SUGAR BROTHER

SUGAR BROTHER
SEASON II BAB 1


__ADS_3

Riko melirik perut besar Helena, ini sudah hari ke 3 setiap kali Riko pulang sekolah ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan menyusul Ibu nya ke rumah Paman Juan, yang tidak lain adalah kakak dari Ayahnya.


“Ada apa sayang?” tanya Helena yang merasakan sejak tadi Riko terus melirik ke arah perutnya terus menerus, “Mau coba sentuh?”


Mata Riko sontak berbinar setelah mendengar tawaran Helena, jujur saja ia penasaran. Riko dengan ragu ragu mendekat, ia mengulurkan tangan kecilnya menyentuh perut besar Helena.


Riko berjengit terkejut ketika ia merasakan pergerakan dari dalam perut Helena saat ia menaruh tangan kecilnya disana, “Apa Dede nya kesakitan?”


Riko panik, ia takut jika sentuhannya menyakiti bayi yang berada didalam kandungan Helena. Namun ia segera tenang ketika melihat Helena menggelengkan kepalanya dengan senyum lebar.


“Tidak sayang, adik bayinya baik baik saja. Dia bergerak bukan karena kesakitan melainkan karena senang ada Riko disini menemani. Kalau adiknya sudah lahir Riko pasti akan bermain dan menjaga adik bayi nya ‘kan?”


Riko menganggukkan kepalanya mantap, “Riko akan main dengan adik bayinya dan menjaganya, Tante Helena tenang saja.”


Helena tertawa mendengar jawaban Riko, ia merasa lucu melihat kepolosan Riko. Helena juga bersyukur bahwa setiap hari setelah pulang sekolah Riko menyusul Ibunya kemari dengan keberadaan Riko membuat rumah ini menjadi lebih hidup.


“Bagaimana sekolah Riko hari ini, apa pelajarannya sulit?”


Riko menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, pelajaran disekolah tidak sulit baginya. Riko justru senang, karena sudah sejak lama sekali ia ingin bersekolah dan bermain dengan teman teman sebayanya.


Riko baru saja ingin bercerita tentang teman teman barunya disekolah namun semuanya gagal ketika Riko melihat Helena meringis kesakitan, tiba tiba saja Helena menyentuh perut besarnya dan berteriak memanggil Milla.


Milla yang sedang berada di dapur sontak berlari ke ruang tamu setelah mendengar teriakan Helena, Milla semakin panik ketika ia melihat Helena meringis kesakitan.

__ADS_1


Apa ini sudah saatnya Helena melahirkan?


Milla kebingungan, ia bingung harus menelepon ambulan atau harus menelepon Juan terlebih dahulu. Jika menelepon ambulan pasti akan memakan waktu untuk menunggu ambulan datang sedangkan Helena sudah sangat kesakitan sekali.


Mau tidak mau Milla berlari keluar, pergi ke rumah Clara untuk meminta bantuan. Jika saja Milla bisa menyetir mobil mungkin Milla akan langsung membawa Helena ke rumah sakit saat ini juga.


Milla menekan nekan tombol bel rumah Clara dengan tidak sabaran, untungnya penghuni rumah tersebut cepat membuka pintu.


“Tolong bantu aku, Kak Helena akan segera melahirkan!” ujar Milla langsung kepada Clara yang baru saja membukakan pintu, Clara yang paham akan situasi yang ada sontak segera mengikuti Milla setelah menitipkan anak anaknya kepada para pelayan.


***


Juan melirik ponselnya yang sejak tadi terus saja berdering, ia kesal lantaran saat ini ia tengah meeting penting dan ponselnya justru terus saja menginterupsi kegiatannya.


Namun tak lama kemudian Marvel tiba tiba saja muncul membuka pintu ruangan rapat, Marvel terlihat terengah engah karena berlari. Marvel menatap Juan dengan tatapan serius. “Kak Helena akan melahirkan! Milla sudah membawanya ke rumah sakit!”


***


“Sebaiknya Kak Clara pulang saja, sudah ada aku dan kak Milla disini jadi Kak Clara tidak perlu khawatir.” Monica yang belum lama sampai, mengusir halus Clara. Bukan maksud Monica untuk bersikap jahat, hanya saja sudah ada keluarga Helena disini jadi keberadaan Clara sudah tidak lagi dibutuhkan.


Dan juga Clara punya kesibukan tersendiri, Clara memiliki anak yang ia tinggal dirumah. Damian, suami Clara mungkin tidak akan senang ketika ia pulang ke rumah dan tidak mendapati istrinya di rumah.


“Ah begitu..” Clara menganggukkan kepalanya paham, sebenarnya Clara juga dapat menangkap maksud lain Monica.

__ADS_1


Marvel dan Juan sedang dalam perjalanan kemari, Monica mungkin tidak ingin Clara dan Marvel terus bertemu.


“Kalau begitu aku pulang dulu, jika kalian butuh bantuan dariku ataupun dari Damian jangan sungkan untuk menghubungi.” pamit Clara kepada Monica dan Milla.


Milla menatap kepergian Clara dengan pandangan penuh rasa bersalah, “Bukankah kau agak berlebihan sampai menyuruhnya pulang seperti itu?”


Monica menoleh kearah kakak iparnya itu dan menggelengkan kepalanya, “Aku seperti ini justru karena aku perduli kepadanya Kak, dia punya dua anak yang masih kecil dirumah. Anaknya jauh lebih membutuhkannya dibandingkan kita.”


Milla tidak tahu harus mengatakan apa lagi, ia hanya diam sembari memegang erat tangan Riko.


“Maa.. Apa Tante Helena baik baik saja?” tanya Riko kepada Ibunya, suara Riko terdengar bergetar. Riko takut lantaran sebelumnya ia melihat Helena berteriak sangat kesakitan.


Baru saja Milla ingin menjawab bahwa Helena akan baik baik saja, tiba tiba saja dokter yang menangani Helena keluar dan menanyakan dimana keberadaan suami Helena.


Dokter tersebut mengatakan bahwa kondisi Helena sangat amat menghawatirkan, Helena tidak akan sanggup melahirkan anak mereka. Dan ada pembicaraan penting yang harus dokter itu bicarakan dengan Juan secara langsung. Tapi Juan belum juga datang.


***


Marvel dan Juan baru saja sampai didumah sakit, mereka segera menghampiri resepsionis untuk bertanya dimana Helena ditangani.


Resepsionis tersebut memberitahu, Marvel dan Juan segera pergi meninggalkan resepsionis tersebut. Resepsionis itu memiringkan kepalanya, merasa pernah melihat dua laki laki tersebut sebelumnya.


“Ah, laki laki tampan itu kan korban kecelakaan waktu itu.”

__ADS_1


__ADS_2