
Feelisa tersenyum bangga ketika ia melihat Clara memakai gaun pengantin milik Feelisa dulu saat menikah dengan Ayah Damian.
Seharusnya Clara mendapatkan gaun pengantin baru yang lebih bagus namun waktunya tidak cukup untuk menyiapkan segalanya.
Clara juga tidak menginginkan hal hal yang berlebihan sehingga Feelisa menyarankan untuk menggunakan gaun pengantin miliknya saja.
“Kau tampak cantik, sayang.” Damian memeluk Clara dari belakang, memperhatikan wajah Clara melalui cermin di depan mereka.
“Damian, kau tidak seharusnya disini. Acara akan segera dimulai. Kau harus keluar lebih dulu.”
Damian dengan berat hati melepaskan pelukannya, mengecup pipi Clara sejenak sebelum akhirnya keluar dari kamar rias tersebut.
“Kau masih merasa khawatir?” tanya Feelisa pada Clara yang masih tak bergeming, masih menatap pantulan dirinya di cermin.
Clara mengangguk sebagai jawaban. “Entah kenapa aku merasa sangat gugup, aku tidak pernah berpikiran bahwa aku akan menikah dengan Damian. Aku sempat sangat membenci Damian, aku dan Damian memiliki banyak sekali perbedaan. Aku khawatir jika pada akhirnya pernikahan ini akan menjadi sia sia saja.”
Feelisa berdecak, ia memutar tubuh Clara hingga menghadapnya. Menatap calon menantu nya itu dengan tatapan serius. “Tidak ada pernikahan yang tanpa masalah, justru permasalahan itu lah yang akan menjadi bumbu di rumah tangga kalian. Yang akan menjadi perekat diantara kalian. Yang perlu kau ingat adalah kalian harus saling menghargai, mencintai.”
Clara menganggukkan kepalanya, ia tidak bisa lari dari masalah. Masalah pasti akan selalu datang. Meski itu masalah kecil ataupun masalah yang sangat serius, masalah akan selalu muncul.
“Kau tidak perlu memikirkan hal hal negatif, fokus lah untuk menggapai kebahagiaan bersama dengan Damian dan calon anak kalian.”
Clara kembali mengangguk, ia memeluk Feelisa. “Terima kasih, Ma.”
***
Diana mengusap air matanya, ia baru saja datang secara diam diam ke acara pernikahan Damian dan Clara.
Acara tersebut diadakan tertutup, Diana bahkan hampir diusir satpam sebelumnya namun Diana berhasil melarikan diri sebelum satpam tersebut bertindak kasar kepadanya.
Diana merasa semuanya menjadi terbalik, dahulu ia yang berada di posisi Clara, dan Clara berada di posisinya.
__ADS_1
Diana merasa ini semua hukuman kepada dirinya karna telah banyak melakukan hal jahat terutama terhadap Clara.
Karma memang ada di dunia ini, dan sekarang Diana sedang mendapatkan karma nya.
***
“Saudara, Damian bersediakah anda, dihadapan yang Maha Kuasa dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang bersama wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda pegang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?”
Damian menganggukkan kepalanya tegas, “Saya bersedia.”
“Apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai istri yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?”
Damian kembali menganggukkan kepalanya dengan tegas, “Saya bersedia.”
“Saudari, Clara bersediakah anda, dihadapan yang Maha Kuasa dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah dan senang bersama pria di sebelah kiri anda yang sedang anda pegang sekarang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?”
Kali ini Clara yang menganggukkan kepalanya, “Saya bersedia.”
Clara kembali mengangguk dengan mata berkaca kaca, “Saya bersedia.”
***
Diana berniat datang mengunjungi Thomas di pusat rehabilitasi, namun ia kembali tidak bisa menemui Thomas.
Kali ini bukan karena larangan seperti sebelum sebelumnya, namun kali ini karna Thomas dilarikan ke rumah sakit karena telah berniat untuk bunuh diri.
Thomas melakukan aksi percobaan bunuh diri karena tidak sanggup menjalani rehabilitasi.
Diana pergi ke rumah sakit dengan panik, ia sangat khawatir dengan keadaan Thomas.
Sesampainya Diana di rumah sakit, ia justru harus kembali mendapatkan berita buruk.
__ADS_1
Thomas.. yang melakukan percobaan bunuh diri dengan menembak lehernya sendiri meninggal sesampainya di rumah sakit.
Diana bahkan belum sempat mengucapkan salam perpisahan dengan Thomas, Thomas sudah meninggalkannya.
Diana memasuki kamar jenazah dengan kaki lunglai. Semuanya terasa bagaikan mimpi buruk.
Melihat tubuh laki laki yang ia cintai terbaring tak bernyawa seperti itu.
Seandainya semua ini benar benar hanya lah mimpi.
Seandainya.
Diana menangis histeris, memeluk tubuh Thomas yang tak lagi dapat bergerak.
Kamar jenazah yang sunyi tersebut di isi oleh tangisan penuh kepedihan Diana.
Sementara di tempat lain, suara gemuruh tepuk tangan dan tawa bahagia menghiasi acara pernikahan Damian dan Clara.
Semuanya bertepuk tangan semangat saat Damian memasangkan cincin di jari manis Clara dan mengecup bibir Clara lembut.
Mereka telah sah sebagai suami istri.
“Aku mencintai mu, istri ku.” ujar Damian dengan tawa, ia mengusap air mata yang menetes membasahi pipi Clara. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru akan kebahagiaan.
Clara hanya mengangguk dan masuk ke dalam pelukan Damian.
Mulai detik ini ia adalah istri Damian.
Dan Damian adalah suami nya.
Semoga tidak ada lagi kepedihan yang datang ke kehidupannya, Clara akan berjuang meraih kebahagiaannya bersama dengan Damian dan anak mereka.
__ADS_1
Maafkan aku Kak Diana, maaf karna aku tidak merasa kan rasa bersalah sedikitpun setelah mengambil posisi mu sebelumnya. Maafkan aku.