
Marvel menatap cemas Juan yang pergi bersama dokter dengan alasan ingin membicarakan hal penting mengenai Helena.
Entah mengapa Marvel merasakan firasat buruk mengenai hal ini, Marvel merasa hal buruk akan terjadi. Bukan hanya Marvel saja yang merasakannya namun Monica dan Milla juga.
“Monica, apa kau sudah menghubungi orangtua Kak Helena?” tanya Marvel kepada adik perempuannya, Monica menganggukkan kepalanya dan mengatakan bahwa Ayah Helena sudah diperjalanan menuju kemari.
Marvel tahu bahwa kondisi tubuh Helena tidak pernah baik sejak masih kecil. Bahkan dulu Juan pernah menolak kehamilan Helena dengan alasan bahwa Helena tidak akan sanggup mengandung selama 9 bulan. Dokter juga berkali kali mengatakan bahwa hal itu bisa membahayakan nyawanya sendiri tapi Helena tidak mau mendengar.
Tepat saat Ayah Helena saat itu juga Dokter dan Juan selesai membicarakan hal penting yang mereka maksudkan.
“Ada apa ini Juan, apa Helena sudah melahirkan?” Ayah Helena bertanya panik, ia merasa tidak tenang setelah melihat wajah sedih semua orang yang ada disini.
“Kondisi Helena sekarang kritis Pa, Dokter mengatakan kita mungkin akan kehilangan salah satu diantaranya. Aku mengatakan lebih baik kami kehilangan bayinya dari pada Helena harus kehilangan nyawanya begitu saj—”
“Maksud mu kau mau membiarkan anak kalian mati?! Kau membiarkan pengorbanan Helena selama ini mengandung susah payah dalam kondisi lemahnya itu sia-sia?!” Ayah Helena berteriak tidak terima, ia teringat bahwa Helena sangat mendamba dambakan calon anaknya itu.
“Lalu bagaimana, nyawa Helena dalam bahaya, P—”
“Selamatkan bayinya! bagaimanapun itu selamatkan semuanya!”
***
“Kenapa wajah mu kelihatan murung begitu?” Damian baru saja kembali dari kantor dan ia justru disambut dengan wajah murung istrinya, “Apa Adara bersikap nakal hari ini?”
Clara mengambil alih tas kerja Damian, “Bukan begitu, hari ini Helena melahirkan. Aku hanya khawatir saja.”
Damian berdecak, ia pikir ada hal serius yang mengganggu pikiran Clara tapi ini justru masalah tetangga sebelah mereka lagi. “Tidak bisakah kau tidak memusingkan mereka, cukup pikirkan kita saja.”
“Ku harap Helena bisa melahirkan dengan lancar, dan juga anak mereka terlahir sehat dan berteman dengan anak anak kita.”
__ADS_1
Damian kembali berdecak, ia kesal ketika membayangkan anak Juan dan anaknya berteman. Sampai sekarang Damian masih saja tidak bisa melupakan apa yang sudah Juan lakukan kepada Clara dulu.
“Kenapa kau kelihatan tidak senang? Kau masih saja membenci Juan?” Milla menatap Damian dengan tatapan selidik, ia melihat Damian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Kau tidak bisa terus membencinya, aku saja sudah memaafkan mu atas apa yang sudah kau lakukan kepada ku, lalu kenapa kau tidak juga bisa memaafkan dia atas apa yang Juan lakukan terhadap ku.”
Damian menghela nafas berat, ia tidak bisa melakukan apapun selain mengalah.
***
“Kau sebaiknya pulang saja, istri dan anak mu pasti sudah lelah. Biar aku saja disini, bawa juga Monica bersama mu.” Juan menyuruh Marvel untuk pulang, sudah berjam jam lamanya mereka dirumah sakit menunggu Helena.
“Apa maksud mu kak? aku tidak mungkin meninggalkan mu sendirian menunggu disini.” Marvel menolak, kondisi saat ini sedang genting dan Juan justru menyuruhnya untuk pulang. Kadang Marvel merasa tidak mengerti dengan jalan pikir kakaknya sendiri.
“Marvel, kau sudah tidak sendiri lagi sekarang. Kau pikir Riko bisa berlama lama disini?”
Marvel berdecak sebal, “Aku akan mengantar Riko dan Milla pulang lalu aku akan kembali lagi kemari, kau tidak punya alasan untuk melarang ku kembali.”
“Aku tidak mau pulang kak, aku mau menunggu kak Helena!” Monica menolak untuk ikut pulang bersama Marvel, bagaimana bisa ia pulang sementara kakak iparnya sedang merenggang nyawa di dalam sana.
“Tapi kau harus kuli—”
“lagi pula aku tidak akan bisa kuliah dengan tenang, ijinkan aku disini kak..” Monica menatap Juan dengan pandangan memohon, Monica tidak mendapat jawaban apapun dari Juan namun Juan juga tidak memaksanya untuk pulang.
“Aku tidak akan ikut kak, Kakak bawa saja Riko pulang. Dia butuh istirahat.”
Marvel menganggukkan kepalanya, ia mengambil alih Riko dari gendongan Milla. Riko sudah setengah mengantuk semakin mengantuk di gendongan Marvel. “Kami pulang dahulu, aku akan segera kembali lagi.”
Sebelum Marvel benar benar pulang, Marvel membisikkan sesuatu kepada Monica. “Hubungi orangtua kita, bagaimana bisa mereka tidak datang disaat menantu mereka sedang sekarat begini.”
__ADS_1
Monica sudah menghubungi namun mereka tidak kunjung datang juga, sebenarnya Monica malas untuk kembali menghubungi namun ia tidak punya pilihan lain lagi. Keberadaan orangtuanya penting disini, Ayah Helena pasti tidak akan senang jika mereka tidak kunjung datang juga.
***
“Kau tidak perlu ikut lagi, kau cukup menunggu dirumah saja dan jaga Riko. Kita tidak mungkin meninggalkan Riko sendirian di rumah.” Marvel mulai melakukan mobil, namun nampaknya Milla tidak setuju dengan perkataan Marvel itu.
“Aku kan juga bagian dari keluarga mu sekarang, seharusnya aku juga ada disana. Tidak bisakah kita menitipkan Riko kepada teman mu itu satu malam ini saja?”
“Teman ku, maksud mu Clara?”
“Iya, ku lihat dia baik sekali. Dia pasti tidak akan keberatan bukan jika kita menitipkan Riko semalam saja disana?”
Marvel menggelengkan kepalanya, “Tidak, kita tidak bisa menitipkan Riko disana.”
“Kenapa tidak, bukankah dia itu teman mu?”
“Clara memang teman ku, Clara juga pasti akan menerima Riko dengan senang hati. Tapi tidak dengan suaminya, suami Clara tidak akan senang dan kita justru akan membuat mereka bertengkar nantinya.”
Milla mengerutkan alisnya tidak mengerti, “Bertengkar? Apa suaminya setidak suka itu kepada kita?”
“Bukan kita, lebih tepatnya kepada diriku.” Marvel tersenyum getir, ia tahu dengan jelas apa alasan Damian tidak menyukainya. Damian pasti masih merasa terancam dengan keberadaan Marvel, takut Clara akan direbut oleh Marvel sewaktu waktu.
“Kenapa dia membenci mu, apa kau pernah melakukan hal buruk padanya?”
Marvel tidak menjawab, hanya diam saja dan hal itu membuat Milla semakin penasaran. Tanpa dijelaskan pun sebenarnya Milla bisa mengetahui bahwa dahulu pasti terjadi sesuatu diantara mereka.
Tapi Milla merasa khawatir untuk bertanya tentang masa lalu Marvel. Takut jika hal itu akan membuat Marvel tidak nyaman.
Milla pernah berpikir bahwa mungkin dahulu Marvel, Clara dan suami Clara punya hubungan cinta segitiga. Milla berharap itu tidak benar, dan jika pun itu benar Milla berharap hubungan mereka tidak lagi canggung lagi pula sudah tidak ada rasa lagi bukan diantara mereka lagi?
__ADS_1
Atau Milla saja yang terlalu percaya diri? Bagaimana jika Marvel memang benar benar punya perasaan tertinggal untuk Clara?