
“*Aku pulang dulu ya, nanti kapan kapan kita main sama sama lagi. Kamu jangan sedih terus.” Riko berbisik kepada Markus, meski Markus tidak pernah bilang. Riko tahu bahwa Markus itu sering murung dan merasa sedih, Riko belum tahu karena alasan apa Markus merasa seperti itu tapi Riko perduli.
Meski Markus menatapnya sinis sekalipun Riko tetap perduli kepada Markus, karena Markus sekarang sepupunya. Riko senang punya sepupu, Riko senang punya saudara.
***
Marvel dan Milla sedang berada dikamar membereskan barang bawaan mereka kembali ketempat asalnya.
Marvel yang tinggi menaruh koper koper keatas lemari, sementara Milla menaruh pakaian kotor ke keranjang pakaian kotor dan memasukkan pakaian bersih kembali ke dalam lemari.
Setelah menaruh koper koper keatas lemari Marvel memposisikan dirinya tepat dibelakang Milla memeluk wanita itu dari belakang dan mengecup puncak kepala Milla lembut.
Sekarang Marvel tidak akan canggung lagi bermesraan dengan Milla, mereka sudah berada dirumah mereka sendiri.
Marvel memutar tubuh Milla menjadi menghadap dirinya, mengusap lembut pipi istrinya itu lembut. Marvel menunduk hendak memberikan kecupan dibibir merah muda Milla namun belum sempat bibir mereka bersentuhan Milla justru mengalihkan wajahnya menghindari kecupan Marvel.
Marvel mengerutkan keningnya melihat reaksi yang Milla berikan, tidak seperti biasanya yang menolak malu malu tapi Milla justru langsung menghindar dan menjauh. Padahal mereka sudah tidak lagi berada di rumah Juan jadi Milla tidak perlu merasa terbebani bukan?
“Kenapa, apa kau tidak enak badan?” satu satunya hal yang terpikirkan oleh Marvel perihal penolakan Milla adalah karena Milla sedang tidak enak badan, mungkin Milla lelah karena sebelumnya sibuk menjaga Viola yang rewel.
“Ah iya, aku hanya merasa sedikit lelah.” Milla menjauh dari Marvel, kembali melanjutkan kegiatannya sebelumnya.
Marvel yang khawatir hendak memijat bahu Milla namun lagi lagi Milla menolak disentuh oleh Marvel, Milla menepis tangan Marvel membuat Marvel semakin bertanya tanya dalam hatinya. Lantaran Milla tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya meski sedang kelelahan sekalipun.
“Sebaiknya kau lihat Riko sedang apa, mungkin Riko lapar. Kalian bisa beli makanan diluar.”
Sebenarnya Marvel masih kebingungan tapi Marvel akhirnya memilih menganggukkan kepalanya, menuruti perkataan Milla. “Baiklah. Kau ingin makanan apa?”
Marvel juga akan membelikan makanan yang Milla inginkan, dan mereka bertiga akan makan bersama nantinya.
“Apa saja.” jawab Milla singkat tanpa menoleh kearah Marvel.
Dengan kening berkerut bingung, Marvel keluar dari kamar dan menghampiri Riko yang tengah duduk di ruang tamu sembari menonton tayangan kartun di televisi.
“Rikoo..” Panggil Marvel kepada Riko yang masih asik berbaring santai di sofa dengan mata yang masih saja tertuju kearah televisi besar jauh di hadapannya itu.
Riko yang mendengar panggilan Marvel menoleh, menatap Marvel yang menuruni anak tangga menghampirinya. “Ada apa, Pa?”
“Apa kau sudah lapar, ayo kita beli makanan diluar. Mama sedang tidak enak badan jadi Mama tidak akan masak hari ini.” Marvel meraih remote yang berada di atas meja, mematikan televisi tersebut sebelum mengulurkan tangannya kepada Riko. Membantu Riko bangun dari posisi berbaring santainya di sofa.
“Mama tidak ikut juga?” tanya Riko sembari berpegangan tangan degan Marvel, turun dari sofa yang sebelumnya ia tiduri.
“Papa kan sudah bilang kalau Mama tidak enak badan, Mama juga tidak bisa ikut kita. Ayo cepat kita beli, Mama pasti sudah lapar.” Marvel mengambil kunci mobil nya yang tergeletak di atas meja, bersebelahan dengan cemilan yang sebelumnya Riko makan sambil menonton tayangan kartun.
“Ayo kita berangkat!” Riko dengan semangat menggoyang goyangkan tangannya yang bertautan dengan tangan Marvel, dengan riang keluar dari rumah dan melangkah mendekati mobil milik Marvel yang terparkir rapih di depan rumah.
***
Damian yang tengah bermain dengan Adara dan Lucas mendadak dibuat kebingungan dengan sikap Adara yang tiba tiba saja murung.
“Adara sayang, kau kenapa. Apa kau sakit?” Damian sudah panik saja melihat putrinya yang ceria mendadak menjadi pendiam dan murung seperti ini, Damian khawatir jika Adara merasa tidak enak badan dan tidak tahu cara menjelaskannya. Berhubung Adara masih kecil.
Adara, gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. “Adala kangen kak Liko.” jawab Adara pelan, kedua sudut bibirnya turun ke bawah menunjukkan betapa sedihnya ia.
Damian menghembuskan nafas berat mendengar jawaban Adara, ia sudah panik melihat Adara murung tapi ternyata itu semua karena Adara merindukan anak tiri Marvel, yaitu Riko.
“Sayang, kenapa mencari yang tidak ada. Kan ada Papa disini main sama Adara, apa Adara tidak senang main sama Papa?” Damian berusaha membujuk Adara dengan menggoyang goyangkan salah satu boneka milik Adara, berusaha membuat perhatian Adara tertuju kepada boneka tersebut namun Adara masih saja menunduk murung.
“Dala sayang Papa, tapi Dala mau main sama Kak Liko, Dala lindu kak Liko.”
Damian benar benar kehabisan kata kata, tidak tahu harus mengatakan apa kepada Adara. Tidak mungkin Damian berusaha menenangkan Adara dengan berkata Riko akan main kemari lagi lain kali, karena Damian saja masih tidak senang jika Riko datang ke rumah ini.
“Dara sayang jangan sedih ya, nanti juga Kak Riko main kesini lagi.”
__ADS_1
Bukan Damian yang mengatakan hal tersebut melainkan Clara lah yang mengatakannya, Damian hanya bisa berdecak sebal mendengar hal tersebut dan beralih pada putra bungsunya yang sejak tadi diam sibuk memakan cemilan nya.
“Bagi Papa sayang?” Damian membuka mulutnya, berharap tangan kecil Lucas memasukkan kue ditangannya itu ke mulut Damian namun alih-alih memberikan Lucas justru berbalik membelakangi Damian. Memakan kue miliknya tanpa mau memberikan sedikitpun kepada Damian.
“Astaga pelitnya..” Damian tertawa kecil melihat kelakuan Lucas, Damian kembali mendekati Lucas, memperhatikan wajah Lucas yang kotor karena makan dengan berantakan.
***
Marvel dan Riko telah kembali membawa makanan yang telah mereka beli, Marvel dan Riko bahkan bersama sama telah menyiapkan makanannya depan rapih di atas meja makan.
“Nah sekarang Riko panggil Mama ya, bilang kalau makanannya sudah siap. Biar sisanya Papa yang urus.”
Riko menganggukkan kepalanya dan berlari kecil menuju kamar orang tuanya, membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Milla tengah berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
“Ma.. Makanan sudah siap, Ayo kita makan sama-sama.” Riko menarik turun selimut yang menutupi tubuh Milla, menggoyang goyangkan tubuh Milla agar terbangun dari tidurnya.
“Oh, Riko.. Ada apa sayang?” tanya Milla yang baru saja membuka matanya.
“Ayo kita makan sama sama, Ma.” Riko mengulurkan tangannya kepada Milla, bergandengan tangan dengan Ibu nya itu keluar dari kamar menuju meja makan.
Milla melihat semuanya sudah disiapkan dengan benar oleh Marvel, Marvel yang tengah sibuk menuang air minum tersenyum ketika melihat Milla telah datang.
Dengan sigap menarik kan kursi untuk Milla duduk dan juga membantu Riko duduk di kursinya sendiri.
“Aku sengaja membeli makanan kesukaan mu, mungkin saja setelah memakannya kondisi mu akan menjadi sedikit lebih baik.” Ujar Marvel bersemangat, ia membantu Milla untuk menyendokkan makanan ke piring dan menyerahkannya kepada Milla.
“Bagaimana enak? kau menyukainya?” tanya Marvel masih sama antusiasnya, namun respon yang Milla berikan berbanding terbalik dengan apa yang Marvel inginkan.
Milla tidak menunjukkan reaksi bahagia, ataupun tersenyum sedikitpun. Milla hanya mengeluarkan suara, “Hemm.”
Membuat Marvel kembali bertanya tanya dalam hatinya, sebenarnya ada apa dengan Milla. Apa Milla sekelelahan itu sampai bersikap aneh begini. Atau Marvel ada melakukan kesalahan yang tidak Marvel sadari sebelumnya sehingga Milla marah?
Marvel benar benar bingung.
“*Aku pulang dulu ya, nanti kapan kapan kita main sama sama lagi. Kamu jangan sedih terus.” Riko berbisik kepada Markus, meski Markus tidak pernah bilang. Riko tahu bahwa Markus itu sering murung dan merasa sedih, Riko belum tahu karena alasan apa Markus merasa seperti itu tapi Riko perduli.
Meski Markus menatapnya sinis sekalipun Riko tetap perduli kepada Markus, karena Markus sekarang sepupunya. Riko senang punya sepupu, Riko senang punya saudara.
***
Marvel dan Milla sedang berada dikamar membereskan barang bawaan mereka kembali ketempat asalnya.
Marvel yang tinggi menaruh koper koper keatas lemari, sementara Milla menaruh pakaian kotor ke keranjang pakaian kotor dan memasukkan pakaian bersih kembali ke dalam lemari.
Setelah menaruh koper koper keatas lemari Marvel memposisikan dirinya tepat dibelakang Milla memeluk wanita itu dari belakang dan mengecup puncak kepala Milla lembut.
Sekarang Marvel tidak akan canggung lagi bermesraan dengan Milla, mereka sudah berada dirumah mereka sendiri.
Marvel memutar tubuh Milla menjadi menghadap dirinya, mengusap lembut pipi istrinya itu lembut. Marvel menunduk hendak memberikan kecupan dibibir merah muda Milla namun belum sempat bibir mereka bersentuhan Milla justru mengalihkan wajahnya menghindari kecupan Marvel.
Marvel mengerutkan keningnya melihat reaksi yang Milla berikan, tidak seperti biasanya yang menolak malu malu tapi Milla justru langsung menghindar dan menjauh. Padahal mereka sudah tidak lagi berada di rumah Juan jadi Milla tidak perlu merasa terbebani bukan?
“Kenapa, apa kau tidak enak badan?” satu satunya hal yang terpikirkan oleh Marvel perihal penolakan Milla adalah karena Milla sedang tidak enak badan, mungkin Milla lelah karena sebelumnya sibuk menjaga Viola yang rewel.
“Ah iya, aku hanya merasa sedikit lelah.” Milla menjauh dari Marvel, kembali melanjutkan kegiatannya sebelumnya.
Marvel yang khawatir hendak memijat bahu Milla namun lagi lagi Milla menolak disentuh oleh Marvel, Milla menepis tangan Marvel membuat Marvel semakin bertanya tanya dalam hatinya. Lantaran Milla tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya meski sedang kelelahan sekalipun.
“Sebaiknya kau lihat Riko sedang apa, mungkin Riko lapar. Kalian bisa beli makanan diluar.”
Sebenarnya Marvel masih kebingungan tapi Marvel akhirnya memilih menganggukkan kepalanya, menuruti perkataan Milla. “Baiklah. Kau ingin makanan apa?”
Marvel juga akan membelikan makanan yang Milla inginkan, dan mereka bertiga akan makan bersama nantinya.
__ADS_1
“Apa saja.” jawab Milla singkat tanpa menoleh kearah Marvel.
Dengan kening berkerut bingung, Marvel keluar dari kamar dan menghampiri Riko yang tengah duduk di ruang tamu sembari menonton tayangan kartun di televisi.
“Rikoo..” Panggil Marvel kepada Riko yang masih asik berbaring santai di sofa dengan mata yang masih saja tertuju kearah televisi besar jauh di hadapannya itu.
Riko yang mendengar panggilan Marvel menoleh, menatap Marvel yang menuruni anak tangga menghampirinya. “Ada apa, Pa?”
“Apa kau sudah lapar, ayo kita beli makanan diluar. Mama sedang tidak enak badan jadi Mama tidak akan masak hari ini.” Marvel meraih remote yang berada di atas meja, mematikan televisi tersebut sebelum mengulurkan tangannya kepada Riko. Membantu Riko bangun dari posisi berbaring santainya di sofa.
“Mama tidak ikut juga?” tanya Riko sembari berpegangan tangan degan Marvel, turun dari sofa yang sebelumnya ia tiduri.
“Papa kan sudah bilang kalau Mama tidak enak badan, Mama juga tidak bisa ikut kita. Ayo cepat kita beli, Mama pasti sudah lapar.” Marvel mengambil kunci mobil nya yang tergeletak di atas meja, bersebelahan dengan cemilan yang sebelumnya Riko makan sambil menonton tayangan kartun.
“Ayo kita berangkat!” Riko dengan semangat menggoyang goyangkan tangannya yang bertautan dengan tangan Marvel, dengan riang keluar dari rumah dan melangkah mendekati mobil milik Marvel yang terparkir rapih di depan rumah.
***
Damian yang tengah bermain dengan Adara dan Lucas mendadak dibuat kebingungan dengan sikap Adara yang tiba tiba saja murung.
“Adara sayang, kau kenapa. Apa kau sakit?” Damian sudah panik saja melihat putrinya yang ceria mendadak menjadi pendiam dan murung seperti ini, Damian khawatir jika Adara merasa tidak enak badan dan tidak tahu cara menjelaskannya. Berhubung Adara masih kecil.
Adara, gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. “Adala kangen kak Liko.” jawab Adara pelan, kedua sudut bibirnya turun ke bawah menunjukkan betapa sedihnya ia.
Damian menghembuskan nafas berat mendengar jawaban Adara, ia sudah panik melihat Adara murung tapi ternyata itu semua karena Adara merindukan anak tiri Marvel, yaitu Riko.
“Sayang, kenapa mencari yang tidak ada. Kan ada Papa disini main sama Adara, apa Adara tidak senang main sama Papa?” Damian berusaha membujuk Adara dengan menggoyang goyangkan salah satu boneka milik Adara, berusaha membuat perhatian Adara tertuju kepada boneka tersebut namun Adara masih saja menunduk murung.
“Dala sayang Papa, tapi Dala mau main sama Kak Liko, Dala lindu kak Liko.”
Damian benar benar kehabisan kata kata, tidak tahu harus mengatakan apa kepada Adara. Tidak mungkin Damian berusaha menenangkan Adara dengan berkata Riko akan main kemari lagi lain kali, karena Damian saja masih tidak senang jika Riko datang ke rumah ini.
“Dara sayang jangan sedih ya, nanti juga Kak Riko main kesini lagi.”
Bukan Damian yang mengatakan hal tersebut melainkan Clara lah yang mengatakannya, Damian hanya bisa berdecak sebal mendengar hal tersebut dan beralih pada putra bungsunya yang sejak tadi diam sibuk memakan cemilan nya.
“Bagi Papa sayang?” Damian membuka mulutnya, berharap tangan kecil Lucas memasukkan kue ditangannya itu ke mulut Damian namun alih-alih memberikan Lucas justru berbalik membelakangi Damian. Memakan kue miliknya tanpa mau memberikan sedikitpun kepada Damian.
“Astaga pelitnya..” Damian tertawa kecil melihat kelakuan Lucas, Damian kembali mendekati Lucas, memperhatikan wajah Lucas yang kotor karena makan dengan berantakan.
***
Marvel dan Riko telah kembali membawa makanan yang telah mereka beli, Marvel dan Riko bahkan bersama sama telah menyiapkan makanannya depan rapih di atas meja makan.
“Nah sekarang Riko panggil Mama ya, bilang kalau makanannya sudah siap. Biar sisanya Papa yang urus.”
Riko menganggukkan kepalanya dan berlari kecil menuju kamar orang tuanya, membuka pintu kamar tersebut dan mendapati Milla tengah berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
“Ma.. Makanan sudah siap, Ayo kita makan sama-sama.” Riko menarik turun selimut yang menutupi tubuh Milla, menggoyang goyangkan tubuh Milla agar terbangun dari tidurnya.
“Oh, Riko.. Ada apa sayang?” tanya Milla yang baru saja membuka matanya.
“Ayo kita makan sama sama, Ma.” Riko mengulurkan tangannya kepada Milla, bergandengan tangan dengan Ibu nya itu keluar dari kamar menuju meja makan.
Milla melihat semuanya sudah disiapkan dengan benar oleh Marvel, Marvel yang tengah sibuk menuang air minum tersenyum ketika melihat Milla telah datang.
Dengan sigap menarik kan kursi untuk Milla duduk dan juga membantu Riko duduk di kursinya sendiri.
“Aku sengaja membeli makanan kesukaan mu, mungkin saja setelah memakannya kondisi mu akan menjadi sedikit lebih baik.” Ujar Marvel bersemangat, ia membantu Milla untuk menyendokkan makanan ke piring dan menyerahkannya kepada Milla.
“Bagaimana enak? kau menyukainya?” tanya Marvel masih sama antusiasnya, namun respon yang Milla berikan berbanding terbalik dengan apa yang Marvel inginkan.
Milla tidak menunjukkan reaksi bahagia, ataupun tersenyum sedikitpun. Milla hanya mengeluarkan suara, “Hemm.”
__ADS_1
Membuat Marvel kembali bertanya tanya dalam hatinya, sebenarnya ada apa dengan Milla. Apa Milla sekelelahan itu sampai bersikap aneh begini. Atau Marvel ada melakukan kesalahan yang tidak Marvel sadari sebelumnya sehingga Milla marah?
Marvel benar benar bingung.