SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 27


__ADS_3

*Sementara Marvel yang baru saja menaruh mangkuk dan gelas kosong ke dalam wastafel, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan men-dial nomer telepon Sabrina.


Marvel ingin bertanya mengenai Riko, sengaja Marvel tidak menelepon ke nomer Juan karena Marvel tahu bahwa Juan pasti belum pulang ke rumah meski ini sudah larut karena masalah pekerjaan.


Marvel agak merasa bersalah sebenar nya menitipkan Riko disana karena itu pasti akan merepotkan Sabrina yang harus menjaga Viola yang sakit-sakitan berserta Markus yang jalan pikiran nya tak bisa di tebak di tambah dengan Riko.


Meski Riko bukan tipikal anak yang merepotkan namun tetap saja itu pasti menambah beban pekerjaan rumah tangga Sabrina*.


***


“Baiklah kalau begitu, maaf ya karena harus merepotkan mu. Apa Riko sudah tidur?” Marvel duduk di sofa ruang tamu, di telinga nya masih tertempel ponsel nya. Berbincang dengan Sabrina melalui ponsel nya itu.


“Iya Riko sudah tidur dengan Markus di kamar Markus.”


Marvel menghela nafas lega mendengar nya, “Sekali lagi maaf ya karena aku harus merepotkan mu.”


“Bukan apa apa, lagi pula Riko anak yang baik ia tidak pernah mengeluh dan juga ia sering membantu ku.”


Tentu saja Marvel tahu Riko akan begitu, Riko itu anak baik dan Riko pasti tidak akan membebani Sabrina. “Kalau begitu selamat malam, maaf mengganggu waktu istirahat mu.”


“Ya selamat malam, ku harap masalah mu dengan Milla juga bisa cepat selesai. Meski aku tidak masalah Riko menginap lebih lama disini hanya saja Riko pasti sedih terus berjauhan dari kalian.”


Marvel menganggukkan kepalanya mengerti meski ia tahu Sabrina tidak bisa melihat nya, “Aku pun berharap begitu. Sekali lagi selamat malam.”

__ADS_1


Marvel menutup telepon tersebut, Marvel kembali melangkah kan kaki nya menuju kamar. Meski permasalahan antara Marvel dan Milla belum selesai Marvel akan tetap tidur di samping Milla. Marvel hanya bisa berharap semoga Milla tidak keberatan akan hal tersebut.


Saat Marvel masuk ke dalam kamar Marvel mendapati Milla sudah tidur dengan amat sangat pulas, Marvel melangkah mendekat dan naik ke atas ranjang. Mengambil posisi tepat di samping Milla yang tengah tertidur pulas itu.


Marvel berbaring di samping Milla, berbaring miring ke arah Milla dan memperhatikan wajah terlelap istrinya itu. Dengan gerakan pelan Marvel mengangkat kepala Milla dan menjadikan lengan nya sebagai bantalan kepala Milla, dan memeluk Milla secara perlahan agar tidur Milla tidak terganggu.


“Selamat malam sayang.” bisik Marvel pelan sekali hampir tak terdengar sebelum Marvel memejamkan mata nya menyusul Milla ke dunia mimpi.


***


Ketika Milla terbangun ia terbangun dalam pelukan Marvel, pelukan hangat Marvel yang membuat nya nyaman dan ingin kembali melanjutkan tidur nya. Namun hanya berselang beberapa menit setelah Milla bangun, Marvel tiba tiba saja bangun dari tidur nya membuat Milla yang sebelum nya sibuk memandangi wajah Marvel terkesiap kaget dan gelagapan tidak tahu harus bagaimana.


“Kau sudah bangun?”


Suara berat Marvel khas baru bangun tidur itu terdengar di telinga Milla, membuat Milla mendongak dan menatap wajah Marvel yang baru bangun itu. Milla tidak bersuara, hanya menganggukkan kepala nya sebagai jawaban atas pertanyaan Marvel.


Marvel pergi ke dapur sementara Milla pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena dari kemarin Milla belum membersihkan diri, semalam saat ingin mandi dirinya justru pingsan tak sadar kan diri.


Heran nya Milla seharusnya bau karena tidak mandi namun Marvel masih saja memeluk nya saat tidur tanpa merasa terganggu sedikit pun.


Milla semakin merasa bersalah, bagaimana bisa ia kemarin dengan egois nya mempertanyakan cinta Marvel kepada dirinya itu sungguhan atau hanya rasa kasihan saja sementara Marvel selalu memperlakukan dirinya dengan penuh cinta begitu.


Seharusnya Milla tidak perlu mempertanyakan, tidak perlu meragukan karena tindakan Marvel saja sudah menunjukkan yang sebenarnya.

__ADS_1


Milla memandang pantulan dirinya di cermin, wajah nya berantakan sekali, kelihatan pucat dan tak terurus. Milla mengusap wajah nya dengan air dan kembali berkaca.


Pandangan Milla beralih kepada perut nya yang masih rata, tangan Milla beralih mengusap perut nya tersebut. Jika memang benar ia tengah hamil pasti Marvel dan Riko senang sekali dengan hal tersebut karena sejak Milla dan Marvel menikah Marvel sudah sangat menginginkan anak.


***


Marvel hanya memasak nasi goreng untuk sarapan karena Marvel tidak terlalu ahli dalam hal memasak, ia hanya tahu memasak beberapa jenis makanan saja.


Marvel sudah menata makanan di atas meja makan dengan rapih berserta teh hangat untuk Milla. Marvel duduk di meja makan menunggu Milla keluar dari kamar mereka dan mereka akan makan bersama.


Tak lama Milla keluar dengan rambut basah, melangkah mendekati Marvel dan duduk tepat di kursi meja makan di sebrang Marvel.


“Kau seharusnya tidak keramas dulu, kau masih demam.” ujar Marvel khawatir, teringat momen semalam saat ia menemukan Milla tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi.


“Aku sudah tidak apa-apa kau tidak perlu takut.” Milla tersenyum kecil berusaha membuat raut ketegangan di wajah Marvel melunak sedikit dan benar saja hal tersebut berhasil.


“Makan lah, aku juga sudah siap kan kau teh hangat. Setelah ini kita akan ke rumah sakit.”


Milla kembali mengangguk sembari mulai memakan nasi goreng buatan Marvel. Namun baru dua suap Milla makan, Milla baru teringat dengan Riko.


“Riko dimana?”


“Aku menitipkan nya di rumah Kak Juan, ku pikir semalam kita mungkin akan bertengkar lagi jadi aku tidak ingin Riko melihat atau pun mendengar pertengkaran kita sehingga aku menitipkan nya ke rumah Kak Juan.”

__ADS_1


Milla menundukkan kepala nya, “Maafkan aku, maafkan aku yang sudah egois dan keras kepala kepada mu. Meski sebenar nya kau tidak pernah berbuat jahat kepada ku. Hanya diriku ini saja yang tidak tahu terima kasih.”


Marvel menggelengkan kepala nya, “Tidak Milla, aku juga salah. Bagaimana pun juga kau itu istri Gevan, bagaimana bisa aku menyembunyikan kematian suami mu dari dirimu dan justru menikahi mu begitu saja tanpa mengatakannya. Aku salah, aku juga egois karena tidak berpikir lebih jauh lagi, tapi jika aku kembali ke masa itu dan diberi pilihan untuk menyembunyikan nya atau memberitahukan nya kepada mu aku pasti akan tetap melakukan hal yang sama. Karena jika aku mengatakan yang sejujur nya, aku tidak akan pernah bisa ada disini menjadi suami mu. Menjadi Ayah baru untuk Riko dan anak kita nanti.”


__ADS_2