
Clara terbangun dalam pelukan Damian, dan juga tentu saja dalam kondisi keduanya yang sama sama telanjang hanya bersembunyi dibalik tebalnya selimut.
Clara tidak melakukan hal bodoh tentu saja seperti berteriak dan memukuli Damian dan melimpahkan kesalahannya kepada Damian. Clara memejamkan matanya sejenak berusaha untuk menahan rasa malu nya sebelum akhirnya Clara bergerak melepaskan diri dari pelukan Damian.
Tidur Damian tidak terusik sedikitpun saat Clara melepaskan diri dari pelukannya, Damian nampak pulas dalam tidurnya. Terlihat sekali bahwa Damian kelelahan.
Bagaimana tidak, Clara memperhatikan Damian selama beberapa minggu ini menjaganya dan Damian selalu sibuk mengurusi apapun kebutuhan Clara bahkan hal sepele sekalipun.
Hari hari sebelumnya pun saat Clara terbangun di malam hari hendak mengambil air minum karena haus Clara justru mendapati Damian sibuk mengerjakan pekerjaannya.
Clara bangkit melangkah menuju kamar mandi, ia harus membersihkan dirinya.
Clara menatap pantulan dirinya di cermin, ada hickey di leher, dada, perut bahkan hingga paha Clara.
Melihat itu membuat Clara teringat kejadian semalam, mengingatnya saja Clara sudah malu setengah mati. Clara buas sekali semalam, bukan hanya Clara sebenarnya Damian juga namun Clara merasa dirinya sangat gila.
Sementara Clara sibuk mandi, Damian terbangun dari tidurnya, sempat terkejut ketika tidak mendapati Clara di sampingnya namun setelah mendengar suara air di kamar mandi Damian akhirnya bernapas lega, ia mengira Clara kabur setelah kejadian semalam.
Damian tersenyum mengingat kejadian semalam, semalam bagaikan surga baginya. Bagaimana tidak, Clara sangat agresif Clara mengimbanginya atau bahkan terkesan berusaha untuk mengambil kendali semalam.
Damian teringat dengan artikel yang pernah ia baca di internet, di artikel tersebut tertera bahwa hal seperti semalam terjadi karena hormon kehamilan, jika memang itu benar Damian berharap Clara sering sering seperti itu sehingga Damian bisa lebih sering mengunjungi anaknya.
Mengingat percintaan mereka yang panas semalam Damian mulai berpikir apakah hubungan nya dengan Clara sudah ada kembali mengalami kemajuan?
Mereka kembali bercinta tanpa ada paksaan, semua terjadi atas keinginan mereka sendiri jadi bukan kah sekarang ini Damian sudah bukan lagi berperan hanya sebagai calon ayah dari anak yang di kandung Clara namun juga kekasih Clara.
Damian ingin hubungan nya segera membaik dengan Clara sehingga Damian bisa segera mencapai mimpinya, memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Dulu dalam angan angan Damian, Diana lah wanita yang akan menjadi Ibu dari anak anaknya namun sekarang Damian bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan Diana, pikiran Damian hanya tertuju pada Clara dan calon anaknya.
Cinta Damian sudah hilang untuk Diana, sekarang yang menjadi prioritas di hati Damian adalah Clara dan calon anaknya. Mau sebenci apapun Clara kepadanya tidak akan merubah fakta bahwa Damian mencintai Clara segenap jiwanya.
__ADS_1
Damian bangkit dari ranjang, melangkah menuju lemari hendak mengambil pakaian baru untuknya. Namun fokus Damian teralihkan pada kaca besar yang menampilkan pantulan tubuhnya, senyum bodoh tiba tiba merekah di bibir Damian bersamaan dengan tangan Damian yang meraba leher dan dadanya.
Damian teringat bahwa semalam Clara meninggalkan jejak disana. Ah, rasanya Damian ingin mengabadikan nya, sayang sekali dalam beberapa hari jejak itu akan menghilang dengan sendirinya.
***
“Kekacauan apa lagi ini?!” Jackson memicing kesal melihat Diana yang kembali datang ke kantor meski ia sudah berkali kali mengatakan bahwa Damian tidak ada di tempat.
“Aku ingin bertemu dengan Damian!”
Jackson menghela nafas kasar, harus dengan bahasa apa lagi ia bicara dengan mantan istri dari boss nya ini.
“Maaf sekali Ibu Diana, tapi Tuan Damian tidak bisa anda temui. Ia sedang ada urusan dan ia juga sedang tidak berada di kantor ini. Tolong mengerti dan berhenti membuat keributan disini.” Jackson memberikan instruksi kepada security untuk menyeret Diana pergi namun lagi lagi Diana berteriak heboh saat security mencoba untuk menyentuh lengannya.
“Jangan macam macam dengan ku, aku ini bisa meminta Damian untuk memecat kalian karena telah membahayakan nyawa dari calon penerusnya.”
Jackson menaikan alisnya, “Penerus?”
Diana dengan percaya diri mengangkat dagunya, menatap Jackson dengan tatapan sombong. “Ya, aku sedang mengandung anak Damian, penerus dari perusahaan ini. Jadi jika kau macam macam dengan ku, aku bisa memastikan bahwa kau dan para security ini akan kehilangan pekerjaan kalian.”
***
Damian memperhatikan Clara yang tengah tenang memakan sarapannya, Clara tidak terlihat canggung sedikitpun, membuat Damian bertanya tanya apakah Clara menganggap kalau semalam itu bukan apa apa.
Damian terus memperhatikan Clara sampai tidak menyentuh makanan yang ada di hadapannya.
Clara yang di tatap pun merasakan ketidak nyamanan dari tatapan Damian, Clara mendongak dan menatap Damian dengan dahi berkerut.
“Ada apa?”
Damian tampak menghela nafas, ia menatap serius Clara. “Apakah kau tidak ingat dengan apa yang kita lakukan semalam, atau kau berpura pura lupa karena menyesalinya?”
__ADS_1
Clara hampir saja tersedak mendengar pertanyaan Damian, ia sudah mati matian mencoba untuk bersikap biasa saja tapi kenapa Damian justru membahas kejadian semalam.
Clara tidak tahu harus menjawab apa, Clara malu mengingat perbuatan nya semalam, ia dengan tidak tahu malu nya menerjang Damian. Mengecup dan menyentuh seluruh tubuh Damian, bahkan mengambil kendali di atas Damian demi mencapai kepuasannya sendiri.
Clara menggelengkan kepalanya, mengusir ingatan tentang semalam yang selalu saja sukses membuat pipinya merona merah.
“Aku tahu kau membenci ku.. lupakan saja lah, lebih baik kita tidak membahasnya, aku khawatir jika kita membahasnya kau akan marah dan mempengaruhi janin dalam kandungan mu.” Damian mengurungkan niatnya untuk membahas mengenai kejadian semalam, Damian teringat calon anaknya. Damian takut jika ia mengutamakan perasaannya maka calon anaknya nanti yang akan menjadi korban, Damian tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
Clara melihat perubahan raut wajah Damian, Damian tampak murung membuat Clara merasakan perasaan aneh. Ia merasa tidak suka melihatnya dan merasa bersalah.
“Aku.. aku..” Clara mencoba membuka suara namun Clara mendadak gagap, ia tersendat sendat saat bicara. “A-aku bukannya bermaksud melupakannya, ta-tapi aku ma-malu. Aku malu dengan kelakuan ku semalam.”
Clara menunduk, ia bisa merasakan pipinya memanas karena rasa malu. Ini pertama kalinya Clara merasa malu malu seperti ini.
Damian yang awalnya murung terkejut, sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Ia dengan sigap pindah dari hadapan Clara menjadi duduk tepat di samping Clara, menangkup kedua pipi Clara untuk menghadap ke arahnya.
“Clara, aku tahu ini tiba tiba dan aku bersikap tidak tahu malu. Tapi.. tidak bisa kah kita mencoba untuk membuka hubungan baru yang lebih baik? Kau, aku dan calon anak kita. Kita bisa membentuk keluarga yang sempurna tanpa harus membesarkan anak kita secara terpisah, apakah kau tidak memikirkan bagaimana jadinya jika anak kita tumbuh dan kebingungan karena Ayah dan Ibu nya bukan lah suami istri, tidak pernah menikah namun memiliki anak. Aku mengatakan ini bukan semata mata hanya untuk calon anak kita, tapi karena aku juga masih mencintai mu sampai saat ini, meski kau menolak dan kabur ke negara ini, bersembunyi dari ku perasaan ku tetap tidak berubah aku masih mencintai mu bahkan perasaan cinta ku justru semakin bertambah dengan keberadaan calon anak kita. Aku.. ingin kita bisa hidup bersama, aku tahu kau belum mencintai ku tapi aku yakin suatu saat nanti kau bisa membalas perasaan ku meski itu membutuhkan waktu bertahun-tahun tahun sekalipun.”
Clara terdiam, Clara tidak tahu harus menjawab apa. Jujur perkataan Damian benar benar membuatnya terharu namun Clara juga tidak bisa begitu saja menerima Damian.
Bukan karena Clara masih dendam terhadap Damian, melainkan Clara tidak bisa menjamin bahwa ia akan bahagia hidup dengan Damian.
Tapi.. jika di pikir pikir, bila Clara hanya mementingkan kebahagiaan nya sendiri, bagaimana dengan kebahagiaan anaknya.
Bagaimana Clara menjawab jika suatu hari anaknya nanti bertanya mengapa ia terlahir sedangkan Ayah dan Ibu nya tidak pernah terikat pernikahan sebelumnya, bagaimana jika anaknya nanti mulai berpikiran buruk dan menganggap dirinya sendiri sebagai anak haram.
Dikucilkan teman teman nya, membayangkannya saja Clara sudah tidak tahan.
Mana yang harus Clara pilih, memulai hubungan baru dengan Damian atau tetap berpegang teguh dengan pilihannya sebelumnya untuk tetap berjuang sendirian.
Clara bingung.
__ADS_1
Nak.. Mama harus bagaimana. Mama takut salah memilih.
Mama takut, sayang.