SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
TWENTY SEVEN


__ADS_3

"Ku rasa keadaan ku sudah membaik, aku sudah jarang mual. Lebih baik aku pulang ke rumah ku saja, dan sepertinya aku sudah bisa kembali bekerja."


Sudah hampir seminggu Clara tinggal di hotel bersama Damian, dan selama seminggu ini Clara tidak lagi mengalami mual. Jadi sepertinya sudah tidak ada alasan lagi untuk tinggal dengan Damian di hotel ini.


"Kenapa kau ingin sekali pulang bukan kah disini lebih nyaman? Aku bahkan rela tidur di sofa demi kenyamanan mu."


Clara berdecak, "Justru karena itu, karena kau lah yang menyewa hotel ini dan kau justru tidur di sofa. Lebih baik aku pulang dan kau bisa nikmati semua nya, aku sudah tidak membutuhkan belas kasihan mu lagi."


Damian menggeram, ia mulai kesal dengan perkataan Clara.


Belas kasihan katanya?


"Belas kasihan kau bilang? Aku ini Ayah dari anak yang kau kandung! Apa aku tidak berhak menyayangi anak ku sendiri, anak ku berhak menerima segala hal yang ku berikan bahkan menikmati segala yang ku miliki." Damian menarik nafas dalam dalam, "Kenapa kau harus membuatnya jadi sesulit ini Clara, berhentilah menekan dirimu.. kau tidak bisa memaksakan semua yang kau mau sekarang ini karena kau sudah tidak hidup sendirian lagi ada anak kita di dalam rahim mu. Kau tidak bisa tinggal sendirian, jika terjadi sesuatu pada mu dan tidak ada satupun orang yang bisa menolong mu karena kau sendirian di rumah mu itu bagaimana? Dan soal bekerja, kau mau memaksakan dirimu untuk bekerja sementara kau sendiri tahu bahwa kondisi kehamilan mu ini termasuk lemah. Memaksakan diri untuk bekerja sama saja dengan kau membunuh anak kita secara perlahan, Clara.."


Clara terdiam, apa yang Damian katakan ada benarnya. Semakin Clara memaksakan diri maka semakin terancam nyawa calon anaknya.


Tapi Clara juga masih enggan untuk kembali berhubungan dengan Damian meski semuanya demi anak mereka pun Clara masih merasa tidak nyaman.


"Mengertilah Clara, ini semua kebaikan anak kita." Damian kembali membujuk Clara hingga akhirnya Clara mengangguk menyetujui.


"Tapi hanya sampai anak ini lahir saja, setelah itu aku akan kembali tinggal sendiri membawa anak ini bersama ku. Kau tidak bisa mengambilnya dari ku karna aku ini Ibu nya."


Damian mengangguk, ia menyetujui perkataan Clara. "Ya, tapi kau juga tidak bisa menghalangi ku untuk menemui anak ku kapan pun aku mau saat ia sudah lahir nanti, bagaimana pun aku ini Ayah nya tanpa aku dia tidak akan pernah ada."


Damian dan Clara saling berjabat tangan menyetujui kesepakatan mereka, semuanya mereka lakukan demi calon anak mereka yang berada di perut Clara.


Jika bukan karena anaknya, Bahkan Clara pun tidak akan sudi bertemu dengan Damian lagi meski secara kebetulan sekalipun.


***

__ADS_1


Damian bukan hanya membatalkan schedule nya lagi, tapi Damian bahkan memerintahkan Jackson untuk menggantikannya sementara Damian masih sibuk dengan Clara.


Damian mempercayakan semuanya kepada Jackson, dan Damian baru akan kembali seandainya Jackson benar benar tidak bisa menghandle suatu masalah sehingga Damian harus turun tangan.


Sekarang ini fokus Damian hanya tertuju pada Clara, pekerjaan masih bisa ia handle sedikit nanti saat Clara tidur.


"Kau ingin sesuatu lagi?" Damian bertanya pada Clara yang baru saja selesai menyantap satu kotak besar pizza.


"Bisa kau pesan kan aku satu kotak lagi?"


Damian menggelengkan kepalanya, makanan seperti itu kurang baik bagi kehamilan Clara. Bahkan Damian sudah mati matian melarang Clara memakan semua pizza di kotak besar itu tapi Clara justru memaki nya dan mulai merengek, jadi Damian tidak bisa melakukan apa apa lagi.


Tapi untuk menambah satu kotak lagi, jangan harap. Damian tidak akan menuruti nya meski Clara kembali memaki nya atau bahkan mulai memukulnya.


Damian harus bisa menjaga Clara, dan mencegah Clara melakukan tindakan bodoh yang bisa membahayakan calon anak mereka.


"Kau tidak mau?! Hei, ini itu kemauan anak mu tau!"


"Aku akan menuruti apa saja yang anak ku mau asalkan itu masuk akal, tapi ini tidak. Kau bisa minta yang lain asal jangan itu, kau sudah makan satu kotak penuh dan tidak boleh lebih dari itu." Damian dengan tegas mengakhiri perdebatan mereka, "Jika kau sudah tidak ingin hal lain lagi, aku akan membuatkan mu susu. Ini sudah waktu mu untuk minum susu hamil."


"Aku tidak mau! Rasanya tidak enak, kalau kau mau kau saja yang minum!" Clara melipat tangannya di depan dada, masih kesal karena tidak mendapatkan hal yang ia inginkan.


"Tapi kan kau disini yang hamil bukan aku, kalau aku yang tengah mengandung maka dengan senang hati aku meminum susu itu." Damian pergi ke dapur, meninggalkan Clara yang masih cemberut sambil memandang kosong ke arah televisi yang menayangkan film kartun.


Tak lama kemudian Damian muncul dengan segelas susu, Damian duduk disebelah Clara. Belum meminum saja Clara sudah merasa mual mencium aroma susu tersebut.


Kenapa susu hamil harus semenjijikan itu?


Clara menggelengkan kepalanya ketika Damian menyodorkan segelas susu hamil tersebut padanya.

__ADS_1


“Ayolah Clara minum, ini demi kebaikan calon anak kita.” Damian membujuk Clara namun Clara tetap saja menghindar bahkan Clara menepis kasar tangan Damian hingga hampir menumpahkan susu tersebut.


Kesabaran Damian habis, ia dengan cepat menenggak susu tersebut dan menarik leher Clara sehingga mendongak ke arahnya. Damian menyatukan bibirnya dengan bibir Clara. Memindahkan susu yang sebelumnya berada di mulut Damian menjadi ke mulut Clara, membuat Clara mau tak mau menelan nya.


Clara memukul mukul bahu Damian, memberontak hingga akhirnya Damian melepaskan bibirnya.


Clara menatap Damian penuh emosi. Kenapa harus dengan cara itu?!


“Kau gila?!” teriak Clara pada Damian, namun Damian hanya bersikap santai seolah itu bukan masalah besar.


“Kalau tidak seperti itu kau tidak akan mau meminum susu nya, lagi pula cara itu cara paling efektif. Kau tidak mual sama sekali dan menelan nya dengan lancar.”


Pipi Clara memerah, memang benar. Clara tidak bisa merasakan aroma yang tidak di sukai ya dari susu hamil tersebut. Bahkan Clara justru merasa manis.


Clara menggelengkan kepalanya, tidak. Ia tidak boleh jadi mesum begini.


Baru saja Clara ingin buka suara untuk memaki Damian namun Damian justru lebih dulu membungkam bibir Clara dengan bibirnya.


Kembali memindahkan susu tersebut ke mulut Clara, hingga Clara kembali menengguknya.


Saat susu sudah tidak ada lagi diantara kedua bibir yang bertaut tersebut, Damian tetap tidak melepas tautan bibirnya dengan Clara.


Seharusnya Clara mengamuk dan berusaha melepaskan ciuman Damian namun Clara justru membalas tiap ciuman Damian.


Clara tidak tahu mengapa dirinya jadi begini namun sejak melihat Damian di kamar mandi rumah sakit saat ia muntah muntah hebat, Clara sudah merasakan ada gelenyar aneh di dirinya.


Seolah olah ia memang menginginkan tiap sentuhan Damian.


Sebelumnya Clara selalu mencoba untuk menyadarkan dirinya, namun kali ini Clara tidak bisa lagi mengelak bahwa ia memang benar benar sudah gila karena menginginkan sentuhan Damian.

__ADS_1


Persetan dengan harga diri, Clara hanya menginginkan Damian malam ini.


Bahkan harga dirinya sendiripun tidak bisa menghentikannya.


__ADS_2