SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SIDE STORY : MARVEL XVIII


__ADS_3

Hari ini Milla menemani istri Juan di rumah, lantaran Juan harus berkerja dan Monica harus kuliah. Tidak ada yang bisa menemani Helena selain Milla, bahkan mertua mereka saja tidak bisa dengan alasan ada urusan penting.


Milla tidak merasa keberatan sama sekali untuk menemani Helena, karena Milla sendiri tidak punya kesibukan. Biasanya ia akan menghabiskan waktu dengan Riko sementara Marvel berkerja tapi Riko sudah mulai bersekolah sehingga tidak ada lagi hal yang bisa Milla lakukan.


Lagi pula mendekatkan diri dengan keluarga Marvel adalah hal yang harus Milla lakukan, bagaimana pun keluarga Marvel adalah keluarganya juga.


“Ada yang kak Helena inginkan?” tanya Milla kepada Helena, ia membantu Helena untuk menuruni anak tangga perlahan lahan. Kehamilan Helena sudah tua, hanya tinggal menunggu hari melahirkan sehingga Helena sulit untuk bergerak bebas. Belum lagi dengan kondisi Helena yang memang sejak kecil sakit sakitan membuatnya semakin kesulitan.


“Tidak apa apa, aku hanya ingin duduk di sofa. Terus tidur dikamar itu membosankan.” Helena menggenggam tangan Milla erat erat yang tengah membantunya, benar benar bersyukur dengan keberadaan Milla yang menemaninya.


Jika tidak ada Milla mungkin Helena akan sendirian, karena Juan tidak akan pernah mau meninggalkan pekerjaannya untuk apapun. Helena saja tidak tahu apa saat ia melahirkan nanti apa Juan akan datang dan menemaninya saat melahirkan nanti.


Helena dan Milla duduk berdua di sofa, mulai berbincang banyak hal.


“Apa kau sudah ada rencana untuk punya anak kedua?” tanya Helena kepada Milla, pipi Milla sontak memerah ditanyai hal itu.


Milla menganggukkan kepala nya, “Marvel sudah mengatakan bahwa dia ingin memberi adik untuk Riko. Aku juga menginginkannya, tapi kalau di pikir pikir Riko masih kecil dan kami belum cukup memanjakannya.”


“Kelihatannya kalian bahagia sekali ya.” tutur Helena, dari nada suaranya ia terdengar sedikit sedih. Milla yang melihatnya entah kenapa bisa merasakan kesedihan Helena.

__ADS_1


“Kak Helena tidak apa apa?” dengan ragu Milla bertanya, takut menyinggung Helena atau membuat mood wanita hamil itu semakin memburuk.


Helena menggelengkan kepalanya, ia tersenyum getir kepada Milla. “Seandainya Juan mendapat sedikit saja sifat baik dari Marvel mungkin sekarang ini aku sedang bersamanya. Tapi tidak ada yang penting bagi Juan selain perkerjaannya.”


Milla meraih tangan Helena, mengusap tangan kakak iparnya itu dengan lembut. “Kak Juan berkerja juga untuk Kak Helena dan anak kalian berdua, jika Kak Juan benar benar tidak perduli dengan Kak Helena. Kak Juan tidak akan mungkin meminta ku datang untuk menemani Kak Helena bukan?”


Helena paham bahwa maksud Milla bertanya seperti itu untuk menghibur dirinya, namun tetap saja hal tersebut tidak bisa membuat Helena tenang. Karena Helena tahu betul bahwa Juan meminta Milla untuk datang ke rumah ini semata mata karena ingin anak yang berada di dalam kandungan Helena tetap aman. Bukan karena Juan perduli kepadanya.


“Jam berapa Riko pulang sekolah?” Helena mencoba mengganti topik perbincangan.


Milla melirik jam yang bergantung di dinding, “2 jam lagi dia akan pulang, Marvel yang akan menjemputnya dan mengantarnya kemari karena dirumah tidak ada orang.”


“Maaf ya karena aku kalian jadi kesulitan.”


Karena dahulu saat Milla menikah dengan Gevan, tidak ada satupun saudara Gevan yang bisa Milla dekati. Dengan adanya Helena membuat Milla menjadi merasakan apa yang dulu belum pernah ia rasakan.


Milla juga berharap ia bisa dekat dengan mertua nya nanti.


***

__ADS_1


Damian mengerutkan alisnya ketika ia melihat keluar rumah melalui jendela, Damian kembali melihat sosok yang sampai saat ini masih tidak ia sukai.


Damian melihat Marvel yang baru saja turun dari mobil bersama seorang bocah laki laki. Kemarin Clara sempat menceritakan kepada Damian bahwa anak itu adalah anak tiri Marvel.


Meski telah mengetahui bahwa Marvel kini tidak lagi lajang tetap saja itu tidak bisa membuat Damian tenang, bagaimanapun Damian ingat dengan jelas bagaimana Marvel dahulu sangat mencintai Clara dan rela mengorbankan apapun demi cinta Clara.


Meski Marvel sudah berumah tangga bukan berarti Damian bisa mempercayai Marvel, bisa saja Marvel masih memiliki rasa dengan Clara bukan? Sebut saja dirinya terlalu posesif atau apapun itu. Damian seperti ini karena cintanya kepada Clara.


“Apa yang sedang kau lihat dari jendela?” Clara bertanya kepada Damian sembari menyiapkan makan siang di meja makan. “Kemarilah, bukan kah kau harus segera kembali ke kantor nanti?”


Damian beralih memandang Clara dan tersenyum, ia melangkah menuju meja makan dimana Clara dan kedua anak mereka sudah siap untuk makan siang bersama.


“Apa tidak menyusahkan pulang ke rumah hanya untuk makan siang, kau kan bisa makan siang disana. Tidak perlu jauh jauh kembali ke rumah.” Clara menyendokkan makanan untuk Damian, sebenarnya Clara senang bahwa Damian selalu menyempatkan diri untuk makan siang di rumah namun Clara khawatir jika hal seperti hanya akan membuat Damian lebih lelah saja.


“Tidak apa apa, aku melakukan in karena aku memang ingin. Kau tidak perlu khawatir.” Damian mengambil piring berisi makanan yang diserahkan Clara kepadanya. “Aku juga akan mengusahakan untuk bisa pulang cepat agar bisa membantu mu menjaga anak anak kita.”


Clara melirik Damian dengan tatapan selidik, “Kau benar benar melakukannya karena ingin membantu ku atau karena kau menjadi gelisah karena Marvel akhir akhir ini sering mengunjungi Juan?”


Damian terdiam, dan hal itu membuat Clara berdecak.

__ADS_1


“Kau tidak perlu berpikir yang aneh aneh, aku sudah menjadi istri mu. Kita bahkan sudah memiliki dua anak bersama, apalagi yang harus kau khawatirkan? lagi pula Marvel sudah bahagia dengan keluarga barunya, jangan membuat sesuatu hal yang seharusnya hal baik menjadi masalah diantara kita.”


Damian hanya terdiam dan menganggukkan kepalanya, ia tidak ingin bertengkar dengan Clara hanya karena masalah ini.


__ADS_2