SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
THIRTY SIX


__ADS_3

Sejak hari dimana semua kebohongan Diana terbongkar, Feelisa memblokir semua kontak Diana, mengabaikan Diana meski Diana memohon sekalipun, hati Feelisa tidak tergerak sedikitpun untuk memaafkan Diana.


Percuma, jika dimaafkan Diana akan terus kembali melakukan hal yang sama, karena di mata Diana yang berharga hanyalah uang.


Feelisa lebih memilih untuk fokus kepada Clara yang memang benar benar tengah hamil anak Damian.


Feelisa bahkan selalu menemani Clara tiap kali Damian ada urusan penting yang membuatnya tidak bisa pulang untuk menemani Clara.


Ya, sejak masalah Diana selesai. Damian dan Clara memilih untuk tinggal bersama, meski belum menikah. Memangnya apa lagi yang harus Damian takutkan? Toh Clara memang sudah terlanjur hamil kan.


"Mama sudah memutuskan, kalian harus menikah secepatnya. Sebaiknya kalian menikah Minggu depan."


Ucapan Feelisa yang tiba tiba itu membuat Clara tersedak susu hamil yang sedang ia minum, sontak Damian bergerak cepat menepuk nepuk lembut punggung Clara.


"Apa itu tidak terlalu cepat Ma?" tanya Clara seraya mengambil alih tisu dari tangan Damian.


"Terlalu cepat bagaimana? Kau mau menikah saat anak mu sudah lahir? Memang sudah seharusnya kalian menikah selagi perut mu masih belum terlalu besar Clara."


Clara terdiam, ia tidak bisa membantah perkataan Feelisa. Tapi Clara merasa ia masih belum siap. Entah apa yang ia tunggu tapi Clara masih merasa belum saat nya untuk menikah dengan Damian.


Masalah mereka masih belum benar benar selesai.


Bagaimana jika Diana tidak terima dengan pernikahan mereka dan melakukan tindakan gila, Clara tahu bahwa bukan tidak mungkin bagi Diana untuk melakukan tindakan berbahaya hanya karena amarahnya.


"Cepat atau lambat kalian pasti akan menikah juga kan? Lebih baik melakukannya secepat mungkin."


"Ma.." Damian mengingatkan Ibu nya untuk tidak terlalu menekan Clara, Damian memang sangat ingin menikah dengan Clara. Tapi Damian juga tidak mau terlalu memaksa Clara.


"Bagaimana dengan Kak Diana nantinya? Dia pasti akan tidak terima dengan pernikahan kita nanti."


Damian menggenggam tangan Clara, "Kau tidak perlu khawatir tentang Diana, aku sudah meminta anak buah ku untuk menjebloskan nya ke penjara atas tuduhan pencemaran nama baik, kau tidak perlu takut lagi dengan Diana. Dia tidak akan bisa menyakiti mu lagi."

__ADS_1


Clara merasa dirinya sangat jahat sekali karena ia tidak merasakan perasaan kasihan terhadap Diana, bagaimana pun kan Diana adalah kakaknya tapi kenapa Clara tidak sedikitpun merasa kasihan kepada kakaknya itu.


Mungkin masih ada dendam di dalam hati Clara, mengingat bagaimana Diana memperlakukan nya selama ini.


"Masalah soal Diana sudah diatasi oleh Damian, jadi tidak ada alasan lagi bagi mu untuk menunda nunda pernikahan kalian kan?" Feelisa kembali angkat suara, dan ia mendapat anggukkan dari Clara.


"Ya.. aku mau."


Ini sudah kedua kalinya Clara mengatakan ia mau menikah dengan Damian, memang Clara sudah mengatakan iya namun ia selalu saja menunda nunda dan mengalihkan pembicaraan tiap kali Damian membahas hari pernikahan mereka.


Hingga Feelisa sendiri yang membahasnya, Clara tidak bisa membantah Feelisa. Bukan nya Clara takut terhadap Feelisa, hanya saja Clara merasa harus hormat terhadap Feelisa yang jelas jelas lebih tua darinya.


"Baiklah, biar Mama yang akan mengurus semuanya. Kalian hanya terima beres saja, yang terpenting kalian bahagia." Feelisa mengambil tas nya dan bangkit berdiri, "Mama harus pulang sekarang, jaga diri kalian baik baik."


Feelisa pergi setelah ia memberikan pelukan hangat kepada Damian dan Clara.


Damian dan Clara pun mengantar Feelisa hingga sampai ke pintu.


"Aku juga awalnya berpikiran sama dengan mu, mengingat betapa Mama menyayangi Diana sebagai menantu. Tapi sepertinya aku tahu alasan kenapa Mama langsung menerima mu begitu saja."


"Apa?" tanya Clara cepat.


Damian menyentuh perut Clara, "Karna dia. Aku tahu Mama sudah sejak lama sekali mendambakan seorang cucu. Dan alasan dia sempat mendukung Diana adalah karena harapannya akan seorang cucu, tapi Mama langsung melupakan semuanya karena adanya anak kita. Yang Mama ku inginkan hanya kebahagiaan ku dan juga seorang cucu."


***


"Kenapa semuanya jadi seperti ini!" teriak Diana, ia sekarang ini berada di depan gedung pusat rehabilitasi. Ia tidak di perbolehkan masuk untuk menemui Thomas.


Diana kini sedang mengandung anak Thomas namun Thomas justru tidak bisa di andalkan seperti ini.


Diana tidak tahu ia harus kemana lagi, sudah beberapa minggu ini ia tinggal di kontrakan tempat Thomas tinggal dahulu namun sekarang ia sudah tidak bisa, Diana diusir oleh pemilik rumah karena tidak bisa bayar uang sewa.

__ADS_1


Dan sekarang Diana tidak tahu harus kemana lagi, uang ia tidak punya. Menemui Damian untuk meminta uang pun ia sudah tidak lagi berani.


Diana berandai andai, seandainya Clara itu wanita bodoh yang bisa ia peras namun kenyataannya Clara bukan tipikal wanita yang bisa Diana tekan.


Diana sempat berpikiran untuk menghancurkan Clara karena ia tidak ingin hancur sendirian namun ia teringat betapa berkuasa nya Damian, Diana tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya nanti karena kemarahan Damian.


Diana berjalan sendirian, dengan perut yang terasa lapar. Karena kondisinya yang memang tengah hamil membuat Diana semakin mudah lapar.


Diana meneteskan air mata ketika aroma ayam bakar tercium olehnya, ia hampir meneteskan air liur karna laparnya namun Diana tidak bisa apa apa. Ia tidak punya uang sepeser pun.


Tangisan Diana semakin menjadi ketika ia teringat bahwa Thomas tidak mengakui bahwa anak yang Diana kandung adalah anaknya.


Memang benar ini bukan kehamilan pertama Diana, dahulu Diana pernah hamil dari laki laki lain dan Thomas lah yang selalu membantunya menggugurkan kandungannya itu.


Tapi dahulu ia selalu menggugurkannya karena itu anak orang lain, dan dahulu Diana hamil karena memang itu lah resiko dari apa yang ia lakukan.


Ia bisa menuntut ilmu hingga menjadi dokter meski ujung ujungnya dikeluarkan secara tidak hormat, bukan ia dapatkan dengan cara cuma cuma.


Kuliah kedokteran tidak semudah itu, Diana merayu banyak laki laki untuk mendapatkan uang. Untuk memenuhi kebutuhannya, semuanya berjalan lancar sampai ia bertemu dengan Thomas.


Thomas menjadi prioritas utamanya sehingga Diana kehilangan segalanya demi Thomas, ia tetap bersama Thomas meski ia sudah mendapatkan laki laki yang jelas jelas dulu mencintainya.


Ia mengutamakan Thomas, menghambur gambarkan uang yang ia miliki demi membahagiakan laki laki itu.


Tapi apa yang ia dapat sebagai balasan, rasa pahit ini. Tapi bodohnya Diana tetap tidak bisa membenci Thomas.


Mungkin ini lah hukuman untuknya, ia selalu tidak memperdulikan perasaan orang lain. Jadi sekarang ia yang mengalami nya, tidak ada satupun orang yang perduli pada perasaannya termasuk Thomas.


***


**Baca cerita buatan ku yang judulnya LOVE MAZE juga ya.

__ADS_1


ini sinopsis nya : —Jordan jatuh hati kepada seorang pelacur yang ternyata adalah wanita yang dulu pernah ia perkosa bersama teman teman nya semasa SMA**—


__ADS_2