
Marvel mengecup kening Riko yang tertidur pulas setelah mendengar dongeng dari Marvel. Memastikan selimut sudah terpasang dengan benar agar Riko tidak kedinginan dalam tidurnya.
Marvel mematikan lampu kamar Riko sebelum ia keluar, menutup pintu kamar secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Riko.
“Riko sudah tertidur?” tanya Milla pada Marvel yang baru saja masuk ke kamar mereka, Marvel menjawab dengan anggukan kepala. ia melangkah mendekat dan memeluk erat Milla dari belakang.
“Riko sudah tidur.. boleh kita mulai sekarang?” Bisik Marvel ke telinga Milla yang sontak membuat pipi Milla bersemu karena sangking malu nya.
“Kau sudah mengunci pintu?” tanya Milla sembari berusaha menyembunyikan rasa malu nya, Marvel kembali menganggukkan kepalanya.
“Aku sudah menguncinya rapat rapat. Kau tidak perlu takut, Riko tidak akan masuk tiba tiba saat kita sedang asik berolahraga.”
Lagi lagi Marvel berhasil membuat Milla malu luar biasa, Milla mencubit lengan Marvel gemas. “Sejak kapan kau jadi penggoda seperti ini?”
Marvel tertawa mendengar hal itu, ia melepaskan pelukannya dan beralih berhadapan dengan Milla, menatap mata istrinya itu dengan serius. “Apa salah aku seperti ini pada istri ku sendiri? Apa kau mau aku melakukan hal seperti ini kepada orang lain?”
Milla kembali mencubit lengan Marvel namun kali ini lebih keras, membuat Marvel meringis. “Jangan bicara yang aneh aneh.”
“Aku tidak akan bicara yang aneh lagi asalkan kau menjawab pertanyaan ku yang pertama.”
Milla mengerutkan keningnya, mengingat ingat kembali pertanyaan apa yang Marvel maksud. Dan ketika Milla mengingatnya pipi Milla kembali bersemu merah. Ia dengan malu malu menganggukkan kepalanya.
Dan saat itu juga Marvel mendorong tubuh Milla terjatuh diatas ranjang empuk mereka. Malam ini, meski ini bukan yang pertama kalinya bagi Milla melakukannya.
Tapi Milla berharap bahwa Marvel adalah laki laki terakhir dalam hidupnya, dan mereka akan bahagia bersama sama.
Dalam hati Milla berdoa agar kebahagiaannya tidak lagi direnggut dari dirinya. Cukup masa masa kelam itu berlalu, Milla tidak mau jatuh lagi kedepannya.
__ADS_1
***
“Mama belum bangun, Pa?” Riko yang baru saja duduk di kursi meja makan menyadari ketidakhadiran Milla diantara mereka yang hendak sarapan bersama.
“Mama masih tidur, tidak apa apa kan kalau Riko hari ini sarapan hanya bersama Papa?” Marvel memberikan Riko sandwich dan segelas susu.
Riko menganggukkan kepalanya, menerima sandwich tersebut dengan gembira. “Sandwich buatan Papa enak sekali!”
Marvel tersenyum atas pujian Riko, kemudian ia teringat sesuatu. Ada hal yang ingin ia bicarakan dengan Riko. “Oh ya, Riko.. Papa bermaksud memasukkan mu ke sekolah mulai bulan depan, nanti Papa tunjukkan brosur sekolahnya dan Riko bisa pilih sendiri mau sekolah dimana, oke?”
Riko yang tengah mengunyah sandwich miliknya dengan terburu buru menelan sandwich tersebut. “Riko mau sekolah dimana saja, yang penting Riko sekolah! Riko mau sekolah!”
Seperti dugaan Marvel bahwa Riko pasti bersemangat mengenai topik ini, memang sudah sejak lama Riko ingin bersekolah lantaran sering melihat teman teman sebaya atau bahkan lebih muda darinya bersekolah.
Saat Marvel masih tinggal disebelah rumah Riko dan Milla, bukan sekali dua kali Marvel memergoki Riko yang tengah memandang sedih kearah teman teman sebayanya yang berseragam dan pergi diantar orang tua mereka ke sekolah.
Marvel agak merasa bersalah kepada Milla jika ia mengingat kejadian semalam, Marvel mengakui bahwa ia agak berlebihan sekali semalam. Mungkin karena semalam itu benar benar malam pertamanya.
Ketika Marvel masuk ke dalam kamar, Marvel melihat Milla masih tertidur lelap dengan selimut yang sudah melorot hampir setengah dari tubuhnya, membuat punggung telanjang Milla terekspose.
Marvel menaruh nampan yang ia bawa ke atas nakas, Marvel duduk di pinggiran ranjang sembari mengusap punggung Milla. Berusaha membangunkan istrinya tersebut dari alam mimpi.
“Hei.. bangunlah, ini sudah hampir siang.” Marvel berbisik lembut ditelinga Milla. Membuat Milla bergerak gelisah dalam tidurnya sebelum akhirnya membuka mata.
“Ayo sarapan, aku sudah membawakan mu sarapan.” Marvel membantu Milla untuk duduk dengan benar, Marvel melihat wajah Milla yang terlihat agak kesakitan. Ia jadi merasa semakin bersalah.
“Apa kau mau mandi lebih dulu?”
__ADS_1
Milla menganggukkan kepalanya, tapi kemudian ia teringat sesuatu. “Tapi sepertinya aku sulit berjalan sendiri ke kamar mandi.”
“Aku akan menggendong mu. Kalau kau mau akan memandikan mu sekalia—”
“Diamlah jangan macam macam, diluar ada Riko.”
Marvel tertawa sejenak sebelum akhirnya ia mengunci mulutnya. Menyiapkan air hangat untuk Milla berendam dan menggendong Milla ke kamar mandi. Memastikan Milla berendam dengan nyaman di bath tub.
***
Riko mengernyitkan keningnya ketika ia melihat Ibu nya itu melangkah di depannya. Riko merasa ada yang janggal. Riko mendekati Milla dan menatap Milla dengan tatapan khawatir. “Ma.. Mama tidak sakit kan? Kaki Mama kenapa? Kenapa Mama berjalan seperti bebek?”
Milla yang ditanyai seperti itu oleh putranya merasa sangat malu, Milla tidak tahu harus menjawab apa kepada Riko.
“Mama tadi kepeleset di kamar mandi, karna itu Mama jadi berjalan seperti bebek. Riko kalau tidak mau seperti Mama jangan main main di kamar mandi, oke?”
Untung saja Marvel datang disaat yang tepat dan memberikan alasan yang masuk akal.
Riko menatap Milla dengan pandangan prihatin, “Semoga Mama cepat sembuh, lain kali Mama jangan lompat lompat di kamar mandi lagi ya..”
“E-ehm I-iya.”
Marvel yang menyaksikan hal itu berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawanya. Riko benar benar sangat polos.
Marvel tidak menyangka dengan bertambahnya 2 orang di dalam kehidupannya membuat hidupnya menjadi penuh warna seperti ini. Marvel menjadi tidak sabar menanti kehadiran anggota baru dikeluarga mereka nantinya.
Semuanya pasti akan terasa lengkap, dengan dirinya, Milla, Riko dan mungkin ditambah adik adik Riko nantinya. Semoga saja itu menjadi kenyataan. Amin.
__ADS_1