SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
TWENTY THREE


__ADS_3

Sudah 2 bulan lamanya Clara melarikan diri.


Jujur.. Clara tidak merasa bahagia ataupun menderita hidupnya terombang ambing dalam kesendirian.


Clara tidak hidup kekurangan, ia sudah mendapatkan pekerjaan meski pekerjaannya hanya sebagai pegawai di sebuah toko busana. Clara bisa menghidupi kebutuhan sehari harinya sendiri, tapi entah mengapa Clara merasa seperti ada yang aneh. Seolah ada yang kosong di benaknya dan Clara tidak tau apa itu.


Clara mengusap perutnya yang terasa sakit, sudah beberapa hari ini Clara merasakan sakit di perutnya. Awalnya Clara pikir ini karena ia salah makan, namun tidak mungkin kan jika ia salah makan berhari hari dan terulang terus menerus.


“Kau tidak apa apa?”


Seorang pelanggan menyentuh lengan Clara hati hati, memperhatikan raut wajah pucat Clara yang terlihat kesakitan.


Clara menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Saya tidak apa apa, maaf membuat Ibu khawatir. Ini hanya sakit perut biasa mungkin saya salah makan lagi..”


Wanita yang menjadi lawan bicara Clara itu mengerutkan alisnya, “Apa mungkin karena kau akan menstruasi, biasanya menstruasi bisa sangat menyakitkan dan tidak bagi sebagian orang.”


Clara diam sejenak.


Menstruasi?


Clara melirik kalender di meja nya, mata Clara membesar ketika ia mengingat kapan terakhir kali ia menstruasi. Itu.. 2 bulan yang lalu, sebelum Clara pergi dari Damian dan sebelum Juan menjebaknya.


Bagaimana bisa sampai saat ini Clara belum juga menstruasi?


Clara menggelengkan kepalanya, tidak.. tidak mungkin ia hamil bukan? Penyebab seorang wanita tidak menstruasi bukan hanya kehamilan bisa saja hal lain, tapi Clara juga tidak ingin dengan hal lain itu.


Jika memang Clara tidak hamil dan mengidap penyakit berbahaya, maka lengkaplah penderitaannya.


Jika Clara hamil, mengandung anak Damian. Apakah Clara sanggup mempertahankan anak dari Damian yang sama sekali tidak ia harapkan kehadirannya?


“Hei, kau benar benar baik baik saja kan?”


Pelanggan itu kembali menegur Clara, membuat Clara gelagapan dan meminta maaf untuk ke sekian kalinya.


“Lebih baik kau ke dokter, jangan menahan rasa sakitnya. Jika itu penyakit berbahaya setidaknya bisa cepat diobati, jangan sampai semuanya terlambat dan kau menyesalinya di kemudian hari.”


***

__ADS_1


“Berhenti melarang ku untuk berhubungan dengan Darius, Kak Marvel!” Monica melempar majalah yang sebelumnya ia baca, ia muak mendengar perintah perintah Marvel agar ia menjauhi Darius. Laki laki yang sangat ia cintai.


“Kenapa kau tidak juga mengerti Monica, dia itu bukan laki laki yang baik. Keluarganya saja kita tidak tau seperti apa.”


Monica tertawa sinis, tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengan dari mulut kakak nya itu. “Aku tidak menyangka Kakak bisa bicara seperti itu, aku pikir kak Marvel berbeda tidak seperti Kak Juan tapi kalian semua itu sama saja. Latar belakang itu tidak penting, yang penting itu aku mencintai nya dan dia pun mencintai ku, sesimpel itu!”


Marvel mengusap wajahnya kasar, entah ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Monica bahwa Marvel merasakan ada hal yang aneh dari Darius kekasih Monica itu.


Marvel hanya tidak ingin Monica kenapa kenapa, Monica adalah adik kesayangannya. Jika Monica terluka maka Marvel pun akan terluka tapi kenapa Monica tidak mau mengerti? Apa yang telah laki laki itu lakukan pada Monica sehingga Monica bisa berubah seperti ini.


“Kenapa kau bisa jadi sebodoh ini Monica..”


Monica mendengus dan menertawakan perkataan Marvel, “Kakak lupa betapa bodohnya kak Marvel karena mencintai Kak Clara? Jangan sok mengajari ku kalau kakak sendiri juga selalu terbawa perasaan dan bertindak bodoh, aku tidak akan pernah meninggalkan Darius. Aku mencintainya.”


Monica pergi begitu saja, mengabaikan Marvel yang merasa sakit hati atas apa yang sudah Monica katakan tentang dirinya.


***


“Batalkan semua schedule ku hari ini dan seminggu ke depan.” Damian dengan tiba tiba saja memberikan perintah ke pada sekretarisnya itu dalam keadaan terburu buru.


“Siapkan penerbangan ku ke Singapura sekarang juga!” perintah Damian lagi kepada Jackson, sekretaris sekaligus orang kepercayaan nya itu.


Jackson dengan sigap melakukan semua yang Damian perintahkan meski ia sebenarnya bertanya tanya mengapa Damian membatalkan semua jadwalnya seminggu ke depan meski ada rapat cukup penting 2 hari lagi.


Tapi Jackson tidak akan menentang Damian, Jackson bisa mengatasi masalah ini.


***


Clara berbaring di bangsal, ia membiarkan dokter memeriksa dirinya. Dalam hati Clara berharap harap cemas, semoga ia tidak hamil dan semoga saja itu bukan penyakit parah.


Dokter itu melepaskan stetoskop nya, mempersilahkan Clara turun dari bangsal dan duduk di kursi tepat disebrang nya.


“Bagaimana dok?” Clara tidak bisa berhenti meremas remas jarinya, ia panik. Senyuman di wajah dokter itu membuat bulu kuduk Clara merinding.


“Selamat anda sedang mengandung, usianya masih rentan. Usia kandungan Ibu sudah mau memasuki usia ke 3 bulan, harap berhati hati jangan terlalu stress dan banyak bekerja berat.” Dokter itu tersenyum lebar, “Ini saya buatkan resep obat yang bisa Ibu tebus di apotik.”


Clara masih tidak percaya dengan apa yang dokter katakan kepadanya.

__ADS_1


Hamil?


Hamil anak Damian?


Kenapa juga semua ini harus terjadi disaat Clara sudah mulai belajar hidup bahagia seorang diri, tanpa ada kaitan dengan Damian sedikitpun.


Ini semua berbahaya, jika Damian tahu kalau Clara kini tengah mengandung anaknya maka besar kemungkinan Damian akan kembali menghantui hidupnya, Damian tidak akan melepaskannya lagi.


Clara tidak mau kembali pada laki laki itu.


Tidak, Clara sudah bahagia disini.


Clara menerima resep yang dokter berikan, ia keluar dari ruangan dokter itu masih dengan pikiran melayang jauh memikirkan kemungkinan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Sebuah pemikiran jahat muncul di kepala Clara.


Apakah sebaiknya Clara menggugurkan anak dalam kandungannya saja?


Clara menggelengkan kepalanya, tidak.. ia tidak bisa melakukan tindakan keji itu.


Anggap saja anak ini bukan anak Damian, ya.. ini bukan anak Damian.


Damian tidak ada sangkut pautnya dengan hidup anak ini, tapi.. bagaimana jika Clara mempertahankan kehamilannya dan membesarkan anak nya itu seorang diri dan anak itu menanyakan dimana Ayahnya dan siapa Ayahnya?


Kepala Clara mulai terasa sakit, ia pusing memikirkan semuanya.


Clara mengusap perutnya lembut dalam tangis.


Ini bukan anak Damian..


Bukan..


Ini bukan anak Damian..


Clara terus berusaha membohongi dirinya sendiri meski ia tahu bahwa Damian satu satunya laki laki yang pernah tidur dengan nya. Tidak ada orang lain.


Hanya Damian.

__ADS_1


__ADS_2