SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 23


__ADS_3

*Marvel tidak tahu harus menjawab pertanyaan Riko seperti apa, karena Marvel sendiri tidak tahu Milla sebenarnya dimana dan kemana. Marvel sendiri tidak bisa bisa mengatakan kepada Riko bahwa Milla sudah pulang karena Marvel tidak yakin kalau Milla benar benar pulang ke rumah mereka.


Milla mengatakan butuh waktu untuk sendirian.


“Kenapa Papa tidak jawab?” tanya Riko sekali lagi kepada Marvel.


“Mama sama Papa kenapa bertengkar terus, Riko tidak suka. Riko tidak mau Mama sama Papa bertengkar. Riko tidak mau kembali seperti dulu lagi, Riko tidak mau tidak punya Ayah lagi.” suara Riko terdengar bergetar, ia sedih melihat hubungan orang tua nya yang berubah. Riko juga sedih karena siang ini seharusnya mereka bertiga makan siang bersama dengan bahagia tapi yang terjadi justru seperti ini.


Meski masih kecil, Riko juga mengenal apa itu sakit hati*.


***


Hati Marvel mencelos mendengar perkataan Riko, Riko sangat takut kehilangan dirinya. Mungkin karena telah merasakan bagaimana rasanya tanpa seorang Ayah membuat Riko amat sangat takut kehilangan Marvel.


Marvel semakin merasa bersalah, bagaimana jika Milla tidak bisa memaafkan dirinya dan berakhir meminta perpisahan, bagaimana dengan Riko? Riko pasti sedih sekali dan merasa terkhianati.


“Papa janji kan tidak akan tinggalkan Riko dan Mama?" Riko menatap Marvel dengan wajah sedih nya, ia menjulurkan jari kelingking kecil nya kepada Marvel, mengajak Marvel untuk membuat janji dengannya.


Marvel menautkan jari kelingking nya dengan jari kelingking kecil Riko, “Papa janji Papa tidak akan meninggalkan Riko dan Mama.”


Tapi dalam hati Marvel berkata, bahwa ia tidak bisa berjanji jika Milla lah yang ingin meninggalkannya. Karena Marvel tidak tahu apa ia punya kuasa untuk menahan Milla atau tidak.


Tapi Marvel bersumpah ia tidak akan menyerah begitu saja, cukup dulu Marvel kalah saat mengejar cintanya kepada Clara dan melepaskan Clara untuk Damian.


Kini Marvel tidak akan melepaskan Milla, Marvel tidak mau mengalah lagi. Marvel akan memperjuangkan Milla bagaimanapun caranya dan akan berjuang untuk mendapatkan kepercayaan Milla kembali meski harus melewati jalan yang tidak mudah sekalipun Marvel tidak masalah.


“Sebaiknya kau segera selesai kan masalah mu dengan Milla, Riko bisa menginap di rumah ku dulu selama masalah kalian belum selesai, setidaknya di rumah ku ada Markus yang bisa menjadi teman Riko.” ujar Juan memberi masukan, Marvel mengangguk setuju dan beralih kembali memandang ke arah Riko.

__ADS_1


“Riko tidak apa-apa kan tinggal di rumah Om Juan lagi sementara, main sama Markus disana.” Marvel mengusap kepala Riko lembut, Riko menganggukkan kepalanya menurut.


“Jangan lama lama tapi ya Pa, jemput Riko nanti tapi jemput nya sama Mama.”


Kali ini Marvel yang menganggukkan kepalanya, “Iya sayang, pasti.”


***


Riko pulang dengan Juan, dengan sedih ia membawa kembali kotak makan yang ia bawa bersama dengan Mama nya itu untuk dimakan bersama.


Marvel yang menyuruh Riko untuk membawa kotak bekal itu dan memakan nya bersama dengan Markus di rumah Juan nanti.


Sepanjang jalan Riko hanya diam melihat jalanan dan sesekali melirik Juan yang sibuk menyetir, Juan hanya akan mengantarkannya ke rumah nya lalu kembali pergi ke kantor.


Sesampainya di rumah Juan, Riko turun dari mobil Juan tanpa Juan ikut turun dan masuk ke dalam rumah. Sudah ada Sabrina yang menunggu di depan gerbang menyambut kedatangan Riko.


Setelah Riko turun dari mobil Juan itu, mobil itu segera melaju pergi kembali ke arah kantor. Riko hanya bisa mendongak memandang Sabrina yang tersenyum kearahnya.


Riko senang bisa bertemu dengan Viola lagi, dan melihat bahwa Viola sudah tumbuh lebih besar dari hari terakhir Riko melihat nya. Dan seperti biasanya, Sabrina langsung sibuk mengurus Viola saat Riko masuk ke rumah besar itu.


Riko melihat Markus sedang makan di meja makan sendirian, Riko yang membawa kotak bekal itu kembali teringat perkataan Ayah nya untuk memakan bekal tersebut dengan Markus.


Dengan cepat Riko mendekati Markus, takut Markus sudah selesai makan terlebih dahulu sebelum Riko ikut makan dengan nya dan membagi isi makanan dalam kotak bekal yang ia bawa.


Riko duduk tepat di samping Markus, Markus hanya diam memperhatikan Riko saat Riko duduk disebelahnya dan membuka kotak bekal yang Riko bawa itu.


“Ayo makan bersama, aku bawa makanan enak. Mama ku yang memasaknya. Ini coba.” Riko tanpa sungkan memberikan makanannya kepada Markus meski Markus diam saja, tapi meski Markus diam dan seolah tidak menggubrisnya Markus tetap memakan makanan yang Riko berikan.

__ADS_1


Membuat Riko tersenyum, setidaknya makanan yang sudah Riko siapkan dengan Ibu nya itu ada yang memakan dan tidak terbuang.


Setelah mereka berdua makan, Riko mengikuti Markus masuk ke dalam kamar Markus. Duduk disana sembari melihat mainan mainan milik Markus.


“Kenapa kau kemari?” tanya Markus kepada Riko.


Riko terkejut dan menoleh kearah Markus, “Apa aku tidak boleh ke kamar mu ini? Maaf, kalau begitu aku akan keluar.”


“Bukan! maksud ku kenapa kau ke rumah ini, kenapa tidak bersama Mama Papa mu?” tanya Markus lagi, namun kali ini Markus tidak mendapat jawaban dari Riko. Riko terdiam dan menunduk.


“Apa mereka mulai mengabaikan mu?” Markus tertawa sinis melihat Riko yang menunduk, “Saat mereka punya anak lagi, kau pasti akan dilupakan. Sama seperti ku.”


Riko menggelengkan kepalanya, “Kau tidak mengerti Markus. Jika aku akan punya adik, aku pasti senang. Tidak apa-apa jika kasih sayang mereka kepada ku berkurang tapi aku tidak mau mereka kembali seperti dulu lagi. Aku tidak mau kembali tidak memiliki Ayah.”


Markus terdiam mendengar perkataan Riko, ia memilih kembali sibuk memainkan robot-robotan nya.


“Kau tidak main dengan teman teman mu di luar?” tanya Riko kepada Markus, Markus nampak berhenti memainkan robot-robotan nya itu dan menggelengkan kepala nya.


“Tidak punya.”


“Tidak main dengan Adara? Bukannya kalian seumuran?” tanya Riko lagi, ia teringat dengan gadis kecil cantik yang tinggal di sebelah rumah ini.


“Adara?” Markus kebingungan, ia tidak tahu tentang Adara.


“Iya, gadis kecil cantik yang tinggal di rumah sebelah. Tapi memang lebih baik tidak bermain dengannya sih, bukan karena bermain dengan perempuan itu merepotkan tapi karena Ayah Adara sangat galak. Kau mungkin tidak suka dengan nya.”


Markus kembali tersenyum, anak kecil itu entah belajar dari mana ia bisa tersenyum miring membuat Riko yang melihatnya agak bergidik ngeri. “Aku tidak takut.”

__ADS_1


“Aku kan lebih tua setahun, seharusnya kau panggil aku Kakak.” Riko mengalihkan pembahasan mereka. Namun Riko melihat Markus menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Tentu saja Markus mana mau menurut memanggil Riko kakak, meski Riko sekarang berstatus sebagai kakak sepupunya itu.


__ADS_2