
“*Tapi tetap saja aku merasa bersalah Kak, aku merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Milla. Bagaimana pun Gevan itu pernah menjadi suami Milla sebelum diriku.” Marvel mengusap wajahnya kasar.
Baru saja Juan hendak memarahi Marvel karena terlalu memusingkan hal yang tidak penting, pintu ruangan Marvel sudah lebih dulu dibuka secara kencang.
***
Milla dan Riko sudah menyiapkan semuanya dan berangkat menuju kantor Marvel untuk mengantarkan makan siang Marvel.
Kedatangan Milla disambut hangat oleh resepsionis yang mengenal Milla. Mempersilahkan Milla dan Riko untuk langsung memasuki lift khusus menuju ruangan Marvel.
Riko senang sekali datang kemari, sudah tidak sabar untuk mengejutkan Marvel. Sesaat pintu lift terbuka Riko keluar dengan riangnya sembari menggandeng tangan Milla.
Riko sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam ruang kerja Marvel namun Milla justru melarang Riko untuk masuk setelah mendengar bahwa di dalam ruangan Marvel, Marvel tidak sedang sendirian.
Milla mendengar suara Juan, Kakak laki laki Marvel dari dalam ruang kerja Marvel tersebut. Takut pembicaraan mereka itu penting sehingga Milla memutuskan untuk menunggu di luar dahulu, menunggu sampai Juan keluar dari ruangan tersebut baru mereka akan masuk.
Namun selama menunggu di luar Milla bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena pintu ruang kerja Marvel itu tidak tertutup rapat.
“Kau ini bagaimana sih, ku lihat lihat akhir akhir ini pekerjaan mu selalu saja bermasalah dan kau juga selalu tidak ada di tempat saat aku membutuhkan mu, bahkan saat aku mendatangi rumah mu saja kau tidak ada, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?”
Ah. Mereka membahas perihal itu ternyata, Milla sebenarnya tidak ingin menguping namun Milla juga penasaran apa sebenarnya yang terjadi kepada suaminya itu.
“Ma, kenapa kita gak masuk aja?” tanya Riko polos kepada Milla, Milla menggelengkan kepalanya, menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya seolah memberi tanda kepada Riko untuk tidak berisik.
“*Kau datang ke rumah ku? Kapan?”
“Tiga hari yang lalu, kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kau menjadi aneh seperti ini*?”
“Kenapa kau tidak menjawab, kau sebenarnya itu kenapa dan hari itu kau kemana?”
“Aku pergi ke makam Gevan, kau ingat Gevan bukan kak?”
Gevan? Nama itu nama yang tidak asing bagi Milla karena itu adalah nama dari suami Milla dulu sebelum Marvel, nama dari Ayah kandung Riko.
Tapi orang yang memiliki nama Gevan di dunia ini ada banyak, tidak mungkin Gevan yang Marvel dan Juan bahas itu adalah Gevan yang Milla kenal.
“Ah maksud mu laki laki yang kecelakaan dengan mu itu?”
Milla semakin mengerutkan keningnya, kecelakaan? Dulu Marvel pernah kecelakaan? tapi kenapa Marvel tidak pernah cerita kepada Milla perihal ini? Apa karena Marvel tidak ingin membuatnya khawatir.
“Untuk apa kau kesana, ku kira kau sudah tidak akan memusingkan perihal kematian nya lagi. Bukan kah sudah ku bilang kepada mu bahwa kematian laki laki itu bukan kesalahan mu?”
“Tapi tetap saja aku merasa bersalah Kak, aku merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Milla. Bagaimana pun Gevan itu pernah menjadi suami Milla sebelum diriku.”
Tangan Milla gemetar, apa apaan ini namanya disebut? Menyembunyikan? Pernah menjadi suaminya?
Jadi benar Gevan yang mereka bicarakan itu adalah Gevan Ayah kandung Riko? Tapi apa kata mereka barusan, Gevan telah meninggal dan Marvel mengunjungi makam nya?
Apa apaan ini sebenarnya?
Milla sudah tidak tahan dengan spekulasi spekulasinya sendiri sehingga Milla memutuskan untuk masuk dan menanyakannya sendiri kepada Marvel.
Milla mendorong pintu ruang kerja Marvel itu dengan keras hingga membentur dinding, Baik Marvel maupun Juan terkejut akan hal itu dan segera menoleh. Wajah Marvel terlihat sangat terkejut melihat kehadiran Milla disini.
“Apa yang kau sembunyikan dari ku Marvel, kenapa kau bisa mengenal Gevan, dan apa yang kalian maksud dengan kematian. Siapa yang meninggal?!” Tanya Milla dengan nada suara kencang, Milla lupa bahwa ia kemari tidak sendirian melainkan bersama dengan Riko, Milla terlalu terbawa emosi.
__ADS_1
Marvel kelihatan panik sekali, ia segera bangkit dari posisi duduknya dan berlari mendekati Milla berusaha untuk menggenggam tangan istrinya itu namun Milla menepis tangan Marvel dengan kencang.
Riko kaget melihat keadaan yang justru menjadi seperti ini, Riko kira mereka kemari untuk bertemu dengan Marvel dan tertawa bersama sembari makan siang bersama sama. Tapi Riko justru melihat Ibu jya itu marah kepada Ayahnya.
Riko tidak suka melihat hal ini, ia mulai menangis. Riko takut melihat Milla dan Marvel bertengkar, Riko takut jika hubungan mereka hancur maka Riko tidak akan punya Papa lagi. sama seperti dulu.
“Kau baik baik saja?” Juan bertanya kepada Riko, ia meraih tangan Riko dan mengajak Riko keluar dari ruang kerja Marvel. Riko tidak boleh melihat pertengkaran kedua orang tuanya itu. “Ayo ikut Om.”
Riko menurut saja mengikuti kemanapun Juan membawanya, tangisan nya masih belum juga berhenti.
Sementara Milla dan Marvel masih dengan permasalahan mereka, Marvel sedih ketika Milla menepis tangannya seolah tidak sudi di sentuh oleh dirinya.
“Jawab aku Marvel, apa yang kau ketahui mengenai Gevan? Apa maksud perkataan kalian tadi soal makam dan kematian? Jawab aku Marvel jangan diam saja!!” Milla kesal lantaran Marvel hanya diam saja memandangnya dengan ekspresi sedihnya itu, bukan itu yang Milla inginkan. Yang Milla inginkan adalah kebenaran nya. Kebenaran yang telah Marvel sembunyikan dari dirinya selama ini.
“Jawab aku Marvellll!!!” teriak Milla sekali lagi, Marvel jatuh bersujud di depan Milla.
“Maafkan aku Milla, maafkan aku.. aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya aku hanya tidak ingin kau terluka.” Marvel benar benar menyesal telah sembarangan bicara menyebut nyebut soal Gevan. Seandainya saja Marvel tidak asal bicara pasti Milla tidak akan mendengarkan hal itu.
“Jika kau tidak ingin aku terluka lebih jauh maka katakan yang sebenarnya, apa kau tahu dimana Gevan sekarang?”
Marvel menganggukkan kepalanya, “Aku tahu dimana Gevan berada, 3 hari yang lalu aku mengunjungi makamnya.”
Milla merasakan kepalanya mulai sakit, “Apa maksud mu soal makam? Makam Gevan? Apa dia sudah meninggal, tapi bagaimana bisa. Bagaimana bisa dia meninggal dan aku tidak tahu apa apa sementara kau yang tidak punya hubungan apa apa dengannya tahu bahwa dia meninggal bahkan tahu dimana dia di kubur.”
Milla benar benar tidak bisa mencerna semua yang baru saja ia ketahui ini, bagaimana bisa Gevan meninggal dan Marvel mengetahuinya tapi Milla sendiri tidak tahu.
Keluarga Gevan juga tidak ada yang mengetahuinya, Milla tahu bahwa keluarga Gevan tidak perduli dengan Gevan, tapi bukan kah jika terjadi sesuatu kepada Gevan, Keluarga Gevan lah yang akan dihubungi selain Milla?
“Katakan padaku semua yang sejujurnya Marvel, jangan sembunyikan apapun lagi dari ku. Jangan terus perlakukan aku seperti orang bodoh begini. Aku ingin tahu kebenarannya, jika kau memang tidak ingin ku benci maka katakan semua yang sejujur-jujurnya.”
“*Tapi tetap saja aku merasa bersalah Kak, aku merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Milla. Bagaimana pun Gevan itu pernah menjadi suami Milla sebelum diriku.” Marvel mengusap wajahnya kasar.
Baru saja Juan hendak memarahi Marvel karena terlalu memusingkan hal yang tidak penting, pintu ruangan Marvel sudah lebih dulu dibuka secara kencang.
***
Milla dan Riko sudah menyiapkan semuanya dan berangkat menuju kantor Marvel untuk mengantarkan makan siang Marvel.
Kedatangan Milla disambut hangat oleh resepsionis yang mengenal Milla. Mempersilahkan Milla dan Riko untuk langsung memasuki lift khusus menuju ruangan Marvel.
Riko senang sekali datang kemari, sudah tidak sabar untuk mengejutkan Marvel. Sesaat pintu lift terbuka Riko keluar dengan riangnya sembari menggandeng tangan Milla.
Riko sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam ruang kerja Marvel namun Milla justru melarang Riko untuk masuk setelah mendengar bahwa di dalam ruangan Marvel, Marvel tidak sedang sendirian.
Milla mendengar suara Juan, Kakak laki laki Marvel dari dalam ruang kerja Marvel tersebut. Takut pembicaraan mereka itu penting sehingga Milla memutuskan untuk menunggu di luar dahulu, menunggu sampai Juan keluar dari ruangan tersebut baru mereka akan masuk.
Namun selama menunggu di luar Milla bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan karena pintu ruang kerja Marvel itu tidak tertutup rapat.
“Kau ini bagaimana sih, ku lihat lihat akhir akhir ini pekerjaan mu selalu saja bermasalah dan kau juga selalu tidak ada di tempat saat aku membutuhkan mu, bahkan saat aku mendatangi rumah mu saja kau tidak ada, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu?”
Ah. Mereka membahas perihal itu ternyata, Milla sebenarnya tidak ingin menguping namun Milla juga penasaran apa sebenarnya yang terjadi kepada suaminya itu.
“Ma, kenapa kita gak masuk aja?” tanya Riko polos kepada Milla, Milla menggelengkan kepalanya, menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya seolah memberi tanda kepada Riko untuk tidak berisik.
“*Kau datang ke rumah ku? Kapan?”
__ADS_1
“Tiga hari yang lalu, kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kau menjadi aneh seperti ini*?”
“Kenapa kau tidak menjawab, kau sebenarnya itu kenapa dan hari itu kau kemana?”
“Aku pergi ke makam Gevan, kau ingat Gevan bukan kak?”
Gevan? Nama itu nama yang tidak asing bagi Milla karena itu adalah nama dari suami Milla dulu sebelum Marvel, nama dari Ayah kandung Riko.
Tapi orang yang memiliki nama Gevan di dunia ini ada banyak, tidak mungkin Gevan yang Marvel dan Juan bahas itu adalah Gevan yang Milla kenal.
“Ah maksud mu laki laki yang kecelakaan dengan mu itu?”
Milla semakin mengerutkan keningnya, kecelakaan? Dulu Marvel pernah kecelakaan? tapi kenapa Marvel tidak pernah cerita kepada Milla perihal ini? Apa karena Marvel tidak ingin membuatnya khawatir.
“Untuk apa kau kesana, ku kira kau sudah tidak akan memusingkan perihal kematian nya lagi. Bukan kah sudah ku bilang kepada mu bahwa kematian laki laki itu bukan kesalahan mu?”
“Tapi tetap saja aku merasa bersalah Kak, aku merasa bersalah karena menyembunyikan semuanya dari Milla. Bagaimana pun Gevan itu pernah menjadi suami Milla sebelum diriku.”
Tangan Milla gemetar, apa apaan ini namanya disebut? Menyembunyikan? Pernah menjadi suaminya?
Jadi benar Gevan yang mereka bicarakan itu adalah Gevan Ayah kandung Riko? Tapi apa kata mereka barusan, Gevan telah meninggal dan Marvel mengunjungi makam nya?
Apa apaan ini sebenarnya?
Milla sudah tidak tahan dengan spekulasi spekulasinya sendiri sehingga Milla memutuskan untuk masuk dan menanyakannya sendiri kepada Marvel.
Milla mendorong pintu ruang kerja Marvel itu dengan keras hingga membentur dinding, Baik Marvel maupun Juan terkejut akan hal itu dan segera menoleh. Wajah Marvel terlihat sangat terkejut melihat kehadiran Milla disini.
“Apa yang kau sembunyikan dari ku Marvel, kenapa kau bisa mengenal Gevan, dan apa yang kalian maksud dengan kematian. Siapa yang meninggal?!” Tanya Milla dengan nada suara kencang, Milla lupa bahwa ia kemari tidak sendirian melainkan bersama dengan Riko, Milla terlalu terbawa emosi.
Marvel kelihatan panik sekali, ia segera bangkit dari posisi duduknya dan berlari mendekati Milla berusaha untuk menggenggam tangan istrinya itu namun Milla menepis tangan Marvel dengan kencang.
Riko kaget melihat keadaan yang justru menjadi seperti ini, Riko kira mereka kemari untuk bertemu dengan Marvel dan tertawa bersama sembari makan siang bersama sama. Tapi Riko justru melihat Ibu jya itu marah kepada Ayahnya.
Riko tidak suka melihat hal ini, ia mulai menangis. Riko takut melihat Milla dan Marvel bertengkar, Riko takut jika hubungan mereka hancur maka Riko tidak akan punya Papa lagi. sama seperti dulu.
“Kau baik baik saja?” Juan bertanya kepada Riko, ia meraih tangan Riko dan mengajak Riko keluar dari ruang kerja Marvel. Riko tidak boleh melihat pertengkaran kedua orang tuanya itu. “Ayo ikut Om.”
Riko menurut saja mengikuti kemanapun Juan membawanya, tangisan nya masih belum juga berhenti.
Sementara Milla dan Marvel masih dengan permasalahan mereka, Marvel sedih ketika Milla menepis tangannya seolah tidak sudi di sentuh oleh dirinya.
“Jawab aku Marvel, apa yang kau ketahui mengenai Gevan? Apa maksud perkataan kalian tadi soal makam dan kematian? Jawab aku Marvel jangan diam saja!!” Milla kesal lantaran Marvel hanya diam saja memandangnya dengan ekspresi sedihnya itu, bukan itu yang Milla inginkan. Yang Milla inginkan adalah kebenaran nya. Kebenaran yang telah Marvel sembunyikan dari dirinya selama ini.
“Jawab aku Marvellll!!!” teriak Milla sekali lagi, Marvel jatuh bersujud di depan Milla.
“Maafkan aku Milla, maafkan aku.. aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya aku hanya tidak ingin kau terluka.” Marvel benar benar menyesal telah sembarangan bicara menyebut nyebut soal Gevan. Seandainya saja Marvel tidak asal bicara pasti Milla tidak akan mendengarkan hal itu.
“Jika kau tidak ingin aku terluka lebih jauh maka katakan yang sebenarnya, apa kau tahu dimana Gevan sekarang?”
Marvel menganggukkan kepalanya, “Aku tahu dimana Gevan berada, 3 hari yang lalu aku mengunjungi makamnya.”
Milla merasakan kepalanya mulai sakit, “Apa maksud mu soal makam? Makam Gevan? Apa dia sudah meninggal, tapi bagaimana bisa. Bagaimana bisa dia meninggal dan aku tidak tahu apa apa sementara kau yang tidak punya hubungan apa apa dengannya tahu bahwa dia meninggal bahkan tahu dimana dia di kubur.”
Milla benar benar tidak bisa mencerna semua yang baru saja ia ketahui ini, bagaimana bisa Gevan meninggal dan Marvel mengetahuinya tapi Milla sendiri tidak tahu.
__ADS_1
Keluarga Gevan juga tidak ada yang mengetahuinya, Milla tahu bahwa keluarga Gevan tidak perduli dengan Gevan, tapi bukan kah jika terjadi sesuatu kepada Gevan, Keluarga Gevan lah yang akan dihubungi selain Milla?
“Katakan padaku semua yang sejujurnya Marvel, jangan sembunyikan apapun lagi dari ku. Jangan terus perlakukan aku seperti orang bodoh begini. Aku ingin tahu kebenarannya, jika kau memang tidak ingin ku benci maka katakan semua yang sejujur-jujurnya.”