
Clara merutuki dirinya yang sudah sok berani melawan Damian, mau bagaimana lagi Clara sakit hati atas perkataan Damian yang menghina dirinya. Clara tahu ia telah menjual harga dirinya demi uang kepada Damian tapi itu juga tidak bisa Damian jadikan sebagai alasan untuk menghina Clara seenaknya.
Clara menendang batu kerikil yang ada disekitarnya, Clara tidak tahu harus kemana saat ini. Jika ia pulang kerumah Damian Clara takut sesampainya disana Damian akan memarahinya atau melakukan hal ekstrim lainnya untuk menunjukkan bahwa ia tidak suka dengan apa yang sudah Clara lakukan di club' tadi.
Clara semakin takut untuk pulang ketika ia teringat kakak nya yang sangat membencinya, bagaimana jadinya jika Damian dan Diana justru berkerja sama untuk menyiksanya? Bisa saja kan Damian jadi menuruti semua keinginan gila Diana untuk menyiksa Clara karna Damian sakit hati atas perkataan Clara sebelumnya.
Pikiran Clara terus berkelana memikirkan hal hal buruk yang bisa saja terjadi kepada dirinya.
Malam sudah semakin larut dan Clara masih saja tidak punya tempat tujuan, ia tidak mungkin terus terusan berkeliaran di gelapnya malam dengan gaun yang cukup terbuka ini. Hawa dingin malam saja sudah membuatnya gemetaran, Clara juga khawatir jika ada orang orang jahat yang mengganggunya nanti.
Clara berhenti melangkah dan duduk disebuah halte yang sepi, Clara mengeluarkan handphone nya untuk menelepon Josephine, hanya Josephine lah satu satunya harapannya saat ini.
Lama Clara menunggu Josephine untuk mengangkat panggilannya namun tetap saja tidak ada jawaban, Josephine tidak kunjung mengangkat telepon dari Clara. Clara tidak bisa menyalahkan Josephine atas ini karena Clara tahu bahwa Josephine pasti memiliki banyak urusan atau bahkan sudah tidur saat ini.
Clara hanya bisa duduk lemas di halte itu, memandang jalanan yang sepi. Mendadak Clara menyesal karena tidak memiliki banyak teman sehingga dalam situasi seperti ini ia tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi.
Lama melamun merenungi nasibnya membuat Clara tidak sadar bahwa ada sebuah mobil berhenti tepat di depan halte ia tengah duduk, Clara sibuk mengusap usap lengannya merasa kedinginan karena angin malam yang cukup kencang.
Clara mendongak ketika ia melihat sepasang kaki, Clara gelagapan ketika ia mendapati Damian tengah berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan datar. Kenapa Damian bisa ada disini?
“Da-Damian?”
“Ayo pulang.”
Clara menggelengkan kepalanya menolak ajakan Damian, Clara tidak ingin kembali kerumah itu. Percuma saja kan ia tinggal di tempat yang sebenarnya tidak menginginkan kehadirannya.
“Jangan keras kepala, jika tidak pulang memangnya kau mau kemana. Kau mau tidur di jalanan?” Damian berdecih meremehkan, ia tahu bahwa Clara tidak punya tempat tujuan lain. “Kekeras kepalanya mu ini hanya akan menyusahkan dirimu sendiri.”
Clara diam sejenak, ia memikirkan apa yang Damian katakan. Clara tidak punya tempat tujuan yang lain lagi tapi Clara juga merasa berat hati untuk kembali kerumah itu, belum lagi dengan cara Damian yang terkesan meremehkan itu. Bukan kah seharusnya Damian meminta maaf dan membujuknya untuk pulang?
__ADS_1
Clara berdecih menertawakan dirinya sendiri, apa yang ia harapkan? Mana mungkin seorang Damian Leonardus mau merendahkan harga dirinya untuk meminta maaf dan membujuk Clara untuk pulang ke rumah, itu semua tidak akan pernah terjadi bahkan dalam mimpi sekali pun.
“Aku tidak mau kembali kerumah itu jika nantinya aku hanya akan terus direndahkan oleh mu dan juga Kak Diana.”
Damian terkekeh mendengar penolakan Clara, ia melipat tangannya di depan dada. “Direndahkan? Bukannya harga diri mu memang sudah rendah, kau sendiri yang membuat diri mu jadi seperti ini jadi jangan mencari alasan dan menyalahkan orang lain.”
Clara mencengkram gaun nya erat erat, bibirnya bergetar menahan tangisan nya namun sekuat apapun Clara mencoba untuk tidak menangis, air matanya tetap saja jatuh tanpa dapat ia kontrol.
“Iya aku ini memang wanita rendahan, aku tidak pantas mendapatkan dihargai. Wanita seperti aku memang sepatutnya di injak injak. Iya aku tahu.. dan aku sudah muak dengan semua itu. Selama 22 tahun hidup ku, tidak boleh kah aku mengharapkan sekali saja merasakan kebahagiaan untuk diriku sendiri?!”
Clara dengan kasar mengusap air matanya, “Aku berterima kasih kepada mu karna telah mau memberiku uang dan membiarkan aku selama ini tinggal di rumah mu, tapi aku tidak akan mau kembali kerumah itu lagi. Jika aku harus tinggal di kolong jembatan sekalipun aku tidak masalah.”
Damian kesal melihat kekeras kepalaan Clara, “Baiklah lakukan apapun yang kau mau, kau pikir aku perduli pada mu. Kau mati di jalan pun aku tidak perduli. Masih untung aku mau memberikan mu tempat tinggal, dasar tidak tahu diri.”
Damian dengan kesal memasuki mobilnya, meninggalkan Clara seorang diri disana.
Namun sesaat Damian sampai di depan gerbang rumahnya, bukannya masuk Damian justru terdiam sejenak sebelum akhirnya ia memutar kembali mobilnya kembali ketempat dimana ia meninggalkan Clara.
Damian tidak tahu kenapa ia kembali lagi kesana, Damian tidak tahu kenapa ia melakukan hal ini.
Di gelapnya malam itu mobil Damian melaju, berhenti tepat ditempat yang sama, namun bukannya mendapati Clara yang tengah meringkuk menangis disana Damian justru tidak melihat ada siapapun di halte itu. Clara sudah tidak disana.
Pergi kemana wanita itu?
Apakah ia dibawa paksa oleh preman?
Damian menggelengkan kepalanya, kenapa juga ia harus perduli? Mau Clara diperkosa oleh preman sekalipun Damian tidak perlu memikirkannya. Toh wanita itu memang sudah biasa berhubungan badan bukan? Melayani preman mungkin hal biasa bagi Clara. Ya, pasti seperti itu.
***
__ADS_1
Clara berdiri di depan sebuah motel sembari menghitung uang yang ada di dalam dompetnya, Clara tidak bawa uang banyak. Uang yang ia punya dari Damian ia simpan di kamarnya, Clara menyesal tidak membawa uang itu. Ia tidak tahu kalau ia akan jadi seperti ini.
Lama sibuk menghitung uang yang ia miliki membuat Clara tidak menyadari bahwa dari kejauhan ada seorang laki laki dengan sepeda motornya melaju mendekati Clara.
Laki laki tersebut menghentikan motornya tepat di depan Clara dan melepaskan helm nya, “Clara?”
Clara terkejut, ia menatap sosok laki laki yang tengah turun dari motornya itu. “Marvel?”
“Kau sedang apa sendirian disini?”
Clara gelagapan, ia tidak tahu harus menjawab apa. Belum lagi dengan kondisinya yang tengah sibuk menghitung uang saat ini. “A—ah..”
“Kau mau menginap di motel ini?” tanya Marvel tepat sasaran, Clara hanya bisa tersenyum canggung ke arah Marvel.
“Kenapa menginap di motel, aku bisa mengantarkan mu pulang, kau mau ku antarkan?”
Clara menggelengkan kepalanya, ia tidak mau pulang. “Tidak, terima kasih tapi aku tidak mau pulang.”
Marvel mengernyitkan alisnya tidak mengerti, “Lalu kalau tidak mau pulang kau mau kemana?”
Clara kembali menggelengkan kepalanya, ia tidak punya tempat tujuan. Mengingat nasibnya yang menyedihkan ini membuat Clara kembali menangis, ia mulai kembali meneteskan air matanya.
“He-hei, kenapa kau menangis, apa aku ada salah bicara?” Marvel memegang bahu Clara khawatir, dengan ragu ragu ia mengusap air mata yang jatuh ke pipi Clara.
“Jika kau tidak punya tempat tujuan kau tidak perlu menangis, kau bisa ikut dengan ku. Aku punya kamar kosong di rumah, kau bisa menginap di rumah ku dulu malam ini.”
*Menginap dirumah Marvel?
Tidak apakah*?
__ADS_1