SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 32


__ADS_3

“*Adik mu membuat Mama kaget, dia menendang tiba-tiba. Sepertinya dia senang ikut menonton kartun bersama Kakak nya.” Ujar Milla sembari mengusap perut nya kembali.


Riko yang mendengar hal tersebut tersenyum dan menempelkan telinga nya di perut besar Ibu nya itu.


“Adik, jangan nakal ya disana. Kak Riko juga senang kok nonton bersama mu. Jangan tendang-tendang lagi ya, kasihan Mama.” Riko kemudian mengecup perut buncit Milla tersebut dengan penuh sayang, Riko memang sosok anak dan juga Kakak yang penyayang.


Milla yakin, anak kedua nya ini pasti akan bahagia memiliki kakak seperti Riko*.


***


Riko kesal sekali, ia sakit hati. Bagaimana tidak, saat ia pulang ke rumah dengan supir Riko justru mendapati bahwa Mama dan Papa nya telah belanja perlengkapan adik nya tanpa mengajak dirinya.


Padahal Riko sudah lama menanti orang tua nya akan pergi berbelanja karena Riko ingin ikut dan juga ingin turut andil memilih perlengkapan untuk adik nya itu.


Riko kesal bukan main, ia menutup pintu kamar nya dengan cara dibanting karena sangking kesal nya. Riko mendadak merasa tidak dianggap.


Sementara Milla kebingungan melihat tingkah putra nya itu yang mendadak berubah itu, karena tidak biasanya Riko membanting pintu kamar nya dan pulang dengan wajah cemberut.


Padahal Milla sudah bersemangat menunggu Riko pulang untuk menunjukkan semua barang yang sudah ia dan Marvel beli untuk adik Riko, namun Riko justru terlihat tidak senang.


Milla memutuskan untuk menyusul Riko ke kamar nya dengan perlahan-lahan, Milla menaiki anak tangga satu persatu perlahan-lahan hingga akhirnya Milla sampai di depan kamar Riko.


Milla mengetuk pintu kamar putra nya itu karena saat Milla mencoba untuk membuka nya pintu tersebut terkunci.


“Riko.. sayang, kau kenapa sayang, kamu gak papa kan? Kenapa kau tiba-tiba marah begini, Mama salah apa sayang?” Milla memanggil manggil Riko, masih mengetuk ngetik pintu kamar putra nya tersebut namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam. Milla bingung bagaimana cara nya agar pintu itu di buka oleh Riko.

__ADS_1


“Rikoo.. jika Mama ada salah tolong beritahu Mama dimana letak kesalahan Mama, jangan diam saja seperti ini sayang.,” Rayu Milla lagi kepada Riko, tangan nya tak henti mengetuk pintu kamar putra nya itu.


Setelah sekian lama tidak menyerah terus mengetuk pintu dan memanggil manggil nama Riko, akhirnya ada jawaban dari dalam kamar.


“Riko benci Mama dan Papa! Mama dan Papa pergi beli adik tidak ajak-ajak Riko, Riko juga mau pilih barang barang untuk adik. Mama dan Papa sudah tidak perduli dengan Riko lagi!”


Astaga, Milla tidak menyangka ternyata karena hal itu Riko marah kepada nya dan mengabaikan Milla sesat Riko pulang.


“Sayang, bukan nya Mama dan Papa tidak sayang pada mu sehingga tidak mengajak mu. Papa sibuk sekali akhir akhir ini sayang dan Papa baru ada waktu pagi tadi sedangkan Riko saja sekolah. Lagi pula Mama dan Papa hanya beli sedikit saja, sebagian pakaian dan barang barang untuk adik semuanya dari Riko. hampir semuanya barang barang Riko dulu waktu kecil untuk adik. Untuk apa beli banyak banyak kalau punya Riko dulu semuanya masih sangat bagus bagus.”


Milla tidak mendengar jawaban apa-apa dari dalam, sunyi sejenak dari dalam hingga akhirnya Milla mendengar suara kunci pintu yang di buka. Senyum Milla merekah saat melihat Riko membukakan pintu kamar nya.


“Benar adik dapat pakaian Riko dulu?” tanya Riko lagi memastikan sekali lagi.


Riko hanya diam saja namun pipi nya memerah, Riko senang adik nya akan menggunakan barang barang milik nya dulu.


***


Kini kondisi kandungan Milla sudah menginjak usia 9 bulan, hanya tinggal menunggu hari untuk Milla melahirkan dan disaat seperti ini Riko justru semakin rewel.


Orang bilang ini sindrom yang anak anak alami ketika ia akan memiliki adik. Riko benar benar rewel dan ngotot sekali ingin tidur bersama dengan Marvel dan juga Milla.


Memaksa untuk tidur di tengah tengah orang tua nya itu meski Marvel sudah melarang Riko untuk yang ke sekian kali nya.


“Tidak bisa sayang.. Riko tidur di kamar Riko saja ya, Papa temani.” Marvel berusaha membujuk Riko, membujuk akan membacakan Riko buku favoritnya sampai tidur, membujuk dengan nyanyian pengantar tidur namun Riko tetap saja pada pendirian nya ingin tidur diantara Milla dan Marvel.

__ADS_1


“Gak mau, Riko mau tidur disini sama Mama dan Papa!” ujar Riko keras kepala, biasanya Riko tidak begini namun entah mengapa Riko justru menjadi keras kepala begini. Biasanya Riko selalu berpikir dewasa, menurut dengan apa yang Milla dan Marvel katakan.


“Riko, bukan nya Mama dan Papa melarang mu tidur disini karena Mama dan Papa tidak perduli kepada mu. Tapi ini karena perut Mama sudah besar sekali sedangkan Riko tidur itu suka menendang nendang, bagaimana jika saat Riko tidur Riko tidak sengaja menendang perut Mama. Kasihan Mama dan adik di dalam perut. Riko mengerti kan?” Marvel berusaha menjelaskan sebaik mungkin, berharap putra sulung nya itu mau mengerti.


Marvel melihat Riko terdiam sebentar sebelum akhirnya Riko menganggukkan kepala nya, “Baiklah Pa.”


Riko mengalah jika memang itu demi kebaikan Ibu dan Adik nya, meski Riko sebenarnya sudah rindu sekali tidur dengan Papa dan Mama nya.


Riko ditemani Marvel menuju kamar nya, Marvel menyelimuti Riko dan menyanyikan lagu tidur untuk Riko. Meski suara Marvel tidak semerdu suara Milla setidaknya suara Marvel tetap mampu membuat Riko mengantuk dan jatuh terlelap ke dalam dunia mimpi nya.


“Selamat malam sayang, mimpi indah.” Marvel menyelimuti Riko dan mengecup kening putra nya itu sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Riko.


“Bagaimana, Riko sudah tidur?” tanya Milla yang tengah berbaring di ranjang ketika melihat Marvel yang telah kembali dari kamar Riko.


Marvel menganggukkan kepala nya. “Sudah, dia sudah tidur lelap sekali.”


Marvel ikut naik ke atas ranjang berbaring di samping Milla, mengusap usap perut buncit istri nya itu.


“Marvel, aku khawatir dengan Riko. Aku khawatir jika Riko belum benar benar siap memiliki adik. Kau tahu bukan dulu Riko harus mengalami berat nya hidup bersama ku, ia baru benar benar mendapatkan kasih sayang dari sosok orang tua setelah kau dan aku menikah, tapi kita sudah langsung memiliki anak lagi, perhatian dan kasih sayang kita kepada Riko pasti akan terbagi disaat Riko saja belum lama mendapatkan nya.”


Marvel berdecak, seharusnya Milla tidak berpikir sejauh itu.


“Kau tidak perlu khawatir, Riko itu anak baik ia tidak akan cemburu kepada adik nya sendiri. Kau sendiri tahu bukan bahwa Riko itu meski tubuh nya kecil, tapi pola pikir nya sudah dewasa. Mengalah bukan berarti kalah.”


Milla menganggukkan kepalanya, berharap semoga saja memang begitu. Milla berharap semoga Riko akan menyayangi adik nya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2