SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SIDE STORY : MARVEL IX


__ADS_3

Marvel menarik laki laki korban tabrak nya yang hendak melompat dari jendela rumah sakit, yang benar saja! ini lantai 4. Apa laki laki ini benar benar cari mati dengan berniat melompat dari jendela.


“He-hei! aku tahu hidup mu berat dan kay mengalami banyak masalah tapi bunuh diri bukanlah solusinya!” Teriak Marvel berharap kata kata nya bisa menyadarkan laki laki tersebut agar tidak bunuh diri. Namun Marvel tidak melihat adanya kemajuan, laki laki tersebut masih ingin mengakhiri hidupnya.


“A-aku juga punya banyak masalah, kau tahu.. aku mencintai seorang wanita, aku bersusah payah untuk membuatnya bahagia tapi kau tahu? wanita tersebut justru memilih untuk menikah dengan laki laki yang selama ini telah menyakiti nya dan membuang ku! Tapi aku tidak berpikiran untuk bunuh diri, masalah yang datang past—”


“Ditinggal menikah? masalah mu hanya ditinggal menikah?”


Marvel mengatupkan bibirnya, sepertinya ia salah bicara. Laki laki tersebut sekarang menoleh ke arah Marvel dengan tatapan penuh amarah.


“Masalah yang kau hadapi hanya sekecil itu, tentu saja kau tidak berpikiran untuk bunuh diri! kau tahu apa tentang masalah ku hah?!”


Meski laki laki itu kelihatan tidak senang namun Marvel berusaha memanfaatkan hal itu untuk menarik laki laki tersebut menjauh dari jendela yang terbuka itu hingga jatuh terduduk di lantai.


Laki laki itu menangis, ia menangis mengacak acak rambutnya frustasi.


“Bagaimana bisa aku bertahan hidup dengan keadaan ku ini, cepat atau lambat aku pasti akan mati. Dari pada menjadi beban bagi orang lain lebih baik aku mati!”

__ADS_1


Marvel mengerutkan alisnya tidak setuju dengan perkataan laki laki tersebut, “Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan orang yang kau tinggalkan? mereka pasti sedih kau begini.”


Laki laki tersebut menggelengkan kepalanya, masih dengan tangis yang tidak berhenti. “Tidak akan ada yang perduli, aku ini bukan siapa siapa.. orangtua kandung ku membuang ku ke panti asuhan, orangtua angkat ku mengadopsi ku hanya sebagai anak pancingan, mereka tidak pernah perduli padaku! Dan.. dan.. istri ku.. dia tidak pernah mencintai ku, dia terpaksa terus berada disisi ku. kalau bukan karena jebakan ku padanya kami tidak akan pernah menikah.”


“Itu hanya asumsi mu saja, apa kau pernah bertanya kepada istri mu apa istri mu itu membenci mu? Tidak kan? Berhenti memikirkan hal yang aneh aneh, yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah menghubungi keluarga mu. Mereka pasti sangat khawatir, dokter juga mengatakan ada yang ingin dikatakannya kepada keluarga mu mengenai penyakit yang ada ditubuh mu itu.”


lagi lagi laki laki tersebut menggelengkan kepalanya, “Keluarga ku tidak akan ada yang perduli, itu semua hanya akan menambah beban istri ku saja. Ia sudah kesulitan memiliki suami seperti ku yang memberikan nafkah saja tidak mampu, aku tidak ingin membebani nya dengan biaya pengobatan dan segala macamnya. Kami harus menabung uang untuk biaya masa depan putra kami nanti. Tidak bisa.. aku tidak bisa menyakiti istri ku lebih jauh lagi.”


Marvel menghela nafas berat, “Jadi yang selama ini kau takut kan itu biaya? kalau memang itu yang kau takut kan, kau tenang saja. Aku akan membantu mu. Yang terpenting jangan bunuh diri! bunuh diri itu tidak membawa hasil apa apa, kau hanya akan menambah penderitaan istri dan anak mu juga!”


Marvel menganggukkan kepalanya mantap, “Iya! sekarang mari kita hubungi istri atau keluarga mu dan memberitahu kan keadaan mu disini sekarang.”


Laki laki tersebut kembali menggelengkan kepalanya, membuat Marvel kembali mengerutkan alisnya bingung.


“Tidak bisa kah kita yang pergi ke sana menemui istri ku dan mengatakan yang sebenarnya? aku selama ini sudah berbohong padanya dan jahat padanya, aku ingin meminta maaf dengan benar padanya. Pada putra ku juga. Bukannya membuat ia panik berlari kemari karena mendengar aku baru saja kecelakaan.” ujar laki laki tersebut menjelaskan.


Marvel menghela nafas berat, “Terserah mu saja. Kalau itu mau mu, maka aku akan membicarakan hal ini dengan dokter.”

__ADS_1


“Terima kasih banyak, Tuan... maaf, siapa nama mu tadi?”


“Marvel, kalau kau siapa nama mu?”


“Terima kasih banyak Tuan Marvel, nama ku Gevan.”


***


Marvel mengacak acak rambutnya kasar, lagi lagi ia menolong orang.


Sebelumnya ia telah menolong Clara namun justru di campakkan. dan sekarang Marvel justru menolong orang yang tidak dikenal.


Benar benar, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.



Ada yang bisa tebak kenapa Gevan meninggal?

__ADS_1


__ADS_2