
*Riko masih dengan senyum riangnya menggelengkan kepala, “Riko bisa kerjakan semuanya kok Ma, Riko kan sudah besar. Sudah bisa kerjakan PR sendiri.”
Melihat senyum riang putranya Milla juga ikut tersenyum, putranya itu semakin hari semakin bertambah pintar saja dan juga semakin dewasa dalam bertindak dan juga dalam berpikir. Milla benar benar bangga memiliki anak seperti Riko.
***
Milla pikir masalah antara dirinya dengan Marvel sudah selesai, mereka sudah mendiskusikannya baik baik hari itu. Tapi entah mengapa Marvel justru bersikap aneh.
Bukan, bukannya Marvel menjauhi Milla atau mendiamkan Milla, hanya saja Marvel bersikap aneh. Aneh dalam artian terlalu berlebihan. Marvel seolah-olah melakukan berbagai macam cara hanya untuk membuat Milla senang dan puas.
Milla bukannya tidak senang jika Marvel bersikap romantis ataupun melakukan banyak hal untuk membuatnya bahagia namun Milla tidak suka jika Marvel melakukan berlebihan. Marvel seolah melakukannya karena tugas, dan juga Milla tidak bisa melihat kebahagiaan yang sama dimata Marvel.
Marvel justru terlihat tertekan dimata Milla, seolah ada yang menggaanggu pikiran laki laki itu. Milla pikir mungkin Marvel tertekan oleh pekerjaannya, mengurus perusahaan itu tidak mudah.
Tapi pemikiran Milla itu mendadak sirna ketika Juan datang ke rumah dan mencari keberadaan Marvel dengan mengatakan bahwa Marvel tidak datang ke kantor dan tidak bisa dihubungi sedangkan Juan ada keperluan penting yang harus dibahas dengan Marvel.
“Apa kalian ada masalah?”
Milla mendongak kearah Juan, Milla tidak tahu kenapa Juan bertanya seperti itu kepadanya karena setahu Milla hubungan nya dengan Marvel tidak ada masalah apa apa dan permasalahan yang pernah terjadi diantara Milla dan Marvel adalah ketika Milla mengetahui bahwa Marvel masih mencintai Clara. Hanya itu saja tapi masalah tersebut sudah mereka selesaikan. Jadi seharusnya sekarang Milla dan Marvel tidak punya masalah apa apa.
“Kenapa Kak Juan bertanya seperti itu?” Tanya Milla penasaran, ia benar benar ingin tahu alasan apa yang membuat Juan sampai berpikiran bahwa Milla dan Marvel sedang bermasalah.
“Pekerjaan Marvel di kantor kacau akhir akhir ini, dan sekarang saat aku membutuhkannya ia justru menghilang dan sulit dihubungi. Ku pikir dia dirumah makanya aku datang kemari tapi ternyata Marvel tidak ada dan kau juga tidak tahu dia dimana. Selain mengasumsikan bahwa kalian bertengkar lalu apa lagi?”
Perkataan Juan ada benarnya, Milla jika berada di posisi Juan juga pasti akan berpikir seperti itu.
“Kalau begitu aku akan kembali ke kantor, jika Marvel pulang atau bisa kau hubungi tolong beritahu padanya bahwa aku mencarinya.”
Milla menganggukkan kepalanya mengerti, mengantar Juan pergi sampai ke depan pintu rumah. Milla memperhatikan Juan yang memasuki mobilnya dan melaju pergi sesaat kemudian.
Meski Juan telah pergi Milla tetap merasa tidak tenang atau lebih tepatnya Milla semakin tidak tenang. Milla mengkhawatirkan Marvel, apa sebenarnya Marvel memiliki masalah diluar masalah kantor? tapi itu apa?
Mereka tidak kekurangan uang untuk hidup, pertengkaran mengenai Clara juga sudah berakhir, lalu apa yang mengganggu pikiran Marvel sebenarnya?
Milla akan mencoba menanyakannya kepada Marvel jika Marvel sudah pulang nanti, sekarang Milla harus menjemput Riko dari sekolahnya. Sebentar lagi waktu belajar Riko di sekolah akan selesai.
***
Marvel pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Riko yang sebelumnya merengek mencari keberadaan Marvel sudah jatuh terlelap, tertidur di kamarnya setelah Milla bujuk.
Milla tengah duduk di sofa ruang tamu saat Marvel pulang, dan Milla bisa melihat Marvel terlihat kelelahan, sebenarnya Marvel itu dari mana saja sampai terlihat kelelahan begitu.
“Kau dari mana saja, kenapa pulangnya larut sekali?” Milla membantu Marvel melepaskan jas kerja Marvel.
“Aku dari kantor, banyak sekali tugas kantor yang harus ku selesaikan. Maaf ya aku pulang terlambat, apa Riko mencari-cari diriku?” Marvel dengan senyum lelahnya memandang Milla, kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah mendapat jawaban dari Milla.
“Yaa.. Riko mencari mu, tapi dia sudah tidur sekarang.” Milla memperhatikan Marvel yang masuk ke dalam kamar mandi, Milla tahu dengan benar bahwa Marvel telah berbohong.
Marvel bilang ia sibuk di kantor mengurus urusan kantor, tapi Juan sebelumnya datang kemari dan mengatakan bahwa Marvel tidak datang ke kantor hari ini.
Kenapa Marvel berbohong? kenapa Marvel menyembunyikan kebenarannya, sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya itu sampai berbohong begitu?
Perasaan Milla menjadi gusar, pasalnya Marvel tidak biasanya bersikap seperti ini. Dan ini pertama kalinya Marvel berbohong kepada Milla. Atau jangan jangan Marvel sebenarnya bukan sekali ini saja berbohong hanya saja baru kali ini Milla mengetahui kebohongan Marvel.
Jika bukan karena Juan yang datang kemari karena bertanya dimana keberadaan Marvel, mungkin Milla tidak akan tahu bahwa Marvel berbohong.
Pikiran Milla semakin tidak tenang, Milla ingin bertanya kepada Marvel kenapa Marvel berbohong namun Milla masih belum ada keberanian. Nanti saja, mungkin nanti Marvel akan menceritakan semua dengan sendirinya tanpa perlu Milla tanyakan. Marvel hanya butuh waktu.
***
“Ma.. Papa kenapa? Riko lihat Papa murung terus.” Riko juga merasakan perbedaan yang terjadi kepada Ayahnya itu, sudah seminggu ini Riko perhatikan sikap Ayahnya menjadi berubah dan selalu terlihat sibuk dan kelelahan.
Padahal dahulu saat Marvel menghandle perusahaan sendiri saat Juan pergi dan meninggalkan perusahaan di bawah kendali Marvel, Marvel tidak sesibuk ini dan juga Marvel tidak selelah ini. Marvel benar benar kelihatan berbeda.
Milla tidak tahu harus menjawab apa kepada Riko karena Milla sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Papa hanya sibuk mengurusi pekerjaannya sayang makanya Papa seperti itu, nanti kalau masalah pekerjaan Papa sudah selesai, pasti Papa bisa main main sama Riko lagi.”
“Kalau Papa sibuk ayo antar makan siang saja ke kantor Papa, Ma. Papa pasti senang diantarkan makanan. Riko juga sudah rindu Papa karena Riko jarang bertemu Papa sekarang, Papa selalu pulang malam sekali setelah Riko tidur, Papa juga berangkat pagi pagi sekali dan tidak mengantar Riko ke sekolah lagi.”
Milla turut sedih melihat putranya itu sedih, “Baiklah, ayo kita antar makan siang ke kantor Papa.”
***
“Kau ini bagaimana sih, ku lihat lihat akhir akhir ini pekerjaan mu selalu saja bermasalah dan kau juga selalu tidak ada di tempat saat aku membutuhkan mu, bahkan saat aku mendatangi rumah mu saja kau tidak ada, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?” Juan yang baru memasuki ruangan kerja Marvel itu jengkel melihat adiknya itu, lantaran pekerjaan yang Juan berikan kepada Marvel sejak 6 hari yang lalu sampai sekarang belum juga selesai Marvel kerjakan.
Marvel mengerutkan keningnya, “Kau datang ke rumah ku? Kapan?”
“Tiga hari yang lalu, kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kau menjadi aneh seperti ini?”
Marvel mengingat ingat tentang 3 hari yang lalu, Marvel ingat 3 hari yang lalu ia pergi ke makam Gevan dan pulang ke rumah larut sekali. Bahkan saat Milla bertanya Marvel dari mana Marvel menjawab dari kantor dan ia lembur padahal Milla sudah tahu bahwa Marvel tidak ke kantor dari Juan.
Tapi kenapa Milla diam saja setelah mengetahui bahwa Marvel berbohong?
“Kenapa kau tidak menjawab, kau sebenarnya itu kenapa dan hari itu kau kemana?” tanya Juan lagi kepada Marvel yang justru malah melamun.
“Aku pergi ke makam Gevan, kau ingat Gevan bukan kak?”
“Ah maksud mu laki laki yang kecelakaan dengan mu itu?”
Marvel menganggukkan kepalanya.
“Untuk apa kau kesana, ku kira kau sudah tidak akan memusingkan perihal kematian nya lagi. Bukan kah sudah ku bilang kepada mu bahwa kematian laki laki itu bukan kesalahan mu?”
“Tapi tetap saja aku merasa bersalah Kak, aku merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Milla. Bagaimana pun Gevan itu pernah menjadi suami Milla sebelum diriku.” Marvel mengusap wajahnya kasar.
Baru saja Juan hendak memarahi Marvel karena terlalu memusingkan hal yang tidak penting, pintu ruangan Marvel sudah lebih dulu dibuka secara kencang.
Disana berdiri Milla dengan wajah memerah. “Apa yang kau sembunyikan dari ku Marvel, kenapa kau bisa mengenal Gevan, dan apa yang kalian maksud dengan kematian. Siapa yang meninggal?!”
***
*Riko masih dengan senyum riangnya menggelengkan kepala, “Riko bisa kerjakan semuanya kok Ma, Riko kan sudah besar. Sudah bisa kerjakan PR sendiri.”
Melihat senyum riang putranya Milla juga ikut tersenyum, putranya itu semakin hari semakin bertambah pintar saja dan juga semakin dewasa dalam bertindak dan juga dalam berpikir. Milla benar benar bangga memiliki anak seperti Riko.
***
Milla pikir masalah antara dirinya dengan Marvel sudah selesai, mereka sudah mendiskusikannya baik baik hari itu. Tapi entah mengapa Marvel justru bersikap aneh.
Bukan, bukannya Marvel menjauhi Milla atau mendiamkan Milla, hanya saja Marvel bersikap aneh. Aneh dalam artian terlalu berlebihan. Marvel seolah-olah melakukan berbagai macam cara hanya untuk membuat Milla senang dan puas.
Milla bukannya tidak senang jika Marvel bersikap romantis ataupun melakukan banyak hal untuk membuatnya bahagia namun Milla tidak suka jika Marvel melakukan berlebihan. Marvel seolah melakukannya karena tugas, dan juga Milla tidak bisa melihat kebahagiaan yang sama dimata Marvel.
Marvel justru terlihat tertekan dimata Milla, seolah ada yang menggaanggu pikiran laki laki itu. Milla pikir mungkin Marvel tertekan oleh pekerjaannya, mengurus perusahaan itu tidak mudah.
Tapi pemikiran Milla itu mendadak sirna ketika Juan datang ke rumah dan mencari keberadaan Marvel dengan mengatakan bahwa Marvel tidak datang ke kantor dan tidak bisa dihubungi sedangkan Juan ada keperluan penting yang harus dibahas dengan Marvel.
“Apa kalian ada masalah?”
Milla mendongak kearah Juan, Milla tidak tahu kenapa Juan bertanya seperti itu kepadanya karena setahu Milla hubungan nya dengan Marvel tidak ada masalah apa apa dan permasalahan yang pernah terjadi diantara Milla dan Marvel adalah ketika Milla mengetahui bahwa Marvel masih mencintai Clara. Hanya itu saja tapi masalah tersebut sudah mereka selesaikan. Jadi seharusnya sekarang Milla dan Marvel tidak punya masalah apa apa.
“Kenapa Kak Juan bertanya seperti itu?” Tanya Milla penasaran, ia benar benar ingin tahu alasan apa yang membuat Juan sampai berpikiran bahwa Milla dan Marvel sedang bermasalah.
“Pekerjaan Marvel di kantor kacau akhir akhir ini, dan sekarang saat aku membutuhkannya ia justru menghilang dan sulit dihubungi. Ku pikir dia dirumah makanya aku datang kemari tapi ternyata Marvel tidak ada dan kau juga tidak tahu dia dimana. Selain mengasumsikan bahwa kalian bertengkar lalu apa lagi?”
Perkataan Juan ada benarnya, Milla jika berada di posisi Juan juga pasti akan berpikir seperti itu.
“Kalau begitu aku akan kembali ke kantor, jika Marvel pulang atau bisa kau hubungi tolong beritahu padanya bahwa aku mencarinya.”
Milla menganggukkan kepalanya mengerti, mengantar Juan pergi sampai ke depan pintu rumah. Milla memperhatikan Juan yang memasuki mobilnya dan melaju pergi sesaat kemudian.
__ADS_1
Meski Juan telah pergi Milla tetap merasa tidak tenang atau lebih tepatnya Milla semakin tidak tenang. Milla mengkhawatirkan Marvel, apa sebenarnya Marvel memiliki masalah diluar masalah kantor? tapi itu apa?
Mereka tidak kekurangan uang untuk hidup, pertengkaran mengenai Clara juga sudah berakhir, lalu apa yang mengganggu pikiran Marvel sebenarnya?
Milla akan mencoba menanyakannya kepada Marvel jika Marvel sudah pulang nanti, sekarang Milla harus menjemput Riko dari sekolahnya. Sebentar lagi waktu belajar Riko di sekolah akan selesai.
***
Marvel pulang saat waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Riko yang sebelumnya merengek mencari keberadaan Marvel sudah jatuh terlelap, tertidur di kamarnya setelah Milla bujuk.
Milla tengah duduk di sofa ruang tamu saat Marvel pulang, dan Milla bisa melihat Marvel terlihat kelelahan, sebenarnya Marvel itu dari mana saja sampai terlihat kelelahan begitu.
“Kau dari mana saja, kenapa pulangnya larut sekali?” Milla membantu Marvel melepaskan jas kerja Marvel.
“Aku dari kantor, banyak sekali tugas kantor yang harus ku selesaikan. Maaf ya aku pulang terlambat, apa Riko mencari-cari diriku?” Marvel dengan senyum lelahnya memandang Milla, kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah mendapat jawaban dari Milla.
“Yaa.. Riko mencari mu, tapi dia sudah tidur sekarang.” Milla memperhatikan Marvel yang masuk ke dalam kamar mandi, Milla tahu dengan benar bahwa Marvel telah berbohong.
Marvel bilang ia sibuk di kantor mengurus urusan kantor, tapi Juan sebelumnya datang kemari dan mengatakan bahwa Marvel tidak datang ke kantor hari ini.
Kenapa Marvel berbohong? kenapa Marvel menyembunyikan kebenarannya, sebenarnya apa yang terjadi dengan suaminya itu sampai berbohong begitu?
Perasaan Milla menjadi gusar, pasalnya Marvel tidak biasanya bersikap seperti ini. Dan ini pertama kalinya Marvel berbohong kepada Milla. Atau jangan jangan Marvel sebenarnya bukan sekali ini saja berbohong hanya saja baru kali ini Milla mengetahui kebohongan Marvel.
Jika bukan karena Juan yang datang kemari karena bertanya dimana keberadaan Marvel, mungkin Milla tidak akan tahu bahwa Marvel berbohong.
Pikiran Milla semakin tidak tenang, Milla ingin bertanya kepada Marvel kenapa Marvel berbohong namun Milla masih belum ada keberanian. Nanti saja, mungkin nanti Marvel akan menceritakan semua dengan sendirinya tanpa perlu Milla tanyakan. Marvel hanya butuh waktu.
***
“Ma.. Papa kenapa? Riko lihat Papa murung terus.” Riko juga merasakan perbedaan yang terjadi kepada Ayahnya itu, sudah seminggu ini Riko perhatikan sikap Ayahnya menjadi berubah dan selalu terlihat sibuk dan kelelahan.
Padahal dahulu saat Marvel menghandle perusahaan sendiri saat Juan pergi dan meninggalkan perusahaan di bawah kendali Marvel, Marvel tidak sesibuk ini dan juga Marvel tidak selelah ini. Marvel benar benar kelihatan berbeda.
Milla tidak tahu harus menjawab apa kepada Riko karena Milla sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya itu.
“Papa hanya sibuk mengurusi pekerjaannya sayang makanya Papa seperti itu, nanti kalau masalah pekerjaan Papa sudah selesai, pasti Papa bisa main main sama Riko lagi.”
“Kalau Papa sibuk ayo antar makan siang saja ke kantor Papa, Ma. Papa pasti senang diantarkan makanan. Riko juga sudah rindu Papa karena Riko jarang bertemu Papa sekarang, Papa selalu pulang malam sekali setelah Riko tidur, Papa juga berangkat pagi pagi sekali dan tidak mengantar Riko ke sekolah lagi.”
Milla turut sedih melihat putranya itu sedih, “Baiklah, ayo kita antar makan siang ke kantor Papa.”
***
“Kau ini bagaimana sih, ku lihat lihat akhir akhir ini pekerjaan mu selalu saja bermasalah dan kau juga selalu tidak ada di tempat saat aku membutuhkan mu, bahkan saat aku mendatangi rumah mu saja kau tidak ada, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?” Juan yang baru memasuki ruangan kerja Marvel itu jengkel melihat adiknya itu, lantaran pekerjaan yang Juan berikan kepada Marvel sejak 6 hari yang lalu sampai sekarang belum juga selesai Marvel kerjakan.
Marvel mengerutkan keningnya, “Kau datang ke rumah ku? Kapan?”
“Tiga hari yang lalu, kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kau menjadi aneh seperti ini?”
Marvel mengingat ingat tentang 3 hari yang lalu, Marvel ingat 3 hari yang lalu ia pergi ke makam Gevan dan pulang ke rumah larut sekali. Bahkan saat Milla bertanya Marvel dari mana Marvel menjawab dari kantor dan ia lembur padahal Milla sudah tahu bahwa Marvel tidak ke kantor dari Juan.
Tapi kenapa Milla diam saja setelah mengetahui bahwa Marvel berbohong?
“Kenapa kau tidak menjawab, kau sebenarnya itu kenapa dan hari itu kau kemana?” tanya Juan lagi kepada Marvel yang justru malah melamun.
“Aku pergi ke makam Gevan, kau ingat Gevan bukan kak?”
“Ah maksud mu laki laki yang kecelakaan dengan mu itu?”
Marvel menganggukkan kepalanya.
“Untuk apa kau kesana, ku kira kau sudah tidak akan memusingkan perihal kematian nya lagi. Bukan kah sudah ku bilang kepada mu bahwa kematian laki laki itu bukan kesalahan mu?”
“Tapi tetap saja aku merasa bersalah Kak, aku merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Milla. Bagaimana pun Gevan itu pernah menjadi suami Milla sebelum diriku.” Marvel mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Baru saja Juan hendak memarahi Marvel karena terlalu memusingkan hal yang tidak penting, pintu ruangan Marvel sudah lebih dulu dibuka secara kencang.
Disana berdiri Milla dengan wajah memerah. “Apa yang kau sembunyikan dari ku Marvel, kenapa kau bisa mengenal Gevan, dan apa yang kalian maksud dengan kematian. Siapa yang meninggal?!”