SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 18


__ADS_3

*Marvel semakin khawatir setelah mendengar perkataan Riko, sudah pasti terjadi sesuatu dengan Milla dan kali ini Marvel tidak akan menunda bunda lagi. Marvel akan menuntaskan masalah ini hari ini juga.


Marvel harus tahu kenapa Milla mendadak bersikap aneh dan juga Marvel akan membuat Milla kembali seperti sebelumnya lagi, ceria. Karena bahagia Milla juga bahagia Riko, sedih Milla pun juga sedih Riko.


***


Marvel memasuki kamar-nya, mendapati Milla sedang duduk bersandar pada kepala ranjang sembari sibuk menatap ponsel-nya. Jika Marvel perhatikan Milla tidak terlihat sakit, wajahnya tidak pucat hanya saja Milla terus diam.


Bahkan saat Marvel memasuki kamar Milla tidak menoleh kearah Marvel, jangan kan menoleh, melirik melalui sudut mata-nya saja tidak.


Marvel mendekati Milla, duduk tepat disebelah Milla yang masih sibuk dengan ponsel-nya.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Marvel kepada Milla. Marvel melihat Milla mematikan ponsel-nya dan beralih menatap balik dirinya.


Milla menoleh tanpa mengatakan apa apa namun Milla dan Marvel saling menatap sebentar, dan saat Milla berusaha mengalihkan pandangan-nya kearah lain saat itu juga Marvel dengan cepat menahan dagu Milla dengan jemari-nya. Membawa kembali Milla untuk menatap mata-nya.


“Apa aku melakukan kesalahan padamu? jika aku melakukan-nya maafkan aku, tapi jangan begini.. aku tidak bisa melihat mu berubah seperti ini. Aku khawatir, Riko pun juga khawatir dengan mu.” Marvel berkata dengan pelan, matanya tak lepas memandang bola mata indah milik Milla.


Milla yang melihat Marvel memperlakukan-nya dengan lembut begini tak bisa menahan air mata-nya, air mata Milla meluruh jatuh ke pipi-nya yang memerah. Dalam hati Milla berkata, bagaimana bisa Marvel sebegitu lembut kepadanya, menatapnya dengan penuh cinta tapi kenyataan-nya di dalam hati Marvel ada wanita lain.


Hal tersebut membuat Milla sedih.


Marvel panik melihat Milla menangis, apa ia salah bicara? Marvel dengan sigap menghapus tiap tetes air mata yang membasahi pipi Milla. Wajah Marvel benar benar menunjukkan kekhawatiran terhadap Milla. “Kenapa kau menangis, apa sebenarnya kesalahan yang telah ku buat hingga kau terluka seperti ini?”


Marvel benar benar tidak mengerti kenapa Milla menangis, Marvel hanya bertanya kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga Milla mendiamkan dirinya tapi reaksi Milla justru membuat Marvel kelabakan. Marvel yakin bahwa dirinya telah menggunakan kalimat yang baik untuk bertanya kepada Milla dan tidak ada kalimat yang sekiranya menyakiti perasaan Milla ataupun menyinggung perasaan wanita itu.


“Kau sebenarnya kenapa?” tanya Marvel sekali lagi, masih dengan nada suara-nya yang lembut. Seolah takut salah bicara dan akan membuat Milla semakin menangis lagi nantinya.


“Kenapa kau tidak pernah mengatakan kepada ku bahwa kau dulu itu pernah memiliki hubungan dengan Clara?” tanya Milla masih dengan air mata yang mengalir membasahi pipi-nya.


Marvel seketika terkejut mendengar pertanyaan Milla, dari mana Milla tahu soal ini? Apa Monica menceritakan-nya kepada Milla?


Tapi Marvel tidak pernah benar benar memiliki hubungan dengan Clara, Marvel hanya pernah berjuang untuk mendapatkan Clara namun ia kalah. Marvel dan Clara tidak pernah menjalin hubungan romantis sedikitpun, Marvel bahkan yakin bahwa Clara tidak pernah sekalipun memandang Marvel lebih dari seorang teman.


“Kau tahu hal itu darimana sayang? Aku dan Clara tidak pernah memiliki hubungan spesial baik di masa lalu ataupun sekarang. Kami hanya teman saja.” Jawab Marvel berusaha untuk tenang.


“Tapi kau mencintainya bukan?”


Marvel kembali mengernyitkan dahi-nya, “Makshd mu?”


“Kau mencintai Clara bukan, baik dulu maupun sekarang. Kau masih mencintai-nya meski kau telah menikah dengan ku.”


Sebenarnya Milla tidak sanggup mengatakan hal ini, Milla takut dengan jawaban Marvel.


“Ba-bagaimana kau bisa— apa hari itu kau mendengar perbincangan ku dengan Damian?” Marvel teringat dengan kejadian yang belum lama ini terjadi, Perdebatan Marvel dengan Damian yang terjadi tepat di depan pintu rumah Damian.


Apa saat pertengkaran itu terjadi Milla keluar dari rumah Juan dan mendengar semuanya?


Milla menganggukkan kepalanya, “Ya, aku mendengar semuanya.”


Marvel dengan cepat menggenggam tangan Milla, jantung Marvel berdetak kencang sekali. Menunjukkan bahwa dirinya merasa sangat takut, takut hal ini akan menimbulkan kesalahpahaman yang lebih parah dan membuat hubungan rumah tangga mereka yang baru seumur jagung itu hancur berantakan.


“Ka-kau harus tahu bahwa aku tidak ada maksud apa apa tentang hal tersebut, aku mencintai mu. Aku tidak akan mungkin mengkhianati dirimu Milla.”


Milla bisa melihat ketakutan dimata Marvel, nada suara Marvel juga bergetar.


“Aku tahu kau mencintai ku Marvel, aku juga tahu kau tidak akan meninggalkan ku. Kau bukan orang seperti itu. Tapi perasaan ku tetap tidak bisa tenang setelah mengetahui bahwa dihati mu ada wanita lain selain diriku.” Milla tidak marah kepada Marvel, Milla lebih kearah marah terhadap dirinya sendiri karena tidak terima bahwa ada wanita lain di hati Marvel.

__ADS_1


Milla merasa malu dan juga merasa egois karena ia benci fakta bahwa Marvel masih memiliki rasa terhadap Clara sedangkan Milla sendiri juga sampai sekarang masih di bayang-bayangi oleh mantan suaminya yang sampai sekarang tidak tahu entah masih hidup atau sudah mati.


"Aku tahu aku salah karena masih memiliki perasaan dengan Clara, tapi kau harus tahu satu hal Milla.. aku amat sangat mencintai mu, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Jadi ku mohon jangan biarkan hubungan kita hancur hanya karena perasaan kecil di dalam hati ku ini. Aku yakin pasti suatu hari nanti perasaan tidak pantas itu akan hilang, dan kau menjadi penghuni satu satunya di hati ku." Marvel mengusap lembut tangan Milla, "Aku hanya butuh waktu, waktu akan membawa perasaan itu pergi."


Marvel bersyukur bahwa Milla tidak begitu memperasalahkan hal ini, Milla hanya merasa tak tenang dan bisa dibilang cemburu. Jika bukan karena sifat Milla yang baik hati mungkin Marvel tidak akan mudah mendapatkan maaf dari Milla atau lebih parah nya lagi Milla bisa saja meminta untuk berpisah.


Tapi mereka berdua saling mencintai, hal sekecil ini tidak akan bisa memisahkan mereka berdua. 


Marvel membawa Milla kedalam pelukan nya, meski Milla telah memaafkan Marvel dan permaslahan mereka ini telah selesai. Marvel tetap tidak bisa tenang lantaran Marvel mulai berpikir hal hal aneh lainnya yang mungkin bisa saja menimpa hubungan rumah tangga Marvel dengan Milla.


Contoh-nya hal yang paling Marvel takuti untuk Milla ketahui, yaitu adalah tentang Gevan, Tentang kematian mantan suami Milla itu.


Jika Milla tahu yang sebenarnya, Marvel yakin hubungan rumah tangganya pasti akan berada diambang kehancuran. Dan Marvel tidak ingin hal itu terjadi.


Maka dari itu Marvel akan merahasiakan tentang hal itu selama lamanya, Milla tidak perlu tahu tentang hal itu. Biarkan yang lalu berlalu, Gevan juga pasti sudah tenang disana melihat bahwa Mila dan Riko hidup bahagia bersama Marvel.


***


Riko tersenyum senang saat melihat Milla sudah bersikap seperti biasanya lagi, tidak terus mengurung diri di kamar dan juga Ibunya itu sudah kembali tersenyum dan berbincang mesra dengan Ayahnya.


Riko senang dengan hal seperti ini, Riko senang melihat Marvel dan Milla kembali seperti semula. Karena awalnya Riko sudah takut bahwa ia akan dalam masalah, takut bahwa ia akan kehilangan sosok Ayah lagi jika Ibunya terus saja mendiamkan Ayahnya seperti sebelumnya.


“Bagaimana PR mu Riko apa sudah selesai semua, apa ada yang sulit?" Milla bertanya kepada Riko, Milla merasa bersalah karena sebelumnya ia tidak bisa menemani Riko mengerjakan PR nya, Riko pasti merasa kesulitan dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa karena Milla terus mengurung diri di dalam kamar saat Riko sedang mengerjakan PR-nya.


Riko masih dengan senyum riangnya menggelengkan kepala, “Riko bisa kerjakan semuanya kok Ma, Riko kan sudah besar. Sudah bisa kerjakan PR sendiri.”


Melihat senyum riang putranya Milla juga ikut tersenyum, putranya itu semakin hari semakin bertambah pintar saja dan juga semakin dewasa dalam bertindak dan juga dalam berpikir. Milla benar benar bangga memiliki anak seperti Riko.


Memikirkan soal anak, Milla juga ingin memiliki anak dari Marvel, Riko juga pasti senang jika memiliki adik. Rumah akan menjadi ramai.


***


*Marvel semakin khawatir setelah mendengar perkataan Riko, sudah pasti terjadi sesuatu dengan Milla dan kali ini Marvel tidak akan menunda bunda lagi. Marvel akan menuntaskan masalah ini hari ini juga.


Marvel harus tahu kenapa Milla mendadak bersikap aneh dan juga Marvel akan membuat Milla kembali seperti sebelumnya lagi, ceria. Karena bahagia Milla juga bahagia Riko, sedih Milla pun juga sedih Riko.


***


Marvel memasuki kamar-nya, mendapati Milla sedang duduk bersandar pada kepala ranjang sembari sibuk menatap ponsel-nya. Jika Marvel perhatikan Milla tidak terlihat sakit, wajahnya tidak pucat hanya saja Milla terus diam.


Bahkan saat Marvel memasuki kamar Milla tidak menoleh kearah Marvel, jangan kan menoleh, melirik melalui sudut mata-nya saja tidak.


Marvel mendekati Milla, duduk tepat disebelah Milla yang masih sibuk dengan ponsel-nya.


“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Marvel kepada Milla. Marvel melihat Milla mematikan ponsel-nya dan beralih menatap balik dirinya.


Milla menoleh tanpa mengatakan apa apa namun Milla dan Marvel saling menatap sebentar, dan saat Milla berusaha mengalihkan pandangan-nya kearah lain saat itu juga Marvel dengan cepat menahan dagu Milla dengan jemari-nya. Membawa kembali Milla untuk menatap mata-nya.


“Apa aku melakukan kesalahan padamu? jika aku melakukan-nya maafkan aku, tapi jangan begini.. aku tidak bisa melihat mu berubah seperti ini. Aku khawatir, Riko pun juga khawatir dengan mu.” Marvel berkata dengan pelan, matanya tak lepas memandang bola mata indah milik Milla.


Milla yang melihat Marvel memperlakukan-nya dengan lembut begini tak bisa menahan air mata-nya, air mata Milla meluruh jatuh ke pipi-nya yang memerah. Dalam hati Milla berkata, bagaimana bisa Marvel sebegitu lembut kepadanya, menatapnya dengan penuh cinta tapi kenyataan-nya di dalam hati Marvel ada wanita lain.


Hal tersebut membuat Milla sedih.


Marvel panik melihat Milla menangis, apa ia salah bicara? Marvel dengan sigap menghapus tiap tetes air mata yang membasahi pipi Milla. Wajah Marvel benar benar menunjukkan kekhawatiran terhadap Milla. “Kenapa kau menangis, apa sebenarnya kesalahan yang telah ku buat hingga kau terluka seperti ini?”


Marvel benar benar tidak mengerti kenapa Milla menangis, Marvel hanya bertanya kesalahan apa yang telah ia lakukan sehingga Milla mendiamkan dirinya tapi reaksi Milla justru membuat Marvel kelabakan. Marvel yakin bahwa dirinya telah menggunakan kalimat yang baik untuk bertanya kepada Milla dan tidak ada kalimat yang sekiranya menyakiti perasaan Milla ataupun menyinggung perasaan wanita itu.

__ADS_1


“Kau sebenarnya kenapa?” tanya Marvel sekali lagi, masih dengan nada suara-nya yang lembut. Seolah takut salah bicara dan akan membuat Milla semakin menangis lagi nantinya.


“Kenapa kau tidak pernah mengatakan kepada ku bahwa kau dulu itu pernah memiliki hubungan dengan Clara?” tanya Milla masih dengan air mata yang mengalir membasahi pipi-nya.


Marvel seketika terkejut mendengar pertanyaan Milla, dari mana Milla tahu soal ini? Apa Monica menceritakan-nya kepada Milla?


Tapi Marvel tidak pernah benar benar memiliki hubungan dengan Clara, Marvel hanya pernah berjuang untuk mendapatkan Clara namun ia kalah. Marvel dan Clara tidak pernah menjalin hubungan romantis sedikitpun, Marvel bahkan yakin bahwa Clara tidak pernah sekalipun memandang Marvel lebih dari seorang teman.


“Kau tahu hal itu darimana sayang? Aku dan Clara tidak pernah memiliki hubungan spesial baik di masa lalu ataupun sekarang. Kami hanya teman saja.” Jawab Marvel berusaha untuk tenang.


“Tapi kau mencintainya bukan?”


Marvel kembali mengernyitkan dahi-nya, “Makshd mu?”


“Kau mencintai Clara bukan, baik dulu maupun sekarang. Kau masih mencintai-nya meski kau telah menikah dengan ku.”


Sebenarnya Milla tidak sanggup mengatakan hal ini, Milla takut dengan jawaban Marvel.


“Ba-bagaimana kau bisa— apa hari itu kau mendengar perbincangan ku dengan Damian?” Marvel teringat dengan kejadian yang belum lama ini terjadi, Perdebatan Marvel dengan Damian yang terjadi tepat di depan pintu rumah Damian.


Apa saat pertengkaran itu terjadi Milla keluar dari rumah Juan dan mendengar semuanya?


Milla menganggukkan kepalanya, “Ya, aku mendengar semuanya.”


Marvel dengan cepat menggenggam tangan Milla, jantung Marvel berdetak kencang sekali. Menunjukkan bahwa dirinya merasa sangat takut, takut hal ini akan menimbulkan kesalahpahaman yang lebih parah dan membuat hubungan rumah tangga mereka yang baru seumur jagung itu hancur berantakan.


“Ka-kau harus tahu bahwa aku tidak ada maksud apa apa tentang hal tersebut, aku mencintai mu. Aku tidak akan mungkin mengkhianati dirimu Milla.”


Milla bisa melihat ketakutan dimata Marvel, nada suara Marvel juga bergetar.


“Aku tahu kau mencintai ku Marvel, aku juga tahu kau tidak akan meninggalkan ku. Kau bukan orang seperti itu. Tapi perasaan ku tetap tidak bisa tenang setelah mengetahui bahwa dihati mu ada wanita lain selain diriku.” Milla tidak marah kepada Marvel, Milla lebih kearah marah terhadap dirinya sendiri karena tidak terima bahwa ada wanita lain di hati Marvel.


Milla merasa malu dan juga merasa egois karena ia benci fakta bahwa Marvel masih memiliki rasa terhadap Clara sedangkan Milla sendiri juga sampai sekarang masih di bayang-bayangi oleh mantan suaminya yang sampai sekarang tidak tahu entah masih hidup atau sudah mati.


"Aku tahu aku salah karena masih memiliki perasaan dengan Clara, tapi kau harus tahu satu hal Milla.. aku amat sangat mencintai mu, aku tidak ingin kehilangan dirimu. Jadi ku mohon jangan biarkan hubungan kita hancur hanya karena perasaan kecil di dalam hati ku ini. Aku yakin pasti suatu hari nanti perasaan tidak pantas itu akan hilang, dan kau menjadi penghuni satu satunya di hati ku." Marvel mengusap lembut tangan Milla, "Aku hanya butuh waktu, waktu akan membawa perasaan itu pergi."


Marvel bersyukur bahwa Milla tidak begitu memperasalahkan hal ini, Milla hanya merasa tak tenang dan bisa dibilang cemburu. Jika bukan karena sifat Milla yang baik hati mungkin Marvel tidak akan mudah mendapatkan maaf dari Milla atau lebih parah nya lagi Milla bisa saja meminta untuk berpisah.


Tapi mereka berdua saling mencintai, hal sekecil ini tidak akan bisa memisahkan mereka berdua. 


Marvel membawa Milla kedalam pelukan nya, meski Milla telah memaafkan Marvel dan permaslahan mereka ini telah selesai. Marvel tetap tidak bisa tenang lantaran Marvel mulai berpikir hal hal aneh lainnya yang mungkin bisa saja menimpa hubungan rumah tangga Marvel dengan Milla.


Contoh-nya hal yang paling Marvel takuti untuk Milla ketahui, yaitu adalah tentang Gevan, Tentang kematian mantan suami Milla itu.


Jika Milla tahu yang sebenarnya, Marvel yakin hubungan rumah tangganya pasti akan berada diambang kehancuran. Dan Marvel tidak ingin hal itu terjadi.


Maka dari itu Marvel akan merahasiakan tentang hal itu selama lamanya, Milla tidak perlu tahu tentang hal itu. Biarkan yang lalu berlalu, Gevan juga pasti sudah tenang disana melihat bahwa Mila dan Riko hidup bahagia bersama Marvel.


***


Riko tersenyum senang saat melihat Milla sudah bersikap seperti biasanya lagi, tidak terus mengurung diri di kamar dan juga Ibunya itu sudah kembali tersenyum dan berbincang mesra dengan Ayahnya.


Riko senang dengan hal seperti ini, Riko senang melihat Marvel dan Milla kembali seperti semula. Karena awalnya Riko sudah takut bahwa ia akan dalam masalah, takut bahwa ia akan kehilangan sosok Ayah lagi jika Ibunya terus saja mendiamkan Ayahnya seperti sebelumnya.


“Bagaimana PR mu Riko apa sudah selesai semua, apa ada yang sulit?" Milla bertanya kepada Riko, Milla merasa bersalah karena sebelumnya ia tidak bisa menemani Riko mengerjakan PR nya, Riko pasti merasa kesulitan dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa karena Milla terus mengurung diri di dalam kamar saat Riko sedang mengerjakan PR-nya.


Riko masih dengan senyum riangnya menggelengkan kepala, “Riko bisa kerjakan semuanya kok Ma, Riko kan sudah besar. Sudah bisa kerjakan PR sendiri.”

__ADS_1


Melihat senyum riang putranya Milla juga ikut tersenyum, putranya itu semakin hari semakin bertambah pintar saja dan juga semakin dewasa dalam bertindak dan juga dalam berpikir. Milla benar benar bangga memiliki anak seperti Riko.


Memikirkan soal anak, Milla juga ingin memiliki anak dari Marvel, Riko juga pasti senang jika memiliki adik. Rumah akan menjadi ramai.


__ADS_2