SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 25


__ADS_3

*Milla belum siap untuk kembali beragrumen, Milla belum siap untuk mendengar penjelasan penjelasan Marvel lain nya. Milla butuh waktu untuk memproses segalanya.


“Kemana aku harus pergi, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain Marvel.” Milla menertawakan dirinya sendiri, Milla tidak punya orang lain yang bisa membantu dirinya. Milla mulai menyadari satu hal, bahwa tanpa Marvel Milla itu bukan apa-apa.


Seharusnya Milla tahu diri laki laki kaya raya dan tampan seperti Marvel mau menikah dengannya meski karena rasa kasihan sekalipun*.


***


Marvel semakin panik ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Milla belum juga pulang, Marvel mulai putus asa. Mulai berpikir negatif, bagaimana jika Milla kenapa-kenapa di luar sana?


Marvel mencoba menghubungi Milla untuk yang kesekian kali nya, namun lagi lagi bukannya suara Milla yang Marvel dengar dari speaker ponsel tersebut, Marvel justru mendapat jawaban bahwa ponsel Milla tidak aktif dan di luar jangkauan. Membuat Marvel semakin ketakutan.


Marvel tidak lagi bisa duduk menunggu dengan sabar, ia bolak balik berharap cemas bahwa Milla akan kembali. Milla pasti akan kembali sebentar lagi.


Dan benar saja, Marvel mendengar suara mobil yang Marvel yakini adalah mobil yang Milla bawa. Marvel segera berlari mengintip dari jendela dan ya, benar. Itu mobil yang Milla bawa tengah berhenti di pekarangan rumah mereka.


Marvel memperhatikan Milla yang turun dari mobil tersebut dan melangkah gontai menuju rumah mereka, sebenarnya Marvel ingin membukakan pintu dan menyambut kepulangan Milla namun Marvel takut tindakannya justru akan membuat Milla tidak senang sehingga Marvel memilih untuk kembali duduk di sofa, menunggu Milla masuk dengan sendirinya.


Pintu rumah terbuka dan Milla masuk, Marvel memperhatikan wajah Milla yang kelihatan pucat. Milla hanya melewati Marvel saja dan langsung masuk menuju kamar. Entah itu karena Milla yang memang sengaja mengabaikan Marvel atau karena Milla memang tidak sengaja tidak menyadari keberadaan Marvel yang duduk di sofa ruang tamu.


Marvel bangkit dari posisi duduknya dan mengikuti Milla masuk ke kamar.


“Millaaa..” Panggil Marvel lembut, namun Milla yang Marvel panggil tidak menoleh sedikitpun. Milla justru melanjutkan langkah nya ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi tersebut.


Marvel tidak punya pilihan lain selain menunggu, mereka bisa kembali bicara setelah Milla keluar dari kamar mandi. Mungkin Milla merasa gerah dan ingin membersihkan diri.


Marvel memilih untuk duduk di pinggiran ranjang sembari berpikir kira kira kemana Milla pergi sebelumnya sampai pulang selarut ini.


Lama Marvel menunggu Milla keluar namun Milla tidak kunjung keluar juga dari kamar mandi, Marvel sudah menunggu hampir satu jam lamanya. Marvel menjadi khawatir dengan keadaan Milla di dalam kamar mandi.


Marvel bangkit dari posisi duduknya di pinggiran ranjang dan melangkah mendekati pintu kamar mandi.


Tangan Marvel terangkat mengetuk pintu kamar mandi tersebut, ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua dan ketiga pun sama tak ada jawaban membuat Marvel semakin panik dan mulai menggedor pintu kamar mandi tersebut kencang.


“Milla buka pintu nya! Milla aku tahu aku salah tapi jangan begini, jangan buat aku khawatir begini. Kau boleh marah dan memukul diriku tapi jangan kurung dirimu di dalam kamar mandi begini!” Marvel dengan kuat menggedor gedor pintu kamar mandi tersebut, masih berteriak kepada Milla untuk membukakan pintu.


“Milla bukaaa!!!” Marvel semakin kelabakan lantaran dari dalam kamar mandi tidak ada jawaban apapun dari Milla, dari dalam kamar mandi tidak terdengar suara apapun termasuk suara gemericik air. Di dalam kamar mandi terlalu sunyi dan hal itu lah yang membuat Marvel semakin ketakutan.


Marvel tidak punya pilihan lain, jalan satu satunya adalah membuka pintu kamar mandi sendiri, Marvel tidak bisa mengharapkan Milla akan membuka nya jika terus begini.


Marvel berlari ke arah laci meja rias Milla, mencoba mencari kunci cadangan di dalam laci tersebut dan benar saja Marvel menemukannya disana.


Marvel dengan sigap membuka pintu kamar mandi menggunakan kunci cadangan tersebut, Marvel membuka pintu tersebut dengan kencang dan terburu-buru karena sangking paniknya.


Jantung Marvel rasanya bagaikan jatuh ke lantai saat melihat Milla tengah tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi, Marvel berlari mendekati Milla dan berusaha membangunkan Milla namun Milla tidak bergerak sedikitpun.


Tubuh Milla terasa panas sekali dan juga wajah Milla amat sangat pucat, Marvel segera mengangkat keluar tubuh Milla dari kamar mandi dan membaringkan nya di ranjang.

__ADS_1


Marvel menepuk nepuk pipi Milla masih berusaha sebisa mungkin untuk menyadarkan Milla namun Milla tak kunjung bangun, Milla pingsan. Itu lah yang dapat Marvel simpulkan tentang hal ini.


Dengan tangan gemetar Marvel berusaha untuk menghubungi dokter keluarga nya agar datang kemari dan memeriksa Milla, karena Marvel tidak yakin dirinya mampu menyetir ke rumah sakit dalam keadaan tangan gemetar hebat seperti ini.


Marvel menggenggam tangan Milla erat, “Kenapa kau jadi begini sayang, Maafkan aku karena kebodohan ku kau jadi terluka seperti ini.”


***


“Bagaimana keadaan Milla, dokter?” Marvel bertanya ketika melihat dokter yang ia panggil datang kemari untuk mengecek keadaan Milla itu sudah membereskan alat alat nya.


“Nyonya Milla terkena demam biasa, namun stress yang Nyonya Milla alami yang membuat demam tersebut menjadi lebih parah.” ujar dokter tersebut menjelaskan kepada Marvel. Marvel menganggukkan kepalanya mengerti.


“Tapi Tuan Marvel, ada baik nya Nyonya Milla memeriksakan diri ke dokter kandungan karena saya rasa Nyonya Milla tengah mengandung saat ini tapi berhubung alat yang saya bawa tidak bisa membuktikannya dengan pasti jadi lebih baik memeriksakannya ke dokter kandungan agar lebih akurat.”


Marvel mengerutkan keningnya kebingungan, apa dirinya tidak salah dengar?


“Dokter kandungan?” tanya Marvel sekali lagi memastikan.


Dokter tersebut mengangguk, “Iya, Dokter kandungan. Tapi itu hanya untuk memastikan saja, bisa saja dugaan saya salah. Jadi jika hasil pemeriksaan dari dokter kandungan negatif saya harap Tuan dan Nyonya Milla tidak berkecil hati.”


“Tidak dok kami tidak akan berkecil hati, terima kasih dok. Mari saya antar kan ke depan.”


Marvel akui bahwa ia terkejut ketika dokter meyebut nyebut perihal dokter kandungan, Marvel akan senang setengah mati jika Milla memang benar benar mengandung. Tapi jika dalam kondisi seperti ini Marvel ragu, mungkin alangkah lebih baik jika Milla tidak mengandung karena Marvel sendiri tidak yakin Milla bisa menerima kehamilan nya apa tidak jika hal itu benar terjadi.


Marvel tersenyum kepada dokter tersebut yang telah pergi dari rumahnya, sekarang Marvel bingung. Bagaimana caranya mengajak Milla ke dokter kandungan kalau masalah antara Marvel dan Milla saja masih belum selesai sampai sekarang.


*Milla belum siap untuk kembali beragrumen, Milla belum siap untuk mendengar penjelasan penjelasan Marvel lain nya. Milla butuh waktu untuk memproses segalanya.


“Kemana aku harus pergi, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain Marvel.” Milla menertawakan dirinya sendiri, Milla tidak punya orang lain yang bisa membantu dirinya. Milla mulai menyadari satu hal, bahwa tanpa Marvel Milla itu bukan apa-apa.


Seharusnya Milla tahu diri laki laki kaya raya dan tampan seperti Marvel mau menikah dengannya meski karena rasa kasihan sekalipun*.


***


Marvel semakin panik ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Milla belum juga pulang, Marvel mulai putus asa. Mulai berpikir negatif, bagaimana jika Milla kenapa-kenapa di luar sana?


Marvel mencoba menghubungi Milla untuk yang kesekian kali nya, namun lagi lagi bukannya suara Milla yang Marvel dengar dari speaker ponsel tersebut, Marvel justru mendapat jawaban bahwa ponsel Milla tidak aktif dan di luar jangkauan. Membuat Marvel semakin ketakutan.


Marvel tidak lagi bisa duduk menunggu dengan sabar, ia bolak balik berharap cemas bahwa Milla akan kembali. Milla pasti akan kembali sebentar lagi.


Dan benar saja, Marvel mendengar suara mobil yang Marvel yakini adalah mobil yang Milla bawa. Marvel segera berlari mengintip dari jendela dan ya, benar. Itu mobil yang Milla bawa tengah berhenti di pekarangan rumah mereka.


Marvel memperhatikan Milla yang turun dari mobil tersebut dan melangkah gontai menuju rumah mereka, sebenarnya Marvel ingin membukakan pintu dan menyambut kepulangan Milla namun Marvel takut tindakannya justru akan membuat Milla tidak senang sehingga Marvel memilih untuk kembali duduk di sofa, menunggu Milla masuk dengan sendirinya.


Pintu rumah terbuka dan Milla masuk, Marvel memperhatikan wajah Milla yang kelihatan pucat. Milla hanya melewati Marvel saja dan langsung masuk menuju kamar. Entah itu karena Milla yang memang sengaja mengabaikan Marvel atau karena Milla memang tidak sengaja tidak menyadari keberadaan Marvel yang duduk di sofa ruang tamu.


Marvel bangkit dari posisi duduknya dan mengikuti Milla masuk ke kamar.

__ADS_1


“Millaaa..” Panggil Marvel lembut, namun Milla yang Marvel panggil tidak menoleh sedikitpun. Milla justru melanjutkan langkah nya ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi tersebut.


Marvel tidak punya pilihan lain selain menunggu, mereka bisa kembali bicara setelah Milla keluar dari kamar mandi. Mungkin Milla merasa gerah dan ingin membersihkan diri.


Marvel memilih untuk duduk di pinggiran ranjang sembari berpikir kira kira kemana Milla pergi sebelumnya sampai pulang selarut ini.


Lama Marvel menunggu Milla keluar namun Milla tidak kunjung keluar juga dari kamar mandi, Marvel sudah menunggu hampir satu jam lamanya. Marvel menjadi khawatir dengan keadaan Milla di dalam kamar mandi.


Marvel bangkit dari posisi duduknya di pinggiran ranjang dan melangkah mendekati pintu kamar mandi.


Tangan Marvel terangkat mengetuk pintu kamar mandi tersebut, ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua dan ketiga pun sama tak ada jawaban membuat Marvel semakin panik dan mulai menggedor pintu kamar mandi tersebut kencang.


“Milla buka pintu nya! Milla aku tahu aku salah tapi jangan begini, jangan buat aku khawatir begini. Kau boleh marah dan memukul diriku tapi jangan kurung dirimu di dalam kamar mandi begini!” Marvel dengan kuat menggedor gedor pintu kamar mandi tersebut, masih berteriak kepada Milla untuk membukakan pintu.


“Milla bukaaa!!!” Marvel semakin kelabakan lantaran dari dalam kamar mandi tidak ada jawaban apapun dari Milla, dari dalam kamar mandi tidak terdengar suara apapun termasuk suara gemericik air. Di dalam kamar mandi terlalu sunyi dan hal itu lah yang membuat Marvel semakin ketakutan.


Marvel tidak punya pilihan lain, jalan satu satunya adalah membuka pintu kamar mandi sendiri, Marvel tidak bisa mengharapkan Milla akan membuka nya jika terus begini.


Marvel berlari ke arah laci meja rias Milla, mencoba mencari kunci cadangan di dalam laci tersebut dan benar saja Marvel menemukannya disana.


Marvel dengan sigap membuka pintu kamar mandi menggunakan kunci cadangan tersebut, Marvel membuka pintu tersebut dengan kencang dan terburu-buru karena sangking paniknya.


Jantung Marvel rasanya bagaikan jatuh ke lantai saat melihat Milla tengah tergeletak tak sadarkan diri di lantai kamar mandi, Marvel berlari mendekati Milla dan berusaha membangunkan Milla namun Milla tidak bergerak sedikitpun.


Tubuh Milla terasa panas sekali dan juga wajah Milla amat sangat pucat, Marvel segera mengangkat keluar tubuh Milla dari kamar mandi dan membaringkan nya di ranjang.


Marvel menepuk nepuk pipi Milla masih berusaha sebisa mungkin untuk menyadarkan Milla namun Milla tak kunjung bangun, Milla pingsan. Itu lah yang dapat Marvel simpulkan tentang hal ini.


Dengan tangan gemetar Marvel berusaha untuk menghubungi dokter keluarga nya agar datang kemari dan memeriksa Milla, karena Marvel tidak yakin dirinya mampu menyetir ke rumah sakit dalam keadaan tangan gemetar hebat seperti ini.


Marvel menggenggam tangan Milla erat, “Kenapa kau jadi begini sayang, Maafkan aku karena kebodohan ku kau jadi terluka seperti ini.”


***


“Bagaimana keadaan Milla, dokter?” Marvel bertanya ketika melihat dokter yang ia panggil datang kemari untuk mengecek keadaan Milla itu sudah membereskan alat alat nya.


“Nyonya Milla terkena demam biasa, namun stress yang Nyonya Milla alami yang membuat demam tersebut menjadi lebih parah.” ujar dokter tersebut menjelaskan kepada Marvel. Marvel menganggukkan kepalanya mengerti.


“Tapi Tuan Marvel, ada baik nya Nyonya Milla memeriksakan diri ke dokter kandungan karena saya rasa Nyonya Milla tengah mengandung saat ini tapi berhubung alat yang saya bawa tidak bisa membuktikannya dengan pasti jadi lebih baik memeriksakannya ke dokter kandungan agar lebih akurat.”


Marvel mengerutkan keningnya kebingungan, apa dirinya tidak salah dengar?


“Dokter kandungan?” tanya Marvel sekali lagi memastikan.


Dokter tersebut mengangguk, “Iya, Dokter kandungan. Tapi itu hanya untuk memastikan saja, bisa saja dugaan saya salah. Jadi jika hasil pemeriksaan dari dokter kandungan negatif saya harap Tuan dan Nyonya Milla tidak berkecil hati.”


“Tidak dok kami tidak akan berkecil hati, terima kasih dok. Mari saya antar kan ke depan.”

__ADS_1


Marvel akui bahwa ia terkejut ketika dokter meyebut nyebut perihal dokter kandungan, Marvel akan senang setengah mati jika Milla memang benar benar mengandung. Tapi jika dalam kondisi seperti ini Marvel ragu, mungkin alangkah lebih baik jika Milla tidak mengandung karena Marvel sendiri tidak yakin Milla bisa menerima kehamilan nya apa tidak jika hal itu benar terjadi.


Marvel tersenyum kepada dokter tersebut yang telah pergi dari rumahnya, sekarang Marvel bingung. Bagaimana caranya mengajak Milla ke dokter kandungan kalau masalah antara Marvel dan Milla saja masih belum selesai sampai sekarang.


__ADS_2