
*Damian berada di rumah karena menggantikan Clara untuk menjaga anak anak mereka sementara Clara ikut pergi ke pemakaman Helena. Tapi laki laki yang berstatus sebagai suami Helena itu justru sedang sibuk memasukkan koper ke dalam bagasi mobil nya seolah olah akan kabur.
“Aku mencium bau keributan, keluarga mereka memang selalu saja mencari masalah. Ini alasan kenapa aku benci bertetangga dengan merekam” tukas Damian pelan, berbalik menjauh dari jendela. Damian memilih kembali menaruh perhatian nya kepada putri sulung kesayangan nya tengah terlelap pulas setelah makan sampai kenyang.
***
Gila.
Itu lah kata yang bisa Marvel sebut untuk mendeskripsikan tentang kakak laki laki nya yang bernama Juan itu.
Bagaimana Marvel tidak menyebut Juan gila, Istri Juan baru saja meninggal karena melahirkan namun Juan justru pergi menghilang dan hanya meninggalkan sepucuk surat bertuliskan.
***Aku pergi sebentar, tolong urus Viola baik baik selama aku tidak ada.
Juan***.
Marvel kesal sekali, Juan seolah tidak bertanggung jawab. Bukan hanya meninggalkan pekerjaan nya dan melimpahkan nya kepada Marvel tapi juga meninggalkan anak perempuan nya yang baru berumur 2 hari.
Benar benar gila, ada urusan apa memang nya sampai sampai Juan bertindak seperti ini?
“Jadi nama anak Kak Juan Viola?” Milla muncul di belakang Marvel, mengintip membaca surat yang Marvel pegang, surat yang Juan tinggal kan.
“Meski Kak Juan terlihat tidak perduli, kak Juan tetap menuruti keinginan Kak Helena untuk memberi nama anak mereka Viola jika yang lahir adalah anak perempuan.” Monica yang duduk di sofa bersuara, membuat perhatian Marvel dan Milla teralihkan kepada gadis itu. “Entah itu karena Kakak memang ingin menuruti keinginan Kak Helena atau karena Kak Juan tidak mau pusing pusing mencari nama lain.”
***
Sudah 2 bulan lama nya Juan pergi tanpa ada nya kabar, Viola juga yang berusia 2 bulan di jaga oleh Milla karena Monica tidak mengerti mengurus anak kecil, terlebih lagi Viola itu harus diberikan perhatian lebih karena kondisi kesehatan nya yang tidak sama dengan anak anak seusia nya.
Viola terlahir sama seperti Ibu nya, terlahir dengan tubuh lemah. Mudah sakit, baru berusia 2 bulan saja sudah tak terhitung berapa kali Milla membawa Viola ke rumah sakit.
“Kali ini masih tidak juga ada kabar?” tanya Milla kepada Marvel, dalam gendongan Milla ada Viola yang tengah menangis.
Marvel menggelengkan kepala nya sebagai jawaban, sudah berkali kali berusaha menghubungi nomer telepon Juan namun tidak sekalipun telepon nya tersambung.
“Apa dia baik baik saja?” tanya Milla lagi, khawatir kepada kakak ipar nya itu. Jangan jangan terjadi sesuatu kepada Juan sehingga ia tidak bisa menelepon dan juga tidak bisa kembali.
Marvel mengangkat bahu nya pertanda bahwa ia tidak tahu, perhatian Marvel beralih kepada Viola yang berada di gendongan Milla. “Aku tidak perduli Kak Juan sedang apa atau bagaimana keadaan nya, yang pasti Kak Juan harus kembali. Viola membutuhkan nya.”
Rasa nya Marvel tidak tahan lagi, jika ia terus berdiam saja melihat Juan yang seakan tak perduli dengan Viola dan juga perusahaan. Marvel harus turun tangan dan mencari Juan, Juan harus kembali atau Marvel akan menyeret nya kembali dengan paksa.
Marvel kembali beralih pada ponsel pintar nya, men-dial nomer dari salah satu orang kepercayaan nya, yang Marvel yakin bisa melacak keberadaan Juan dan menyelidiki nya sedalam mungkin.
“Tolong selidiki dimana keberadaan Kakak ku, Juan. Berada sekarang, lakukan secepat mungkin.” Marvel mematikan sambungan telepon itu saat orang kepercayaan nya itu menyanggupi tugas dari Marvel dan akan segera mengirim hasil pekerjaan nya kepada Marvel.
***
Damian berdecak saat ia pulang kerja dan melihat ke rumah Juan bahwa Marvel dan istri nya ada disana. semenjak Juan pergi, Damian menjadi semakin sering melihat Marvel disekitar rumah nya.
Belum lagi Clara dan Milla kelihatan semakin dekat, bukan sekali dua kali Clara membantu Milla untuk mengurus Riko sementara Milla sibuk dengan Viola yang butuh perhatian yang sangat ekstra.
Dan hal itu lah yang paling Damian benci, saat Riko dibawa oleh Clara ke rumah mereka untuk bermain bersama Adara dan Lucas. Terlebih lagi Riko selalu saja mem-bangga banggakan Marvel di depan Clara.
Ah, benar benar menjengkelkan.
__ADS_1
“Papa pulaangg!!”
Seperti biasa, kepulangan Damian disambut ceria oleh Adara, putri sulung nya. “Anak Papa yang paling cantik, sudah makan malam belum?”
Adara menggelengkan kepala nya, merentangkan tangan kecil nya seolah memerintah Damian untuk segera menggendong nya.
Damian dengan sigap menggendong Adara, memberi kecupan lembut di pipi gembul putri kesayangan nya itu.
***
“Kau tidak sedang bercanda bukan?!” Marvel, meninggikan nada bicara nya kepada lawan bicara nya melalui telepon. Benar benar tidak menyangka dengan informasi apa yang baru saja ia dapat kan.
“Saya mengatakan yang sebenar nya Tuan.” ujar lawan bicara Marvel itu melalui sambungan telepon, untuk apa ia berbohong toh tidak ada untung nya juga.
“Baiklah terima kasih, akan ku kirim bayaran mu secepat nya.” Marvel menutup telepon tersebut, kembali menfokuskan dirinya pada foto foto yang ia dapat.
Semua foto itu adalah foto Juan, ya, Informasi yang baru saja Marvel dapat kan itu adalah informasi tentang Juan.
Kali ini amarah Marvel benar benar tersulut, bagaimana tidak, Juan yang pergi dari rumah hampir 2 bulan lebih itu ternyata justru sibuk mengejar cinta masa lalu nya.
Benar benar laki laki brengsek, meninggalkan putri nya yang sakit sakitan untuk bisa bersama dengan mantan kekasih nya dahulu sebelum menikah dengan Helena.
Terlebih lagi, ada satu informasi lagi yang membuat kepada Marvel semakin sakit bukan kepalang. Kenyataan bahwa Juan memiliki anak dengan mantan kekasih nya itu.
Anak laki laki yang wajah nya sangat persis dengan Juan, benar benar copyan Juan.
“Dasar Kakak gila, istri mu belum lama ini meninggal dan kau sudah menemukan pengganti nya saja. Benar benar tidak punya hati.”
***
*Damian berada di rumah karena menggantikan Clara untuk menjaga anak anak mereka sementara Clara ikut pergi ke pemakaman Helena. Tapi laki laki yang berstatus sebagai suami Helena itu justru sedang sibuk memasukkan koper ke dalam bagasi mobil nya seolah olah akan kabur.
“Aku mencium bau keributan, keluarga mereka memang selalu saja mencari masalah. Ini alasan kenapa aku benci bertetangga dengan merekam” tukas Damian pelan, berbalik menjauh dari jendela. Damian memilih kembali menaruh perhatian nya kepada putri sulung kesayangan nya tengah terlelap pulas setelah makan sampai kenyang.
***
Gila.
Itu lah kata yang bisa Marvel sebut untuk mendeskripsikan tentang kakak laki laki nya yang bernama Juan itu.
Bagaimana Marvel tidak menyebut Juan gila, Istri Juan baru saja meninggal karena melahirkan namun Juan justru pergi menghilang dan hanya meninggalkan sepucuk surat bertuliskan.
***Aku pergi sebentar, tolong urus Viola baik baik selama aku tidak ada.
Juan***.
Marvel kesal sekali, Juan seolah tidak bertanggung jawab. Bukan hanya meninggalkan pekerjaan nya dan melimpahkan nya kepada Marvel tapi juga meninggalkan anak perempuan nya yang baru berumur 2 hari.
Benar benar gila, ada urusan apa memang nya sampai sampai Juan bertindak seperti ini?
“Jadi nama anak Kak Juan Viola?” Milla muncul di belakang Marvel, mengintip membaca surat yang Marvel pegang, surat yang Juan tinggal kan.
“Meski Kak Juan terlihat tidak perduli, kak Juan tetap menuruti keinginan Kak Helena untuk memberi nama anak mereka Viola jika yang lahir adalah anak perempuan.” Monica yang duduk di sofa bersuara, membuat perhatian Marvel dan Milla teralihkan kepada gadis itu. “Entah itu karena Kakak memang ingin menuruti keinginan Kak Helena atau karena Kak Juan tidak mau pusing pusing mencari nama lain.”
__ADS_1
***
Sudah 2 bulan lama nya Juan pergi tanpa ada nya kabar, Viola juga yang berusia 2 bulan di jaga oleh Milla karena Monica tidak mengerti mengurus anak kecil, terlebih lagi Viola itu harus diberikan perhatian lebih karena kondisi kesehatan nya yang tidak sama dengan anak anak seusia nya.
Viola terlahir sama seperti Ibu nya, terlahir dengan tubuh lemah. Mudah sakit, baru berusia 2 bulan saja sudah tak terhitung berapa kali Milla membawa Viola ke rumah sakit.
“Kali ini masih tidak juga ada kabar?” tanya Milla kepada Marvel, dalam gendongan Milla ada Viola yang tengah menangis.
Marvel menggelengkan kepala nya sebagai jawaban, sudah berkali kali berusaha menghubungi nomer telepon Juan namun tidak sekalipun telepon nya tersambung.
“Apa dia baik baik saja?” tanya Milla lagi, khawatir kepada kakak ipar nya itu. Jangan jangan terjadi sesuatu kepada Juan sehingga ia tidak bisa menelepon dan juga tidak bisa kembali.
Marvel mengangkat bahu nya pertanda bahwa ia tidak tahu, perhatian Marvel beralih kepada Viola yang berada di gendongan Milla. “Aku tidak perduli Kak Juan sedang apa atau bagaimana keadaan nya, yang pasti Kak Juan harus kembali. Viola membutuhkan nya.”
Rasa nya Marvel tidak tahan lagi, jika ia terus berdiam saja melihat Juan yang seakan tak perduli dengan Viola dan juga perusahaan. Marvel harus turun tangan dan mencari Juan, Juan harus kembali atau Marvel akan menyeret nya kembali dengan paksa.
Marvel kembali beralih pada ponsel pintar nya, men-dial nomer dari salah satu orang kepercayaan nya, yang Marvel yakin bisa melacak keberadaan Juan dan menyelidiki nya sedalam mungkin.
“Tolong selidiki dimana keberadaan Kakak ku, Juan. Berada sekarang, lakukan secepat mungkin.” Marvel mematikan sambungan telepon itu saat orang kepercayaan nya itu menyanggupi tugas dari Marvel dan akan segera mengirim hasil pekerjaan nya kepada Marvel.
***
Damian berdecak saat ia pulang kerja dan melihat ke rumah Juan bahwa Marvel dan istri nya ada disana. semenjak Juan pergi, Damian menjadi semakin sering melihat Marvel disekitar rumah nya.
Belum lagi Clara dan Milla kelihatan semakin dekat, bukan sekali dua kali Clara membantu Milla untuk mengurus Riko sementara Milla sibuk dengan Viola yang butuh perhatian yang sangat ekstra.
Dan hal itu lah yang paling Damian benci, saat Riko dibawa oleh Clara ke rumah mereka untuk bermain bersama Adara dan Lucas. Terlebih lagi Riko selalu saja mem-bangga banggakan Marvel di depan Clara.
Ah, benar benar menjengkelkan.
“Papa pulaangg!!”
Seperti biasa, kepulangan Damian disambut ceria oleh Adara, putri sulung nya. “Anak Papa yang paling cantik, sudah makan malam belum?”
Adara menggelengkan kepala nya, merentangkan tangan kecil nya seolah memerintah Damian untuk segera menggendong nya.
Damian dengan sigap menggendong Adara, memberi kecupan lembut di pipi gembul putri kesayangan nya itu.
***
“Kau tidak sedang bercanda bukan?!” Marvel, meninggikan nada bicara nya kepada lawan bicara nya melalui telepon. Benar benar tidak menyangka dengan informasi apa yang baru saja ia dapat kan.
“Saya mengatakan yang sebenar nya Tuan.” ujar lawan bicara Marvel itu melalui sambungan telepon, untuk apa ia berbohong toh tidak ada untung nya juga.
“Baiklah terima kasih, akan ku kirim bayaran mu secepat nya.” Marvel menutup telepon tersebut, kembali menfokuskan dirinya pada foto foto yang ia dapat.
Semua foto itu adalah foto Juan, ya, Informasi yang baru saja Marvel dapat kan itu adalah informasi tentang Juan.
Kali ini amarah Marvel benar benar tersulut, bagaimana tidak, Juan yang pergi dari rumah hampir 2 bulan lebih itu ternyata justru sibuk mengejar cinta masa lalu nya.
Benar benar laki laki brengsek, meninggalkan putri nya yang sakit sakitan untuk bisa bersama dengan mantan kekasih nya dahulu sebelum menikah dengan Helena.
Terlebih lagi, ada satu informasi lagi yang membuat kepada Marvel semakin sakit bukan kepalang. Kenyataan bahwa Juan memiliki anak dengan mantan kekasih nya itu.
__ADS_1
Anak laki laki yang wajah nya sangat persis dengan Juan, benar benar copyan Juan.
“Dasar Kakak gila, istri mu belum lama ini meninggal dan kau sudah menemukan pengganti nya saja. Benar benar tidak punya hati.”