
Marvel membuka pintu rumahnya, berniat berangkat menuju tempatnya bekerja. Namun melihat adanya Milla yang tengah menjemur pakaian disebelah membuat langkah Marvel terhenti.
Marvel melirik gerak gerik Milla, Marvel bingung harus meminta maaf pada Milla dan bertanya kebenarannya atau melupakan semuanya saja.
Jika Marvel bertanya itu mungkin akan melukai harga diri Milla sebagai seorang wanita, namun jika Marvel tidak bertanya ia akan semakin kepikiran tentang hal itu.
Marvel juga merasa tidak tega disatu sisi, namun juga merasa marah. Jika memang Milla melakukan itu demi Riko, kenapa? Kenapa harus hal itu?
Kenapa Milla tidak mencoba jalan lain saja, meminjam uang padanya juga pasti akan ia berikan, jika tujuannya baik.
Marvel bukan orang pelit yang akan meminjamkan uang kepada orang yang sedang butuh dengan bunga yang besar, Marvel tidak akan meminta bunga apalagi meminta kembali uangnya jika Milla memang membutuhkannya untuk Riko.
Marvel menggelengkan kepalanya, sedikit berlari menuju mobilnya sebelum akhirnya masuk kedalam.
Marvel mencengkram stir mobil erat erat, lagi lagi setets air mata jatuh dari matanya.
***
Riko memandang bingung Milla yang tengah mempersiapkan peralatan, entah peralatan apa itu yang tidak Riko mengerti sama sekali.
“Mama mau apa?” Riko mengutarakan apa yang dipikirkannya, sungguh melihat Milla mondar mandir membuatnya pusing.
Milla berhenti sejenak, tersenyum pada putranya itu. “Mama mau buka usaha sayang, kita akan jualan kue kering.”
Riko mengernyitkan alisnya tidak mengerti, namun ia tetap diam memperhatikan Milla. Meski sesekali menawarkan bantuan pada Ibunya itu namun justru dibalas tolakan halus, Milla justru menyuruhnya untuk duduk manis saja.
Riko merasa bosan jika hanya menonton saja. Riko menilik kearah sebelah rumahnya, pintu rumah Marvel tertutup rapat, sepertinya Marvel sedang tidak ada di rumah saat ini.
__ADS_1
Padahal Riko sedang ingin mengajak Marvel bermain bersamanya, Marvel adalah temannya satu satunya. Teman satu satunya yang mau berbagi mainan dengannya, teman yang satu satunya bersikap sangat hangat padanya.
Entah mengapa saat bersama dengan Marvel, Riko seolah sedang bersama dengan Ayahnya. Meski Riko tahu betul kalau Marvel hanyalah tetangga baik hati yang mau bermain dengannya, namun tetap saja Marvel dapat membuat Riko seolah lupa bahwa Ayahnya sudah sangat lama tidak pulang.
Marvel membuat Riko melupakan kesedihannya akan sang Ayah.
Keinginan Riko terkabul oleh Marvel, Riko sejak dulu ingin dibelikan mainan oleh Ayahnya dan dibawa pergi jalan jalan keluar. Namun justru Marvel lah yang melakukan itu, Marvel membelikannya mobil mobilan dan mengajaknya pergi makan di restaurant.
***
Marvel turun dari motornya, kali ini Marvel tidak menggunakan mobil. Sengaja ia meninggalkan mobilnya dirumah kakaknya, ia sudah lama tidak menunggangi motornya tersebut.
Marvel melepas helm nya dan merapihkan rambutnya yang berantakkan, saat sedang berkaca di kaca spion Marvel melirik ke arah Milla yang tengah berjalan melewatinya dengan plastik belanjaan yang begitu banyak.
“Om Mapel!” seru Riko bersemangat, Riko yang memang tidak melihat Marvel sejak pagi merasa senang karna akhirnya Marvel muncul juga dihadapannya.
“Habis dali pasal, Om.”
Marvel menganggukkan kepalanya mengerti, Marvel melihat Milla yang tampak kerepotan dengan plastik plastik yang dibawanya.
Marvel dengan gerakan cepat mengambil alih plastik plastik itu, membuat Milla berjengit kaget. “Eh tidak perlu repot-repot.”
“sudah.. tidak apa apa, biarkan saya melakukan ini sebagai rasa penyesalan saya atas perlakuan saya ke kamu dua hari yang lalu.” Ujar Marvel dengan nada menyesal.
Milla hanya mengangguk canggung seraya melirik Riko, semoga Riko tidak bertanya yang aneh aneh karna rasa penasarannya soal kata dua hari kemarin dari Marvel.
Riko berjalan mendahului Marvel dan Milla, Riko mendadak ingin buang air kecil. Padahal Riko sangat ingin mengajak Marvel bermain bersamanya, namun rasa ingin buang air kecilnya tidak dapat tertahankan sehingga Riko mengesampingkan keinginannya tersebut, itu bisa dilakukan nanti.
__ADS_1
Marvel melihat Riko berlari masuk kedalam rumah, ketika Riko benar benar sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya, Marvel berhenti melangkah dan berbalik memandang Milla yang sejak tadi berada dibelakangnya.
“Maafkan sikap ku kemarin, aku terlalu ikut campur urusan mu.” Marvel tersenyum canggung, “Sikap ku kemarin juga sangat tidak sopan, aku menyesalinya.”
Milla menggelengkan kepalanya, “Jangan merasa bersalah seperti itu, tidak usah di pikirkan.”
Marvel berdeham pelan, menatap serius Milla tepat dimatanya. “Jika kau butuh sesuatu atau yang lainnya, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku.” Marvel tersenyum hingga matanya menyipit, “Anggap saja kita ini teman yang selalu saling membantu, jangan paksakan dirimu lagi. Jangan buat Riko tumbuh besar dengan uang yang tidak baik asal usulnya.”
Milla terdiam, tidak mampu untuk sekedar membalas perkataan Marvel baik melalui tindakan ataupun perkataan.
“Bukan kah kamu sudah terlalu jauh?”
Marvel mengernyit tidak mengerti akan apa yang Milla maksudkan, “Maksud mu?” Marvel mengutarakan pertanyaan yang melintas di pikirannya.
“Membantu ku berkali kali, memberikan Riko hadiah, bukan kah itu terlalu jauh? Kita bukanlah orang yang saling dekat, aku bahkan tidak mengenalmu selain hanya nama mu saja. Tidak kah aneh jika kamu terus membantu ku?”
Marvel menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan apa yang Milla katakan, “Membantu seseorang itu tidak harus selalu di landasi kata mengenal, saat kita memberikan bantuan pada orang yang ke sulitan apakah kita harus tahu siapa dia, asalnya dan segala hal tentang dia? Bagi ku tidak.”
Milla menghela nafas berat, “Tapi sikap baik mu itu membuatku tertekan, aku benci mengakui bahwa aku ini lemah, aku benci mengakui bahwa aku bukanlah Ibu yang baik untuk anak ku, aku tidak bisa menerimanya, hati ku bagai tercabik setiap kali menyadari bahwa aku begitu menyedihkan.”
Marvel menggelengkan kepalanya, tidak setuju lagi dengan perkataan Milla. “Apa kamu lebih mementingkan ego dan perasaan mu itu dibandingkan perasaan dan juga masa depan Riko, jangan buat Riko memikul beban berat saat dia besar nanti. Ketika ia tahu kalau kamu seperti ini, dia hanya akan merasa terpuruk dan merasa menjadi sumber masalah yang membuatmu jadi seperti itu.”
Milla kembali menghela nafas berat, sejenak ia memejamkan mata sebelum akhirnya kembali mendongak menatap Marvel, “Lupakan saja pembicaraan kita hari ini, jangan ungkit ungkit lagi.”
Milla melangkah menuju rumah mendahului Marvel, Milla berusaha untuk terlihat tenang walau hatinya begitu berkecamuk.
Kenapa, kenapa Marvel harus sebaik ini kepadanya dan juga Riko? Milla tidak ingin salah paham, Milla tidak ingin dirinya memiliki perasaan lebih terhadap Marvel karna kebaikan kebaikan yang Marvel berikan.
__ADS_1
Milla takut, ia takut jika dirinya benar benar jatuh hati pada Marvel yang jelas jelas hanya orang baru yang tidak Milla kenali dengan baik, Milla punya suami meski suami nya entah dimana tetap saja Milla harus menjaga perasaannya.