
“*Tidak main dengan Adara? Bukannya kalian seumuran?” tanya Riko lagi, ia teringat dengan gadis kecil cantik yang tinggal di sebelah rumah ini.
“Adara?” Markus kebingungan, ia tidak tahu tentang Adara.
“Iya, gadis kecil cantik yang tinggal di rumah sebelah. Tapi memang lebih baik tidak bermain dengannya sih, bukan karena bermain dengan perempuan itu merepotkan tapi karena Ayah Adara sangat galak. Kau mungkin tidak suka dengan nya.”
Markus kembali tersenyum, anak kecil itu entah belajar dari mana ia bisa tersenyum miring membuat Riko yang melihatnya agak bergidik ngeri. “Aku tidak takut.”
“Aku kan lebih tua setahun, seharusnya kau panggil aku Kakak.” Riko mengalihkan pembahasan mereka. Namun Riko melihat Markus menggelengkan kepalanya tidak setuju.
Tentu saja Markus mana mau menurut memanggil Riko kakak, meski Riko sekarang berstatus sebagai kakak sepupunya itu*.
***
Marvel sebenarnya ingin langsung pulang dan memastikan apa Milla kembali ke rumah atau pergi ke tempat lain namun Marvel membatalkan niatnya tersebut, teringat bahwa Milla meminta waktu untuk sendirian, Marvel takut jika ia segera kembali yang ada Milla marah jika melihat dirinya nanti dan Milla akan semakin membenci Marvel nantinya.
Marvel berusaha untuk tenang dan mengerjakan pekerjaaan nya meski pikirannya terus saja memikirkan Milla.
“Jika kau memang ingin pulang, pulang lah. Memaksakan diri bekerja juga tidak ada artinya karena pekerjaan mu tidak ada yang benar semua!” Juan membanting dokumen yang telah selesai Marvel kerjakan dan juga telah selesai Juan pelajari, banyak sekali kesalahan disana dan itu membuat Juan jengkel.
“Aku tidak bisa kembali, bagaimana jika dia benci kepada ku Kak?” Marvel menatap Juan dengan pandangan putus asa, tidak tahu harus bagaimana lagi.
“Saat aku bermasalah dengan Sabrina, otak cerdas mu itu berjalan sangat lancar sekali dan berusaha membantu ku tapi sekarang saat kau memiliki masalah sendiri kau tidak tahu bagaimana cara mengatasi nya? Kau ingin aku yang pulang ke rumah mu dan membujuk Milla?” Juan tentu tidak serius menawarkan diri untuk membujuk Milla, itu hanya sarkasme Juan saja kepada Marvel. Juan merasa Marvel itu lamban jika menyangkut masalah nya sendiri.
“Baik lah, aku akan pulang. Oh iya ku mohon perlakukan Riko dengan baik di rumah mu. Riko pasti merasa sedih sekarang karena harus jauh dari ku dan juga Milla.” Marvel segera mengambil kunci mobil nya yang tergeletak di atas meja, berlari keluar dari ruang kerja nya setelah menepuk pundak Juan sekali sebagai tanda pamit nya untuk pulang lebih awal.
Marvel mengabaikan pandangan para karyawan kepadanya karena ia berlari tergesa-gesa, pandangan penasaran ingin tahu orang-orang tidak penting bagi Marvel. Karena yang ada di kepala Marvel saat ini hanya Milla, Milla dan Milla.
Marvel memasuki mobil nya dan melajukan mobil tersebut kearah rumah nya. “Ku harap Milla benar benar ada di rumah.”
***
Milla duduk terdiam memandang taman di hadapannya yang sepi, tidak ada orang lain di taman ini selain dirinya.
Pikiran Milla melayang memikirkan fakta-fakta mengejutkan yang ia dapat kan. Fakta mengenai Gevan yang ternyata telah tiada.
Milla tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis, Milla menangis ketika mengingat kembali masa-masa dimana sebelum Gevan pergi dan tak kembali.
Gevan pergi meninggalkan Milla dan Riko bukan sekali dua kali, Gevan sudah sering melakukannya dan tidak memberikan Milla nafkah, Milla pikir itu karena Gevan menghabiskan semua uang nya untuk bersenang senang.
Milla tidak menyangka bahwa Gevan sebenarnya tengah berjuang sendirian demi hidup nya dan Milla justru tanpa tahu apa apa hanya bisa membenci Gevan karena menganggap Gevan sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.
Milla benar benar merasa bersalah karena bahkan saat Gevan meninggal pun Milla tidak ada untuk menguburkan suaminya itu, bahkan Milla justru menikah dan hidup bahagia dengan laki laki lain sementara Gevan mati begitu saja.
“Kenapa kalian kejam sekali kepada ku, aku sudah berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan ku dan Riko, lalu Marvel muncul bagai malaikat saat Gevan tak ada. Aku sangat bahagia atas kehadiran Marvel di hidup ku sampai sampai aku bersyukur bahwa kau telah meninggalkan ku dan Riko Gevan, karena kalau kau tidak meninggalkan kami maka Marvel tidak akan pernah muncul dalam hidup kami. Tapi tega nya aku berpikir seperti itu sementara kau tersiksa.” Milla benar benar merasa berdosa, karena dulu saat ia kesal Gevan tak kunjung pulang dan tak tau dimana berada, Milla pernah menyumpahi Gevan mati.
Saat itu Milla sangking kesal nya karena Milla sudah kehabisan segala nya dan Gevan tetap tak ada kabar. Orang tua Gevan juga tidak ada yang menolong Milla sehingga Milla yang kesal menyumpahi Gevan yang berada di entah berantah mati saja. Karena menurut Milla keberadaan Gevan pun tidak akan ada guna nya.
Milla tidak menyangka bahwa Gevan justru benar benar mati, dan lebih lucu nya lagi laki laki itu sudah mati sejak lama dan Milla baru mengetahui nya sekarang.
***
Marvel panik saat ia sampai di rumah tidak ada tanda tanda keberadaan Milla di rumah sedikit pun, Marvel sudah berteriak memanggil Milla namun tak ada sahutan.
__ADS_1
Marvel juga sudah mencari di kamar mereka, kamar Riko, bahkan kamar mandi namun Milla tetap tidak terlihat.
Setelah lelah mencari ke setiap sudut rumah akhirnya Marvel bertanya kepada para pelayan dan juga security.
“Maaf Tuan Marvel tapi Nyonya Milla belum juga pulang ke rumah sejak pergi ke luar dengan Tuan muda Riko. Saya pikir Nyonya pergi menemui Tuan.”
Jawaban para pelayan dan security semua sama. Sama sama tidak ada yang tahu dimana keberadaan Milla sekarang dan semua nya sama sama mengatakan bahwa mereka belum melihat Milla kembali sejak Milla pergi dengan Riko.
Marvel terduduk lemas di sofa, mengacak acak rambut nya kesal karena tidak tahu kemana Milla pergi. Marvel bahkan tidak tahu harus mencari kemana karena seingat Marvel Milla tidak punya teman yang biasa Milla kunjungi untuk curhat atau semacamnya.
“Kau kemana sebenarnya sayang..” Marvel melirik jam yang tergantung di dinding, sekarang ini masih siang. Marvel berusaha untuk membuat dirinya tenang, mungkin nanti sore Milla akan kembali ke rumah setelah pikirannya agak sedikit tenang.
Milla hanya sedang mencari udara segar di luar sana dan akan segera kembali, hal tersebut lah yang Marvel tanamkan pada dirinya sendiri sembari melihat jam yang tergantung di dinding tersebut.
Marvel akan menunggu dengan sabar, Marvel akan menunggu sampai Milla pulang dan akan membujuk Milla. menjelaskan kembali kepada Milla bahwa semuanya Marvel lakukan semata-mata karena rasa perduli nya dan juga rasa cinta nya terhadap Milla.
***
Milla masih duduk di taman saat langit mulai menggelap, Milla tidak punya tempat tujuan, ingin beristirahat karena lelah terus menangis namun Milla tidak ingin pulang. Tidak ingin bertemu dengan Marvel yang Milla yakini pasti sekarang ada di rumah menunggu nya untuk pulang.
Milla belum siap untuk kembali beragrumen, Milla belum siap untuk mendengar penjelasan penjelasan Marvel lain nya. Milla butuh waktu untuk memproses segalanya.
“Kemana aku harus pergi, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain Marvel.” Milla menertawakan dirinya sendiri, Milla tidak punya orang lain yang bisa membantu dirinya. Milla mulai menyadari satu hal, bahwa tanpa Marvel Milla itu bukan apa-apa.
Tidak punya apa-apa, uang Milla pun berasal dari Marvel. Milla menertawakan dirinya, betapa menyedihkannya ia bila tanpa Marvel.
Seharusnya Milla tahu diri laki laki kaya raya dan tampan seperti Marvel mau menikah dengannya meski karena rasa kasihan sekalipun.
***
“*Tidak main dengan Adara? Bukannya kalian seumuran?” tanya Riko lagi, ia teringat dengan gadis kecil cantik yang tinggal di sebelah rumah ini.
“Adara?” Markus kebingungan, ia tidak tahu tentang Adara.
“Iya, gadis kecil cantik yang tinggal di rumah sebelah. Tapi memang lebih baik tidak bermain dengannya sih, bukan karena bermain dengan perempuan itu merepotkan tapi karena Ayah Adara sangat galak. Kau mungkin tidak suka dengan nya.”
Markus kembali tersenyum, anak kecil itu entah belajar dari mana ia bisa tersenyum miring membuat Riko yang melihatnya agak bergidik ngeri. “Aku tidak takut.”
“Aku kan lebih tua setahun, seharusnya kau panggil aku Kakak.” Riko mengalihkan pembahasan mereka. Namun Riko melihat Markus menggelengkan kepalanya tidak setuju.
Tentu saja Markus mana mau menurut memanggil Riko kakak, meski Riko sekarang berstatus sebagai kakak sepupunya itu*.
***
Marvel sebenarnya ingin langsung pulang dan memastikan apa Milla kembali ke rumah atau pergi ke tempat lain namun Marvel membatalkan niatnya tersebut, teringat bahwa Milla meminta waktu untuk sendirian, Marvel takut jika ia segera kembali yang ada Milla marah jika melihat dirinya nanti dan Milla akan semakin membenci Marvel nantinya.
Marvel berusaha untuk tenang dan mengerjakan pekerjaaan nya meski pikirannya terus saja memikirkan Milla.
“Jika kau memang ingin pulang, pulang lah. Memaksakan diri bekerja juga tidak ada artinya karena pekerjaan mu tidak ada yang benar semua!” Juan membanting dokumen yang telah selesai Marvel kerjakan dan juga telah selesai Juan pelajari, banyak sekali kesalahan disana dan itu membuat Juan jengkel.
“Aku tidak bisa kembali, bagaimana jika dia benci kepada ku Kak?” Marvel menatap Juan dengan pandangan putus asa, tidak tahu harus bagaimana lagi.
“Saat aku bermasalah dengan Sabrina, otak cerdas mu itu berjalan sangat lancar sekali dan berusaha membantu ku tapi sekarang saat kau memiliki masalah sendiri kau tidak tahu bagaimana cara mengatasi nya? Kau ingin aku yang pulang ke rumah mu dan membujuk Milla?” Juan tentu tidak serius menawarkan diri untuk membujuk Milla, itu hanya sarkasme Juan saja kepada Marvel. Juan merasa Marvel itu lamban jika menyangkut masalah nya sendiri.
__ADS_1
“Baik lah, aku akan pulang. Oh iya ku mohon perlakukan Riko dengan baik di rumah mu. Riko pasti merasa sedih sekarang karena harus jauh dari ku dan juga Milla.” Marvel segera mengambil kunci mobil nya yang tergeletak di atas meja, berlari keluar dari ruang kerja nya setelah menepuk pundak Juan sekali sebagai tanda pamit nya untuk pulang lebih awal.
Marvel mengabaikan pandangan para karyawan kepadanya karena ia berlari tergesa-gesa, pandangan penasaran ingin tahu orang-orang tidak penting bagi Marvel. Karena yang ada di kepala Marvel saat ini hanya Milla, Milla dan Milla.
Marvel memasuki mobil nya dan melajukan mobil tersebut kearah rumah nya. “Ku harap Milla benar benar ada di rumah.”
***
Milla duduk terdiam memandang taman di hadapannya yang sepi, tidak ada orang lain di taman ini selain dirinya.
Pikiran Milla melayang memikirkan fakta-fakta mengejutkan yang ia dapat kan. Fakta mengenai Gevan yang ternyata telah tiada.
Milla tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis, Milla menangis ketika mengingat kembali masa-masa dimana sebelum Gevan pergi dan tak kembali.
Gevan pergi meninggalkan Milla dan Riko bukan sekali dua kali, Gevan sudah sering melakukannya dan tidak memberikan Milla nafkah, Milla pikir itu karena Gevan menghabiskan semua uang nya untuk bersenang senang.
Milla tidak menyangka bahwa Gevan sebenarnya tengah berjuang sendirian demi hidup nya dan Milla justru tanpa tahu apa apa hanya bisa membenci Gevan karena menganggap Gevan sebagai suami yang tidak bertanggung jawab.
Milla benar benar merasa bersalah karena bahkan saat Gevan meninggal pun Milla tidak ada untuk menguburkan suaminya itu, bahkan Milla justru menikah dan hidup bahagia dengan laki laki lain sementara Gevan mati begitu saja.
“Kenapa kalian kejam sekali kepada ku, aku sudah berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan ku dan Riko, lalu Marvel muncul bagai malaikat saat Gevan tak ada. Aku sangat bahagia atas kehadiran Marvel di hidup ku sampai sampai aku bersyukur bahwa kau telah meninggalkan ku dan Riko Gevan, karena kalau kau tidak meninggalkan kami maka Marvel tidak akan pernah muncul dalam hidup kami. Tapi tega nya aku berpikir seperti itu sementara kau tersiksa.” Milla benar benar merasa berdosa, karena dulu saat ia kesal Gevan tak kunjung pulang dan tak tau dimana berada, Milla pernah menyumpahi Gevan mati.
Saat itu Milla sangking kesal nya karena Milla sudah kehabisan segala nya dan Gevan tetap tak ada kabar. Orang tua Gevan juga tidak ada yang menolong Milla sehingga Milla yang kesal menyumpahi Gevan yang berada di entah berantah mati saja. Karena menurut Milla keberadaan Gevan pun tidak akan ada guna nya.
Milla tidak menyangka bahwa Gevan justru benar benar mati, dan lebih lucu nya lagi laki laki itu sudah mati sejak lama dan Milla baru mengetahui nya sekarang.
***
Marvel panik saat ia sampai di rumah tidak ada tanda tanda keberadaan Milla di rumah sedikit pun, Marvel sudah berteriak memanggil Milla namun tak ada sahutan.
Marvel juga sudah mencari di kamar mereka, kamar Riko, bahkan kamar mandi namun Milla tetap tidak terlihat.
Setelah lelah mencari ke setiap sudut rumah akhirnya Marvel bertanya kepada para pelayan dan juga security.
“Maaf Tuan Marvel tapi Nyonya Milla belum juga pulang ke rumah sejak pergi ke luar dengan Tuan muda Riko. Saya pikir Nyonya pergi menemui Tuan.”
Jawaban para pelayan dan security semua sama. Sama sama tidak ada yang tahu dimana keberadaan Milla sekarang dan semua nya sama sama mengatakan bahwa mereka belum melihat Milla kembali sejak Milla pergi dengan Riko.
Marvel terduduk lemas di sofa, mengacak acak rambut nya kesal karena tidak tahu kemana Milla pergi. Marvel bahkan tidak tahu harus mencari kemana karena seingat Marvel Milla tidak punya teman yang biasa Milla kunjungi untuk curhat atau semacamnya.
“Kau kemana sebenarnya sayang..” Marvel melirik jam yang tergantung di dinding, sekarang ini masih siang. Marvel berusaha untuk membuat dirinya tenang, mungkin nanti sore Milla akan kembali ke rumah setelah pikirannya agak sedikit tenang.
Milla hanya sedang mencari udara segar di luar sana dan akan segera kembali, hal tersebut lah yang Marvel tanamkan pada dirinya sendiri sembari melihat jam yang tergantung di dinding tersebut.
Marvel akan menunggu dengan sabar, Marvel akan menunggu sampai Milla pulang dan akan membujuk Milla. menjelaskan kembali kepada Milla bahwa semuanya Marvel lakukan semata-mata karena rasa perduli nya dan juga rasa cinta nya terhadap Milla.
***
Milla masih duduk di taman saat langit mulai menggelap, Milla tidak punya tempat tujuan, ingin beristirahat karena lelah terus menangis namun Milla tidak ingin pulang. Tidak ingin bertemu dengan Marvel yang Milla yakini pasti sekarang ada di rumah menunggu nya untuk pulang.
Milla belum siap untuk kembali beragrumen, Milla belum siap untuk mendengar penjelasan penjelasan Marvel lain nya. Milla butuh waktu untuk memproses segalanya.
“Kemana aku harus pergi, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain Marvel.” Milla menertawakan dirinya sendiri, Milla tidak punya orang lain yang bisa membantu dirinya. Milla mulai menyadari satu hal, bahwa tanpa Marvel Milla itu bukan apa-apa.
__ADS_1
Tidak punya apa-apa, uang Milla pun berasal dari Marvel. Milla menertawakan dirinya, betapa menyedihkannya ia bila tanpa Marvel.
Seharusnya Milla tahu diri laki laki kaya raya dan tampan seperti Marvel mau menikah dengannya meski karena rasa kasihan sekalipun.