
*Tapi Milla merasa khawatir untuk bertanya tentang masa lalu Marvel. Takut jika hal itu akan membuat Marvel tidak nyaman.
Milla pernah berpikir bahwa mungkin dahulu Marvel, Clara dan suami Clara punya hubungan cinta segitiga. Milla berharap itu tidak benar, dan jika pun itu benar Milla berharap hubungan mereka tidak lagi canggung lagi pula sudah tidak ada rasa lagi bukan diantara mereka lagi?
Atau Milla saja yang terlalu percaya diri? Bagaimana jika Marvel memang benar benar punya perasaan tertinggal untuk Clara*?
***
Kabar buruk.
Kabar buruk datang disaat Marvel dan Milla baru saja sampai di rumah mereka, niat hati Marvel bermaksud untuk kembali ke rumah sakit untuk menemani Juan namun Marvel justru mendapat telepon dari Monica yang menyampaikan kabar buruk.
Helena, istri Juan. Tidak selamat.
Bayi mereka selamat, meski kondisi nya lemah tapi bayi tersebut bertahan hidup. Namun tidak demikian dengan Helena, Kakak ipar Marvel itu tidak selamat, bahkan belum sempat melihat rupa anak yang di damba dambakan nya itu.
“Kita harus kesana bersama, bagaimana bisa kakak ipar ku sedang berduka dan aku justru tidak hadir disana.” Milla memaksa untuk ikut namun Marvel tetap tidak memperbolehkan nya.
“Kau harus menjaga Riko, kau tidak perlu pikirkan hal yang lain jika kau ingin datang kau bisa datang besok saat pemakaman kak Helena.” Marvel masuk ke dalam mobil nya dan melanjukan mobil nya itu dengan kecepatan penuh, Milla menatap kepergian Marvel dengan pandang sedih. Tetap saja Milla tidak bisa tenang.
***
__ADS_1
Sesampainya Marvel dirumah sakit, yang Marvel dapatkan adalah suara tangis kepedihan dari Ayah Helena. Mana mungkin seorang Ayah tidak sedih dengan kematian putri nya, tentu saja Ayah Helena merasa sedih belum lagi sebelumnya Ayah Helena yang memaksa untuk mengutamakan bayi yang Helena kandung.
“Bagaimana keadaan Kak Juan?” Marvel mendekat dan berbisik kepada Monica yang sedang sibuk mengusap air mata nya.
“Kak Juan sedang di ruang bayi sekarang, bayi nya lahir dalam keadaan lemah sehingga harus menginap di inkubator.”
Marvel mengangguk mengerti dan menunggu, selama ia menunggu ia memperhatikan bagaimana Ayah Helena menangisi kepergian putri nya.
Pandangan Marvel beralih kepada orang tua nya sendiri, yang baru Marvel sadari bahwa mereka juga ada disini. Marvel bisa melihat air mata palsu Ibu nya, dan juga nasihat nasihat kosong yang keluar dari mulut ayah nya.
Mereka berdua melakukan itu demi mencari perhatian Ayah Helena, berpura pura bahwa mereka ikut sedih dengan kepergian Helena untuk selama nya. Padahal Marvel tahu bahwa Ibu dan Ayah nya itu tidak pernah perduli dengan nyawa Helena sedikit pun.
Mereka hanya perduli dengan ikatan kerja sama bisnis antara mereka dengan Ayah Helena.
***
Sementara Juan, laki laki itu tidak meneteskan air mata setetes pun. Marvel yang hadir di pemakaman bingung sendiri melihat Kakak nya itu, apa Juan tidak sedih sedikitpun dengan kepergian Kak Helena?
Monica yang notabene nya hanya adik ipar saja menangis kencang luar biasa, tapi Juan yang berstatus sebagai suami Helena tidak menitikkan satu tetes air mata pun.
Bukan hanya itu, sesaat Ayah Helena pergi. Juan pun pergi, dengan pakaian serba hitam nya itu tanpa menoleh ke belakang melihat kembali makam istri nya.
__ADS_1
“Kak Juan kemana?” tanya Monica kepada Marvel, Monica mengusap air mata nya. Hidung dan mata Monica bengkak karena terlalu banyak menangis.
Marvel mengangkat bahu nya, Marvel juga tidak tahu kemana tujuan Juan. Marvel tidak sempat bertanya, Juan bergerak cepat sekali keluar dari kerumunan orang di pusaran makam Hannah.
“Mungkin Kak Juan ingin melihat anak nya, bagaimana pun anak Kak Juan baru lahir. Dan sekarang masih berada di inkubator, mungkin Kak Juan mengkhawatirkan nya.” Milla muncul dengan pikiran positif nya, kemana lagi seorang suami pergi saat pemakaman istri nya kalau bukan untuk menemui anak mereka yang tidak tahu apa apa bahwa sang Ibu telah tiada.
***
Tebakan ternyata Milla salah besar.
Juan tidak pergi melihat putri nya, melainkan Juan pulang ke rumah mengemas pakaian nya ke dalam koper seolah olah ia akan pergi ke tempat yang jauh dalam waktu lama.
Membawa semua barang barang yang di perlukan nya dan meninggalkan sepucuk surat di atas nakas.
Bergegas pergi meninggalkan rumah besar tersebut, sebelum anggota keluarga nya kembali.
Sementara Juan memasukkan koper nya ke bagasi mobil nya, Juan tak menyadari bahwa dari lantai atas rumah tetangga nya ada yang memperhatikan gerak gerik nya.
Orang tersebut tak lain adalah Damian, Damian memperhatikan apa yang Juan lakukan dengan alis terangkat. Dalam hati bertanya tanya mengapa Juan terlihat terburu buru sekali dan juga bukan kah ini hari pemakaman istri nya?
Damian berada di rumah karena menggantikan Clara untuk menjaga anak anak mereka sementara Clara ikut pergi ke pemakaman Helena. Tapi laki laki yang berstatus sebagai suami Helena itu justru sedang sibuk memasukkan koper ke dalam bagasi mobil nya seolah olah akan kabur.
__ADS_1
“Aku mencium bau keributan, keluarga mereka memang selalu saja mencari masalah. Ini alasan kenapa aku benci bertetangga dengan merekam” tukas Damian pelan, berbalik menjauh dari jendela. Damian memilih kembali menaruh perhatian nya kepada putri sulung kesayangan nya tengah terlelap pulas setelah makan sampai kenyang.
“Kira kira jam berapa Clara akan pulang?” tanya Damian kepada dirinya sendiri sembari melirik jam yang tergantung di dinding. “Semoga sebentar lagi.”