SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
THIRTY EIGHT


__ADS_3

"Kau mau langsung tidur?" tanya Damian pada Clara yang sudah berbaring di ranjang, Clara bahkan sudah menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke leher.


"Memangnya apalagi yang harus ku lakukan selain tidur? Ini sudah malam."


"Justru karna ini malam, bukan kah kita ini pengantin baru? Seharusnya ini malam pertama kita kan?"


Clara menoleh kearah Damian dan menatap Damian dengan tatapan sinis nya, "Malam pertama? Kau dan aku sudah pernah melakukannya Damian, tidak ada itu malam pertama."


Damian gelagapan, "Ya.. ini memang bukan malam pertama kita, tapi-"


"Tapi? Aku lelah Damian, lagi pula kita tidak perlu melakukannya malam ini, aku sudah hamil anak mu."


Damian menganggukkan kepalanya, ia mengusap puncak kepala Clara lembut. "Ya.. tidurlah, aku akan mandi dan ikut tidur dengan mu nanti. Kau tidur lah lebih dulu."


Meski berat hati Damian mengalah, meski sebenarnya ia sudah membayangkan akan menghabiskan malam panas dengan Clara.


Toh jika memang tujuan nya hanya untuk kepuasan Damian bisa melakukan nya lain waktu, Clara sudah hamil anak nya. Soal malam pertama pun ini sudah bukan malam pertama mereka.


Wajar Clara merasa lelah karena ia memang tengah hamil.


Baru saja Damian ingin masuk ke dalam kamar mandi, ponselnya tiba tiba berdering.


"Ada apa Jer?" tanya Damian setelah mengangkat panggilan dari salah satu anak buah nya, Jerico.


"..."


Damian terdiam mendengar penjelasan Jerico, Damian melirik Clara yang sudah tertidur. Ia baru mendapat kabar tentang kematian Thomas dan juga berita bahwa Diana sekarang sedang di rawat di rumah sakit karena stress berlebihan, kurang gizi dan semacamnya yang mengakibatkan ia kehilangan bayi yang di kandungnya.


Damian tidak bisa berkata kata, ia hanya meminta Jerico untuk mengawasi Diana, memastikan Diana tidak akan melakukan hal yang aneh nantinya.


Damian menutup panggilan tersebut dan memijit pelipisnya, Damian khawatir jika Diana akan melakukan hal nekat yang bisa mencelakai Clara nanti.


Diana tipe wanita yang nekat, Diana bisa melakukan tindakan kriminal hanya demi kepuasannya sendiri. Dan hal itu membuat Damian semakin waspada.


***


Pagi harinya Damian menemui Diana di rumah sakit, Damian mengatakan pada Clara bahwa ia ada urusan pekerjaan meski kenyataannya Damian justru menemui Diana.


"Kau baik baik saja?" tanya Damian datar, ia sebenarnya agak kasihan melihat wajah pucat Diana.


"Apa aku terlihat baik baik saja di mata mu? Aku tersiksa Damian! Tersiksa!"


Damian berdecak, Diana tidak perlu meninggikan suaranya. Untuk apa Diana marah kepadanya? Toh semua ini terjadi akibat dari ulah Diana sendiri.


"Kau tersiksa karena dirimu sendiri, jangan mencoba melimpahkan semua kesalahan mu padaku."


Diana menggeleng, "Aku memang salah.. aku juga sudah mendapatkan hukuman ku, aku menikah dengan mu tapi aku justru mengkhianati mu, aku bahkan terus saja menyakiti Clara. Tapi tidak bisa kah kau memberikan aku kesempatan sekali lagi?"


Damian mengerutkan alisnya, kesempatan Diana bilang?


"Apa maksud mu? Aku sudah menikah dengan Clara, aku tidak mungkin memberimu kesempatan untuk kembali bersama ku. Lagi pula aku mencintai Clara dan Clara sedang mengandung anak ku. Aku tahu kau sedang bersedih saat ini tapi jangan melewati batas mu Diana."


Diana menggelengkan kepalanya, "Bukan itu maksud ku, aku bukan meminta kesempatan untuk kembali menjadi istri mu lagi. Aku hanya meminta kesempatan dari mu untuk hidup. Aku tidak bisa hidup seperti ini Damian, aku sudah kehilangan Thomas dan juga anak ku, aku tidak punya uang. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah mencoba untuk mencari pekerjaan tapi tidak ada yang mau menerima ku, semua rumah sakit menolak ku karena catatan buruk ku dirumah sakit tempat ku bekerja sebelumnya."


"Intinya?"


"Tidak bisa kah kau memberikan aku uang, hanya-"


"Meski sudah kehilangan segalanya dan hampir mati kau tetap memikirkan uang? Kau ini manusia atau bukan Diana?"


"Tapi aku memang butuh uang Damian, aku butuh uang untuk kembali memulai hidup ku, ini permintaan terakhir ku. Aku tidak akan pernah mengganggu keluarga mu lagi, aku tidak akan pernah muncul dihadapan kalian lagi. Aku berjanji, ini yang terakhir kalinya.. ku mohon kasihanilah aku, bantu aku Damian."

__ADS_1


Damian masih terdiam, ia tidak mengatakan apa apa sampai akhirnya ia menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menyuruh anak buah ku untuk memberikan uang pada mu nanti, tapi jaga kata kata mu itu. Jika kau melanggarnya maka aku tidak akan segan segan membunuh mu dengan tangan ku sendiri, karena aku tidak mau kehidupan baru ku hancur karena ulah mu. Mengerti?"


Setelah mendapat anggukan dari Diana, Damian melangkah pergi meninggalkan Diana yang masih meneteskan air mata.


Diana tidak berbohong, ia bersungguh sungguh akan pergi dari hidup Damian. Ia akan pergi meski ia sendiri tidak tau tempat tujuan nya sendiri.


***


"Urusan mu sudah selesai?" tanya Clara saat Damian pulang dengan wajah kusut.


Damian langsung mengecup kening Clara dan memeluk wanita itu erat.


Clara menaikkan alisnya, "Apa ada masalah Damian?"


Damian menggelengkan kepalanya, "Bukan masalah besar, kau sudah makan?"


Clara menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, namun alis Clara berkerut ketika ia mencium aroma aneh dari pakaian Damian.


"Kau habis dari rumah sakit? Kau tercium seperti bau obat."


Tubuh Damian menegang merasakan kepanikan, ia dengan cepat menyangkal. "Dasar ibu hamil satu ini, aku ini dari kantor. Kau juga sudah meminum susu hamil mu?"


Damian berusaha sebisa mungkin untuk mengalihkan pembicaraan, Damian bahkan melepaskan pelukannya meski sebenarnya ia masih ingin memeluk Clara lebih lama lagi.


"Ya, aku sudah meminum nya."


"Bagus kalau begitu."


Damian ingin pergi menuju ruang kerja nya namun Clara menghentikannya.


"Kau dapat kabar mengenai Kak Diana?"


Damian mengarang kebohongan, Damian tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. "Memangnya ada apa? Kau tidak ingat apa saja yang sudah dia lakukan pada kita?"


Clara menghela nafas berat, "Kak Diana memang bersalah, tapi aku tidak bisa bahagia tertawa sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan dia sekarang, mungkin dia bisa mengabaikan ku tapi aku merasa sulit untuk mengabaikan dia begitu saja. Tapi mendengar perkataan mu kalau ia telah pergi keluar negeri dengan kekasihnya itu berarti dia baik baik saja. Bagus jika dia baik baik saja, jadi aku tidak akan terlalu merasa bersalah."


"Jangan terlalu kau pikirkan, ini semua bukan salah mu." Damian kembali mengecup kening Clara. "Kau tidak perlu memikirkan hal hal lain, cukup pikirkan aku dan anak kita. Kau hanya perlu mengetahui dua hal, bahwa aku mencintai mu dan anak kita, dan aku juga akan menjaga kalian sekuat yang aku bisa."


Clara menganggukkan kepalanya, "Aku percaya pada mu Damian."


***


Diana menepati janjinya, sesaat ia menerima uang dari anak buah Damian sejumlah 500 juta, Diana segera pergi ke luar negeri hari itu juga.


Ia bersumpah ia tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah bertemu dengan Damian maupun Clara.


Diana hanya berharap satu hal, semoga Clara. Adiknya bahagia. Meski Diana sebenarnya merasa jijik terhadap dirinya sendiri karna baru mengharapkan kebahagiaan adiknya setelah semua yang telah terjadi.


Yang Diana ingin ucapkan pada dirinya sendiri adalah selamat tinggal.


Selamat tinggal kepada dirinya yang busuk, keji, dan tidak tahu malu.


Dan juga selamat tinggal kepada Damian dan Clara, semoga mereka bahagia.


Dan semoga Diana sendiri bisa mendapatkan kebahagiaannya meski ia sendiri tidak tahu ia masih punya hak untuk bahagia atau tidak.


Diana hanya bisa berharap.


***

__ADS_1


3 tahun kemudian


Damian menenangkan Dara yang saat ini tengah menangis di dalam pelukannya.


Adara Magdalena, putri pertama Damian. Yang saat ini sudah berusia 2 tahun lebih.


Dara menangis lantaran gadis kecil itu merindukan Ibu nya, sementara Clara belum bisa menemui Dara karena masih menjaga anak kedua mereka di rumah sakit.


Hari ini anak kedua mereka baru bisa pulang ke rumah setelah menginap di inkubator dalam waktu yang cukup lama karena Clara melahirkan prematur.


"Sabar sayang, sebentar lagi Mama pulang." Damian menepuk nepuk punggung Dara, berusaha menenangkan tangisan putri kecilnya itu.


Seharusnya Damian menjemput Clara di rumah sakit tapi Adara tidak mau melepaskannya bahkan putrinya itu pun tidak mau tenang sejak ia bangun dari tidurnya.


Damian paham bahwa Dara merindukan Ibu nya.


"Ah, itu Mama sudah pulang."


Damian dengan suara ceria mengalihkan perhatian Dara, membuat Dara menoleh kearah yang Damian tunjuk.


Tangis Adara semakin kencang saat melihat Ibu nya datang.


Namun tangisannya itu tidak bertahan lama, tangisannya tiba tiba berhenti saat melihat bahwa Clara tidak datang sendiri melainkan datang sembari menggendong sosok bayi kecil di pelukannya.


"Ba..by.."


"Iya sayang, ini Baby Lucas."


"Lupas?" Dada dengan imut nya mengerutkan alisnya, ia agak sulit menyebut nama adiknya Lucas.


Clara tertawa melihat kepolosan Dara. "Ini adik laki laki mu Adara, namanya Lucas Castielo. Yang berarti pembawa cahaya dan pekerja keras."


Adara hanya menatap Clara dengan tatapan bingung, di kepala kecilnya itu ia tidak mengerti dengan apa yang Ibu nya maksudkan yang terpenting adalah ia bisa melihat ibu nya lagi.


Dan juga ia senang melihat sosok mungil dipelukan ibu nya.


"Akhirnya kau dan Lucas pulang juga ke rumah, dia sudah baik baik saja kan?" tanya Damian sembari memperhatikan Lucas yang tertidur pulas dalam pelukan Clara.


Clara menganggukkan kepalanya, "Lucas sudah baik baik saja. Dia laki laki yang kuat sama seperti Ayah nya." Clara menjawab sembari tertawa.


Damian ikut tertawa dan mengecup pipi Clara, "Kau lelah?"


Clara menggelengkan kepalanya, "Justru aku yang seharusnya bertanya pada mu, kau lelah? Pasti sulit menjaga Dara di saat ia rewel seperti ini."


Damian kembali tertawa, memang sulit tapi ia senang melakukannya. Damian lebih senang menjaga Adara meski Adara rewel dibandingkan mengurus pekerjaannya karna bersama putrinya itu adalah sebuah kebahagiaan baginya.


Damian kembali mengalihkan perhatiannya kepada Lucas yang berada dalam pelukan Clara.


"Tumbuh jadi anak yang kuat dan membanggakan ya, jangan nakal seperti Papa." ujar Damian diiringi tawa, ia beralih menatap Clara dengan senyum lebarnya. "Terima kasih karena telah memberikan ku lagi hadiah yang tak ternilai harganya, aku mencintai mu istri ku."


Clara menganggukkan kepalanya, "Aku juga mencintai mu, Damian."


Damian mendekatkan wajahnya hendak mengecup bibir Clara namun Adara justru menghalanginya, membuat Damian dan Clara berujung mencium kedua pipi Adara.


Damian dan Clara hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Adara.


Mereka bahagia.


Memang hubungan Damian dan Clara tidak selamanya semanis ini, masalah pasti datang silih berganti namun semuanya pasti akan bisa mereka lewati.


Asalkan mereka saling percaya, menghargai dan menyayangi.

__ADS_1


THE END


__ADS_2