
*Marvel merekam semua penjelasan Juan tanpa Juan ketahui, Marvel menatap layar ponsel nya itu dalam diam. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjut nya. Apakah Marvel harus menunjukkan rekaman ini kepada Sabrina?
Tapi untuk apa? apa untuk membantu Juan agar bisa mendapatkan Sabrina kembali. Jika memang iya, apa hal seperti ini bisa membuat Sabrina menerima Juan kembali?
***
Marvel sudah memutuskan bahwa besok Marvel akan kembali menemui Sabrina dan memastikan Sabrina mendengar semua pengakuan Juan yang telah Marvel rekam.
Meski awalnya Marvel tidak terlalu ingin ikut campur dan tujuan nya menyusul Juan ke kota ini adalah untuk membawa Juan kembali, namun membantu sedikit dan mempermudah tujuan Juan untuk kembali mendapatkan cintanya bukan lah hal yang buruk untuk Marvel lakukan.
Mengingat bahwa Juan juga sejak dahulu selalu ada membantu Marvel, bahkan saat Marvel sedang dalam berbagai masalah. Hati Marvel terasa sedikit nyeri saat mengingat apa yang sudah Juan katakan sebelumnya. Bahwa Juan juga lelah, dan muak terus berkorban sebagai seorang kakak tertua.
Seandainya saja orang tua mereka tidak egois, semuanya mungkin tidak akan seperti ini.
***
“Jadi.. kapan kak Marvel pulang dengan Kak Juan?” Monica yang tengah membantu Milla membuat sarapan itu memulai percakapan diantara mereka, meski tidak ahli memasak Monica tetap berusaha membantu. Menyuruh pelayan untuk pergi mengerjakan pekerjaan yang lain sementara Monica menggantikan tugasnya mengocok telur dalam mangkuk.
“Semalam Marvel menelepon, berdasarkan dari apa yang Marvel katakan. Ku rasa akan memakan waktu lebih lama lagi bagi mereka untuk kembali bersama.” Milla yang tengah menumis sayur itu bicara sembari menoleh sekilas ke arah Monica yang masih sibuk mengocok telur. “Jangan lupa masuk kan sedikit garam ke dalam, Monica.”
Monica menganggukkan kepala nya mengerti, hampir saja ia lupa memasukkan garam. Jika tidak Milla ingatkan mungkin telur dadar untuk sarapan pagi ini akan terasa hambar.
“Sudah ku duga bahwa akan sulit bagi Kak Marvel untuk menyeret Kak Juan pulang kemari. Kak Juan itu keras kepala, tidak akan pulang jika bukan karena keinginannya sendiri. Ku harap Kak Marvel berhasil membawa pulang Kak Juan sesegera mungkin, karena aku yakin Viola pasti sudah sangat merindukan Ayah-nya.”
Milla setuju, Viola pasti merindukan Ayahnya. Meski Viola masih bayi, Milla yakin ikatan batin Viola dengan Juan itu kuat. Sehingga Viola dapat merasakan kekosongan saat Juan tidak ada. Dan karena itu lah Viola menjadi sangat sensitif dan sering sekali menangis meski popok dan pakaian nya sudah diganti, meski perutnya telah kenyang dan Viola juga sudah cukup tidur. Rasa rindu itu pasti lah yang membuat Viola menangis.
Monica dan Milla hanya bisa sama sama berharap Marvel berhasil membawa Juan kembali sesegera mungkin.
***
“Ada apa lagi ini, kenapa kau datang kembali kemari?” Sabrina yang baru membuka pintu rumah nya menatap tidak senang keberadaan Marvel, bagaimana Sabrina tidak kesal. Sebelumnya Juan baru saja pergi setelah Sabrina usir berkali-kali, dan sekarang justru adiknya Juan yang datang menemuinya.
“Bukan kah urusan diantara kita sudah berakhir kemarin, ku rasa kau tidak punya urusan untuk datang kemari lagi.” Meski secara tidak langsung, maksud Sabrina mengatakan hal tersebut adalah agar Marvel pergi. Sabrina mengusir Marvel tanpa mengeluarkan kalimat yang menyakiti perasaan Marvel.
“Ada yang ingin ku tunjukkan kepada mu.” Marvel dengan sigap menahan pintu rumah Sabrina yang hendak Sabrina tutup paksa. Tetap bersikeras ingin berbincang kembali dengan Sabrina seperti hari sebelumnya.
“Aku tidak ingin melihatnya, tolong pergilah!” Sabrina masih menolak keinginan Marvel untuk masuk ke dalam dan menunjukkan rekaman dalam ponsel Marvel itu, Sabrina terus mendorong pintu rumah nya sekuat tenaga, menghalangi Marvel untuk masuk ke dalam.
“Aku tidak akan melakukan hal buruk atau memaksa mu menerima Kak Juan, aku hanya ingin kau mendengarkan rekaman ini!” Marvel menyerah untuk masuk ke dalam persetan dengan masuk ke dalam rumah Sabrina. Jika Sabrina tidak mempersilahkannya masuk untuk menunjukkan rekaman tersebut maka Marvel tidak perlu masuk ke dalam. Marvel akan memutar rekaman itu disini dengan volume full agar Sabrina bisa mendengarnya.
Masa bodo jika ada orang lain yang mendengar rekaman yang Marvel putar. Marvel hanya ingin Sabrina mendengar yang sebenarnya itu saja, setelah itu keputusan ada di tangan Sabrina. Marvel tidak akan ikut campur lagi dan akan berfokus menyeret Juan pulang saja.
__ADS_1
Marvel memutar rekaman tersebut dari awal hingga akhir dengan volume penuh, Marvel yakin Sabrina yang tengah berada di balik pintu menahan pintu tersebut pasti bisa mendengarkan rekaman tersebut dengan jelas.
Lama kelamaan setelah Marvel memutar rekaman tersebut, dorongan Sabrina kepada pintu itu melemah hingga Marvel mengambil kesempatan untuk membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam, berdiri tepat dihadapan Sabrina yang terdiam kaku berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak ada maksud apa apa, aku hanya ingin kau mendengarkannya dan mengambil keputusan dengan pikiran matang, jika kau tetap tidak ingin kembali kepada Kakak ku baiklah aku akan tetap mendukung keputusan mu karena memaafkan kesalahan Kak Juan memanglah tidak mudah, tapi ku mohon pikirkan lah baik baik bukan hanya demi dirimu tapi demi anak kalian juga.”
Setelah itu Marvel pergi, meninggalkan Sabrina yang terduduk diam bersandar pada pintu. Hati Sabrina sakit setelah mendengar rekaman tersebut, sakit sekali hatinya meski Sabrina baru mengetahui bahwa Juan dipaksa menikah dengan wanita lain.
Sabrina tidak tahu harus bagaimana.
***
Marvel menghela nafas, ia masuk ke dalam mobil nya setelah urusan Marvel dengan Sabrina selesai. Sekarang semuanya bergantung kepada keputusan Sabrina dan juga bergantung kepada tindakan Juan selanjutnya.
Mampu kah Juan memenangkan hati Sabrina kembali?
Marvel mengusap wajahnya kasar, tidak menyangka bahwa dirinya akan berurusan dengan kisah cinta Kakak nya sementara Marvel sendiri pusing setengah mati merindukan Milla.
Karena permasalahan Juan, Marvel yang seharusnya sibuk berkerja keras untuk memberikan adik kepada Riko justru tidak bisa melakukannya. Jangankan memberikan adik kepada Riko, Marvel tidak punya waktu untuk bermesraan dengan Milla karena Juan.
Hah.. Memikirkan hal tersebut semakin membuat Marvel mengasihani dirinya sendiri.
***
*Marvel merekam semua penjelasan Juan tanpa Juan ketahui, Marvel menatap layar ponsel nya itu dalam diam. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjut nya. Apakah Marvel harus menunjukkan rekaman ini kepada Sabrina?
Tapi untuk apa? apa untuk membantu Juan agar bisa mendapatkan Sabrina kembali. Jika memang iya, apa hal seperti ini bisa membuat Sabrina menerima Juan kembali?
***
Marvel sudah memutuskan bahwa besok Marvel akan kembali menemui Sabrina dan memastikan Sabrina mendengar semua pengakuan Juan yang telah Marvel rekam.
Meski awalnya Marvel tidak terlalu ingin ikut campur dan tujuan nya menyusul Juan ke kota ini adalah untuk membawa Juan kembali, namun membantu sedikit dan mempermudah tujuan Juan untuk kembali mendapatkan cintanya bukan lah hal yang buruk untuk Marvel lakukan.
Mengingat bahwa Juan juga sejak dahulu selalu ada membantu Marvel, bahkan saat Marvel sedang dalam berbagai masalah. Hati Marvel terasa sedikit nyeri saat mengingat apa yang sudah Juan katakan sebelumnya. Bahwa Juan juga lelah, dan muak terus berkorban sebagai seorang kakak tertua.
Seandainya saja orang tua mereka tidak egois, semuanya mungkin tidak akan seperti ini.
***
“Jadi.. kapan kak Marvel pulang dengan Kak Juan?” Monica yang tengah membantu Milla membuat sarapan itu memulai percakapan diantara mereka, meski tidak ahli memasak Monica tetap berusaha membantu. Menyuruh pelayan untuk pergi mengerjakan pekerjaan yang lain sementara Monica menggantikan tugasnya mengocok telur dalam mangkuk.
__ADS_1
“Semalam Marvel menelepon, berdasarkan dari apa yang Marvel katakan. Ku rasa akan memakan waktu lebih lama lagi bagi mereka untuk kembali bersama.” Milla yang tengah menumis sayur itu bicara sembari menoleh sekilas ke arah Monica yang masih sibuk mengocok telur. “Jangan lupa masuk kan sedikit garam ke dalam, Monica.”
Monica menganggukkan kepala nya mengerti, hampir saja ia lupa memasukkan garam. Jika tidak Milla ingatkan mungkin telur dadar untuk sarapan pagi ini akan terasa hambar.
“Sudah ku duga bahwa akan sulit bagi Kak Marvel untuk menyeret Kak Juan pulang kemari. Kak Juan itu keras kepala, tidak akan pulang jika bukan karena keinginannya sendiri. Ku harap Kak Marvel berhasil membawa pulang Kak Juan sesegera mungkin, karena aku yakin Viola pasti sudah sangat merindukan Ayah-nya.”
Milla setuju, Viola pasti merindukan Ayahnya. Meski Viola masih bayi, Milla yakin ikatan batin Viola dengan Juan itu kuat. Sehingga Viola dapat merasakan kekosongan saat Juan tidak ada. Dan karena itu lah Viola menjadi sangat sensitif dan sering sekali menangis meski popok dan pakaian nya sudah diganti, meski perutnya telah kenyang dan Viola juga sudah cukup tidur. Rasa rindu itu pasti lah yang membuat Viola menangis.
Monica dan Milla hanya bisa sama sama berharap Marvel berhasil membawa Juan kembali sesegera mungkin.
***
“Ada apa lagi ini, kenapa kau datang kembali kemari?” Sabrina yang baru membuka pintu rumah nya menatap tidak senang keberadaan Marvel, bagaimana Sabrina tidak kesal. Sebelumnya Juan baru saja pergi setelah Sabrina usir berkali-kali, dan sekarang justru adiknya Juan yang datang menemuinya.
“Bukan kah urusan diantara kita sudah berakhir kemarin, ku rasa kau tidak punya urusan untuk datang kemari lagi.” Meski secara tidak langsung, maksud Sabrina mengatakan hal tersebut adalah agar Marvel pergi. Sabrina mengusir Marvel tanpa mengeluarkan kalimat yang menyakiti perasaan Marvel.
“Ada yang ingin ku tunjukkan kepada mu.” Marvel dengan sigap menahan pintu rumah Sabrina yang hendak Sabrina tutup paksa. Tetap bersikeras ingin berbincang kembali dengan Sabrina seperti hari sebelumnya.
“Aku tidak ingin melihatnya, tolong pergilah!” Sabrina masih menolak keinginan Marvel untuk masuk ke dalam dan menunjukkan rekaman dalam ponsel Marvel itu, Sabrina terus mendorong pintu rumah nya sekuat tenaga, menghalangi Marvel untuk masuk ke dalam.
“Aku tidak akan melakukan hal buruk atau memaksa mu menerima Kak Juan, aku hanya ingin kau mendengarkan rekaman ini!” Marvel menyerah untuk masuk ke dalam persetan dengan masuk ke dalam rumah Sabrina. Jika Sabrina tidak mempersilahkannya masuk untuk menunjukkan rekaman tersebut maka Marvel tidak perlu masuk ke dalam. Marvel akan memutar rekaman itu disini dengan volume full agar Sabrina bisa mendengarnya.
Masa bodo jika ada orang lain yang mendengar rekaman yang Marvel putar. Marvel hanya ingin Sabrina mendengar yang sebenarnya itu saja, setelah itu keputusan ada di tangan Sabrina. Marvel tidak akan ikut campur lagi dan akan berfokus menyeret Juan pulang saja.
Marvel memutar rekaman tersebut dari awal hingga akhir dengan volume penuh, Marvel yakin Sabrina yang tengah berada di balik pintu menahan pintu tersebut pasti bisa mendengarkan rekaman tersebut dengan jelas.
Lama kelamaan setelah Marvel memutar rekaman tersebut, dorongan Sabrina kepada pintu itu melemah hingga Marvel mengambil kesempatan untuk membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam, berdiri tepat dihadapan Sabrina yang terdiam kaku berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak ada maksud apa apa, aku hanya ingin kau mendengarkannya dan mengambil keputusan dengan pikiran matang, jika kau tetap tidak ingin kembali kepada Kakak ku baiklah aku akan tetap mendukung keputusan mu karena memaafkan kesalahan Kak Juan memanglah tidak mudah, tapi ku mohon pikirkan lah baik baik bukan hanya demi dirimu tapi demi anak kalian juga.”
Setelah itu Marvel pergi, meninggalkan Sabrina yang terduduk diam bersandar pada pintu. Hati Sabrina sakit setelah mendengar rekaman tersebut, sakit sekali hatinya meski Sabrina baru mengetahui bahwa Juan dipaksa menikah dengan wanita lain.
Sabrina tidak tahu harus bagaimana.
***
Marvel menghela nafas, ia masuk ke dalam mobil nya setelah urusan Marvel dengan Sabrina selesai. Sekarang semuanya bergantung kepada keputusan Sabrina dan juga bergantung kepada tindakan Juan selanjutnya.
Mampu kah Juan memenangkan hati Sabrina kembali?
Marvel mengusap wajahnya kasar, tidak menyangka bahwa dirinya akan berurusan dengan kisah cinta Kakak nya sementara Marvel sendiri pusing setengah mati merindukan Milla.
__ADS_1
Karena permasalahan Juan, Marvel yang seharusnya sibuk berkerja keras untuk memberikan adik kepada Riko justru tidak bisa melakukannya. Jangankan memberikan adik kepada Riko, Marvel tidak punya waktu untuk bermesraan dengan Milla karena Juan.
Hah.. Memikirkan hal tersebut semakin membuat Marvel mengasihani dirinya sendiri.