SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
NINETEEN : DAMIAN


__ADS_3

DAMIAN'S FLASHBACK


“Kapan kita akan menemui adik mu?” Damian mengusap lembut kepala Diana, wanita itu kini tengah berbaring menjadikan paha Damian sebagai bantalnya. Berduaan sembari menonton tayangan televisi.


“Nanti.. dia itu agak pemalu jadi susah untuk menemuinya.”


Damian mengangguk mengerti, Damian dan Diana akan segera melangsungkan pernikahan mereka, Damian ingin bertemu dengan adik Diana karna bagaimana pun satu satunya keluarga Diana saat ini adalah adiknya itu, Damian ingin adik Diana datang ke pernikahan mereka.


“Kenapa kalian tinggal terpisah? Padahal kalian bisa saja tinggal bersama bukan?” Damian sebenarnya agak bingung dengan hubungan Diana dengan adiknya, lantaran Diana selalu terlihat tidak tahu tentang adiknya itu, atau terkesan tidak perduli.


“Clara itu orangnya sangat mandiri, dia ingin hidup dan berjuang sendiri itu alasan kami tidak bersama.”


Damian mengerutkan alisnya, jawaban Diana terdengar agak tidak masuk akal baginya. “Mandiri? Kau sudah tinggal terpisah sejak ia masih bersekolah, bagaimana cara anak sekolah untuk berjuang sendiri. Itu terdengar tidak masuk akal.”


Diana gelagapan, ia bangkit dari posisi berbaring nya. “A-aku juga tidak berpisah begitu saja dengan nya, aku juga masih mengirimkan uang bulanan kepadanya.”


“Kalau begitu tidak perlu tinggal terpisah, lebih baik adik mu itu tinggal bersama kita setelah menikah. Lagi pula aku ingin dekat dengannya, aku harus menjalin hubungan yang baik bukan dengan adik ipar ku.” Damian tersenyum, ia memberikan kecupan lembut di bibir Diana sebelum wanita itu buka suara untuk menolak permintaannya.


***


Damian membukakan pintu mobil untuk Diana, ia menggenggam tangan Diana agar turun secara hati hati dari mobilnya. Damian juga tidak melepaskan tangan Diana saat mereka berdua berjalan memasuki gang sempit yang jalannya cukup berantakan.


Damian menggenggam erat tangan Diana, memastikan Diana untuk tidak terjatuh karna berjalan dengan menggunakan high heels nya itu.


Damian melihat sekitar, Damian merasa miris karna adik dari wanita yang ia cintai tinggal di tempat seperti ini sementara Diana sendiri hidup bahagia bersamanya.


“Ini rumahnya?” tanya Damian yang langsung diangguki oleh Diana, Damian mengetuk pintu kontrakan yang tertutup itu.


“Siapa?”


Sebuah suara lembut sayup terdengar dari dalam, Damian tersenyum mendengar suara tersebut. Tak lama pintu kontrakan itu terbuka dan menampilkan sosok gadis dengan tubuh mungil menatap bingung kearah Damian dan Diana secara bergantian.


“Kak Diana?”


Damian sempat takjub, Damian tahu bahwa Diana cantik tapi Damian tidak menyangka bahwa adiknya juga tak kalah cantik, hanya saja Damian merasa miris melihat penampilannya dan juga kondisi fisiknya yang terlihat tidak terurus.


Tubuh gadis itu kurus, kantung matanya hitam. Seolah olah mengatakan kepada Damian bahwa adik dari Diana ini menjalani hidup yang tidak mudah sendirian.


“Kenapa kau terkejut, bukan kah aku sudah mengabari bahwa aku dan calon suami ku akan kemari. Kami akan segera menikah, kami ingin kau hadir ke pernikahan kami.” Diana menutup hidungnya, menatap sinis adiknya itu. “Kau bau sekali, kau belum mandi?!”


Clara gelagapan, ia mundur selangkah. Ia malu. “Ah.. maaf, aku baru pulang kerja, aku belum sempat mandi.”


Damian tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu minta maaf, bolehkah kami masuk?”


Diana mengikut perut Damian, “Untuk apa kita masuk, aku tidak mau masuk ke dalam. Tujuan kita kan hanya untuk mengundangnya saja Damian.”

__ADS_1


“Bagaimana kau bisa berkata begitu, tidak kah kau merindukan adik mu?” Damian menatap bingung Diana, bukan kah Diana sendiri yang mengatakan bahwa mereka sudah lama tidak tinggal bersama. Seharusnya Diana merindukan adiknya itu.


Diana berdecak, “Tapi aku harus segera kembali ke rumah sakit Damian, aku tidak bisa mengabaikan pasien ku yang menunggu ku disana.”


Damian mengangguk mengerti, ia memaklumi Diana yang memang sibuk karena profesinya itu. Damian kembali menfokuskan dirinya pada Clara.


“Clara.. nama mu Clara kan?”


Clara menganggukkan kepalanya pelan.


“Ikut lah dengan kami, tinggal lah bersama kami. Kami akan segera menikah, kami ingin kau juga tinggal bersama kami, keluarga sudah seharusnya bersama bukan?”


Damian bisa melihat bahwa Clara tidak terlihat senang sedikitpun dengan tawarannya namun Clara juga tidak menolak mentah mentah, Clara terlihat kebingungan dan melirik ke arah kakaknya yang justru buang muka.


“Aku tahu kau ingin hidup mandiri, tapi bukan kah lebih baik kau tinggal bersama keluarga mu sebelum kau nantinya akan dibawa pergi oleh calon suami mu nanti? Bagaimana pun aku akan menjadi kakak ipar mu, aku ingin dekat dengan mu. Kita akan menjadi keluarga.. aku tidak ingin hubungan kita menjadi canggung kedepannya.”


Lama Clara terdiam, namun pada akhirnya Clara menggelengkan kepalanya. “Kalian tidak perlu khawatir, aku akan datang ke pernikahan kalian tapi tidak untuk tinggal bersama. Aku bisa mengurus diri ku sendiri.”


Damian mengerutkan alisnya, jawaban Clara seolah tidak tulus. Clara justru terlihat takut takut. Ia sesekali melirik ke arah Diana. Seolah olah jawaban itu lah yang Diana inginkan, bukan keinginan Clara sendiri.


“Tinggal lah bersama kami, aku tidak ingin aku dan Diana hidup bahagia sementara kau berjuang keras sendirian, tinggal di tempat seperti ini.” Damian melihat rumah kontrakan Clara yang kecil, sempit. “Jangan berusaha untuk berbohong dan mengatakan bahwa kau nyaman tinggal disini. Ikutlah dengan kami, ini permintaan ku sebagai calon kakak ipar mu.”


Clara lama terdiam hingga akhirnya ia buka suara, “Baiklah.”


Sesaat Clara mengiyakan permintaan Damian, saat itu pula Diana melirik sinis Clara.


***


Damian mulai merasa penasaran dengan Diana, Damian ingin tahu bagaimana penampilan wanita itu dan bagaimana perasaan wanita itu saat ini, mungkin kah sama sepertinya gugup namun juga bahagia di saat yang bersamaan.


Damian tersenyum ketika ia keluar dari kamar gantinya tidak ada satupun orang yang menjaganya, Damian berjalan mengendap endapan menuju kamar ganti Diana, Diana pasti tengah menunggu waktu untuk keluar disana.


Damian berjalan semakin waspada saat ia melihat pintu kamar ganti Diana tidak tertutup, Damian bisa mendengar suara Diana yang tengah berbincang dengan seseorang di dalam sana.


Siapa itu?


Damian merasa gemas, kenapa harus ada orang disana? Damian tidak bisa masuk menemui Diana jika ada orang disana, jika ia nekat masuk ia pasti akan di usir keluar.


Damian sudah berniat untuk pergi dari sana namun suara lawan bicara Diana tiba tiba saja terdengar, membuat gerakan Damian terhenti.


Suara laki laki?


Damian menajamkan telinganya, setahu Damian Diana tidak punya teman laki laki. Lagi pula teman laki laki macam apa yang menemui teman wanitanya di kamar ganti sendirian.


“Pastikan kau mendapatkan banyak uang darinya, kalau perlu kau buat saja ia menyerahkan semua hartanya padamu.”

__ADS_1


Damian menahan nafasnya, kenapa.. kenapa laki laki itu berkata seperti itu?


Damian bisa mendengar Diana berdecak.


“Tidak perlu kau ingatkan juga aku sudah pasti melakukan hal itu, tujuan ku menikah dengannya kan memang karna hartanya itu.”


Lagi.. Damian mendengar laki laki tersebut tertawa, tawa laki laki tersebut membuat Damian mengepalkan tangannya.


“Dia tampan tapi bodoh, tidak bisa membedakan mana wanita yang mencintainya dan mana wanita yang mencintai uang nya.”


Damian membeku, ia tidak menyangka dengan apa yang ia dengar. Jadi.. selama ini Diana tidak pernah mencintainya? Diana hanya mencintai uangnya saja?


Kenapa?


Damian sudah memperlakukan Diana seperti ratu, mencintai wanita itu sepenuh hatinya lalu kenapa justru pengkhianatan yang ia terima. Apa yang kurang darinya?


“Ya Thomas, aku hanya mencintai uangnya, laki laki yang ku cintai di dunia ini hanya dirimu.”


Damian mengintip, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Diana berciuman dengan laki laki lain.


Mencium laki laki lain di hari pernikahan mereka, bahkan dengan mengenakan gaun yang telah Damian pilih sepenuh hatinya.


Apa salahnya sehingga di khianati seperti ini?


Damian melangkah menjauh, ia menuruni anak tangga satu persatu. Melangkah menuju ke altar pernikahan dengan langkah lemah.


“Damian..”


Suara lembut ibunya membuat Damian menoleh, Damian menatap ibunya yang melangkah mendekat ke arahnya dengan senyum lebar. “Damian putra ku.”


Damian menatap nanar senyum ibu nya itu, Damian ingin mengadu dan mengatakan bahwa Diana telah mengkhianatinya namun Damian tidak tega melihat kebahagiaan di wajah ibu nya itu memudar mengingat ibu Damian sudah sejak lama meminta Damian untuk segera menikah dengan Diana.


Damian mengalihkan pandangannya ke sekeliling, banyak tamu undangan yang sudah datang. Jika Damian membatalkan pernikahannya hari ini maka keluarganya akan menanggung malu, belum lagi kondisi Ibu Damian yang sedang tidak sehat akhir akhir ini, Damian tidak mau Ibu nya kembali masuk rumah sakit karena berita buruk ini.


Biarlah berita buruk ini Damian simpan sendirian, Damian berharap semua yang ia lihat tadi itu hanyalah sebuah khayalannya saja karena terlalu gugup untuk pernikahannya ini.


*Ya..


Semuanya itu tidak nyata.


Mana mungkin wanita yang ia cintai bertindak sejahat itu.


Tidak, semuanya tidak nyata*.


Setelah pernikahan semuanya akan berjalan lancar, semuanya akan baik baik saja karena Damian mencintai Diana dan Diana pun mencintai dirinya.

__ADS_1


Ya, tidak ada yang perlu di khawatirkan.


__ADS_2