
Jackson kebingungan, ia tidak tahu ia harus bagaimana pasalnya Damian sedang tidak ada dan Diana justru mengancam seperti ini.
Damian juga sudah melarang Jackson untuk menelepon jika bukan urusan pekerjaan yang penting, namun jika tidak menghubungi Damian maka Diana pasti akan semakin bertingkah.
Jackson tidak punya pilihan lain, ia merogoh saku jas nya. Mengeluarkan ponselnya tersebut dan men-dial nomer Damian.
Butuh waktu lama menunggu untuk panggilannya di angkat oleh Damian, Diana yang tengah menunggu pun melipat tangannya di depan dada, sama sama menunggu respon dari Damian.
"Ada apa, bukan kah ku bilang jangan mengganggu ku dulu?"
Suara kesal Damian langsung terdengar, baru saja Jackson ingin buka suara meminta maaf kepada Damian dan mengatakan masalah yang sedang terjadi. Diana lebih dulu merampas ponsel Jackson.
"Damian, kau dimana?"
"Diana?"
"Jawab aku, kau dimana Damian!"
"Apa apaan kau ini Diana, jangan bersikap kurang ajar. Kau tidak perlu tahu dimana aku, berikan ponselnya kepada Jackson. Aku ingin bicara dengan nya."
Diana berdecih, ia tidak mau menuruti Damian. Ia sudah tidak takut lagi dengan Damian, Diana sudah punya kunci untuk bisa kembali ke kehidupannya yang sebelumnya, bahagia dengan segala harta Damian.
Dan Damian tidak akan bisa bersikap seenaknya lagi kepadanya, kali ini Diana akan kembali berkuasa.
"Aku tidak mau, cepat katakan kau dimana. Atau aku akan menemui Ibu mu Damian."
Diana bisa mendengar suara kekehan Damian yang terkesan mengejek, "Temui saja Ibu ku, aku sudah tidak perduli lagi dengan mu. Jika kau mengancam untuk memberitahu tentang perceraian kita silahkan saja katakan, aku yakin Ibu ku pasti bisa mengerti bahwa anak nya sendiri lah yang di khianati."
Diana tertawa, dengan penuh percaya diri ia menegaskan suaranya. Mengancam Damian tanpa tahu malu.
"Bukan itu sayang, aku akan menemui Ibu mu dan mengatakan padanya bahwa kau menceraikan ku karena digoda oleh Clara, dan aku juga akan mengatakan kepada Ibu mu bahwa kau meninggalkan aku disaat aku tengah mengandung anak mu."
***
Damian mengepalkan tangannya, apa apaan barusan? Diana mengancamnya?
"Ada apa? Kau terlihat tidak senang."
Damian tersentak mendengar suara Clara, sebisa mungkin ia berusaha untuk terlihat tenang. Clara tidak boleh tau tentang masalah ini, Damian tidak ingin Clara berburuk sangka lagi terhadapnya dan berpikiran untuk menolak dirinya lagi.
Belum lagi Damian takut kandungan Clara pun akan bermasalah nantinya.
Ahh Diana ini benar benar, membuat masalah disaat seperti ini.
Damian tidak akan terjebak dalam permainan Diana, meski Diana mengancam sebagai mana pun Damian tidak akan pernah mau mengakui anak yang Diana kandung sebagai anaknya.
__ADS_1
Bagaimana bisa Diana mengandung anaknya jika Damian saja tidak ingat kapan terakhir kali ia menyentuh Diana, seingatnya itu sudah lama sekali. Damian selalu beralasan sibuk dan jarang pulang cepat ke rumah agar Diana tidak berusaha menggoda nya.
Dan tiap kali Damian tidur dengan Clara, bisa dihitung dengan jari mereka tidur bersama dirumah. Damian lebih sering melakukannya dengan Clara di hotel, dengan alasan lebih aman.
Jika Damian dan Clara melakukan di rumah pun itu saat Diana pergi mengunjungi selingkuhannya itu atas nama pekerjaan.
Jadi jika memang Diana hamil anak Damian seharusnya usia kehamilannya sudah tua, karena sudah sangat lama Damian tidak menyentuh Diana karna sudah memiliki Clara yang jauh lebih memuaskannya.
Sudah bisa di tebak bahwa Diana hanya mengada Ngada soal kehamilan nya, kalaupun Diana memang tengah mengandung maka sudah pasti itu anak orang lain, mungkin anak dari selingkuhannya itu.
Enak saja berusaha untuk menjebaknya, Damian tidak akan tinggal diam. Ia akan memastikan bahwa Diana akan menerima ganjaran nya nanti.
Lihat saja, Diana pasti akan Damian buat menyesal hingga Diana tidak akan berani menunjukkan wajahnya itu lagi di hadapan Damian.
***
Diana menatap rumah mewah besar di hadapannya dengan senyuman miring, Diana akan menunjukkan kepada Damian bahwa Damian tidak bisa menyepelekan dirinya.
Diana disambut hangat oleh security dan juga pelayan saat ia masuk.
"Mama.." Diana langsung memasang wajah sedih nya saat ia bertemu dengan Ibu Damian, berlari ke pelukan wanita tua itu dan menangis sekeras yang ia bisa demi mendapatkan perhatian dari wanita tua itu.
"Ada apa Diana, kenapa kau menangis seperti ini nak?"
"Damian Ma, Damian dan Diana sudah bercerai Ma.. Damian meninggalkan Diana karena wanita lain, padahal Diana kini sedang mengandung anak Damian Ma." Diana kembali menangis, ia harus terlihat semenjijikan mungkin di depan Ibu Damian. "Diana tidak tahu harus bagaimana lagi Ma, Diana tidak mau membesarkan anak ini sendirian dan Diana juga tidak mau anak kami tumbuh tanpa Ayah nya."
Ibu Damian tampak diam, memperhatikan Diana yang bercerita sambil terus menangis.
Ia merasa pening karena masalah yang tiba tiba seperti ini, bagaimana bisa rumah tangga anak nya yang ia kira bahagia dan baik baik saja justru semengenaskan ini?
***
"Kau yakin kau tidak apa apa?" Clara kembali bertanya pada Damian yang tengah sibuk memijit pelipisnya, Damian tampak pusing memikirkan sesuatu yang tidak Clara ketahui apa itu.
Melihat Damian yang tampak frustasi membuat Clara kasihan, Clara mulai menebak nebak mungkin saja Damian memiliki banyak masalah pekerjaan yang tidak bisa ia selesaikan dan harus kembali pulang untuk mengurusnya namun Damian tidak bisa karena tidak ingin meninggalkan Clara.
Clara mulai berpikir kalau Damian kini tengah ketakutan, ketakutan bila Damian pergi untuk mengurus masalahnya sementara maka Clara akan memanfaatkannya untuk kembali melarikan diri.
Jujur, Clara sudah tidak punya pikiran untuk melarikan diri dan melihat Damian yang selalu mati matian mengurus pekerjaan nya dari jauh dan tidak pernah lupa untuk mengurus setiap kebutuhan Clara bahkan yang sepele sekalipun.
Damian selalu menyediakan sarapan, membuatkan susu untuk Clara meskipun Clara sendiri bisa melakukannya, Damian selalu memastikan Clara tidur dengan nyaman, Damian selalu bertanya apakah Clara menginginkan sesuatu.
Damian selalu menyediakan buah buahan, mengupasnya dan memotongnya menyiapkan nya untuk menjadi cemilan Clara tiap kali Clara sedang bersantai menonton televisi.
Bahkan saat malam hari sebelum Clara tidur Damian akan memijat kaki Clara hingga Clara jatuh tertidur dan baru lah Damian mulai mengurus pekerjaan nya.
__ADS_1
Mata Clara mulai berkaca kaca, ia merasakan kesungguhan Damian dalam menjaganya, mengurusnya dan menyayangi nya.
Clara teringat perkataan Damian yang memintanya untuk hidup bersama, membesarkan anak mereka bersama sama. Tidak perlu ada yang menderita, mereka bisa membentuk keluarga yang bahagia asalkan Clara mau memulainya dan berjuang mewujudkan nya.
Clara memperhatikan Damian yang kembali sibuk dengan ponselnya, mendapatkan telepon dari seseorang dan melangkah menjauh menuju balkon.
Clara diam diam mendekati, Clara ingin tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi.
***
“Ma, Damian berani sumpah anak yang di kandung Diana itu bukan anak Damian. Diana yang lebih dahulu selingkuh dengan laki laki lain, anak itu pasti anak bajingan itu.”
“Damian!! Bagaimana bisa kau menuduh istri mu seperti itu?!”
“Dia sudah bukan lagi istri ku Ma, kami sudah bercerai.” Damian mulai kesal, ia ingin sekali meluapkan emosinya namun ia tidak bisa. Ia masih tetap menjaga nada bicara nya, Damian tidak ingin membuat Ibu nya itu terlalu tertekan. Damian tidak ingin Ibu nya sakit karena memikirkan nya.
“Pulanglah, Ibu ingin bertemu dengan mu. Kita bicarakan masalah ini semua secara langsung. Mama tunggu.”
Telepon tersebut terputus begitu saja, Damian mengusap wajahnya kasar. Diana pasti sudah bicara yang tidak tidak kepada Ibu nya.
Damian hendak kembali masuk namun langkahnya terhenti ketika mendapati Clara yang berdiri tidak jauh darinya dengan mata berkaca kaca.
Damian terkejut, ia sontak berlari menghampiri Clara dan bersujud di kaki Clara.
“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya dari mu.”
Berakhirlah sudah, Clara pasti mendengar perkataan nya. Clara pasti akan meninggalkannya. Hilang sudah harapan Damian untuk hidup bahagia bersama Clara.
Air mata mulai mengalir di pipi Damian, membayangkan Clara yang meninggalkannya setelah kebahagiaan yang ia rasakan bersama Clara selama ini membuat Damian tidak bisa menahan air matanya.
Semuanya sia sia, Damian tidak ingin kehilangan Clara.
Damian memeluk kaki Clara, “Aku bersumpah aku tidak melakukan apapun, kau tahu sendiri bukan kalau Diana berselingkuh. Aku yakin itu anak laki laki tersebut, aku tidak melakukan nya aku benar benar tidak melakukannya.”
Damian memeluk erat kaki Clara, ia sudah mengira Clara akan menendangnya ataupun memukul kepalanya, namun Clara justru memeluknya ikut menangis di dalam pelukannya.
“Maafkan aku..” Damian mengeratkan pelukannya, ia seharusnya menjaga Clara bukannya membuat Clara menangis seperti ini.
“Buktikan, buktikan kepada ku bahwa kau tidak bersalah. Jika kau bisa membuktikan bahwa kau tidak bersalah maka aku akan menerima mu, kita akan memulainya kembali dari awal. Kau.. aku.. dan anak kita. Tapi jika kau terbukti bersalah maka aku akan benar benar menghilang dari hidup mu dan jangan harap kau bisa menemui aku ataupun anak kita.”
Damian mengangguk dalam pelukan Clara, Damian akan membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Diana benar benar akan menyesal karena telah mengusik dirinya.
Tunggu saja Diana, tunggu.
__ADS_1