
Ketika Marvel terbangun ia sudah berada di rumah sakit, tubuh nya remuk redam. ia bahkan menggunakan alat bantu pernafasan.
Yang pertama kali Marvel lihat setelah ia membuka mata adalah langit langit rumah sakit tempatnya di rawat, lalu ia dengan susah payah berusaha menggerakkan lehernya melihat ke arah lain. Dan yang Marvel lihat adalah adik perempuannya, Monica tengah tertidur di sofa.
Sepertinya Monica kelelahan menjaga Marvel sehingga tertidur di sofa, namun ada hal yang menganggu pikiran Marvel. Jika dirinya saja sudah terluka separah ini lalu bagaimana dengan Gevan?
Marvel yakin malam itu Gevan terluka lebih parah, Darah Gevan tersebar kemana mana saat itu. Bagaimana keadaan Gevan? Marvel ingin mengeluarkan suara untuk membangun kan Monica dan bertanya tentang Gevan kepada Monica namun ia tidak sanggup.
Tubuhnya masih sangat lemah, menggerakkan ujung jari nya saja sulit sekali rasanya.
Marvel berdoa dalam hati semoga laki laki tersebut baik baik saja.
***
Marvel benar benar harus terdiam di ranjang dalam waktu yang lama, ia hanya diam memperhatikan dokter dan perawat bergantian mengecek kondisinya dan juga mengganti infus nya.
Pertanyaan yang keluar dari bibir Marvel ketika ia berhasil mengeluarkan suara nya adalah bagaimana keadaan Gevan.
Monica dan Juan yang ada di ruangan tersebut hanya diam.
“Bahgaimanahh keadaannn laki laki yang kecelakaan bersama ku?” Marvel bertanya lagi, ia menoleh ke arah Juan dan Monica bergantian.
“Apa kau dekat dengannya? Kau tahu bagaimana cara menghubungi keluarganya?” Juan justru membalas pertanyaan Marvel dengan pertanyaan juga. Marvel mengerutkan alisnya, bukan kah ada dompet Gevan dan juga ponsel? Apa mereka tidak menemukannya?
“Memangnya sampai sekarang kalian masih tidak bisa menghubungi keluarganya? Bagaimana keadaan Gevan?”
Juan menggeleng kan kepala nya, “Tidak ada apa apa di dompet nya selain berisikan foto foto, pihak rumah sakit berpikir kau mungkin kenal keluarga laki laki tersebut sehingga pihak rumah sakit tidak melapor ke polisi. Dan keadaan laki laki itu sampai sekarang masih kritis. Dokter bilang karena kondisi tubuhnya yang memang sudah lemah sejak awal membuatnya semakin sulit untuk pulih. Selama dua Minggu ini ia sudah berkali kali kejang kejang.”
Marvel terdiam sejenak berpikir, ia tidak tahu nomor keluarga Gevan. Tapi seingat Marvel, Gevan pernah menyebutkan alamat rumah nya saat mereka dalam perjalanan menuju kesana. Tapi entah mengapa Marvel tidak bisa mengingat alamat rumah tersebut.
Semakin Marvel memaksa untuk mengingat semakin sakit kepalanya, bagaimana ini? Keluarga Gevan berhak tahu apa yang terjadi dengan Gevan.
“Kakak.. kau baik baik saja?” Monica bertanya kepada Marvel lantaran ia sejak tadi memperhatikan Marvel yang terus saja mengernyitkan keningnya seolah olah tengah kesakitan.
“Aku baik baik saja, hanya saja ada hal penting yang tidak bisa ku ingat. Semakin ku paksa untuk mengingat kepala ku justru terasa sakit sekali.”
“Tentu saja kepala mu sakit kak, kau hampir mati karna kecelakaan itu. Kau tahu berapa lama kau tidak sadarkan diri? Dua minggu!” Monica membuang nafas berat, “Ku pikir aku akan kehilangan mu.. saat pihak rumah sakit menelepon kami dan mengatakan bahwa kakak kecelakaan, aku berpikir bahwa kakak sengaja melakukannya karna ingin bunuh diri. Karna kakak tidak bisa menerima pernikahan kak clara.”
__ADS_1
Marvel tertawa mendengar perkataan adiknya itu, adik nya itu berpikir terlalu jauh. “Mana mungkin aku menyia-nyiakan hidup ku begitu, aku tidak selemah itu Monica.”
Marvel bersyukur ia punya keluarga yang datang keoadanya disaat ia sedang kesulitan, hal itu lah yang membuat Marvel kembali teringat dengan Gevan. Dengan kondisi Gevan saat ini Gevan sangat membutuhkan dukungan ari keluarganya. Marvel harus bisa menghubungi keluarga Gevan dan membawa mereka bertemu Gevan.
“Apakah aku boleh menjenguk teman ku itu?” tanya Marvel pada Juan yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Juan.
“Kenapa?” tanya Marvel lagi karna tidak terima bahwa ia tidak diperbolehkan menemui Gevan. Marvel ingin bertemu Gevan, ia juga ingin minta maaf kepada laki laki itu, kalau bukan karna kecerobohan marvel yang tidak memeriksa keadaan mobilnya lebih dulu, mereka mungkin tidak akan berada dirumah sakit sekarang ini.
“Jangan gila kak.. kau sudah tidak sadar selama 2 minggu, tubuh mu butuh waktu untuk kembali pulih.” ujar Monica melarang Marvel, “Sadar lah kak, tulang mu nyaris patah semua karena kecelakaan itu. Sayangi lah dirimu sendiri, sampai kapan kakak akan terus mementingkan orang lain dibandingkan diri kakak sendiri?!”
“Sudahlah Monica, kau juga jangan marah marah seperti itu. Lebih baik kau pulang dan istirahat, bukan kah besok kau harus kuliah?” Juan berusaha menarik mundur Monica, Juan tahu bahwa Monica sangat khawatir kepada Marvel, namun memarahi Marvel saat ini tidak akan ada guna nya juga. Yang ada mereka akan bertengkar nantinya. “Ayo kakak antar pulang.”
***
Butuh waktu beberapa hari hingga Marvel di ijinkan untuk keluar dari ruang rawatnya, ia masih menggunakan kursi roda saat Monica, adik perempuannya membantu nya pergi ke kamar rawat Gevan.
“Sebenarnya dia itu siapa kak?” tanya Monica sembari membukakan pintu kamar rawat Gevan untuk Marvel. Marvel menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Marvel juga tidak terlalu mengenal Gevan, Marvel tidak tahu harus menjawab pertanyaan Monica dengan jawaban apa.
Saat mereka masuk Marvel melihat bagaimana tubuh Gevan terpasang banyak alat alat penopang hidupnya, melihat hal itu membuat Marvel benar benar semakin merasa bersalah.
“Kakak ku tinggal sendiri disini tidak apa apa?” Monica ragu ingin meninggalkan Marvel, namun Monica juga harus segera kembali ke kampus nya.
Marvel menganggukkan kepalanya, “Ya kau pergi saja, jika aku butuh bantuan aku akan minta perawat untuk membantu ku.”
Setelah mendapat jawaban dari Marvel akhirnya Monica memutuskan untuk pergi, ia berlari kembali ke kamar rawat Marvel untuk mengambil tas nya dan segera menuju universitas.
Marvel yang ditinggal sendiri bersama Gevan itu terdiam, mencoba untuk mengingat ingat perbincangan antara dirinya dan Gevan selama di mobil saat itu.
Marvel terus memaksakan dirinya untuk berpikir, memaksakan dirinya untuk mengingat hingga kepalanya terasa sakit sekali. Marvel mendesah kesakitan sembari memijit pelipisnya dan saat itu pula Marvel melihat ujung jari telunjuk Gevan bergerak.
Sontak Marvel mendongak dengan cepat, ia melihat kelopak mata Gevan berkedip kedip seolah memaksakan diri untuk membuka mata.
“Hei.. Gevan.. kau bisa dengar aku?” Marvel dengan antusias menggerakkan kursi roda nya untuk mendekat, senyum Marvel merekah lebar saat ia melihat mata Gevan terbuka dan memandang ke arahnya.
“Akhirnya kau sadar juga!!” Marvel benar benar bersyukur melihat Gevan kembali membuka matanya. “Biar aku panggilkan perawat untuk mengecek kondis—”
__ADS_1
“Jhangghaanhh.. Perhhgihh..”
Marvel mengerutkan alisnya kebingungan, “Dokter harus memeriksa keadaan mu Gevan agar kau bisa semakin membaik, dan kita akan menghubungi keluarga mu untuk datang kemari. Mereka berhak tahu tentang keadaan mu.”
Gevan menggelengkan kepalanya pelan, “Akhu sudhah thidakh tahanh laghi, bhaghaimanhapun akhirnyah akhu thidakh akan bisha bertahanh.”
“Kenapa kau bicara seperti itu Gevan, kau terlalu pesimis. Kau seharusnya berjuang lebih kuat lagi. Bukan kah kau ingin minta maaf kepada istri dan putra mu?” Marvel melihat air mata menetes dari mata sayu Gevan.
“Akhu punyhha shatuh permintaanh, tolong bhantu putra ku agar iaa bishaa bersekolah. Meski dari jauh bisha khau jagha merehka? Marvel.. khita barhu menghenal tapi aku sudah menyusahkhan muh tehrus menehrus, maafkhan aku.. ahku lelah, akhu shudah thidak sangguph laghi.”
“Jangan bicara yang aneh an—”
“Akhu inghin tidhur panjhang, aku lhelah sekhali..”
“Kau tidak boleh tidur Gevan! jangan tutup mata mu! Gevan! Gevannn!!!” Marvel berteriak memerintahkan Gevan untuk membuka mata nya kembali, namun Gevan tidak menuruti nya mata Gevan tetap tertutup dan monitor di sebelah Gevan itu mengeluarkan bunyi yang menakutkan, membuat Marvel semakin berteriak memanggil manggil nama Gevan.
Bersamaan dengan teriakan Marvel, dokter dan beberapa perawat berlarian masuk ke dalam untuk berusaha menyelamatkan nyawa Gevan.
Seorang perawat menarik kursi roda Marvel, memaksa Marvel untuk keluar dari sana.
“Selamat kan dia dok! selamatkan dia!!” teriak Marvel kepada dokter yang tengah berusaha semampunya untuk membuat jantung Gevan kembali berdetak.
Disaat seperti ini Marvel justru baru teringat alamat rumah istri dan anak Gevan, disaat nyawa Gevan sudah merenggang. Kenapa baru sekarang?!
Dokter yang sebelumnya menangani Gevan itu keluar dengan wajah murung, “Maaf kami tidak bisa menyelamatkan pasien. Pasien Gevan telah meninggal, kami telah berusaha sekuat yang kami bisa namun Tuhan berkehendak lain.”
Marvel menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa Gevan mati sebelum bertemu istri dan anaknya?!
Apa apaan itu? Setelah mengatakan permintaan nya Gevan justru mati begitu saja?
Setelah meminta Marvel untuk membantu putra nya bersekolah dan menjaga mereka dari jauh Gevan justru mati begitu saja?!
Seharusnya Gevan bertahan hidup, dan melawan sakitnya lalu Gevan lah yang akan melakukan hal itu. Menyekolahkan putra nya dan melindungi keluarganya.
“Marvel..”
Juan muncul dan bertanya mengapa Marvel ada di depan ruangan Gevan, Gevan mengatakan semuanya. Termasuk permintaan Gevan.
__ADS_1
“Kau tidak perlu menurutinya, kau tahu alamat keluarganya bukan? Aku akan kesana dan memberitahu kan kematian nya kepada keluarga nya, kau tenang saja. Kau tidak akan disalahkan atas kematiannya, ini semua bukan salah mu.”