
*Riko menggelengkan kepala nya tidak setuju, “Riko mau terus di temani tidur. Dulu Riko tidak pernah Mama temani tidur karena Mama selalu kerja, sekarang kenapa Riko juga tidak boleh di temani karena akan jadi Kakak. Riko tidak mau pergi tidur sendiri!”
Milla menghela nafas berat, merasa bersalah ketika mengingat dulu Milla selalu meninggalkan Riko dengan alasan pekerjaan dan sekarang saat Milla tidak lagi bekerja, Milla justru mengatakan Riko tidak seharusnya di temani lagi sebelum tidur karena Riko sudah besar.
“Iya sayang, Mama akan temani Riko tidur seterusnya juga. Meski Riko sudah jadi kakak sekalipun. Riko senang?”
Riko menganggukkan kepalanya bahagia, melihat Riko senang membuat Milla juga senang.
“Kalau begitu ayo tidur, besok Riko kan harus sekolah*.”
***
Sudah 7 bulan berlalu, usia kandungan Milla sudah menginjak usia 7 bulan pula, perut Milla sudah kelihatan membesar dan Marvel juga menjadi lebih ketat mengawasi Milla.
Biasanya Riko berangkat ke sekolah dengan Marvel namun yang menjemput nya adalah Milla, namun sekarang Marvel melarang Milla untuk menjemput Riko, sehingga Marvel lah yang menjemput Riko pulang sekolah jika ia sempat dan jika tidak maka supir lah yang akan menjemput.
Namun kali ini Marvel tidak bisa menjemput, supir pun tidak bisa menjemput Riko karena istri supir tersebut sedang sakit. Sedangkan Milla berinisiatif untuk menjemput Riko namun Marvel larang.
Marvel memilih untuk meminta bantuan Sabrina yang juga tengah menjemput Markus pulang sekolah karena sekolah mereka yang berdekatan, Sabrina mengatakan juga ia tidak keberatan sekalian main ke rumah Milla dan mempererat hubungan diantara mereka.
Karena sejak Sabrina menikah dengan Juan, Sabrina belum pernah benar benar dekat dengan Milla. Terlebih lagi Monica adik perempuan satu satu nya Juan dan Marvel tidak begitu dekat dengan Sabrina.
Satu satu nya anggota keluarga wanita yang membuka diri dan menerima Sabrina dengan baik sebagai istri Juan hanya lah Milla. Mungkin karena mereka sama sama hidup susah dan membesarkan anak mereka susah payah sendirian jadi mereka berdua saling mengerti satu sama lain.
__ADS_1
Sabrina masih menyetir mobil nya, Viola duduk di kursi khusus bayi nya di dalam mobil sementara Markus dan Riko yang telah Sabrina jemput dari sekolah duduk berdua bersebelahan.
“Bagaimana sekolah, apa menyenangkan?” tanya Sabrina kepada dua anak laki laki itu, namun yang menjawab hanya lah Riko. Markus terlihat sibuk dengan mainan nya.
“Menyenangkan Tante.” jawab Riko sopan, Riko menoleh kearah Markus yang asik sendiri. Riko menyenggol Markus dengan siku nya bermaksud membuat Markus menoleh kearah nya dan itu berhasil, Markus menoleh dengan wajah tak senang.
“Tante bertanya, kenapa tidak kau jawab?” tanya Riko berbisik, tidak ingin Sabrina mendengar nya. Riko segan menegur Markus di depan Sabrina.
Markus justru mengangkat alisnya tidak perduli, “Kalau ku jawab hari ku di sekolah mengerikan, apa dia akan mengeluarkan ku dari sekolah itu dan memindahkan ku ke sekolah yang lebih baik? jawaban nya tidak. Dia pasti hanya akan menyalahkan ku, mengatakan bahwa hari ku mengerikan karena sikap ku yang buruk.”
Riko terdiam mendengar perkataan Markus itu, Markus lebih muda dari Riko namun Riko tidak mengerti dengan pola pikir Markus. Markus aneh menurut Riko. Markus itu terlalu membenci, terlalu membenci segala hal. Termasuk Ibu nya sendiri.
“Kalau kau bersikap buruk tentu saja orang lain akan memperlakukan mu dengan buruk juga Markus.” ujar Riko pelan.
Markus tertawa sinis mendengar jawaban Riko, Markus mengabaikan mainan nya dan menatap Riko dengan tatapan seolah mengasihani. “Tidak usah perduli kan aku, pikirkan saja dirimu sendiri. Kau sudah mulai di lupakan oleh orang tua mu buka? Posisi mu di keluarga mu sudah mulai tersisihkan bukan? lihat saja nanti setelah adik yang kau dambakan itu lahir, kau sudah tidak berarti apa apa lagi di mata Mama dan Papa kesayangan mu itu.”
Riko memang sudah mulai merasa ada perbedaan dalam perlakuan orang tua nya terhadap dirinya namun, Riko tetap diam dan merasa karena itu wajar. Ibu nya tengah hamil tua, Riko melihat dengan mata nya sendiri betapa sulit nya Ibu nya bergerak dengan perut besar, sehingga Riko tidak banyak menuntut, apalagi hanya perihal menjemput.
Riko sibuk dengan pikiran nya sendiri sampai tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di rumah nya, mereka semua turun dari mobil dan disambut hangat oleh Milla yang telah menunggu di depan pintu.
“Wah.. perut mu sudah besar sekali ya, pasti sudah sulit bergerak ya.” Sabrina yang menggendong Viola itu mendekati Milla dan mengusap perut buncit Milla.
“Haha begitu lah Kak, oh iya ayo masuk ke dalam. Aku dan pelayan sudah siapkan makan siang, ayo kita makan siang bersama.” Milla mempersilahkan Sabrina masuk.
__ADS_1
“Riko dan Markus sudah lapar belum? kalau lapar kalian makan saja dulu.” Sabrina tidak bisa ikut makan bersama karena ia harus menyuapi Viola makan terlebih dahulu.
“Usia kandungan mu sudah 7 bulan? laki laki atau perempuan?” tanya Sabrina kepada Milla sembari ia menurunkan Viola dari gendongan nya, membaringkan Viola di karpet tebal ruang tamu Milla.
Usia Viola sudah hampir setahun tapi Viola masih juga belum bisa bergerak lincah seperti bayi bayi seusia nya. Dan itu membuat Milla sedih melihat nya, dan juga pasti sulit bagi Sabrina untuk merawatnya.
“Aku dan Marvel sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin nya agar menjadi surprise nanti saat melahirkan. Lagi pula laki laki ataupun perempuan semuanya sama saja. Sehat ataupun tidak kami tetap akan merawat nya dengan baik.” Milla menyentuh pipi pucat Viola, “Apa Viola masih sama kak?”
Sabrina menganggukkan kepalanya, “Ya. masih sama. Ia terus saja menangis tanpa aku ketahui apa alasan nya, seandainya Viola bisa bicara aku pasti akan tahu dimana letak rasa sakit yang ia rasakan namun Viola hanya bisa menangis dan ya, itu kadang membuat ku agak frustasi. Tapi mau bagaimana lagi, yang mengkhawatirkan itu adalah tumbuh kembang Viola yang jauh lebih lambat dari anak pada umum nya. Sampai sekarang saja Viola masih kesulitan saat merangkak, padahal usianya sudah hampir satu tahun.”
Milla menepuk bahu Sabrina lembut, “Aku salut kepada mu Kak.”
Tentu saja Milla salut kepada Sabrina, Viola itu bukan anak kandung Sabrina, Viola anak Juan dari wanita lain tapi Sabrina tetap dengan setulus hati menjaga Viola yang selalu sakit-sakitan.
***
Rumah sudah kembali sepi, Sabrina dan anak anak nya telah pulang. Kini hanya ada Milla dan Riko di ruang tamu sembari menonton tayangan kartun favorit Riko di televisi, yang selalu Riko tonton setiap pulang sekolah.
Riko duduk tepat disebelah Milla, sementara Milla mengusap usap perut nya lembut. Milla meringis pelan saat merasakan bayi dalam perut nya menendang, Riko yang berada disebelah Milla sontak terkejut dan melihat wajah Milla dengan khawatir.
“Adik mu membuat Mama kaget, dia menendang tiba-tiba. Sepertinya dia senang ikut menonton kartun bersama Kakak nya.” Ujar Milla sembari mengusap perut nya kembali.
Riko yang mendengar hal tersebut tersenyum dan menempelkan telinga nya di perut besar Ibu nya itu.
__ADS_1
“Adik, jangan nakal ya disana. Kak Riko juga senang kok nonton bersama mu. Jangan tendang-tendang lagi ya, kasihan Mama.” Riko kemudian mengecup perut buncit Milla tersebut dengan penuh sayang, Riko memang sosok anak dan juga Kakak yang penyayang.
Milla yakin, anak kedua nya ini pasti akan bahagia memiliki kakak seperti Riko.