
“*Tidak dok kami tidak akan berkecil hati, terima kasih dok. Mari saya antar kan ke depan.”
Marvel akui bahwa ia terkejut ketika dokter meyebut nyebut perihal dokter kandungan, Marvel akan senang setengah mati jika Milla memang benar benar mengandung. Tapi jika dalam kondisi seperti ini Marvel ragu, mungkin alangkah lebih baik jika Milla tidak mengandung karena Marvel sendiri tidak yakin Milla bisa menerima kehamilan nya apa tidak jika hal itu benar terjadi.
Marvel tersenyum kepada dokter tersebut yang telah pergi dari rumahnya, sekarang Marvel bingung. Bagaimana caranya mengajak Milla ke dokter kandungan kalau masalah antara Marvel dan Milla saja masih belum selesai sampai sekarang*.
***
Marvel duduk terdiam memperhatikan Milla yang sedang tertidur, Marvel sudah menebus resep obat yang dokter berikan. Marvel juga sudah memasak bubur untuk Milla makan jika Milla sudah bangun nanti.
Tangan Marvel terulur mengusap lembut pipi Milla yang terasa hangat karena demam nya, jika memang Milla tengah hamil, Marvel semakin merasa bersalah karena memberi Milla beban pikiran disaat kondisinya seharusnya tidak boleh stress dan semacamnya.
Marvel bangkit dari posisi duduknya dan meninggalkan kamar menuju dapur untuk mengecek apa bubur yang ia masak telah matang atau belum, dan saat Marvel benar benar keluar kamar dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Saat itu lah mata Milla yang sebelumnya terpejam terbuka, memandang kearah pintu yang baru saja Marvel tutup. Milla tidak tahu menahu perihal dirinya yang sudah diperiksa dokter.
Milla hanya ingat bahwa ia ingin mandi namun mendadak lemas sekali dan pusing hingga jatuh pingsan di kamar mandi, dan terbangun karena merasakan usapan tangan Marvel di pipinya barusan.
Milla tidak tahu harus bagaimana bereaksi terhadap Marvel, Milla merasa canggung karena perdebatan mereka sebelumnya.
Tiba tiba saja pintu terbuka, Milla kaget dan segera menutup mata nya kembali berpura pura tidur, Milla mendengar suara Marvel meletakkan sesuatu di atas meja nakas dan duduk di pinggiran ranjang tepat disebelah Milla.
__ADS_1
Marvel yang duduk di sebelah Milla itu kebingungan, bingung harus melakukan apa. Ia sudah membawa semangkuk bubur untuk Milla makan namun Milla masih tertidur dan Marvel merasa agak canggung untuk membangunkan Milla.
Tapi Marvel tidak bisa membiarkan Milla lebih lama lagi tertidur dengan keadaan perut kosong, demam Milla bertambah parah dan juga Milla harus mengkonsumsi obat agar demam nya turun.
Dengan perlahan Marvel mengguncang lengan Milla, sesekali menepuk lengan istri nya itu dengan lembut sembari memanggil manggil namanya. “Milla.. bangun.. aku sudah membuatkan mu bubur, kau harus makan kalau tidak kondisi mu bisa semakin drop.”
Milla yang tidak sanggup terus berpura pura tidur akhirnya membuka kelopak mata nya dan menatap Marvel yang duduk di pinggiran ranjang itu. Milla melihat Marvel tersenyum dan mengangkat tubuh Milla sedikit, membantu Milla untuk berganti posisi menjadi duduk.
“Apa yang terjadi kepada ku?” tanya Milla kepada Marvel, Milla sebenarnya tahu bahwa dirinya habis pingsan. Milla hanya tidak tahu harus memulai pembicaraan dengan Marvel bagaimana sehingga ia bertanya seperti itu.
“Kau pingsan di kamar mandi, kau tidak keluar keluar dari kamar mandi selama satu jam. Aku sudah memanggil manggil mu, meminta mu untuk membuka pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban dari mu sehingga aku membuka pintu kamar mandi menggunakan kunci cadangan dan menemukan dirimu tergeletak di lantai kamar mandi dalam keadaan pingsan.” jelas Marvel kepada Milla, Milla menganggukkan kepalanya lemah.
Bukan hal aneh bagi Milla mengenai dirinya yang pingsan di kamar mandi, karena sebelumnya Milla tidak makan apapun. Niat awal Milla ingin makan bersama dengan Marvel namun perseteruan mereka membuat Milla terlalu sibuk memikirkan perasaan nya dibandingkan perut nya sehingga Milla jatuh pingsan.
Milla tidak menolak ketika Marvel menyuapi nya. Milla hanya diam saja dan memakan bubur buatan Marvel.
“Uhm.. aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini tapi sebelumnya dokter mengatakan kepada ku untuk membawa mu ke dokter kandungan.” Marvel berkata pelan sembari tangannya masih bergerak menyuapi Milla.
Milla mengerutkan keningnya bingung, “Dokter kandungan?”
Marvel menganggukkan kepalanya. “Ya. Dokter mengatakan kau mungkin hamil dan untuk memastikannya kita diminta untuk ke dokter kandungan.”
__ADS_1
Ekspresi Milla semakin terkejut lagi, “A-apa? aku hamil?”
“Itu masih dugaan dokter saja jadi kau tidak perlu takut, kalaupun kau belum siap meskipun hasil tes nya kau positif hamil aku tidak akan memaksa mu untuk mempertahankan nya.” Marvel tidak ingin membebankan Milla, jika memang Milla ingin menggugurkan nya karena membenci Marvel. Marvel akan mencoba untuk merelakannya.
Milla terdiam mendengar perkataan Marvel itu. Masih tidak mengerti sebenarnya kenapa Marvel bisa berpikir sejauh itu.
“Jika memang aku hamil aku tidak akan mungkin menggugurkan nya, bahkan saat mengandung Riko dalam keadaan sulit pun aku tetap mempertahankan nya. Bagaimana bisa aku menggugurkan kandungan ku hanya karena kebohongan mu. Aku bukan orang seperti itu Marvel.”
Marvel menganggukkan kepalanya, menaruh mangkuk yang telah kosong itu kembali ke atas meja nakas dan menyerahkan Milla segelas air dan juga obat yang perlu Milla minum.
“Istirahat lah..” Marvel bangkit berdiri sembari membawa mangkuk dan gelas kosong itu untuk ia bawa ke dapur, namun belum sempat Marvel melangkah Milla sudah menghentikan Marvel dengan perkataannya.
“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu lagi tentang Gevan?”
Marvel berbalik badan dan tersenyum kecut, “Kita bisa bahas masalah itu lain kali. Kesehatan mu yang jadi utama disini. Aku tidak akan mencoba untuk menjelaskan kepada mu ataupun berusaha untuk membekas diriku lebih jauh lagi sekarang, karena kau masih belum mempercayai ku. Sekarang istirahat lah.”
Milla tidak menjawab apa apa, Milla menurut dan mrmejamkan matanya. Obat yang sebelumnya ia tenggak membuat mata nya terasa berat dan mengantuk hingga jatuh tertidur dengan cepat.
Sementara Marvel yang baru saja menaruh mangkuk dan gelas kosong ke dalam wastafel, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan men-dial nomer telepon Sabrina.
Marvel ingin bertanya mengenai Riko, sengaja Marvel tidak menelepon ke nomer Juan karena Marvel tahu bahwa Juan pasti belum pulang ke rumah meski ini sudah larut karena masalah pekerjaan.
__ADS_1
Marvel agak merasa bersalah sebenarnya menitipkan Riko disana karena itu pasti akan merepotkan Sabrina yang harus menjaga Viola yang sakit-sakitan berserta Markus yang jalan pikirannya tak bisa di tebak di tambah dengan Riko.
Meski Riko bukan tipikal anak yang merepotkan namun tetap saja itu pasti menambah beban pekerjaan rumah tangga Sabrina.