuat kuat, lagi lagi selalu seperti ini. “Aku mencintai istri ku, jadi kau tidak perlu takut.”
“Aku tidak bertanya apa kau mencintai istri mu atau tidak, aku bertanya apa kau masih memiliki perasaan kepada istri ku. Kalau kau memang tidak punya perasaan lagi kepada Clara sama sekali katakan kepada ku dengan lantang bahwa kau tidak lagi mencintai Clara.” Damian menantang Marvel, tatapan mata Damian menajam bersamaan dengan perubahan dari ekspresi wajah Marvel.
Marvel membuka mulutnya ingin menuruti perkataan Damian, mengatakan dengan lantang bahwa ia tidak lagi memiliki perasaan cinta kepada Clara namun suara Marvel tidak keluar sedikitpun. Seolah olah ia tercekat, tak mampu bicara.
Damian kembali tersenyum sinis, “Sekarang kau tahu bukan kenapa sampai sekarang aku masih membenci mu. Kau berani sekali menikahi wanita lain sementara hati mu saja tidak sepenuhnya untuk wanita itu.”
Setelah mengatakan hal tersebut Damian menutup pintu rumah nya tepat di depan Marvel yang masih tercekat tak dapat berkata-kata.
Genggaman Marvel pada tali goodie bag tersebut terlepas hingga goodie bag tersebut jatuh begitu saja.
Marvel mengacak acak rambutnya kesal, kenapa kata kata semudah itu saja tidak bisa Marvel katakan? Kenapa setelah bertahun tahun lamanya Marvel masih saja tidak sanggup melakukannya.
Dan hari ini perkataan Damian membuat Marvel kesal bukan hanya kepada Damian saja melainkan juga kesal kepada dirinya sendiri.
Karena Marvel sampai sekarang masih belum bisa benar benar melupakan Clara.
Marvel memang mencintai Milla, tidak bisa Marvel pungkiri bahwa ia benar benar mencintai istrinya itu namun di sisi lain Marvel juga masih mencintai Clara.
Laki laki macam apa dirinya ini.
***
*Milla sebenarnya dapat merasakan ketegangan tiap kali melihat Damian, seolah merasa Damian benar benar tidak suka dengan dirinya tapi Milla mencoba untuk berpikir positif mungkin saja memang Damian tipe laki laki yang seperti itu, mirip dengan Juan yang terlihat tidak suka sekali dengan Milla tapi pada akhirnya Juan tetap merestui pernikahan Marvel dengan Milla.
“Kalau begitu aku permisi, maaf sekali lagi merepotkan dan terima kasih banyak.”
“Haha iya, sekali lagi terima kasih*.”
***
Riko tersenyum canggung kepada sosok anak laki laki yang lebih kecil darinya itu, meski lebih kecil.. anak kecil bernama Markus itu kelihatan garang sekali dimata Riko, tatapan matanya yang tajam itu mirip persis seperti mata Juan.
“H-hai..” sapa Riko agak tergagap, setelah berlari memalukan dari rumah sebelah kemari dan lompat ke pelukan Marvel tanpa tahu malu, Riko diminta oleh Marvel untuk mendekatkan diri dengan Markus, Marvel bilang mereka ini sepupu sekarang jadi harus akrab kedepannya.
Usia mereka tidak terpaut jauh jadi seharusnya cepat akrab, namun Markus orangnya tertutup membuat Riko sangsi bahwa mereka berdua bisa dekat kedepannya.
“Kau ini anaknya Paman Juan ya, pantas saja kalian mirip sekali.” Riko tidak tahu harus memulai percakapan seperti apa lantaran sapaan ‘Hai’ nya tidak dijawab oleh Markus, Riko hanya mengatakan apa yang terlintas dikepala nya. Dan memang saat Riko melihat Markus yang Riko pikirkan adalah wajah Markus yang seperti kopian dari wajah Juan. Mereka mirip sekali.
“Kau sepertinya seusia dengan Adara, anak perempuan yang tinggal di rumah sebelah.” Ujar Riko lagi berusaha mendapatkan perhatian Markus, namun lagi lagi Riko gagal.
Lagi lagi perkataan Riko diabaikan oleh Markus, Riko menyerah. Mungkin perlahan lahan mereka akan dekat nantinya meski Riko tidak tahu bagaimana bisa dengan dengan orang uang kelewat pendiam seperti Markus.
***
“Ah, aku lupa memberikan ini kepada Clara.” Milla yang sedang membantu Sabrina mengeluarkan isi koper itu terkejut saat melihat dua goodie bag yang berisikan makanan yang mereka beli saat perjalanan pulang tadi.
Milla terlalu terburu buru karena tidak enak hati kepada Clara jika berlama lama menjemput Riko dan Viola, Milla beralih pada Markus yang asik duduk mendengarkan cerita Riko tentang kesehariannya selama Marvel tidak ada.
__ADS_1
“Marvel..” panggil Milla kepada Marvel, yang sontak disahuti oleh Marvel dengan jawaban manisnya. Membuat Milla malu karena ada Sabrina dan yang lainnya.
“Iya sayang..” jawab Marvel tanpa tahu malu, tertawa kecil saat menoleh dan melihat bahwa respon yang ia berikan membuat pipi istrinya itu merah padam.
“Bisa kau antarkan goodie bag ini pada Clara, aku lupa memberikannya.” Milla bisa saja sebenarnya mengantarkan goodie bag itu sendiri tapi Milla teringat dengan pandangan Damian sebelumnya, ah. Memikirkan hal tersebut saja sudah membuat Milla takut untuk kesana lagi.
Marvel sebenarnya ingin menolak, namun melihat ekspresi Milla yang seolah memohon membuat Marvel tidak sanggup menolak. Marvel mengambil alih goodie bag tersebut dan melangkah keluar rumah.
Menurut perkiraan Marvel, seharusnya Damian tidak ada di rumah di jam jam seperti ini karena ini masih jam kerja kantor. Setidaknya Marvel bisa merasa tenang bahwa yang akan menerima goodie bag ini bukan Damian.
Tapi Marvel salah besar, alasan Milla tidak ingin mengantar goodie bag tersebut adalah karena Damian ada di rumah.
Dengan ketidak tahuannya Marvel berjalan ke rumah besar yang berada tepat di samping rumah Juan itu. Menekan bel menunggu sang empunya rumah membukakan pintu.
Saat pintu itu terbuka, saat itu juga Marvel menyesali keputusannya yang mau mengantarkan goodie bag tersebut kemari. Karena yang berdiri dihadapan Marvel saat ini bukan lah Clara ataupun pelayan, melainkan Damian dengan wajah dongkolnya membukakan pintu untuk Marvel.
“Ada apa lagi?” tanya Damian tanpa menyembunyikan sedikitpun bahwa ia benar benar tidak senang dengan kedatangan Marvel, sebelumnya yang datang istrinya lalu sekarang justru Marvel sendiri yang datang kemari.
Sebenarnya Damian sudah tahu bahwa Marvel akan datang sebelum Marvel memencet bel, karena Damian sudah melihat Marvel berjalan kearah rumahnya melalui jendela lantai atas rumah nya.
Marvel juga tidak senang bertemu dengan Damian, tapi haruskah Damian seangkuh ini kepadanya. Kenapa Damian terus membencinya padahal masalah mereka hanya ada di masa lalu.
“Aku kemari untuk mengantar ini, Milla lupa memberikannya tadi.” Marvel menyodorkan goodie bag yang ia bawa, berharap Damian segera menerima nya dan tidak mempersulit keadaan diantara mereka berdua.
“Tidak perlu. Kau bisa bawa itu pulang.” Damian masih dengan angkuh nya enggan menerima barang pemberian Marvel, di mata Damian hal seperti hanya lah alasan saja agar Marvel bisa kemari dan menemui Clara, sayangnya justru Damian lah yang membukakan pintu.
Marvel mengerutkan keningnya tidak senang, merasa tersinggung karena sikap Damian. Marvel tahu isi goodie bag tersebut tidak seberapa, dan dengan uang yang Damian miliki Damian bisa membeli yang serupa. Tapi tetap saja apakah Damian akan mati jika menerima barang pemberian dari dirinya sekali saja?
Marvel yang sudah muak, mengangkat dagu nya seolah menantang Damian. “Kenapa kau selalu saja begini kepada ku Damian, bukan kah masalah diantara kita sudah lama selesai. Kau sudah menikah dengan Clara, kalian sudah memiliki anak bersama. Aku juga sudah menikah dengan Milla. Aku kemari bukan untuk menggoda istri mu!”
Damian yang diteriaki Marvel justru tertawa sinis. Semakin membuat darah Marvel naik hingga ke kepala. Damian ini benar benar keras kepala sekali. “Kau memang sudah menikah, tapi apa kau bisa menjamin bahwa kau tidak lagi memiliki perasaan kepada istri ku?”
Marvel mengepalkan tangannya kuat kuat, lagi lagi selalu seperti ini. “Aku mencintai istri ku, jadi kau tidak perlu takut.”
“Aku tidak bertanya apa kau mencintai istri mu atau tidak, aku bertanya apa kau masih memiliki perasaan kepada istri ku. Kalau kau memang tidak punya perasaan lagi kepada Clara sama sekali katakan kepada ku dengan lantang bahwa kau tidak lagi mencintai Clara.” Damian menantang Marvel, tatapan mata Damian menajam bersamaan dengan perubahan dari ekspresi wajah Marvel.
Marvel membuka mulutnya ingin menuruti perkataan Damian, mengatakan dengan lantang bahwa ia tidak lagi memiliki perasaan cinta kepada Clara namun suara Marvel tidak keluar sedikitpun. Seolah olah ia tercekat, tak mampu bicara.
Damian kembali tersenyum sinis, “Sekarang kau tahu bukan kenapa sampai sekarang aku masih membenci mu. Kau berani sekali menikahi wanita lain sementara hati mu saja tidak sepenuhnya untuk wanita itu.”
Setelah mengatakan hal tersebut Damian menutup pintu rumah nya tepat di depan Marvel yang masih tercekat tak dapat berkata-kata.
Genggaman Marvel pada tali goodie bag tersebut terlepas hingga goodie bag tersebut jatuh begitu saja.
Marvel mengacak acak rambutnya kesal, kenapa kata kata semudah itu saja tidak bisa Marvel katakan? Kenapa setelah bertahun tahun lamanya Marvel masih saja tidak sanggup melakukannya.
Dan hari ini perkataan Damian membuat Marvel kesal bukan hanya kepada Damian saja melainkan juga kesal kepada dirinya sendiri.
Karena Marvel sampai sekarang masih belum bisa benar benar melupakan Clara.
Marvel memang mencintai Milla, tidak bisa Marvel pungkiri bahwa ia benar benar mencintai istrinya itu namun di sisi lain Marvel juga masih mencintai Clara.
Laki laki macam apa dirinya ini.
__ADS_1