
Para warga tidak mau mendengar kan penjelasan Milla, mereka semua menyeret Milla dan Marvel untuk di nikahkan. Riko menangis mengikuti orangtua nya.
Milla meminta Marvel untuk menjelaskan semuanya kepada warga, Milla ingin Marvel angkat bicara dan menghentikan semuanya agar tidak terjadi namun laki laki tersebut hanya diam saja.
“Marvel, katakan sesuatu! Kau tidak bisa membiarkan masa depan mu hancur begitu saja. Kita tidak melakukan apa apa.”
“Menikah dengan mu tidak akan membuat masa depan ku hancur.”
“Ma-maksud mu?”
“Biarkan saja mereka menikah kan kita.”
“Tapi Marvel, aku ini bukan seorang gadis.”
“Aku tidak perduli. Apa kau keberatan menikah dengan laki laki seperti ku?”
Milla menggelengkan kepalanya, bukannya ia keberatan. Hanya saja Milla merasa tidak pantas, laki laki sebaik Marvel harus terjebak bersama wanita beranak seperti dirinya.
__ADS_1
Marvel berhak mendapatkan yang lebih baik, bukan wanita seperti dirinya.
Milla menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa setega itu merenggut masa depan cerah Marvel. Bersamaan dengan teriakan Amara warga, ketua RT setempat datang melihat keributan yang ada.
Dan saat itu lah Milla bisa menghembuskan nafasnya tenang, semua warga dibuat diam dan mendengarkan penjelasan Milla dan juga kesaksian Riko.
Riko marah besar pada warga yang telah menuduh Ibu nya, ia menangis. Marvel lah yang datang menggendongnya agar kembali tenang.
“Baiklah, masalah sudah selesai tidak ada lagi yang harus di ribut kan.” ujar ketua RT tersebut sembari meminta para warga untuk kembali ke rumah masing masing lalu beralih pada Milla dan Marvel. “Saya mengerti kalau kalian ini bukan tipikal orang yang seperti itu, tapi kalian harus hati hati dan juga maafkan para warga yang sudah bersikap kasar kepada kalian, mereka seperti itu hanya karna mereka tidak mau nama tempat ini tercemar.”
Milla hanya menganggukkan kepalanya sembari mengucapkan terima kasih.
Disepanjang jalan Milla hanya terdiam, hingga akhirnya Marvel yang buka suara.
“Aku serius mengenai pernikahan itu. Aku benar benar ingin menikah dengan mu, Milla.”
Langkah Milla terhenti, begitu juga Marvel. Milla menghela nafas berat sebelum akhirnya menatap Marvel dengan mata berkaca-kaca. “Marvel, kau ini laki laki yang baik.. kau tampan, kau pintar, pasti banyak wanita di luar sana yang mau menikah dengan mu dan pastinya lebih baik dariku. Jangan paksakan dirimu untuk menikahi ku karena rasa kasihan, lagi pula aku ini wanita bersuami.”
__ADS_1
“Siapa bilang aku ingin menikahi ku karena rasa kasihan? Kau bilang kau wanita bersuami, lalu dimana suami mu? kapan dia terakhir kali kembali, kapan ia terakhir kali perduli kepada mu?”
Milla terdiam, air matanya kembali mengalir. ia menggelengkan kepalanya. ia tidak ingat kapan terakhir kali suaminya pulang. Milla juga sudah tidak ingat kapan terakhir kali suaminya bicara padanya, memperdulikannya? apakah itu sebelum Riko lahir?
Milla tidak tahu, itu sangat menyakitkan.
“Milla, ku mohon biarkan aku masuk ke dalam kehidupan kalian lebih jauh lagi. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan mu dan juga Riko.”
Milla memejamkan matanya, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Jujur Milla sangat ingin bersikap egois. ia juga butuh kasih sayang, ia juga lelah menderita sendirian. Ia ingin punya seseorang sebagai tempatnya bersandar, mencurahkan lelah, gelisah nya.
Dan Milla juga tidak bisa memungkiri bahwa ia telah jatuh hati kepada Marvel.
Riko yang berada digendongan Marvel tiba tiba saja bersuara, “Ma..” panggil Riko kepada Milla.
Milla terkejut dan menatap Riko, “Ada apa sayang?”
Riko juga menatap Milla dengan wait wajah sedihnya, “Liko mau Om Mapel jadi Papa Liko, Liko sayang Om Mapel, Liko mau punya Papa, Papa Liko yang lama tidak sayang Liko, tidak pulang pulang. Liko mau Om Mapel yang jadi Papa Liko, Ma..”
__ADS_1
Lama Milla terdiam sebelum akhirnya Milla memandang Marvel dan Riko bergantian, lalu menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kalau begitu ayo menikah.”