
Keberhasilan Marvel membawa pulang Juan disambut hangat oleh Milla, Milla datang ke bandara atas keinginan Marvel. Marvel tidak ingin selama diperjalanan menuju rumah atau bahkan saat sampai di rumah nanti Sabrina merasa canggung ataupun merasa asing.
Sehingga Marvel meminta Milla untuk datang ke bandara dan juga duduk satu mobil dengan Sabrina agar mereka berdua bisa berbincang, karena menurut Marvel, Sabrina dan Milla pernah mengalami hal yang sama.
“Apa Monica yang menjaga Riko dan Viola di rumah?” Marvel yang duduk di bangku depan, tepat disebelah Juan yang tengah menyetir bertanya, Marvel kira paling tidak Milla akan membawa Riko ikut dan meninggalkan Viola dalam asuhan Monica sementara.
“Bukan Monica yang menjaga Viola dan Riko, Monica ada tes sehingga ia tidak bisa melewatkan kelasnya hari ini. Aku meminta tolong Clara untuk menjaga Viola dan Riko sebentar.”
Jawaban yang Milla berikan membuat Marvel mendadak merasa tak nyaman dan mulai menyesali keputusannya yang meminta Milla datang ke bandara. Padahal Milla bisa saja menunggu di rumah, pasti Damian suami Clara tidak senang bahwa mereka lagi lagi merepotkan Clara.
Rasanya Marvel bisa membayangkan bagaimana Damian akan memandang dirinya jika mereka bertemu lagi kedepannya, Damian pasti akan menatap Marvel dengan tatapan kebencian yang lebih parah dari sebelumnya.
Hah, entah sampai kapan ketegangan diantara Marvel dan Damian akan segera mereda, Marvel juga malas sebenarnya terus terusan bersitegang dengan Damian meski hanya melalui tatapan sekalipun.
“Ada apa, kenapa kau mendadak diam?” Clara yang menyadari keanehan pada Marvel tersebut agak maju melirik Marvel yang duduk di depan.
“Bukan apa apa, aku hanya senang bahwa aku berhasil membawa Juan kembali. Karena dengan begini aku tidak akan melakukan semua tugas tugas Juan lagi, sudah cukup aku dibuat pusing sebelumnya.” Marvel berbohong tentu saja, sebenarnya bukan hal tersebut lah yang berputar putar di kepalanya. Tapi Marvel tidak ingin membuat Milla curiga jika Marvel menunjukkan betapa tidak harmonisnya hubungan Marvel dengan Damian.
Marvel tidak ingin Milla menjadi penasaran tentang alasan Marvel dan Damian tidak akur, rasa penasaran tersebut hanya akan membimbing Milla mengetahui perihal perasaan cinta Marvel dahulu terhadap istri Damian, Clara.
Entah lah Marvel juga tidak mengerti kenapa tiba tiba saja ia tidak ingin Milla mengetahui hal tersebut, meskipun hal itu hanyalah masa lalu saja.
***
Damian tidak berangkat kerja, lagi pula hari ini tidak ada hal penting yang akan dilakukannya di kantor. Tapi Clara justru mengira bahwa Damian tidak pergi ke kantor dengan alasan Damian tidak ingin meninggalkan Clara sendiri menjaga anak mereka dan juga Riko serta Viola.
Clara mengira ini salah satu bentuk tindak kecemburuan Damian lagi, Clara mengira Damian pasti takut jika Marvel datang ke rumah ini untuk menjemput Riko dan Viola, Damian sangat cemburu dengan Marvel.
“Adara mau dipangku sama Papa.” Adara yang telah siap untuk makan siang bersama memilih duduk dipangkuan Damian dibandingkan duduk sendiri di kursi miliknya.
Damian dengan senang hati mengangkat tubuh kecil Adara keatas pangkuan nya. Menggeser piring makanan milik Adara mendekat. Damian tertawa kecil ketika melihat Adara yang makan sendiri di atas pangkuannya.
Cara Adara memegang sendok sangat lah lucu, meski cara makan Adara masih sedikit berantakan. Justru hal tersebut lah yang membuat Adara terlihat semakin menggemaskan di mata Damian.
Damian sibuk dengan putri sulungnya itu, mengabaikan keberadaan Riko yang juga ada di meja makan tersebut. Makan dalam diam, seolah tahu bahwa Damian tidak begitu menyukai keberadaannya.
Sementara Clara tengah berada di kamar bersama dengan Lucas dan juga Viola, sibuk memberikan susu kepada dua anak kecil itu.
***
Marvel membantu Juan mengeluarkan koper koper bawaan mereka dari dalam bagasi mobil, sementara menurunkan koper Marvel meminta Milla untuk segera menjemput Riko dan Viola yang berada di rumah Clara.
Milla dengan segera ke rumah Clara, menekan bell rumah besar tersebut. Tak lama pintu rumah itu terbuka, menunjukkan Clara yang tersenyum sumringah melihat kehadiran Milla.
“Ah, sudah pulang dari bandara?”
Milla menganggukkan kepalanya, pandangan Milla teralih kepada Riko yang berlari menghampiri Milla dari dalam rumah Clara.
“Mama, apa Papa sudah pulang?” tanya Riko penuh semangat, setelah mendapat anggukan dari Milla. Riko dengan segera permisi kepada Clara sebelum akhirnya berlari riang menuju rumah Juan yang tepat berada di sebelah, tak sabar untuk memeluk Ayah nya itu.
“Apa selama berada disini Riko bersikap nakal atau merepotkan mu?” Milla merasa bersalah sebenarnya karena telah merepotkan Clara, “Apa Viola rewel dan menangis terus?”
__ADS_1
Clara masih dengan senyum nya menggelengkan kepala, tidak sama sekali dugaan Milla tersebut terjadi. Riko sama sekali tidak merepotkan nya, sedangkan Viola sejak pagi Viola terus menghabiskan waktunya tidur dengan nyenyak. Meski Viola menangis itu karena lapar dan juga karena popoknya telah penuh.
“Tidak sama sekali, mereka tidak merepotkan ku. Baik Riko ataupun Viola.”
Milla menghela nafas lega mendengar hal tersebut, soal Riko memang Milla sudah tahu bahwa Riko tidak akan berbuat masalah. Meski Riko masih terbilang anak kecil, pikiran Riko itu sudah sangat dewasa, Riko tahu mana yang baik dan buruk dalam bertindak dan tidak ingin merepotkan orang lain.
Tapi untuk Viola, Milla cukup terkejut Viola tidak rewel karena biasanya Viola selalu menangis tanpa alasan. Bahkan saat perutnya kenyang, popoknya baru diganti, Viola tetap menangis.
Mungkin kah Viola menjadi lebih tenang karena tahu bahwa Ayahnya telah kembali, dan juga Viola akan memiliki Ibu lagi. Meski Ibu itu bukan Ibu kandung.
“Ayo masuk ke dalam.” Clara mempersilahkan Milla masuk karena Viola sedang tidur di dalam kamar, Clara tidak berani membangunkan Viola sehingga Clara mempersilahkan Milla ikut masuk ke dalam kamar dan menggendong Viola bangun dari ranjang empuk milik Adara.
Meski tidurnya terganggu Viola tidak menangis dan justru mencari posisi nyaman dalam gendongan Milla, baik Milla dan Clara tersenyum melihatnya.
“Kalau begitu aku pulang dahulu, maaf sekali merepotkan mu. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya kami membuat mu kesulitan.” Milla masih saja merasa tidak enak, terlebih lagi saat Milla am Clara bersama sama keluar dari kamar. Mata Milla sempat bertemu pandang dengan Damian yang baru keluar dari kamar mandi sembari menggendong putra nya. Milla tersenyum canggung kepada Damian yang kembali masuk ke dalam kamar nya bersama putra nya itu.
Tak lama terdengar suara tawa riang, suara tawa dari kamar tersebut, sepertinya Damian sibuk bermain dengan kedua anaknya.
Milla sebenarnya dapat merasakan ketegangan tiap kali melihat Damian, seolah merasa Damian benar benar tidak suka dengan dirinya tapi Milla mencoba untuk berpikir positif mungkin saja memang Damian tipe laki laki yang seperti itu, mirip dengan Juan yang terlihat tidak suka sekali dengan Milla tapi pada akhirnya Juan tetap merestui pernikahan Marvel dengan Milla.
“Kalau begitu aku permisi, maaf sekali lagi merepotkan dan terima kasih banyak.”
Clara tertawa sembari mengibas ngibaskan tangannya, “Bukan apa apa. Tidak perlu sampai seperti itu, aku bersedia jika kalian ingin menitipkan Riko dan Viola lagi disini kapan kapan karena mereka berdua anak yang manis.”
“Haha iya, sekali lagi terima kasih.”
Keberhasilan Marvel membawa pulang Juan disambut hangat oleh Milla, Milla datang ke bandara atas keinginan Marvel. Marvel tidak ingin selama diperjalanan menuju rumah atau bahkan saat sampai di rumah nanti Sabrina merasa canggung ataupun merasa asing.
Sehingga Marvel meminta Milla untuk datang ke bandara dan juga duduk satu mobil dengan Sabrina agar mereka berdua bisa berbincang, karena menurut Marvel, Sabrina dan Milla pernah mengalami hal yang sama.
“Apa Monica yang menjaga Riko dan Viola di rumah?” Marvel yang duduk di bangku depan, tepat disebelah Juan yang tengah menyetir bertanya, Marvel kira paling tidak Milla akan membawa Riko ikut dan meninggalkan Viola dalam asuhan Monica sementara.
“Bukan Monica yang menjaga Viola dan Riko, Monica ada tes sehingga ia tidak bisa melewatkan kelasnya hari ini. Aku meminta tolong Clara untuk menjaga Viola dan Riko sebentar.”
Jawaban yang Milla berikan membuat Marvel mendadak merasa tak nyaman dan mulai menyesali keputusannya yang meminta Milla datang ke bandara. Padahal Milla bisa saja menunggu di rumah, pasti Damian suami Clara tidak senang bahwa mereka lagi lagi merepotkan Clara.
Rasanya Marvel bisa membayangkan bagaimana Damian akan memandang dirinya jika mereka bertemu lagi kedepannya, Damian pasti akan menatap Marvel dengan tatapan kebencian yang lebih parah dari sebelumnya.
Hah, entah sampai kapan ketegangan diantara Marvel dan Damian akan segera mereda, Marvel juga malas sebenarnya terus terusan bersitegang dengan Damian meski hanya melalui tatapan sekalipun.
“Ada apa, kenapa kau mendadak diam?” Clara yang menyadari keanehan pada Marvel tersebut agak maju melirik Marvel yang duduk di depan.
“Bukan apa apa, aku hanya senang bahwa aku berhasil membawa Juan kembali. Karena dengan begini aku tidak akan melakukan semua tugas tugas Juan lagi, sudah cukup aku dibuat pusing sebelumnya.” Marvel berbohong tentu saja, sebenarnya bukan hal tersebut lah yang berputar putar di kepalanya. Tapi Marvel tidak ingin membuat Milla curiga jika Marvel menunjukkan betapa tidak harmonisnya hubungan Marvel dengan Damian.
Marvel tidak ingin Milla menjadi penasaran tentang alasan Marvel dan Damian tidak akur, rasa penasaran tersebut hanya akan membimbing Milla mengetahui perihal perasaan cinta Marvel dahulu terhadap istri Damian, Clara.
Entah lah Marvel juga tidak mengerti kenapa tiba tiba saja ia tidak ingin Milla mengetahui hal tersebut, meskipun hal itu hanyalah masa lalu saja.
***
Damian tidak berangkat kerja, lagi pula hari ini tidak ada hal penting yang akan dilakukannya di kantor. Tapi Clara justru mengira bahwa Damian tidak pergi ke kantor dengan alasan Damian tidak ingin meninggalkan Clara sendiri menjaga anak mereka dan juga Riko serta Viola.
__ADS_1
Clara mengira ini salah satu bentuk tindak kecemburuan Damian lagi, Clara mengira Damian pasti takut jika Marvel datang ke rumah ini untuk menjemput Riko dan Viola, Damian sangat cemburu dengan Marvel.
“Adara mau dipangku sama Papa.” Adara yang telah siap untuk makan siang bersama memilih duduk dipangkuan Damian dibandingkan duduk sendiri di kursi miliknya.
Damian dengan senang hati mengangkat tubuh kecil Adara keatas pangkuan nya. Menggeser piring makanan milik Adara mendekat. Damian tertawa kecil ketika melihat Adara yang makan sendiri di atas pangkuannya.
Cara Adara memegang sendok sangat lah lucu, meski cara makan Adara masih sedikit berantakan. Justru hal tersebut lah yang membuat Adara terlihat semakin menggemaskan di mata Damian.
Damian sibuk dengan putri sulungnya itu, mengabaikan keberadaan Riko yang juga ada di meja makan tersebut. Makan dalam diam, seolah tahu bahwa Damian tidak begitu menyukai keberadaannya.
Sementara Clara tengah berada di kamar bersama dengan Lucas dan juga Viola, sibuk memberikan susu kepada dua anak kecil itu.
***
Marvel membantu Juan mengeluarkan koper koper bawaan mereka dari dalam bagasi mobil, sementara menurunkan koper Marvel meminta Milla untuk segera menjemput Riko dan Viola yang berada di rumah Clara.
Milla dengan segera ke rumah Clara, menekan bell rumah besar tersebut. Tak lama pintu rumah itu terbuka, menunjukkan Clara yang tersenyum sumringah melihat kehadiran Milla.
“Ah, sudah pulang dari bandara?”
Milla menganggukkan kepalanya, pandangan Milla teralih kepada Riko yang berlari menghampiri Milla dari dalam rumah Clara.
“Mama, apa Papa sudah pulang?” tanya Riko penuh semangat, setelah mendapat anggukan dari Milla. Riko dengan segera permisi kepada Clara sebelum akhirnya berlari riang menuju rumah Juan yang tepat berada di sebelah, tak sabar untuk memeluk Ayah nya itu.
“Apa selama berada disini Riko bersikap nakal atau merepotkan mu?” Milla merasa bersalah sebenarnya karena telah merepotkan Clara, “Apa Viola rewel dan menangis terus?”
Clara masih dengan senyum nya menggelengkan kepala, tidak sama sekali dugaan Milla tersebut terjadi. Riko sama sekali tidak merepotkan nya, sedangkan Viola sejak pagi Viola terus menghabiskan waktunya tidur dengan nyenyak. Meski Viola menangis itu karena lapar dan juga karena popoknya telah penuh.
“Tidak sama sekali, mereka tidak merepotkan ku. Baik Riko ataupun Viola.”
Milla menghela nafas lega mendengar hal tersebut, soal Riko memang Milla sudah tahu bahwa Riko tidak akan berbuat masalah. Meski Riko masih terbilang anak kecil, pikiran Riko itu sudah sangat dewasa, Riko tahu mana yang baik dan buruk dalam bertindak dan tidak ingin merepotkan orang lain.
Tapi untuk Viola, Milla cukup terkejut Viola tidak rewel karena biasanya Viola selalu menangis tanpa alasan. Bahkan saat perutnya kenyang, popoknya baru diganti, Viola tetap menangis.
Mungkin kah Viola menjadi lebih tenang karena tahu bahwa Ayahnya telah kembali, dan juga Viola akan memiliki Ibu lagi. Meski Ibu itu bukan Ibu kandung.
“Ayo masuk ke dalam.” Clara mempersilahkan Milla masuk karena Viola sedang tidur di dalam kamar, Clara tidak berani membangunkan Viola sehingga Clara mempersilahkan Milla ikut masuk ke dalam kamar dan menggendong Viola bangun dari ranjang empuk milik Adara.
Meski tidurnya terganggu Viola tidak menangis dan justru mencari posisi nyaman dalam gendongan Milla, baik Milla dan Clara tersenyum melihatnya.
“Kalau begitu aku pulang dahulu, maaf sekali merepotkan mu. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya kami membuat mu kesulitan.” Milla masih saja merasa tidak enak, terlebih lagi saat Milla am Clara bersama sama keluar dari kamar. Mata Milla sempat bertemu pandang dengan Damian yang baru keluar dari kamar mandi sembari menggendong putra nya. Milla tersenyum canggung kepada Damian yang kembali masuk ke dalam kamar nya bersama putra nya itu.
Tak lama terdengar suara tawa riang, suara tawa dari kamar tersebut, sepertinya Damian sibuk bermain dengan kedua anaknya.
Milla sebenarnya dapat merasakan ketegangan tiap kali melihat Damian, seolah merasa Damian benar benar tidak suka dengan dirinya tapi Milla mencoba untuk berpikir positif mungkin saja memang Damian tipe laki laki yang seperti itu, mirip dengan Juan yang terlihat tidak suka sekali dengan Milla tapi pada akhirnya Juan tetap merestui pernikahan Marvel dengan Milla.
“Kalau begitu aku permisi, maaf sekali lagi merepotkan dan terima kasih banyak.”
Clara tertawa sembari mengibas ngibaskan tangannya, “Bukan apa apa. Tidak perlu sampai seperti itu, aku bersedia jika kalian ingin menitipkan Riko dan Viola lagi disini kapan kapan karena mereka berdua anak yang manis.”
“Haha iya, sekali lagi terima kasih.”
__ADS_1