SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 30


__ADS_3

*Seharusnya Riko yang memandang Markus dengan pandangan sedih, sedih karena Markus tidak bisa mengerti mengapa kedua orang tua nya sibuk dan lebih perhatian kepada Viola. Karena memang Viola butuh perhatian lebih.


Viola tidak sama seperti anak anak lain, kondisi nya sangat lemah, jantung nya lemah. Dokter saja mengatakan bahwa umur Viola mungkin tidak akan panjang.


“Riko sudah siap untuk pulang?” tanya Marvel kepada Riko yang dijawab anggukkan semangat oleh Riko.


“Siap, Pa*!”


***


“Ku dengar istri mu hamil apa itu benar?” Juan yang baru masuk ke ruang kerja Marvel itu segera bertanya perihal informasi yang ia dapat kan dari Sabrina semalam.


Marvel yang sebelumnya sibuk dengan pekerjaan nya itu mendongak dan mengangguk antusias menjawab pertanyaan Juan. “Ya, Milla sedang hamil.”


“Apa masalah kalian tentang Gevan itu sudah selesai?” tanya Juan lagi sembari manaruh berkas berkas yang ia bawa untuk Marvel kerjakan.


“Ya, masalah itu sudah selesai. Aku dan Milla sudah pergi ke makam Gevan bersama-sama sudah tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.” Marvel tersenyum puas, ia bangga bahwa masalah nya bisa selesai dengan cepat dan juga ia mendapatkan hadiah yang sangat berharga yaitu kehamilan Milla.


Juan mengangguk mengerti, ia menepuk nepuk berkas yang ia taruh di meja Marvel itu. “Baik lah kalau begitu, sekarang kerja kan semua kerjaan mu yang kau tinggal kan kemarin. Ku harap kau tidak membuat kesalahan lagi kali ini karena masalah pribadi mu telah selesai dan suasana hati mu sedang bagus. Kau harus mengerjakan nya dengan benar jika kau ingin pulang cepat dan bertemu dengan istri dan anak mu.”


Juan pergi setelah mengatakan kalimat itu, membuat Marvel berdecak sebal. Pekerjaan Marvel masih bertumpuk tumpuk lagi, sepertinya Marvel akan pulang kerja agak larut malam ini.


***


“Ma, soal yang ini bagaimana cara mengerjakan nya?” Riko membawa buku tulis nya mendekat kearah Milla yang tengah duduk di sofa, Milla menerima buku Riko dan melihat soal apa yang Riko anggap sulit itu.


“Ma, Papa kok belum pulang?” tanya Riko lagi setelah melirik ke arah jendela dan langit di luar sudah gelap, Riko pikir Ayah nya akan pulang sebelum gelap tapi sampai sekarang masih belum ada tanda tanda Ayah nya itu akan kembali.


“Papa tadi sudah kirim pesan ke Mama kalau Papa akan pulang terlambat karena pekerjaan nya menumpuk.” Jawab Milla sembari mengusap puncak kepala Riko, “Ayo lanjut kan mengerjakan PR nya. Sini Mama ajarkan cara mengerjakan soal yang sulit nya.”


Riko kembali menganggukkan kepala nya dan kembali fokus mengerjakan PR nya itu dengan arahan dari Milla. Setelah semua nya selesai, Riko merapihkan buku-buku nya dan memasukkan nya ke dalam ransel sekolah nya.


Kini pandangan Riko beralih kepada perut rata Milla, menatap perut Ibu nya itu dengan alis bertaut. “Kapan adik nya keluar Ma, apa tunggu perut Mama besar dulu seperti perut Tante Helena dulu?”


Milla tertawa mendengar pertanyaan polos dari Riko, “Iya sayang, harus menunggu sampai perut Mama sebesar Tante Helena dulu. Nanti baru adik nya Riko akan keluar.”


Bukan nya senang karena telah dijelaskan Riko justru mendadak murung, masih memandang perut rata Milla namun kali ini ia kelihatan sedih dibandingkan dengan senang.


“Kenapa cemberut begitu, apa Riko tidak sabar menunggu sampai adik Riko lahir? Riko hanya perlu menunggu 9 bulan.”


Riko menggelengkan kepala nya, bukan hal itu yang membuat dirinya sedih. “Bukan itu Ma, Riko sabar kok menunggu Adik.”


“Kalah begitu kenapa Riko kelihatan sedih begitu?” tanya Milla lagi.


“Riko tidak mau Mama sakit seperti Tante Helena, Tante Helena sakit dan saat Viola lahir Tante Helena meninggal. Riko tidak mau Mama meninggal, Riko tidak mau pisah sama Mama.” Riko ingat bagaimana heboh nya saat Viola lahir, semua nya ricuh karena meninggal nya Helena dan juga banyak pertengkaran pertengkaran yang terjadi.


Riko tidak ingin hal itu terjadi, jika memang Ibu nya akan mengalami hal seperti itu Riko lebih memilih untuk tidak memiliki adik dari pada harus kehilangan Ibu nya tercinta.


“Sayang.. Mama tidak akan seperti Tante Helena, Riko tidak perlu takut ya. Karena Mama dan Tante Helena itu berbeda, Mama sehat, tidak sakit. Jadi Riko tidak perlu sedih ya, jangan berpikir yang aneh aneh.” Milla merentangkan kedua tangan nya, mengajak Riko untuk masuk ke dalam pelukan nya.


Riko sontak memeluk Ibu nya itu erat-erat, jujur ia takut sekali kehilangan Ibu nya itu. Jika Ibu nya tiada, Riko tidak tahu lagi harus bagaimana.


“Wah.. wah.. ada apa ini kenapa kalian berpelukan seperti teletabis begini?” suara Marvel tiba tiba saja terdengar, Riko dan Milla sontak menoleh dan mendapati Marvel sudah kembali dari kantor.


“Loh, kau bilang kau akan pulang terlambat. Ini masih awal, ku kira kau akan pulang larut malam nanti.” Ujar Milla kebingungan melihat Marvel yang telah kembali, baru saja tadi Milla dan Riko membahas keterlambatan Marvel pulang.


“Pekerjaan ku memang menumpuk dan aku juga mengira akan pulang larut malam sekali tapi ternyata aku bisa mengejar semua pekerjaan nya dan bisa pulang tidak terlalu malam. Kalian sudah makan malam?” tanya Marvel sembari melepas jas kerja nya. “Aku lapar sekali, aku belum makan dan langsung pulang.”


“Kami sudah makan, akan ku siap kan makan malam mu. Kau mandi saja dulu selagi menunggu ku menyiapkan nya.” ujar Milla sembari melepaskan pelukan nya dengan Riko dan bangkit dari posisi duduk nya di sofa.


“PR nya sudah selesai semua?” tanya Marvel kepada Riko yang sedang memegang ransel sekolah nya.

__ADS_1


“Sudah Pa, ini Riko mau simpan ransel nya.”


Marvel tersenyum dan mengacak acak rambut Riko gemas, “Pintar ya anak Papa.”


Setelah melihat Riko masuk ke dalam kamar nya, Marvel beralih menuju kamar nya sendiri untuk membersihkan diri.


***


Saat Marvel keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian tidur nya itu Marvel melihat Riko sedang duduk bersama dengan Milla di sofa ruang tamu sembari menonton tayangan televisi.


Agak tidak rela sebenarnya harus makan sendirian, tapi Marvel akan mengusahakan untuk pulang lebih awal lagi besok sehingga mereka bertiga bisa makan malam bersama-sama seperti biasa nya.


“Riko, ini sudah lewat dari jam nya kau tidur. Besok kau harus sekolah.” Milla melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, biasanya jam 8 malam saja Riko sudah tidur selesai mengerjakan PR nya dan setelah meminum susu namun malam ini Riko justru masih menonton televisi.


“Uhh..” Meski tidak senang kegiatan menonton nya di ganggu, Riko tetap menuruti perintah Milla untuk berhenti menonton dan meminum habis susu nya lalu pergi ke kamar nya bersama dengan Milla.


Milla akan menemani nya, menyanyikan nya lagu tidur sampai Riko benar benar tertidur.


Riko berbaring di ranjang dengan Milla di sebelah nya. Berdua untuk mendengarkan nyanyian pengantar tidur dari Ibu nya itu.


“Riko seharusnya sudah tidak perlu di temani lagi kalau mau tidur, Riko kan sudah besar. Sudah akan jadi seorang Kakak sebentar lagi.” Ujar Milla pelan sembari menepuk nepuk punggung Riko lembut.


Riko menggelengkan kepala nya tidak setuju, “Riko mau terus di temani tidur. Dulu Riko tidak pernah Mama temani tidur karena Mama selalu kerja, sekarang kenapa Riko juga tidak boleh di temani karena akan jadi Kakak. Riko tidak mau pergi tidur sendiri!”


Milla menghela nafas berat, merasa bersalah ketika mengingat dulu Milla selalu meninggalkan Riko dengan alasan pekerjaan dan sekarang saat Milla tidak lagi bekerja, Milla justru mengatakan Riko tidak seharusnya di temani lagi sebelum tidur karena Riko sudah besar.


“Iya sayang, Mama akan temani Riko tidur seterusnya juga. Meski Riko sudah jadi kakak sekalipun. Riko senang?”


Riko menganggukkan kepalanya bahagia, melihat Riko senang membuat Milla juga senang.


“Kalau begitu ayo tidur, besok Riko kan harus sekolah.”


***


*Seharusnya Riko yang memandang Markus dengan pandangan sedih, sedih karena Markus tidak bisa mengerti mengapa kedua orang tua nya sibuk dan lebih perhatian kepada Viola. Karena memang Viola butuh perhatian lebih.


Viola tidak sama seperti anak anak lain, kondisi nya sangat lemah, jantung nya lemah. Dokter saja mengatakan bahwa umur Viola mungkin tidak akan panjang.


“Riko sudah siap untuk pulang?” tanya Marvel kepada Riko yang dijawab anggukkan semangat oleh Riko.


“Siap, Pa*!”


***


“Ku dengar istri mu hamil apa itu benar?” Juan yang baru masuk ke ruang kerja Marvel itu segera bertanya perihal informasi yang ia dapat kan dari Sabrina semalam.


Marvel yang sebelumnya sibuk dengan pekerjaan nya itu mendongak dan mengangguk antusias menjawab pertanyaan Juan. “Ya, Milla sedang hamil.”


“Apa masalah kalian tentang Gevan itu sudah selesai?” tanya Juan lagi sembari manaruh berkas berkas yang ia bawa untuk Marvel kerjakan.


“Ya, masalah itu sudah selesai. Aku dan Milla sudah pergi ke makam Gevan bersama-sama sudah tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan.” Marvel tersenyum puas, ia bangga bahwa masalah nya bisa selesai dengan cepat dan juga ia mendapatkan hadiah yang sangat berharga yaitu kehamilan Milla.


Juan mengangguk mengerti, ia menepuk nepuk berkas yang ia taruh di meja Marvel itu. “Baik lah kalau begitu, sekarang kerja kan semua kerjaan mu yang kau tinggal kan kemarin. Ku harap kau tidak membuat kesalahan lagi kali ini karena masalah pribadi mu telah selesai dan suasana hati mu sedang bagus. Kau harus mengerjakan nya dengan benar jika kau ingin pulang cepat dan bertemu dengan istri dan anak mu.”


Juan pergi setelah mengatakan kalimat itu, membuat Marvel berdecak sebal. Pekerjaan Marvel masih bertumpuk tumpuk lagi, sepertinya Marvel akan pulang kerja agak larut malam ini.


***


“Ma, soal yang ini bagaimana cara mengerjakan nya?” Riko membawa buku tulis nya mendekat kearah Milla yang tengah duduk di sofa, Milla menerima buku Riko dan melihat soal apa yang Riko anggap sulit itu.


“Ma, Papa kok belum pulang?” tanya Riko lagi setelah melirik ke arah jendela dan langit di luar sudah gelap, Riko pikir Ayah nya akan pulang sebelum gelap tapi sampai sekarang masih belum ada tanda tanda Ayah nya itu akan kembali.

__ADS_1


“Papa tadi sudah kirim pesan ke Mama kalau Papa akan pulang terlambat karena pekerjaan nya menumpuk.” Jawab Milla sembari mengusap puncak kepala Riko, “Ayo lanjut kan mengerjakan PR nya. Sini Mama ajarkan cara mengerjakan soal yang sulit nya.”


Riko kembali menganggukkan kepala nya dan kembali fokus mengerjakan PR nya itu dengan arahan dari Milla. Setelah semua nya selesai, Riko merapihkan buku-buku nya dan memasukkan nya ke dalam ransel sekolah nya.


Kini pandangan Riko beralih kepada perut rata Milla, menatap perut Ibu nya itu dengan alis bertaut. “Kapan adik nya keluar Ma, apa tunggu perut Mama besar dulu seperti perut Tante Helena dulu?”


Milla tertawa mendengar pertanyaan polos dari Riko, “Iya sayang, harus menunggu sampai perut Mama sebesar Tante Helena dulu. Nanti baru adik nya Riko akan keluar.”


Bukan nya senang karena telah dijelaskan Riko justru mendadak murung, masih memandang perut rata Milla namun kali ini ia kelihatan sedih dibandingkan dengan senang.


“Kenapa cemberut begitu, apa Riko tidak sabar menunggu sampai adik Riko lahir? Riko hanya perlu menunggu 9 bulan.”


Riko menggelengkan kepala nya, bukan hal itu yang membuat dirinya sedih. “Bukan itu Ma, Riko sabar kok menunggu Adik.”


“Kalah begitu kenapa Riko kelihatan sedih begitu?” tanya Milla lagi.


“Riko tidak mau Mama sakit seperti Tante Helena, Tante Helena sakit dan saat Viola lahir Tante Helena meninggal. Riko tidak mau Mama meninggal, Riko tidak mau pisah sama Mama.” Riko ingat bagaimana heboh nya saat Viola lahir, semua nya ricuh karena meninggal nya Helena dan juga banyak pertengkaran pertengkaran yang terjadi.


Riko tidak ingin hal itu terjadi, jika memang Ibu nya akan mengalami hal seperti itu Riko lebih memilih untuk tidak memiliki adik dari pada harus kehilangan Ibu nya tercinta.


“Sayang.. Mama tidak akan seperti Tante Helena, Riko tidak perlu takut ya. Karena Mama dan Tante Helena itu berbeda, Mama sehat, tidak sakit. Jadi Riko tidak perlu sedih ya, jangan berpikir yang aneh aneh.” Milla merentangkan kedua tangan nya, mengajak Riko untuk masuk ke dalam pelukan nya.


Riko sontak memeluk Ibu nya itu erat-erat, jujur ia takut sekali kehilangan Ibu nya itu. Jika Ibu nya tiada, Riko tidak tahu lagi harus bagaimana.


“Wah.. wah.. ada apa ini kenapa kalian berpelukan seperti teletabis begini?” suara Marvel tiba tiba saja terdengar, Riko dan Milla sontak menoleh dan mendapati Marvel sudah kembali dari kantor.


“Loh, kau bilang kau akan pulang terlambat. Ini masih awal, ku kira kau akan pulang larut malam nanti.” Ujar Milla kebingungan melihat Marvel yang telah kembali, baru saja tadi Milla dan Riko membahas keterlambatan Marvel pulang.


“Pekerjaan ku memang menumpuk dan aku juga mengira akan pulang larut malam sekali tapi ternyata aku bisa mengejar semua pekerjaan nya dan bisa pulang tidak terlalu malam. Kalian sudah makan malam?” tanya Marvel sembari melepas jas kerja nya. “Aku lapar sekali, aku belum makan dan langsung pulang.”


“Kami sudah makan, akan ku siap kan makan malam mu. Kau mandi saja dulu selagi menunggu ku menyiapkan nya.” ujar Milla sembari melepaskan pelukan nya dengan Riko dan bangkit dari posisi duduk nya di sofa.


“PR nya sudah selesai semua?” tanya Marvel kepada Riko yang sedang memegang ransel sekolah nya.


“Sudah Pa, ini Riko mau simpan ransel nya.”


Marvel tersenyum dan mengacak acak rambut Riko gemas, “Pintar ya anak Papa.”


Setelah melihat Riko masuk ke dalam kamar nya, Marvel beralih menuju kamar nya sendiri untuk membersihkan diri.


***


Saat Marvel keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian tidur nya itu Marvel melihat Riko sedang duduk bersama dengan Milla di sofa ruang tamu sembari menonton tayangan televisi.


Agak tidak rela sebenarnya harus makan sendirian, tapi Marvel akan mengusahakan untuk pulang lebih awal lagi besok sehingga mereka bertiga bisa makan malam bersama-sama seperti biasa nya.


“Riko, ini sudah lewat dari jam nya kau tidur. Besok kau harus sekolah.” Milla melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, biasanya jam 8 malam saja Riko sudah tidur selesai mengerjakan PR nya dan setelah meminum susu namun malam ini Riko justru masih menonton televisi.


“Uhh..” Meski tidak senang kegiatan menonton nya di ganggu, Riko tetap menuruti perintah Milla untuk berhenti menonton dan meminum habis susu nya lalu pergi ke kamar nya bersama dengan Milla.


Milla akan menemani nya, menyanyikan nya lagu tidur sampai Riko benar benar tertidur.


Riko berbaring di ranjang dengan Milla di sebelah nya. Berdua untuk mendengarkan nyanyian pengantar tidur dari Ibu nya itu.


“Riko seharusnya sudah tidak perlu di temani lagi kalau mau tidur, Riko kan sudah besar. Sudah akan jadi seorang Kakak sebentar lagi.” Ujar Milla pelan sembari menepuk nepuk punggung Riko lembut.


Riko menggelengkan kepala nya tidak setuju, “Riko mau terus di temani tidur. Dulu Riko tidak pernah Mama temani tidur karena Mama selalu kerja, sekarang kenapa Riko juga tidak boleh di temani karena akan jadi Kakak. Riko tidak mau pergi tidur sendiri!”


Milla menghela nafas berat, merasa bersalah ketika mengingat dulu Milla selalu meninggalkan Riko dengan alasan pekerjaan dan sekarang saat Milla tidak lagi bekerja, Milla justru mengatakan Riko tidak seharusnya di temani lagi sebelum tidur karena Riko sudah besar.


“Iya sayang, Mama akan temani Riko tidur seterusnya juga. Meski Riko sudah jadi kakak sekalipun. Riko senang?”

__ADS_1


Riko menganggukkan kepalanya bahagia, melihat Riko senang membuat Milla juga senang.


“Kalau begitu ayo tidur, besok Riko kan harus sekolah.”


__ADS_2