SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
EIGHT


__ADS_3

Diana terbangun dari tidurnya, ia kebingungan saat ia menyadari tidak ada Damian di sampingnya. Diana melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi, dimana Damian di pagi buta seperti ini?


Diana turun dari ranjangnya,  sedikit merapihkan rambutnya yang berantakan dan berjalan keluar kamar. Tempat yang langsung Diana tuju adalah ruang kerja Damian dikarenakan lampu di ruangan itu terlihat masih menyala dari celah pintu ruang kerja Damian yang tidak tertutup rapat itu.


Diana mengintip ke dalam, ia melihat Damian yang tengah sibuk dengan ponselnya. Apa yang Damian lakukan di pagi buta begini? Apakah pekerjaan Damian ada masalah atau sejenisnya. Pasalnya Diana tidak ingin terjadi apa apa kepada perusahaan Damian, jika Damian bangkrut sudah pasti hidup Diana pun akan ikut hancur bersamaan dengan hancurnya perusahaan itu.


Diana memilih untuk masuk ke dalam ruang kerja Damian, sesaat Diana masuk sontak saja Damian menoleh kearahnya dan saat itu lah Diana tidak bisa melanjutkan langkahnya ia terdiam di tempat melihat tatapan dingin Damian. Ada apa dengan laki laki ini?


“Da-Damian kau kenapa?”


“Pergilah, aku sedang tidak ingin di ganggu.” ucap Damian dingin.


Diana tidak senang dengan apa yang Damian katakan, Diana tidak suka Damian mengusirnya. Jika Damian memiliki masalah bukan kah seharusnya Damian bercerita kepadanya? Bukan kah dirinya ini adalah istri dari Damian?


Bukannya Diana ingin dibebani atau bagaimana, Diana hanya ingin tahu tentang masalah Damian. Bagaimana jika masalah yang Damian pusingkan itu bersangkutan dengan dirinya atau bahkan bisa merugikannya. Diana hanya ingin mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.


“Kenapa kau masih disini? Pergilah. Aku tidak ingin diganggu.”


Diana mau tidak mau bergegas meninggalkan Damian meski ia kesal setengah mati, Diana dengan sengaja menutup pintu ruang kerja Damian dengan cukup keras. Seolah olah menunjukkan ketidak sukaannya terhadap penolakan Damian.


Sialan.


***


“Kakak sudah bangun?”


Clara tersenyum ketika ia terbangun dari tidurnya ia mendapati Monica yang tengah berdiri menatapnya sembari membawa pakaian.


“Aku bawakan pakaian ganti untuk kakak.”


Clara menerima pakaian yang Monica berikan itu dalam diam, bibirnya bergetar menahan tangis. Clara lemah terhadap kebaikan yang Monica dan Marvel berikan kepadanya.


Clara merasa sangat bersyukur bahwa masih ada orang orang yang mau perduli terhadapnya, seandainya tidak ada Marvel mungkin Clara sudah tidur dijalanan atau bahkan bisa saja mengalami hal yang lebih buruk dari itu.


Monica melihat mata Clara yang berkaca kaca, ia dengan perlahan mengambil tangan Clara dan mengusap tangan itu dengan lembut. “Tetaplah semangat kak, aku tahu kau ini wanita yang kuat.”

__ADS_1


Clara menganggukkan kepalanya, ya.. ia wanita yang kuat, ia pasti bisa menghadapi semua ini. Ini semua bukan apa apa.


“Aku pergi dulu.” Monica pamit, ia harus bersiap diri untuk pergi ke sekolahnya.


***


“Kau tidak ingin ku antar?” Marvel memperhatikan Clara yang tengah memakai sepatunya, “Aku bisa mengantarkan mu dengan selamat sampai ke rumah mu.”


Clara menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan mu. Lagi pula aku sudah sangat berterima kasih karna kau telah mengijinkan ku menginap di rumah mu ini semalam. Maaf jika aku merepotkan dan terima kasih banyak atas bantuan mu, aku benar benar merasa berhutang kepada mu dan juga Monica. Kalian sangat baik.”


Marvel menggelengkan kepalanya, ia tersenyum menatap Clara. “Tidak perlu berterima kasih.”


Clara menganggukkan kepalanya, Clara membalikkan tubuhnya pergi keluar dari rumah Marvel tersebut. Clara keluar sembari membawa kantung plastik yang berisikan gaun yang semalam ia kenakan.


Marvel menatap kepergian Clara dalam diam, sebenarnya Marvel tidak ingin Clara pergi hari ini. Marvel ingin Clara menginap lebih lama. Tapi ya mau bagaimana lagi, Clara sudah memutuskan dan Marvel tidak bisa bertindak apa apa.


“Loh kak, Dimana kak Clara?” Monica tiba tiba saja muncul sembari membawa sepiring nasi goreng.


“Dia sudah pergi.”


Monica menatap lemas kearah nasi goreng yang ia bawa, “Padahal dia belum sarapan, kenapa kakak tidak mencegahnya? Dia bisa pergi nanti setelah sarapan kan.”


Monica terdiam, yang Marvel katakan benar. Monica menatap kepergian kakak nya itu. Monica bisa merasakan kesedihan dalam diri Marvel, Monica bisa merasakan bahwa kakaknya itu sebenarnya memiliki perasaan spesial terhadap Clara.


***


Damian meremas berkas yang berada di tangan nya itu, Damian tidak tidur semalaman. Damian menghabiskan waktunya di ruang kerjanya. Berkutat memandang ponsel dan berkas berkas penting.


Entah untuk alasan apa Damian terus memandangi ponselnya, dan soal berkas berkas penting tidak ada satupun dari berkas berkas tersebut ia kerjakan ataupun selesaikan, pikiran Damian terus tertuju pada satu hal. Clara.


Damian melirik ke arah kaca jendela, matahari sudah tinggi. Damian melirik jam yang bergantung di dinding ruang kerjanya yang sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Damian berdecih, Clara belum juga kembali. Damian berpikir Clara pasti menginap dirumah seseorang dan Damian merasa bahwa besar kemungkinan Clara menginap di rumah laki laki lain.


Menginap di rumah laki laki lain pasti bukan hal yang sulit bagi Clara, Clara saja dengan mudah menyerahkan tubuhnya kepada Damian apalagi dengan laki laki di luar sana pasti Clara tidak akan berpikir dua kali untuk hal itu asalkan mendapatkan imbalan. Menjijikan.

__ADS_1


“*Kau dari mana saja?”


“Bukan urusan mu!”


“Kurang ajar kau, kau ini menumpang disini. Kau harus tahu diri. Lagi pula anak gadis mana yang tidak pulang semalaman dan baru pulang sekarang. Dari pada seperti itu lebih baik kau tidak usah kembali lagi selamanya!”


“...”


“Hei aku bicara dengan mu*!”


Samar samar Damian mendengar suara pertengkaran di luar, Damian dengan segera keluar dari ruang kerjanya itu. Ia yakin itu suara Diana dan Clara yang tengah bertengkar.


Akhirnya wanita nakal itu pulang juga, Damian akan memastikan dirinya menghukum Clara karna telah membangkang kepada dirinya.


“Damian..” Diana merengek ketika ia melihat Damian menghampirinya. “Maaf aku ribut ribut dan mengganggu aktivitas mu, tapi Clara sudah tidak bisa di diamkan lagi. Ia semakin menjadi jadi, dia tidak pulang semalaman mau jadi apa dia bertingkah seperti itu.”


Clara yang mendengar perkataan Diana itu menoleh dan berdecih, Clara tahu ini hanya akal akalan Diana saja. Diana memang sejak dulu sudah mencari cari kesalahan Clara dan mungkin Diana sekarang merasa ini lah saat yang tepat untuk menjelekkan jelekan Clara di depan Damian sehingga Damian mau mengusir Clara dari rumah.


Tapi Diana tidak perlu repot repot, Clara tidak perlu diusir. Clara akan pergi sendiri. Ia juga sudah muak dengan sepasang suami istri busuk ini.


“Lihat itu, aku masih bicara tapi dia justru pergi begitu saja.” Diana melebih lebihkan nya, ia mengikuti langkah Clara yang memasuki kamarnya.


“Kenapa kau mengepak pakaian mu?” hal itu lah yang keluar dari bibir Damian sesaat ia melihat Clara memasuki pakaian dan barang barangnya ke dalam koper.


Berbeda dengan Damian yang terkejut Diana justru tersenyum lebar.


“Jawab jika ada orang bertanya kepada mu! Dimana semua hasil dari kau bersekolah tinggi tinggi?! Tindakan mu sama sekali tidak menunjukkan bahwa kau ini orang berpendidikan.” Damian emosi, ia kesal lantaran semuanya berjalan tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Seharusnya Clara pulang dan memohon kepadanya untuk di ijinkan kembali tinggal dirumahnya namun apa apaan ini semua? Bukan ini yang Damian mau.


Seusai mengepak semua barang barangnya Clara berjalan menghampiri Damian dengan menyeret koper miliknya itu. Clara menatap Damian dengan wajah datarnya, “Bicara soal pendidikan. Kau jauh lebih berpendidikan dari ku tapi kau juga jauh lebih menjijikan dari ku. Jangan sok mengajari ku bagaimana cara untuk bersikap jika kau sendiri saja bertindak lebih buruk dari binatang.”


Clara mengalihkan fokusnya kepada Diana yang berada disampingnya Damian. “Selama ini kau ingin sekali mengusir ku dari rumah ini kan? Selamat keinginan mu terkabul, aku pergi. Aku muak tinggal dengan dua manusia busuk seperti kalian.”


Clara dengan sengaja keluar dari kamar itu dengan menyenggol bahu Diana dan Damian dengan cukup keras, Diana sendiri memandang tidak menyangka kearah Clara, Diana tidak menyangka Clara akan bersikap seperti ini bahkan di hadapan Damian.


“Anak itu, sudah di beri tumpangan dia justru tidak tahu diri. Seharusnya dari dulu kau mengusirnya Damian, jika kau mengusirnya dia tidak akan memperlakukan kita begini.” Diana meraih lengan Damian namun baru beberapa detik ia menyentuh lengan suaminya itu, Damian dengan sigap menepis tangan Diana dan meninggalkan Diana sendirian.

__ADS_1


Diana berdecak melihat sikap Damian yang seperti itu.


Sialan.


__ADS_2