
Marvel tidak mengijinkan Juan pergi menemui keluarga Gevan sendirian, Marvel memaksa untuk ikut. Dengan alasan Marvel ingin menjelaskan sendiri kepada keluarga Gevan.
Marvel juga ingin meminta maaf bahwa ia tidak bisa memenuhi permintaan terakhir Gevan, Marvel tidak bisa benar benar menjaga keluarga yang Gevan tinggalkan. Meski ia kasihan namun jika dipikir pikir itu bukan tanggung jawabnya, Marvel tidak ingin menempatkan dirinya sebagai seseorang yang sok pahlawan lagi.
Namun setibanya disana Marvel dan Juan justru disambut pemandangan yang tidak enak dilihat, dimana Juan dan Marvel melihat bagaimana seorang wanita dan anak nya diperlakukan semena-mena oleh tetangga sekitar.
Meski tidak begitu jelas, namun baik Juan dan Marvel dapat mendengar apa yang mereka ributkan.
“Halah sudah jangan mengelak! jelas jelas anak saya bilang kalau Riko memukul nya!”
Marvel melihat Ibu ibu yang mengenakan daster tersebut marah marah kepada wanita yang Marvel yakini adalah istri Gevan.
“Putra saya bukan orang yang seperti itu Bu, Riko tidak mungkin memukul orang lain tanpa sebab. Riko bahkan tidak pernah melawan ataupun mengabaikan perkataan saya, jadi rasanya tidak mungkin jika Riko menyakiti anak Ibu.”
“Jadi maksud situ anak saya memukul dirinya sendiri begitu?!” Ibu yang merasa anaknya itu telah di pukul oleh anak Gevan itu semakin marah besar.
“Bu-bukan begitu maksud saya Bu, mungkin saja ini cuma kesalah paham—”
“Riko yang pukul aku Tante! Riko pukul aku sampai jatuh! Dasar gak punya Ayah, berani berani nya pukul aku!!”
__ADS_1
“Tuh dengar apa kata anak saya, Riko yang telah memukul anak saya!!”
Marvel memperhatikan istri Gevan itu terdiam, ia menghela nafas berat sebelum akhirnya meminta maaf kepada Ibu dan anak kecil itu atas nama putranya.
Sementara putra Gevan, Riko. Dia menangis dan mengatakan kepada Ibu nya bahwa ia tidak bersalah.
Setelah Ibu dan anak itu pergi, Marvel dan Juan masih tidak turun dari mobil mereka. Masih memperhatikan Istri Gevan dan putra Gevan yang masih menangis mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah sama sekali.
Marvel memperhatikan bagaimana wanita itu berlutut mensejajarkan tinggi nya dengan putra nya itu.
“Liko benal benal tidak pukul dia Ma..” anak laki laki itu masih saja menangis, Ibu nya dengan lembut menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi nya.
Anak laki laki itu sontak menganggukkan kepala nya cepat, “Iya.. Dia bilang Papa tinggalkan Liko dan Mama kalna Liko nakal. Liko gak nakal, dia yang nakal..”
“Iya, Riko tidak nakal. Riko anak baik kesayangan Mama. Lalu kenapa dia bisa terluka sayang?”
Anak bernama Riko itu kembali sesegukan, “Dia bilang Liko gak akan punya Papa lagi, Papa Liko gak akan pulang selama lamanya, Liko malah.. Liko mau punya Papa. Liko dolong dia sampai jatuh, tapi Liko gak pukul dia.”
Marvel terdiam, ia merasa seolah ada perang dalam dirinya sendiri. Marvel menghalangi Juan yang hendak turun dari mobil.
__ADS_1
“Kenapa? kita harus segera memberitahukan istri dan anak nya, mayat Gevan harus segera dikuburkan.”
Marvel masih terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menggelengkan kepalanya, ia tidak sanggup untuk memberitahukan kepada istri dan anak Gevan bahwa Gevan telah tiada.
Belum lagi setelah mendengar perkataan anak itu, membuat perasaan Marvel semakin sakit rasanya.
Anak itu menunggu Ayahnya, ia menginginkan sosok Ayah disisinya. Bagaimana mungkin Marvel tega muncul begitu saja dan mengatakan bahwa Ayahnya sudah tidak ada di dunia ini lagi.
Marvel merasa bersalah sekali, meski sebenarnya ini bukan salahnya.
“Lalu apa yang kau mau?”
“Biarkan aku selesaikan masalah ini dengan caraku sendiri kak, kita tidak perlu memberitahu mereka. Berita ini hanya akan menambah beban mereka. terdengar egois memang, bahwa aku menghalangi mereka untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi tidak sekarang.. aku tidak bisa, aku tidak tega.”
Juan mengerutkan alisnya, “Kalau kau tidak sanggup biar aku saja yang menemui mereka dan mengatakan semua nya, kau cukup tinggi di mobil saja.”
Marvel menggelengkan kepalanya, “Lebih baik kita kembali ke rumah sakit Kak, aku yang akan mengurus masalah ini setelah aku sembuh total. Dan aku akan mewujudkan permintaan Gevan padaku. Bisa kah kau putar balik mobil ini dan kembali ke rumah sakit? Ku mohon jangan tanya lebih lanjut lagi, percaya lah padaku.”
Juan berdecak namun akhirnya ia menuruti kemauan Marvel, “Kau selalu saja begini. Mengutamakan kebahagiaan orang lain dibandingkan kebahagiaan mu sendiri.”
__ADS_1
Marvel tersenyum getir mendengar ucapakan kakak laki laki nya itu. “Entahlah kak, aku juga tidak mengerti. Mungkin begini lah aku..”